Dirasah Hadits “Berpuasalah di Bulan-bulan Haram”

fastingAl-Imam Sulaimaan bin Al-Asy’ats, Abu Daawud As-Sijistaaniy rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dalam Sunan-nya, dengan sanad dan matan :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي السَّلِيلِ عَنْ مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا تَعْرِفُنِي قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيُّ الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلَّا بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil, telah menceritakan kepada kami Hammaad, dari Sa’iid Al-Jurairiy, dari Abu As-Saliil, dari Mujiibah Al-Baahiliyyah, dari Ayahnya atau Pamannya, bahwa ia mendatangi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kemudian bertolak. Ia kembali mendatangi beliau setelah setahun berikutnya dalam keadaan telah berubah keadaan dan seluruh tubuhnya, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa kau mengenaliku?” Beliau bertanya, “Siapakah engkau?” Ia menjawab, “Aku orang Baahili yang mendatangimu pada tahun pertama,” beliau bertanya, “Apa gerangan yang mengubahmu? Sungguh dahulu engkau terlihat lebih baik,” ia menjawab, “Aku tidak memakan sesuatu makanan kecuali pada malam hari sejak aku berpisah denganmu.”

Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mengapa kau menyiksa dirimu seperti itu?” Kemudian beliau melanjutkan, “Berpuasalah pada bulan sabar (yaitu Ramadhan, -pent) dan sehari pada setiap bulannya.” Ia berkata, “Tambahkan untukku, sesungguhnya aku masih kuat.” Beliau bersabda, “Berpuasalah dua hari.” Ia berkata, “Tambahkan untukku.” Beliau bersabda, “Berpuasalah tiga hari.” Ia berkata, “Tambahkan untukku.” Beliau bersabda, “Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah, berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah, berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah.” Perawi berkata, “Beliau berisyarat dengan ketiga jari-jarinya, beliau menggenggamnya kemudian melepasnya.”
[Sunan Abu Daawud 4/94]

Hammaad dalam sanad diatas adalah Ibnu Salamah bin Diinaar, Abu Salamah Al-Bashriy, tsiqah ahli ibadah, orang yang paling tsabt pada Tsaabit, berubah hapalannya di akhir usianya. [Taqriibut Tahdziib no. 1499]

Al-Jurairiy adalah Sa’iid bin Iyaas Al-Jurairiy, Abu Mas’uud Al-Bashriy, tsiqah, hapalannya mengalami ikhtilath 3 tahun sebelum wafatnya. [Taqriibut Tahdziib no. 2273]

Sedangkan Abu As-Saliil adalah Dhuraib bin Nuqair Al-Qaisiy Al-Bashriy, Abu As-Saliil Al-Jurairiy, ia tsiqah. [Taqriibut Tahdziib no. 2984]

Ikhtilath Al-Jurairiy tidak membahayakan karena yang meriwayatkannya adalah Hammaad bin Salamah, ia mendengar dari Al-Jurairiy sebelum ikhtilathnya.

قال الأبناسي: وممن سمع منه قبل التغيير، منهم شعبة، وسفيان الثوري، والحمّادان، وإسماعيل بن علية، ومعمر، وعبد الوارث بن سعيد، ويزيد بن زريع، ووهيب بن خالد، وعبد الوهاب بن عبد المجيد الثقفي؛ وذلك لأن هؤلاء كلهم سمعوا من أيوب السختياني، وقد قال أبو داود – فيما رواه عنه أبو عبيد الآجري -: كل من أدرك أيوب فسماعه من الجريري جيد. انتهى

Al-Abnaasiy berkata, “Dan diantara mereka yang mendengar darinya sebelum berubah (hapalannya) adalah Syu’bah, Sufyaan Ats-Tsauriy, dua Hammaad (Ibnu Zaid dan Ibnu Salamah, -pent), Ismaa’iil bin ‘Ulayyah, Ma’mar, ‘Abdul Waarits bin Sa’iid, Yaziid bin Zurai’, Wuhaib bin Khaalid, dan ‘Abdul Wahhaab bin ‘Abdil Majiid Ats-Tsaqafiy; Dikarenakan mereka semua mendengar dari Ayyuub As-Sakhtiyaaniy.” Dan Abu Daawud telah berkata -pada riwayat Abu ‘Ubaid Al-Aajurriy-, “Semua yang menjumpai Ayyuub, maka pendengaran mereka dari Al-Jurairiy adalah jayyid.” Selesai. [Al-Mukhtalithiin hal. 37]

Permasalahan pada sanad ini adalah idhtirab pada perawi bernama Mujiibah. Pada sanad Abu Daawud disebutkan ia wanita (Al-Baahiliyyah). Pada ‘Abd bin Humaid (Musnad no. 400); An-Nasaa’iy (Sunan Al-Kubraa no. 2754); Ath-Thabaraaniy (Mu’jam Al-Kabiir no. 901); disebutkan bahwa ia pria (Al-Baahiliy). Pada Ibnu Maajah (Sunan no. 1741); Ibnu Abi Syaibah (Al-Mushannaf no. 572); Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy (Al-Mukhtarah no. 3077); disebutkan dengan nama kuniyah Abu Mujiibah Al-Baahiliy.

Oleh karena itu sanad hadits ini dha’if dengan idhtirab-nya nama Mujiibah, dalam suatu riwayat disebutkan ia wanita, di beberapa riwayat lain disebutkan ia pria bahkan disebutkan dengan nama kuniyahnya, yang karena idhtirab ini tidak bisa ditarjih maka ia tidak diketahui keadaannya.

Fiqh Hadits

Walaupun hadits ini dha’if namun fiqh-nya dapat diamalkan karena ia mempunyai syawahid secara makna dari hadits-hadits lain yang shahih. Seperti riwayat-riwayat berikut :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ وَصُمْ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمَيْنِ قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ فَقُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

Dari ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash -radhiyallaahu ‘anhuma-, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasa dan berbukalah, bangun (untuk shalat malam) dan tidurlah, berpuasalah 3 hari setiap bulannya karena sesungguhnya sebuah kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisalnya, dan yang seperti itu (berpuasa 3 hari setiap bulannya) bagaikan puasa dahr (puasa sepanjang masa).” Aku (‘Abdullaah bin ‘Amr) berkata, “Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih dari itu.” Beliau bersabda, “Maka berpuasalah sehari dan berbukalah 2 hari.” Aku berkata, “Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih dari itu.” Beliau bersabda, “Maka berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, itulah puasa Nabi Daawud ‘Alaihissalaam dan sebaik-baiknya puasa.” Aku berkata, “Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih dari itu.” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada yang lebih baik darinya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 1976; Shahiih Muslim no. 1159]

Dalam riwayat Al-Imam Ahmad dengan lafazh :

قَالَ صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ عَشَرَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا وَيُكْتَبُ لَكَ أَجْرُ تِسْعَةِ أَيَّامٍ قَالَ إِنِّي أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ قَالَ صُمْ مِنْ كُلِّ عَشَرَةٍ يَوْمَيْنِ وَيُكْتَبُ لَكَ أَجْرُ ثَمَانِيَةِ أَيَّامٍ حَتَّى بَلَغَ خَمْسَةَ أَيَّامٍ

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah 3 hari pada setiap bulannya dan sehari dalam tiap 10 hari, dan akan dicatat bagimu pahala sembilan hari.” ‘Abdullaah berkata, “Sesungguhnya aku kuat untuk melakukan yang lebih dari itu.” Beliau bersabda, “Berpuasalah 2 hari dalam tiap 10 hari dan akan dicatat bagimu pahala 8 hari hingga mencapai 5 hari.”
[Musnad Ahmad no. 6736] – Shahih.

As-Sindiy berkata mengenai isyarat Rasulullah menggenggam 3 jari jemarinya kemudian melepasnya :

صم منها ما شئت ، وأشار بالأصابع الثلاثة إلى أنه لا يزيد على الثلاث المتواليات وبعد الثلاث يترك يوما أو يومين ، والأقرب أن الإشارة لإفادة أنه يصوم ثلاثا ويترك ثلاثا والله أعلم

“Berpuasalah padanya sekehendakmu, diisyaratkan dengan 3 jari-jemari hingga ia tidak menambah atas 3 hari berturut-turut tersebut, dan setelahnya ia meninggalkan sehari atau dua hari (yaitu untuk berbuka). Dan yang lebih mendekati kebenaran pada isyarat tersebut adalah ia berpuasa 3 hari dan berbuka 3 hari. Wallaahu a’lam. [‘Aunul Ma’buud hal. 1126]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

Dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, “Kekasihku Shallallaahu ‘alaihi wasallam mewasiatkanku 3 hal, yaitu berpuasa 3 hari pada setiap bulannya, 2 raka’at shalat Dhuha dan shalat Witr sebelum aku berangkat tidur.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 1981; Shahiih Muslim no. 723]

Dan puasa 3 hari setiap bulannya terkhususkan dengan nama puasa Ayyamul Bidh berdasarkan dalil berikut :

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ وَأَيَّامُ الْبِيضِ صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Dari Jariir bin ‘Abdillaah -radhiyallaahu ‘anhu-, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Puasa 3 hari setiap bulannya bagaikan puasa Dahr (sepanjang masa), dan puasa Ayyaamul Biidh (puasa hari-hari putih karena pada hari itu adalah bulan purnama, -pent) adalah pagi hari pada hari ke-13, 14 dan 15 (pada penanggalan Hijriyah, -pent).”
[Sunan An-Nasaa’iy Ash-Shughraa no. 2420] – Shahih.

Bagaimana dengan berpuasa di bulan-bulan haram?

Allah Ta’ala telah berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [QS At-Taubah : 36]

Dan bulan-bulan haram ini adalah Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Telah tsabt hadits-hadits khusus yang berderajat shahih dan hasan yang menerangkan amalan puasa Muharram (Asyura) dan puasa Dzulhijjah berikut fadhilahnya. Adapun pada bulan-bulan haram yang tidak ada satupun hadits shahih maupun hasan yang bisa dijadikan hujjah mengenai keutamaan puasa-puasa khusus didalamnya, maka dalilnya kembali kepada keumuman dalil-dalil puasa sunnah dan tidak ada fadhilah khusus berkaitan dengannya.

Al-Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy berkata :

وأما الأحاديث الواردة في فضل رجب ، أو في فضل صيامه ، أو صيام شيء منه صريحة: فهي على قسمين: ضعيفة ، وموضوعة ، ونحن نسوق الضعيفة ، ونشير إلى الموضوعة إشارة مفهمة

“Dan adapun hadits-hadits yang disebutkan pada keutamaan Rajab, atau pada keutamaan berpuasanya, atau berpuasa dengan sesuatu (fadhilah) didalamnya secara sharih, maka hadits-hadits ini terbagi atas 2 bentuk : hadits dha’if dan hadits palsu. Kami menghalau hadits-hadits dha’if, dan memperingatkan akan hadits-hadits palsu dengan isyarat yang dapat dipahami.” [Tabyiinul ‘Ajab fiimaa Warada fiy Fadhli Rajab hal. 6]

Al-Imam Al-Haitamiy dalam fatwanya berkata :

روي في فضل صومه أحاديث كثيرة موضوعة, وأئمتنا وغيرهم لم يعولوا في ندب صومه عليها، حاشاهم من ذلك، وإنما عولوا على ما قدمته وغيره – وقد ذكر بعض الأحاديث الضعيفة ثم قال – وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا، ولا شك أن صوم رجب من فضائل الأعمال، فيكتفى فيه بالأحاديث الضعيفة ونحوها

“Diriwayatkan pada keutamaan berpuasa didalamnya (yaitu bulan Rajab) dari hadits-hadits yang kebanyakannya adalah hadits palsu yang tidak dijadikan sandaran oleh para imam kami dan yang lainnya dalam hal anjuran berpuasa didalamnya, mereka menghindari hadits-hadits semacam itu. Namun yang benar adalah mereka menjadikan sandaran atas hadits-hadits lainnya yang mereka dapatkan -disebutkan beberapa hadits-hadits dha’if oleh beliau, kemudian beliau berkata-, dan sungguh telah tetap bahwasanya hadits dha’if, mursal, munqathi’, mu’dhal dan mauquuf dapat dijadikan landasan dalam fadha’ilul a’mal dengan ijma’ (para ulama), dan tak dapat disangkal bahwa puasa Rajab adalah bagian dari fadha’ilul a’mal. Maka cukuplah untuk beramal didalamnya dengan hadits-hadits dha’if dan yang sepertinya[1].” [Al-Fataawaa Al-Fiqhiyyah Al-Kubraa 2/54]

Al-Lajnah Ad-Daa’imah Kerajaan Saudi ‘Arabia ditanya mengenai puasa Rajab, apakah kaifiyahnya dilakukan pada awal, tengah atau akhir bulan? Maka Lajnah menjawab :

لم تثبت أحاديث خاصة بفضيلة الصوم في شهر رجب سوى ما أخرجه النسائي وأبو داود وصححه ابن خزيمة من حديث أسامة قال : قلت : يا رسول الله ، لم أرك تصوم من شهر من الشهور ما تصوم من شعبان ، قال : ذلك شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم وإنما وردت أحاديث عامة في الحث على صيام ثلاثة أيام من كل شهر والحث على صوم أيام البيض من كل شهر وهو الثالث عشر والرابع عشر والخامس عشر والحث على صوم الأشهر الحرم ، وصوم يوم الاثنين والخميس ، ويدخل رجب في عموم ذلك ، فإن كنت حريصًا على اختيار أيام من الشهر فاختر أيام البيض الثلاث أو يوم الاثنين والخميس وإلا فالأمر واسع ، أما تخصيص أيام من رجب بالصوم فلا نعلم له أصلاً في الشرع .
وبالله التوفيق . وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

“Tidaklah tetap hadits-hadits khusus yang membahas keutamaan berpuasa pada bulan Rajab selain pada hadits yang dikeluarkan An-Nasaa’iy dan Abu Daawud, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari hadits Usaamah, ia berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, tak pernah kujumpai kau berpuasa dalam sebulan dari bulan-bulan lain sebagaimana kau berpuasa di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Bulan tersebut adalah bulan yang banyak dilupakan manusia diantara Rajab dan Ramadhan, ia adalah bulan diangkatnya amalan-amalan kepada Rabbul ‘Aalamiin, maka aku suka jika amalanku diangkat sementara aku dalam keadaan berpuasa.”

Dan sesungguhnya telah disebutkan hadits-hadits umum mengenai anjuran atas berpuasa 3 hari setiap bulannya, anjuran berpuasa ayyamul biidh setiap bulannya yaitu tanggal 13, 14 dan 15, anjuran berpuasa pada bulan-bulan haram, dan berpuasa hari Senin dan Kamis. Bulan Rajab pun masuk pada keumuman dalil-dalil tersebut. Maka jika kau menginginkan memilih hari-hari dalam sebulan (untuk berpuasa), dapat kau pilih puasa ayyamul biidh 3 hari, atau puasa senin kamis, dan lain-lain, dan perkara ini luas. Adapun takhsis (pengkhususan) hari-hari pada bulan Rajab untuk berpuasa, maka kami tidak mengetahui ia memiliki asal dari hukum syar’i.

Wa billaahit taufiiq. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Sumber fatwa :
http://www.alifta.com/Fatawa/fatawaChapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=335&PageNo=1&BookID=12

Markaz Fatawa Islamweb ditanya, mengapa dianjurkan berpuasa di bulan-bulan haram? Markaz Fatawa menjawab :

فقد استحب جمهور الفقهاء صيام الأشهر الحرم لما رواه أبو داود أن النبي صلى الله عليه وسلم قال للباهلي “صم من الحرم واترك” ثلاث مرات. وتكلمت طائفة من أهل العلم في صحة هذا الحديث وقالوا: لا يستحب صيام الأشهر الحرم بعينها إلا المحرم فقط، لما ثبت في صحيح مسلم والسنن أن النبي صلى الله عليه سلم قال: “أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل”. والراجح هو ما ذهب إليه جماهير الفقهاء وعملاً بالحديث. والله تعالى أعلم

“Jumhur fuqaha’ telah menganjurkan berpuasa di bulan-bulan haram, seperti diriwayatkan oleh Abu Daawud bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Al-Baahiliy, “Berpuasalah pada bulan haram dan tinggalkanlah,” sebanyak 3 kali. Sejumlah ahli ilmu telah membicarakan keshahihan hadits ini, mereka berkata, “Tidak dianjurkan berpuasa pada bulan-bulan haram secara khusus kecuali pada bulan Muharram saja,” seperti telah tetap pada Shahiih Muslim dan kitab Sunan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Puasa paling afdhal setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram, dan shalat paling afdhal setelah shalat-shalat fardhu adalah shalat malam.” Dan yang rajih (dalam masalah puasa di bulan-bulan haram ini) adalah pada pendapat yang dipegang jumhur fuqaha’ dan pengamalan haditsnya. Wallaahu Ta’ala a’lam.

Sumber fatwa :
http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=38462

Maka, dianjurkan berpuasa sunnah di bulan-bulan haram baik dengan dalil-dalil yang bersifat khusus (jika memang ada dalil khusus yang bisa dijadikan hujjah) maupun dengan dalil-dalil umum, dan ini adalah madzhab jumhur fuqaha’.

Selesai. Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di Tangerang Selatan, 6 Rajab 1435 H.

Tommi Marsetio

Footnotes :

[1] Ini adalah madzhab Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy rahimahullah. Kami tidak memungkiri bahwasanya ada khilafiyah tajam dalam memandang apakah hadits dha’if boleh diamalkan dalam rangka fadha’ilul a’mal secara muthlaq, boleh diamalkan dengan perincian, ataukah tidak boleh diamalkan sama sekali. Namun klaim ijma’ Al-Haitamiy bahwa hadits dha’if boleh diamalkan untuk fadha’ilul a’mal secara muthlaq masih harus diteliti ulang, sebab bagaimanakah bisa disebut ijma’ jika masih ada khilafiyah tajam dalam hal ini?

Dan walaupun Imam Al-Haitamiy memiliki madzhab boleh mengamalkan hadits dha’if secara muthlaq, tetaplah kita harus memahami apa yang beliau maksud dengan hadits dha’if tersebut, yaitu hadits yang kadar kelemahannya masih bisa ditoleransi, tidak terlalu lemah, tidak teriwayatkan dari orang yang ditinggalkan haditsnya apalagi seorang pendusta, ada qarinah (indikasi) bahwa ia dapat maqbuul (diterima), dan dipakai hanya dalam masalah fadha’ilul a’mal (yaitu sekedar memotivasi untuk beramal) dan bukan dalam hal penentuan sumber hukum, fadhilah tertentu atau ushul ibadah, terlebih tidak diyakini sebagai sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Inilah yang kami kira masih banyak disalahpahami oleh sebagian saudara-saudara kami bahwasanya mereka menjadikan fatwa para ulama yang membolehkan hal-hal seperti ini sebagai “senjata” untuk tasahul (bermudah-mudahan) dalam menerima hadits dan berdalil dengannya, kemudian sembarangan mengutip tanpa diberitahu derajatnya, akhirnya jadilah hadits dha’if pun dijadikan sumber hukum. Allaahul Musta’an.

One thought on “Dirasah Hadits “Berpuasalah di Bulan-bulan Haram”

  1. Akhi, bagaimana dengan hadits di shahih muslim ini :

    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُاكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُو حَدَّثَنِيهِ عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ ح و حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ كِلَاهُمَا عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ بِمِثْلِهِ

    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair -dalam riwayat lain- Dan Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim Al Anshari ia berkata; Saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan. Maka ia pun menjawab; Saya telah mendengar Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.” Dan telah meceritakannya kepadaku Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir -dalam riwayat lain- Dan telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus keduanya dari Utsman bin Hakim di dalama isnad ini, yakni dengan hadits semisalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s