Derajat Hadits : “…Bulan yang Awalnya Adalah Rahmat, Pertengahannya Adalah Ampunan, Akhirnya Adalah Pembebasan dari Neraka”

ramadhan mubarakMenjelang bulan Ramadhan, biasanya khathib-khathib atau para penceramah akan aktif menyebutkan hadits-hadits targhib wa tarhib mengenai keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan, baik ketika khutbah Jum’at maupun ketika tausiyah-tausiyah yang marak diadakan selama bulan Ramadhan. Namun, bagaimanakah sebenarnya hadits yang kami kutip pada judul diatas bila ditinjau dari sisi keshahihan sanadnya?

Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah dengan sanad dan matan yang panjang :

ثنا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ، ثنا يُوسُفُ بْنُ زِيَادٍ، ثنا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ سَلْمَانَ، قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ، فَقَالَ: ” أَيُّهَا النَّاسُ، قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً، كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ “. قَالُوا: لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ. فَقَالَ: ” يُعْطِي اللَّهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ، أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ، أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوكِهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ، وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ، وَخَصْلَتَيْنِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ: فَشَهَادَةُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهَا: فَتُسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيهِ صَائِمًا، سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Hujr As-Sa’diy, telah menceritakan kepada kami Yuusuf bin Ziyaad, telah menceritakan kepada kami Hammaam bin Yahyaa, dari ‘Aliy bin Zaid bin Jud’aan, dari Sa’iid bin Al-Musayyib, dari Salmaan -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berkhutbah kepada kami pada hari terakhir di bulan Sya’ban. Beliau bersabda :

“Wahai sekalian manusia, sungguh senantiasa hadir di hadapan kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada bulan tersebut sebagai ibadah wajib dan shalat malamnya sebagai ibadah sunnah tathawwu’. Barangsiapa yang mendekatkan diri (kepada Allah) didalamnya dengan suatu perbuatan yang baik (ibadah sunnah) maka ia akan diberi pahala bagaikan pahala ibadah wajib dan yang semisalnya, dan barangsiapa yang beribadah wajib didalam bulan tersebut maka ia akan diberi pahala bagaikan 70 kali pahala ibadah wajib dan yang semisalnya. Bulan tersebut adalah bulan kesabaran dan kesabaran akan diganjar surga, bulan penuh perenungan dan bulan ditambahkannya rizqi seorang mu’min.

Barangsiapa yang memberikan makan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa maka baginya ampunan untuk dosa-dosanya dan dibebaskan lehernya dari api neraka dan baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut dengan tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

Para sahabat berkata, “Tidak semua dari kami dapat menemukan makanan untuk memberi makan orang yang berpuasa.”

Rasulullah bersabda, “Allah memberikan pahala bagi mereka yang memberi makan orang yang berpuasa (walaupun) dengan sebiji kurma, seteguk air atau dengan segelas susu. Bulan tersebut adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Barangsiapa yang berlemah lembut terhadap budaknya, Allah akan memberikan ampunan baginya dan membebaskannya dari neraka.

Perbanyaklah melakukan 4 hal didalam bulan tersebut, 2 diantaranya dapat membuat Rabb kalian ridha dan 2 diantaranya janganlah terluput darinya. Adapun 2 perbuatan yang membuat Rabb kalian ridha adalah bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan banyak memohon ampun kepadaNya. Dan adapun 2 perbuatan yang jangan terluput darinya adalah mohonlah surga kepada Allah dan berlindunglah kepadaNya dari siksa neraka. Barangsiapa yang mengenyangkan orang yang berpuasa, Allah akan memberinya minum dari haudh-ku dengan minuman yang membuatnya tidak akan merasakan haus hingga ia memasuki surga.”
[Shahiih Ibnu Khuzaimah 3/191, Al-Maktab Al-Islaamiy]

Diriwayatkan pula oleh Al-Husain bin Ismaa’iil Al-Mahaamiliy (Amaaliy no. 293); Al-Baghawiy (Ma’aalimut Tanziil no. 81); Al-Waahidiy (Tafsiir Al-Wasiith 1/277); Ibnu Abid Dunyaa (Fadhaa’il Syahru Ramadhaan no. 41); As-Samarqandiy (Tanbiihul Ghaafiliin 1/185); Ibnu Syaahiin (Fadhaa’il Syahru Ramadhaan no. 15, 16); Al-Baihaqiy (Syu’abul Iimaan no. 3608; Fadhaa’ilul Auqaat no. 37), semua bersumber dari ‘Aliy bin Zaid bin Jud’aan, dari Ibnul Musayyib, dari Salmaan, secara marfuu’.

Pembahasan Sanad Hadits

Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy berkata dalam Ithaaf Al-Mahrah no. 5941 :

رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي (الشُّعَبِ) مِنْ طُرُقٍ: عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُجْرٍ , بِهَذَا الإِسْنَادِ. وَمِنْ طَرِيقٍ أُخْرَى: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَكْرٍ السَّهْمِيِّ , عَنْ إِيَاسِ بْنِ عَبْدِ الْغَفَّارِ , عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ. وَالأَوَّلُ أَتَمُّ وَمَدَارُهُ عَلَى عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، وَهُوَ ضَعِيفٌ , وَأَمَّا يُوسُفُ بْنُ زِيَادٍ فَضَعِيفٌ جِدًّا , وَأَمَّا إِيَاسُ بْنُ عَبْدِ الْغَفَّارِ فَمَا عَرَفْتُهُ

“Diriwayatkan Al-Baihaqiy dalam Asy-Syu’ab dari banyak jalan, dari ‘Aliy bin Hujr dengan sanad ini. Dan dari jalan yang lain : dari ‘Abdullaah bin Bakr As-Sahmiy, dari Iyaas bin ‘Abdil Ghaffaar, dari ‘Aliy bin Zaid. Jalan yang pertama lebih sempurna (matannya) dan sumbernya berasal dari ‘Aliy bin Zaid, ia dha’if. Adapun Yuusuf bin Ziyaad maka ia dha’if jiddan, dan Iyaas bin ‘Abdil Ghaffaar tidaklah dikenal.”

Inilah kalam Al-Haafizh, semoga Allah merahmatinya. Dari kalam ini diketahuilah bahwasanya hadits ini hanya bersumber dari ‘Aliy bin Zaid atau dengan kata lain, ia bersendirian (tafarrud) meriwayatkannya.

‘Aliy bin Zaid bin ‘Abdillaah bin Zuhair bin ‘Abdillaah bin Jud’aan bin ‘Amr At-Taimiy Al-Qurasyiy, Abul Hasan Al-Bashriy. Ia hampir disepakati akan kelemahannya, Ibnu Sa’d berkata “banyak haditsnya, terdapat kelemahan padanya dan tidak dijadikan hujjah”, Ahmad dalam riwayat Shaalih ia berkata “laisa bil qawiy”, dalam riwayat Ayyuub bin Ishaaq ia berkata “tidak ada nilainya”, dan dalam riwayat Hanbal ia berkata “dha’iiful hadiits”, Ibnu Ma’iin dalam riwayat Ad-Daarimiy ia berkata “laisa bil qawiy”, dan dalam riwayat lain ia berkata “dha’iif, dalam segala hal”, Al-‘Ijliy berkata “ditulis haditsnya namun ia tidak kuat”, dalam riwayat lain ia berkata “‘Aliy bin Zaid tasyayyu’, tidak mengapa dengannya”, Ya’quub bin Syaibah berkata “tsiqah, haditsnya baik”, Abu Zur’ah dan Abu Haatim berkata “laisa bi qawiy”, Abu Haatim menambahkan “ditulis haditsnya namun tidak dijadikan hujjah, ia tasyayyu'”, At-Tirmidziy berkata “shaduuq, kecuali ia kerap me-marfuu’-kan sesuatu yang telah di-mauquuf-kan oleh yang lainnya”, An-Nasaa’iy melemahkannya, Ibnu Khuzaimah berkata “aku tidak menjadikannya hujjah dengan buruknya hapalannya”, Ad-Daaraquthniy berkata “ia disisiku tetap lemah”, Yahyaa Al-Qaththaan meninggalkannya, Hammaad bin Zaid berkata “‘Aliy bin Zaid kerapkali membolak-balik hadits, suatu hari ia menceritakan kepada kami sebuah hadits kemudian ia menceritakannya kembali esok hari namun seolah-olah hadits itu telah berubah matannya”, Al-Fasawiy berkata “hapalannya bercampur baur di usia tuanya”, Adz-Dzahabiy berkata “ia memiliki hadits-hadits yang ajaib dan khabar-khabar mungkar namun ilmunya luas”, Al-Haafizh berkata “dha’iif”. Wafat tahun 131 H atau dikatakan sebelumnya. Dipakai Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul Mufrad, Muslim dan 4 kitab Sunan. [Tahdziibul Kamaal no. 4070; Siyaru A’laam An-Nubalaa’ 5/206; Taqriibut Tahdziib no. 4768]

Dari para imam huffaazh -rahimahumullah- diatas, ‘Aliy bin Zaid bin Jud’aan adalah dha’if terkhusus karena buruknya hapalannya dan hapalannya bercampur baur di akhir usianya, maka riwayatnya tidak bisa dipakai sebagai hujjah jika ia tafarrud, namun bisa dipakai sebagai mutaba’ah atau syaahid jika tidak ada mukhalafah.

Maka sanad hadits ini lemah karena sebab ‘Aliy bin Zaid bin Jud’aan, ia tafarrud dalam meriwayatkan hadits ini dan ia bukanlah seorang yang tsiqah.

Matan “awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka” mempunyai syaahid dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abid Dunyaa dalam Fadhaa’il-nya :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، قثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، قَالَ: ثنا سَلامُ بْنُ سَوَّارٍ، قثنا مَسْلَمَةُ بْنُ الصَّلْتِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sallaam bin Sawwaar, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Maslamah bin As-Shalt, dari Az-Zuhriy, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Permulaan bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka.”
[Fadhaa’il Syahru Ramadhaan no. 37]

Diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Adiy (Al-Kaamil 4/325); Al-Khathiib (Al-Auhaam 2/149); Abu Ja’far Al-‘Uqailiy (Adh-Dhu’afaa’ 2/534); ‘Abdul Ghaniy Al-Maqdisiy (Fadhaa’il Syahru Ramadhaan no. 21); Ibnu ‘Asaakir (Taariikh Dimasyq 27/19), dari jalan Sallaam bin Sawwaar, dari Maslamah, dari Az-Zuhriy, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah secara marfuu’.

Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh-nya 73/80 menyebutkan hadits ini dengan sanad dari Sallaam, dari Maslamah, dari Az-Zuhriy, dari Sa’iid bin Al-Musayyib, dari Abu Hurairah secara marfuu’. Dan disebutkan oleh Al-Khathiib dalam Al-Auhaam 2/149 dengan tanpa perantara Az-Zuhriy, kemudian Asy-Syajariy Al-Jurjaaniy dalam Amaaliy-nya no. 1236 menyebutkannya dari Az-Zuhriy langsung kepada Abu Hurairah. Wallaahu a’lam.

Sanad ini pun lebih bermasalah dari hadits Ibnu Jud’aan diatas, karena terdapat 2 perawi yang lemah.

Sallaam bin Sulaimaan bin Sawwaar, Abul ‘Abbaas Ats-Tsaqafiy Al-Madaa’iniy. Abu Haatim berkata “laisa bil qawiy”, Ibnu ‘Adiy berkata “munkarul hadiits[1], semua yang diriwayatkannya hasan kecuali ia tidak mempunyai mutaba’ah atasnya”, Abu Ja’far Al-’Uqailiy berkata “haditsnya tidak mahfuuzh, tidak ada asalnya dari hadits Az-Zuhriy dan tidak pula yang lainnya”, Al-Haafizh berkata “dha’iif”. [Tahdziibul Kamaal no. 2656; Adh-Dhu’afaa’ li Al-‘Uqailiy 2/533; Taqriibut Tahdziib no. 2704]

Maslamah bin Ash-Shalt Asy-Syaibaaniy, Ibnu Abi Haatim meriwayatkan dari Abu Haatim bahwa ia berkata, “Maslamah bin Ash-Shalt, seorang syaikh dari Bashrah, matruukul hadiits”. [Al-Jarh wa At-Ta’diil 8/269; Miizaanul I’tidaal 6/422]

Maka, sanad hadits syaahid ini sangat lemah.

Kesimpulan

Dengan ini, hadits Ibnu Khuzaimah yang kami kutip di awal tulisan ini adalah hadits lemah yang walaupun ia mempunyai syaahid namun derajat hadits syaahid-nya pun sangat lemah sehingga tidak bisa mengangkatnya ke derajat hasan, ia tetap dalam kelemahannya.

Dan cukuplah hadits-hadits yang berderajat shahih maupun hasan yang dijadikan hujjah dalam masalah targhib dan tarhib bulan Ramadhan karena sesungguhnya kita telah dicukupi olehnya.

Hadits ini dilemahkan Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy dalam As-Sunan wal Ahkaam 3/400; Badruddiin Al-‘Ainiy dalam ‘Umdatul Qaariy 10/383; Al-Mundziriy dalam At-Targhiib wa At-Tarhiib 2/115; Al-Albaaniy dalam Dha’iif At-Targhiib no. 589 dan Adh-Dha’iifah 2/263 (beliau berkata, “Munkar”), Takhriij Al-Misykaah no. 1906 (beliau berkata, “Dha’iif jiddan”).

Tanbiih

Sebagian orang mengutip keterangan bahwa Ibnu Khuzaimah telah menshahihkan hadits ini dengan perkataan, “Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahiih-nya dan ia menshahihkannya,” atau yang semakna dengannya. Ini adalah perkataan yang tidak berdasar. Kami tidak menemukan perkataan Ibnu Khuzaimah yang menshahihkan hadits ini. Kemungkinan besar mereka terkecoh dengan judul bab hadits ini yaitu :

باب فضائل شهر رمضان إن صحَّ الخبر

“Bab keutamaan bulan Ramadhan, jika shahih khabar (mengenainya).”

Yang dapat dipahami adalah judul tersebut bukan bermaksud tashhih ataupun tahsin namun bermaksud menyatakan kelemahannya secara tidak langsung. Telah berlalu keterangan bahwa Ibnu Khuzaimah tidak menjadikan hujjah atas hadits ‘Aliy bin Zaid bin Jud’aan karena buruknya hapalannya, maka tidaklah mungkin tiba-tiba beliau menshahihkan hadits ini.

Selesai. Semoga bermanfaat.
Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di BSD, penghujung bulan Sya’ban 1435 H.
Menanti detik-detik Ramadhan.

Tommi Marsetio

Footnotes :

[1] Munkarul hadiits di sisi ulama mutaqaddimin tidaklah selalu bermakna hadits-haditsnya mungkar atau diingkari, namun artinya adalah ia banyak bersendirian ketika meriwayatkan suatu hadits padahal ia bukanlah orang yang tsiqah. Qarinah akan hal ini adalah perkataan Ibnu ‘Adiy selanjutnya setelah menyebut “munkarul hadiits”.

3 thoughts on “Derajat Hadits : “…Bulan yang Awalnya Adalah Rahmat, Pertengahannya Adalah Ampunan, Akhirnya Adalah Pembebasan dari Neraka”

  1. Assaalmu’alaikum akhi kayak nya teks.arab dari hadist tersebut di atas miring ke atas dan ngak beraturan maaf hanya kasih masukan ( apa komputer saya yg error ) Barakallahu Fiikum Ilmunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s