Tafsir Surat An-Nashr bersama Al-Haafizh Ibnu Rajab

Surah An- NashrAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” [QS An-Nashr : 1-3]

__________

Al-Haafizh Zainuddiin Abul Faraj ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah berkata :

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwasanya Surat An-Nashr menyamai seperempat Al-Qur’an[1]. Ia termasuk surat-surat Madaniyyah dengan kesepakatan para ulama, maknanya adalah ia diturunkan setelah hijrah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam ke Madinah dan termasuk surat yang terakhir turun kepada beliau.

Dalam Shahiih Muslim (no. 3024), diriwayatkan dengan sanad hingga Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma :

قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ تَعْلَمُ وَقَالَ هَارُونُ تَدْرِي آخِرَ سُورَةٍ نَزَلَتْ مِنْ الْقُرْآنِ نَزَلَتْ جَمِيعًا قُلْتُ نَعَمْ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالَ صَدَقْتَ

Ibnu ‘Abbaas bertanya kepadaku (yaitu ‘Ubaidullaah bin ‘Abdillaah bin ‘Utbah), “Apakah engkau mengetahui surat terakhir dari Al-Qur’an yang diturunkan semuanya?” Aku menjawab, “Ya, idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath.” Ibnu ‘Abbaas berkata, “Engkau benar.”

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu turunnya, dikatakan oleh sebuah pendapat bahwa ia diturunkan pada tahun wafatnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Dalam Musnad Ahmad (no. 1873)[2], dari Muhammad bin Fudhail, telah menceritakan kepada kami ‘Athaa’, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata :

لَمَّا نَزَلَتْ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُعِيَتْ إِلَيَّ نَفْسِي بِأَنَّهُ مَقْبُوضٌ فِي تِلْكَ السَّنَةِ

“Ketika diturunkan surat idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku telah dikhabarkan bahwasanya diriku akan wafat pada tahun ini.”

‘Athaa’ -dia adalah Ibnu As-Saa’ib- hapalannya mengalami ikhtilath di akhir umurnya.

Dan dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bazzaar[3] dan Al-Imam Al-Baihaqiy[4] rahimahumallah, dari hadits Muusaa bin ‘Ubaidah, dari ‘Abdullaah bin Diinaar dan Shadaqah bin Yasaar, dari Ibnu ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata :

نَزَلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمِنًى وَهُوَ فِي أَوْسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ فَعَرَفَ أَنَّهُ الْوَدَاعُ، فَأَمَرَ بِرَاحِلَتِهِ الْقَصْوَاءِ فَرُحِّلَتْ لَهُ، ثُمَّ رَكِبَ، فَوَقَفَ لِلنَّاسِ بِالْعَقَبَةِ، وَاجْتَمَعَ إِلَيْهِ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ

“Telah diturunkan surat ini kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam di Mina pada pertengahan hari-hari Tasyriq ketika haji Wadaa’, idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath, maka orang-orang mengetahui bahwasanya ini adalah wadaa’ (perpisahan). Beliau memerintahkan unta tunggangannya, Al-Qashwaa’, untuk memberangkatkan beliau, kemudian beliau menungganginya lalu berhenti kepada lautan manusia di ‘Aqabah, maka bertemulah beliau dengan kaum muslimin atas sekehendak Allah. Beliau bertahmid kepada Allah, memujiNya…” dan disebutkan khutbah Rasulullah yang panjang.

Namun sanad hadits ini sangat lemah. Muusaa bin ‘Ubaidah[5], berkata Ahmad mengenainya, “Tidak halal bagiku meriwayatkan darinya.”

Qataadah rahimahullah berkata :

عاش رسول الله صلى الله عليه وسلم بعدها سنتين

“Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam masih hidup setelahnya (yaitu setelah haji Wadaa’) selama dua tahun.”

Dari keterangan-keterangan yang telah lalu menunjukkan bahwasanya surat An-Nashr diturunkan sebelum Fathu Makkah dan inilah yang nampak darinya, dikarenakan firman Allah Ta’ala, idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath, mengindikasikan bukti nyata bahwa Fathu Makkah belumlah terjadi (ketika surat ini diturunkan)[6].

1) FirmanNya Ta’ala :

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

“Nashrullaah” maksudnya adalah bantuan Allah yang Dia diberikan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin atas musuh-musuh mereka hingga beliau menaklukkan seluruh jazirah Arab dan menguasai seluruh qabilah-qabilah mereka dari mulai Quraisy, Hawaazin, dan yang lainnya. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas bahwa An-Nashr adalah perjanjian Hudaibiyyah.

“Al-Fath” adalah Fathu Makkah dengan semua kekhususan-kekhususannya, demikian perkataan Ibnu ‘Abbaas dan yang lainnya, karena masyarakat Arab menunggu-nunggu agama Islam yang dimenangkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam atas kota Makkah.

Dalam Shahiih Al-Bukhaariy (no. 4302), dari sahabat ‘Amr bin Salamah -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata :

وَكَانَتْ الْعَرَبُ تَلَوَّمُ بِإِسْلَامِهِمْ الْفَتْحَ فَيَقُولُونَ اتْرُكُوهُ وَقَوْمَهُ فَإِنَّهُ إِنْ ظَهَرَ عَلَيْهِمْ فَهُوَ نَبِيٌّ

“Orang-orang Arab menunggu agama Islam mereka pada hari Fathu Makkah, orang-orang Arab tersebut mengatakan, “Biarkanlah mereka (Rasulullah dan para sahabatnya) dan kaumnya tersebut karena sesungguhnya jika telah nyata kemenangan mereka atas kaumnya, maka benarlah bahwa ia seorang Nabi.”

Dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah, ia berkata :

لما فتح رسول الله صلى الله عليه وسلم مكة قالت العرب: أما إذا ظفر محمد بأهل مكة، وقد أجارهم الله من أصحاب الفيل فليس لكم به يدان، فدخلوا في دين الله أفواجا

“Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menaklukkan Makkah, berkatalah orang-orang Arab, “Adapun jika Muhammad (dan para sahabatnya) menang atas penduduk Makkah, maka sungguh Allah telah melindungi mereka dari pasukan gajah dan tidaklah kalian mempunyai dua kekuatan (untuk menolak mereka).” Maka masuklah mereka ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong.”

2) FirmanNya Ta’ala :

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

“An-Naas” adalah bermakna umum, yaitu manusia secara umum berdasarkan qaul jumhur ulama. Muqaatil berkata, “Mereka adalah penduduk Yaman.”

Dalam Musnad Ahmad (no. 10783)[7], dari jalan Syu’bah, dari ‘Amr bin Murrah, dari Abul Bakhtariy, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy -radhiyallaahu ‘anhu-, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, Abu Sa’iid berkata :

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ قَالَ قَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى خَتَمَهَا وَقَالَ النَّاسُ حَيْزُ وَأَنَا وَأَصْحَابِي حَيْزُ وَقَالَ لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ

“Ketika surat ini turun, yaitu idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath wa ra’aitannaasa, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun membacanya hingga akhir surat, dan beliau bersabda, “Manusia adalah satu kesatuan, aku dan sahabat-sahabatku adalah satu kesatuan.” Kemudian beliau bersabda, “Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, namun (yang ada hanyalah) jihad dan niat.”

Dan telah tsabt dalam Ash-Shahiihain[8] dari hadits Ibnu ‘Abbaas bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari Fathu Makkah :

لَا هِجْرَةَ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ

“Tidak ada hijrah, namun (yang ada hanyalah) jihad dan niat.”

Ini menunjukkan bahwa yang diinginkan dengan makna “Al-Fath” adalah Fathu Makkah dan dimutlakkan padanya sebagaimana firman Allah Ta’ala :

لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah).” [QS Al-Hadiid : 10]

Diriwayatkan Al-Imam An-Nasaa’iy (Sunan Al-Kubraa no. 11648)[9], dari jalan Hilaal bin Khabbaab, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas, ketika diturunkan surat idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath, hingga akhir surat, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

جَاءَ الْفَتْحُ، وَجَاءَ نَصْرُ اللَّهِ، وَجَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ “، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا أَهْلُ الْيَمَنِ؟ قَالَ: ” قَوْمٌ رَقِيقَةٌ قُلُوبُهُمْ، لَيِّنَةٌ قُلُوبُهُمُ، الإِيمَانُ يَمَانٌ، وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ، وَالْفِقْهُ يَمَانٌ

“Telah datang kemenangan, telah datang pertolongan Allah dan telah datang penduduk Yaman.” Berkatalah seorang laki-laki, “Wahai Rasulullah, siapakah penduduk Yaman?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Satu kaum yang lembut dan halus hati mereka, iman adalah Yamaan, hikmah berasal dari orang-orang Yamaan dan fiqh adalah Yamaan.”

Ini semua tidaklah menunjukkan pengkhususan penduduk Yaman dengan “An-Naas” yang disebutkan dalam ayat, namun yang benar adalah ia menunjukkan bahwasanya penduduk Yaman masuk dalam keumuman “An-Naas”.

“Al-Afwaaj” maknanya adalah sekumpulan demi sekumpulan, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ

“Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir).” [QS Al-Mulk : 8]

Dalam Musnad Ahmad (no. 14286)[10], dari jalan Al-Auzaa’iy, telah menceritakan kepadaku Abu ‘Ammaar, telah menceritakan kepadaku tetangga Jaabir bin ‘Abdillaah, ia berkata :

قَدِمْتُ مِنْ سَفَرٍ فَجَاءَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يُسَلِّمُ عَلَيَّ فَجَعَلْتُ أُحَدِّثُهُ عَنْ افْتِرَاقِ النَّاسِ وَمَا أَحْدَثُوا فَجَعَلَ جَابِرٌ يَبْكِي ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ دَخَلُوا فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا وَسَيَخْرُجُونَ مِنْهُ أَفْوَاجًا

“Aku baru tiba dari safar ketika Jaabir bin ‘Abdillaah -radhiyallaahu ‘anhuma- datang kepadaku, ia mengucapkan salam kepadaku lalu aku menceritakan kepadanya mengenai perpecahan diantara manusia dan segala perkara-perkara baru yang mereka perbuat (dalam agama). Jaabir pun menangis seraya berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya manusia memasuki agama Allah dengan berbondong-bondong dan akan keluar darinya dengan berbondong-bondong pula.”

3. FirmanNya Ta’ala :

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Fasabbih”, terdapat dua tafsiran mengenainya, dihikayatkan oleh Ibnul Jauziy. Yang pertama adalah shalat, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas. Yang kedua adalah tasbih yang telah ma’ruuf.

“Bihamdi”, dengan dibaca mudhaf kepada maf’ul, adalah bertasbih kepadaNya dengan (banyak) memuji untukNya, maknanya adalah menggabungkan antara kalimat tasbih -bermaksud mensucikanNya dari segala yang tidak layak bagiNya yang menunjukkan ketidaksempurnaan- dan kalimat tahmid. Kemudian “Bihamdi” dengan dibaca mudhaf kepada faa’il, adalah bertasbih kepadaNya dengan pujian yang Dia sifati sendiri bagi DzatNya. Tentunya tasbih bukan dengan tasbih yang dilakukan mu’tazilah ketika mereka menghendaki ta’thil bagi Shifat-shifatNya, sebagaimana Bisyr Al-Mariisiy -semoga Allah memburukkan wajahnya- dahulu pernah mengatakan, “Subhaana Rabbiyal asfal (Maha Suci Rabb yang maha rendah).”

“Wastaghfirhu”, adalah memohon ampunanNya. Ampunan bermakna perlindungan dari keburukan dan dosa, tidak cukup hanya penutupan atasnya.

“Innahu kaana tawwaabaa”, adalah sebuah isyarat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat orang-orang yang memohon ampunan dan kembali kepadaNya, maka kalimat ini adalah targhib (anjuran) untuk beristighfar kepadaNya dan anjuran agar bertaubat. Sejumlah sahabat -radhiyallaahu ‘anhum- memahami ayat ini bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan bertasbih, bertahmid, dan istighfar ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan, bersyukur kepada Allah atas nikmat ini, sebagaimana shalat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pada hari Fathu Makkah sebanyak 8 raka’at[11]. Demikian pula Sa’d bin Abi Waqqaash -radhiyallaahu ‘anhu- shalat pada hari Fathu Madaa’in, dan oleh karena itulah konon shalat ini dinamakan Shalat Al-Fath.

Sungguh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya, mengajarkan kepada ummatnya mengenai tatacara manasik dan ibadah-ibadah, dan meninggalkan mereka diatas putih, yang malamnya bagai siangnya, dan dari sinilah turun ayat :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” [QS Al-Maa’idah : 3]

‘Umar bin Al-Khaththaab memahami surat An-Nashr ini sebagaimana pemahaman Abu Bakr Ash-Shiddiiq -radhiyallaahu ‘anhuma- dari sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pada khutbahnya[12] :

إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah memilihkan kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisiNya, maka hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah.”

Dan didalam Shahiih Al-Bukhaariy (no. 4970), dari hadits Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata :

كَانَ عُمَرُ يُدْخِلُنِي مَعَ أَشْيَاخِ بَدْرٍ فَكَأَنَّ بَعْضَهُمْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ فَقَالَ لِمَ تُدْخِلُ هَذَا مَعَنَا وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ فَقَالَ عُمَرُ إِنَّهُ مَنْ قَدْ عَلِمْتُمْ فَدَعَاهُ ذَاتَ يَوْمٍ فَأَدْخَلَهُ مَعَهُمْ فَمَا رُئِيتُ أَنَّهُ دَعَانِي يَوْمَئِذٍ إِلَّا لِيُرِيَهُمْ قَالَ مَا تَقُولُونَ فِي قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ أُمِرْنَا أَنْ نَحْمَدَ اللَّهَ وَنَسْتَغْفِرَهُ إِذَا نُصِرْنَا وَفُتِحَ عَلَيْنَا وَسَكَتَ بَعْضُهُمْ فَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ لِي أَكَذَاكَ تَقُولُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ فَقُلْتُ لَا قَالَ فَمَا تَقُولُ قُلْتُ هُوَ أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمَهُ لَهُ قَالَ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَذَلِكَ عَلَامَةُ أَجَلِكَ { فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا } فَقَالَ عُمَرُ مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلَّا مَا تَقُولُ

“‘Umar pernah mengajakku berkumpul bersama para syaikh veteran perang Badr, dan sepertinya sebagian dari mereka memendam sesuatu pada dirinya (mengenai diriku). Salah seorang dari mereka pun bertanya, “Kenapa kau mengajak anak ini bersama kami, padahal kami juga memiliki anak-anak yang sebaya dengannya?” Maka ‘Umar pun berkata, “Sesungguhnya ia mempunyai kecerdasan seperti yang telah kalian ketahui.”

Maka suatu hari ‘Umar mengajaknya dan mengikutsertakannya bersama mereka. Ibnu ‘Abbaas berkata, “Maka tidaklah aku melihat ‘Umar mengajakku hari itu kecuali untuk memperlihatkan sesuatu pada mereka.” ‘Umar berkata kepada mereka, “Bagaimanakah pendapat kalian mengenai firman Allah Ta’ala, ‘idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath?” Lalu sebagian dari mereka berkata, “Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampunanNya jika kita telah diberi pertolongan dan kemenangan atasnya.” Sebagian yang lain diam tak berkata-kata sedikitpun.

Setelah itu, ‘Umar bertanya padaku, “Apakah seperti itu juga pendapatmu wahai Ibnu ‘Abbaas?” Aku menjawab, “Tidak.” ‘Umar bertanya lagi, “Maka apa pendapatmu?” Aku menjawab, “Ayat itu terkait dengan ajal Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, Allah telah memberitahukan kepadanya. Firman Allah, idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath, artinya itu adalah tanda-tanda akan ajalmu, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” ‘Umar berkata, “Tidaklah aku mengetahui makna ayat tersebut kecuali dari apa yang kau katakan.”

Diriwayatkan Al-Imam Abu Bakr Al-Kharaa’ithiy rahimahullah dalam kitab Asy-Syukru (no. 52), dari jalan Syaadz bin Fayyaadh, dari Al-Haarits bin Syibl, dari Ummu An-Nu’maan Al-Kindiyyah, dari ‘Aaisyah -radhiyallaahu ‘anha-, ia berkata :

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ [إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا] اجْتَهَدَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي الْعِبَادَةِ، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا هَذَا الاجْتِهَادُ؟ ! أَلَيْسَ قَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ ! قَالَ: ” أَفَلا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Ketika turun ayat, innaa fatahnaa laka fathan mubiinaa [QS Al-Fath : 1], Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh dalam ibadah. Lalu ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa tujuan dari kesungguhanmu ini? Bukankah Allah telah memberi ampunan pada dosa-dosamu yang telah lalu dan yang terkini?” Rasulullah bersabda, “Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”

Sanadnya lemah[13].

Dahulu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan beristighfar setelah turunnya surat ini. Sebagaimana dalam Ash-Shahiihain[14], dari Masruuq Al-Ajda’, dari ‘Aaisyah, ia berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ

“Dahulu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam ruku’ dan sujudnya memperbanyak membaca “Subhaanaka Allaahumma Rabbanaa wa bihamdika Allaahummaghfir liy” sebagai pengamalan Al-Qur’an.”

Dan dalam Musnad Ahmad (no. 23514) juga Shahiih Muslim (no. 487), dari ‘Aaisyah, ia berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَالَ خَبَّرَنِي رَبِّي أَنِّي سَأَرَى عَلَامَةً فِي أُمَّتِي فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَدْ رَأَيْتُهَا { إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ } فَتْحُ مَكَّةَ { وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا }

“Dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memperbanyak ucapan Subhaanallahi wa bihamdihi astaghfirullaah wa atuubu ilaih. Maka aku bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, aku melihatmu memperbanyak ucapan Subhaanallahi wa bihamdihi astaghfirullaah wa atuubu ilaih.” Beliau bersabda, “Rabbku mengkhabarkan kepadaku bahwasanya aku akan melihat suatu tanda pada ummatku, jika aku melihatnya akupun memperbanyak ucapan Subhaanallahi wa bihamdihi astaghfirullaah wa atuubu ilaih, maka sungguh aku telah melihatnya, idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan) yaitu Fathu Makkah, wa ra’aitannaasa yadkhuluuna fiy diinillaahi afwaajaa, fasabbih bihamdi Rabbika wastaghfirhu innahu kaana tawwaabaa (Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat).”

Ketahuilah! Bahwasanya tasbih dan tahmid mengandung itsbaat (penetapan) akan shifat-shifat kesempurnaan Allah Ta’ala dan menafikan ketidaksempurnaan dan aib-aib, sementara istighfar menjamin seorang hamba akan perlindungan dari keburukan dan dosa.

Dari Al-Hasan Al-Bashriy, ia berkata :

أكثروا من الإستغفار في بيوتكم، وعلى موائدكم، وفي طرقكم، وفي أسواقكم، فإنكم ما تدرون متى تنزل المغفرة

“Perbanyaklah istighfar didalam rumah-rumah kalian, di atas hidangan-hidangan kalian, di jalan-jalan kalian, dan di pasar-pasar kalian, karena sesungguhnya kalian tidaklah mengetahui kapan ampunan turun.”

Selesai tafsir Surat An-Nashr dari kalam Al-Haafizh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy, semoga Allah Ta’ala memaafkan segala kekeliruannya, menjadikan ilmunya bermanfaat bagi umat Islam, serta mensucikan ruhnya didalam surgaNya.

Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di Ciputat, 5 Ramadhan 1435 H.
Ba’da makan sahur menjelang subuh.

Tommi Marsetio

Disarikan dan diterjemahkan secara bebas dari :

Majmuu’ Rasaa’il Al-Haafizh Ibn Rajab Al-Hanbaliy“, karya : Al-Haafizh Ibnu Rajab Al-Hanbaliy, tahqiiq : Abu Mush’ab Thal’at bin Fu’aad Al-Hulwaaniy, penerbit Al-Faaruuq Al-Hadiitsah, Kairo, cetakan kedua.

Footnotes :

[1] Hadits yang Ibnu Rajab maksud diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidziy rahimahullah :

حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ الْعَمِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا سَلَمَةُ بْنُ وَرْدَانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِهِ هَلْ تَزَوَّجْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا عِنْدِي مَا أَتَزَوَّجُ بِهِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ قَالَ بَلَى قَالَ ثُلُثُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ تَزَوَّجْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Uqbah bin Mukram Al-‘Ammiy Al-Bashriy, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Fudaik, telah mengkhabarkan kepada kami Salamah bin Wardaan, dari Anas bin Maalik -radhiyallaahu ‘anhu- bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang laki-laki dari para sahabatnya, “Apakah engkau akan menikah wahai fulan?” Laki-laki tersebut menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah. Tidaklah ada di sisiku harta benda yang membuat aku mampu menikah.”

Rasulullah bertanya, “Bukankah kau hapal Qul Huwallaahu ahad?” Ia menjawab, “Benar,” beliau bersabda, “Nilainya sepertiga Al-Qur’an.” Beliau bertanya kembali, “Bukankah kau hapal Idzaa jaa’a nashrullaahi wal fath?” Ia menjawab, “Benar,” beliau bersabda, “Nilainya seperempat Al-Qur’an.” Beliau bertanya kembali, “Bukankah kau hapal Qul yaa ayyuhal kaafiruun?” Ia menjawab, “Benar,” beliau bersabda, “Nilainya seperempat Al-Qur’an.” Beliau bertanya kembali, “Bukankah kau hapal Idzaa zulzilatil ardhu?” Ia menjawab, “Benar,” beliau bersabda, “Nilainya seperempat Al-Qur’an.” Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kembali, “Menikahlah!”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 2895]

Abu ‘Iisaa At-Tirmidziy berkata, “Ini hadits hasan.”
Dilemahkan Al-Haafizh dalam Al-Fath 9/62; Syaikh Al-Albaaniy dalam Dha’iif At-Tirmidziy dan Dha’iif At-Targhiib no. 890.

[2] Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth hafizhahullah berkata dalam ta’liiq-nya :

إسناده ضعيف، عطاء -وهو إبن السائب- قد إختلط، ومحمد بن فضيل روى عنه بعد الإختلاط، انتهى

“Sanadnya lemah, ‘Athaa’ -dia adalah Ibnu As-Saa’ib- hapalannya mengalami ikhtilath, dan Muhammad bin Fudhail meriwayatkan darinya setelah ikhtilath.” Selesai. [Musnad Ahmad 3/366]

[3] Kasyful Astaar no. 1141.

[4] As-Sunan Al-Kubraa 5/152.

[5] Muusaa bin ‘Ubaidah bin Nasyiith Ar-Rabdziy, Abu ‘Abdil ‘Aziiz Al-Madaniy, Yahyaa Al-Qaththaan tidak meridhai hadits-haditsnya, Ahmad berkata “Tidak halal bagiku meriwayatkan darinya”, dalam riwayat lain ia berkata “munkarul hadiits”, dalam riwayat lain ia berkata “haditsnya dari ‘Abdullaah bin Diinaar seakan-akan bukanlah hadits Ibnu Diinaar”, Ibnu Ma’iin dalam suatu riwayat berkata “bukan termasuk para pendusta akan tetapi ia meriwayatkan hadits-hadits mungkar dari ‘Abdullaah bin Diinaar”, dalam riwayat lain ia melemahkannya, begitu pula An-Nasaa’iy, Ya’quub bin Syaibah berkata “shaduuq, namun haditsnya sangat lemah”, Al-Haafizh berkata “dha’iif”. [Tahdziibut Tahdziib 10/356; Miizaanul I’tidaal 6/551; Taqriibut Tahdziib no. 6989]

[6] Ini adalah pendapat Al-Haafizh Ibnu Rajab, dan para ulama telah berbeda-beda pendapat mengenai waktu turunnya, sebagaimana telah disebutkan.

[7] Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah menshahihkan sanadnya dalam Al-Irwaa’ 5/11, ia berkata :

إسناده صحيح على شرط الشيخين

“Sanadnya shahiih sesuai syarat Asy-Syaikhain.”

Namun Syaikh Muqbil Al-Waadi’iy rahimahullah menganggap sanad ini mempunyai cacat, ia berkata dalam Ahaadiitsu Mu’allah no. 153 :

هذا حديث إذا نظرت إلى سنده وجدتَهم رجال الصحيح، ولكن أبا البختري وهو سعيد بن فيروز لم يسمع من أبي سعيد حكاه في جامع التحصيل عن أبي حاتم

“Hadits ini jika kau lihat sanadnya maka kau temukan mereka (para perawinya) adalah para perawi Ash-Shahiih, namun Abul Bakhtariy, dia adalah Sa’iid bin Fairuuz, tidak pernah mendengar dari Abu Sa’iid, disebutkan dalam Jaami’ At-Tahshiil dari Abu Haatim.”

Ini sesuai dengan perkataan Abu Daawud As-Sijistaaniy yang dinukil penulis Tahdziibul Kamaal pada biografi Abul Bakhtariy, no. 2342.

[8] Shahiih Al-Bukhaariy no. 1834; Shahiih Muslim no. 1353.

[9] Dihasankan sanadnya oleh Syaikh Al-Albaaniy dalam Ash-Shahiihah 7/1107.

[10] Al-Haafizh Abul Hasan Al-Haitsamiy rahimahullah dalam Majma’ Az-Zawaa’id 7/284 berkata :

فيه جار لجابر لم أعرفه وبقية رجاله رجال الصحيح‏‏

“Didalam sanadnya ada tetangga Jaabir, aku tidak mengetahuinya. Para perawi sisanya adalah para perawi Ash-Shahiih.”

Dilemahkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Adh-Dha’iifah 7/143 karena tetangga Jaabir tidak diketahui.

[11] Hal ini telah diriwayatkan dalam sebuah hadits :

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى يَقُولُ مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا قَالَتْ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ فَلَمْ أَرَ صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Telah menceritakan kepada kami Aadam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Murrah, ia berkata, aku mendengar ‘Abdurrahman bin Abi Lailaa mengatakan, “Tiada satupun yang menceritakan kepada kami bahwa ia melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat Dhuha selain Ummu Haani’ -radhiyallaahu ‘anha- karena ia berkata sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam memasuki rumahnya ketika hari Fathu Makkah, beliau mandi lalu beliau shalat 8 raka’at, Ummu Haani’ berkata, “Aku belum pernah melihat shalat yang lebih ringan dari yang beliau lakukan namun beliau tetap menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 280; Shahiih Muslim no. 336]

[12] Diriwayatkan dalam sebuah hadits :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَطَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقُلْتُ فِي نَفْسِي مَا يُبْكِي هَذَا الشَّيْخَ إِنْ يَكُنْ اللَّهُ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْعَبْدَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَعْلَمَنَا قَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ لَا تَبْكِ إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أُمَّتِي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ لَا يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابُ أَبِي بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinaan, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Fulaih, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu An-Nadhr, dari ‘Ubaid bin Hunain, dari Busr bin Sa’d, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah memilihkan kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisiNya, maka hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah.” Maka menangislah Abu Bakr Ash-Shiddiiq. Aku (Abu Sa’iid) berkata dalam hati, “Apa yang membuat orang tua ini menangis hanya karena Allah menawarkan kepada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisiNya lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah?”

Dan ternyata Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah yang dimaksud hamba tersebut. Abu Bakr adalah orang yang paling memahami isyarat itu. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Abu Bakr, janganlah kau menangis. Sesungguhnya manusia yang paling terpercaya di hadapanku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakr. Seandainya aku boleh mengambil kekasih dari ummatku, tentulah Abu Bakr orangnya. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam. Sungguh, tidak ada satupun pintu di dalam Masjid yang tersisa melainkan akan tertutup kecuali pintunya Abu Bakr.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 3904; Shahiih Muslim no. 2382]

[13] Lemah karena sebab Al-Haarits bin Syibl Al-Bashriy, Ibnu Ma’iin berkata “tidak ada nilainya”, Ad-Daaraquthniy melemahkannya, Al-Bukhaariy berkata “tidak dikenal”, Al-Haafizh berkata “dha’iif”. [Miizaanul I’tidaal 2/169; Taqriibut Tahdziib no. 1027]

[14] Shahiih Al-Bukhaariy no. 817; Shahiih Muslim no. 484.

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s