Kisah ‘Uzair

Life_After_Death___Nama dan nasabnya adalah ‘Uzair bin Haiwah, dikatakan dia adalah Ibnu Suuraiq bin ‘Aranaa bin Ayyuub bin Dartsanaa bin ‘Araa bin Taqaa bin As-Sabuu’ bin Fanhaash bin Al-‘Aazir bin Haaruun bin ‘Imraan. Dikatakan pula dia adalah ‘Uzair bin Sarwahaa. Demikian disebutkan oleh Al-Haafizh Abul Qaasim Ibnu ‘Asaakir dalam kitab Taariikh-nya 40/317.

Kuburannya terdapat di Damaskus, demikian yang diceritakan dalam atsar yang diriwayatkan Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir dengan sanadnya dalam Taariikh-nya 2/323-325. Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Daawud dengan sanad dari Sa’iid Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا أَدْرِي أَتُبَّعٌ لَعِينٌ هُوَ أَمْ لَا وَمَا أَدْرِي أَعُزَيْرٌ نَبِيٌّ هُوَ أَمْ لَا

“Aku tidak mengetahui apakah Tubba’ telah dilaknat ataukah tidak, dan aku tidak mengetahui apakah ‘Uzair seorang Nabi ataukah bukan.”
[Sunan Abu Daawud no. 4674][1]

Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir meriwayatkan dengan sanadnya hingga Ishaaq bin Bisyr[2], telah memberitakan Juwaibir dan Muqaatil, dari Adh-Dhahhaak, dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata :

كان عزير من أبناء الأنبياء وكان قد أحكم التوراة ولم يكن في زمانه أحد أعلم بالتوراة منه ولا كان أحفظ لها منه وكان يذكر مع الأنبياء حتى محى الله اسمه حين سأل ربه عن القدر وكان ممن سباه بخت نصر وهو غلام حدث فلما بلغ أربعين سنة أعطاه الله الحكمة

“‘Uzair termasuk salah seorang keturunan dari para Nabi. Dia telah berhukum dengan Taurat dan tidak ada seorangpun di zamannya yang lebih mengetahui Taurat dan tidak juga lebih hapal Taurat dibanding dirinya. Ia disebutkan bersama dengan para Nabi hingga Allah menghapus namanya ketika ia bertanya kepada Rabbnya mengenai Al-Qadr. Dia termasuk mereka yang ditangkap oleh Bukhtanashar (Nebukadnedzar) dan dia waktu itu masih kecil. Ketika umurnya mencapai 40 tahun, Allah Ta’ala mengkaruniakannya Al-Hikmah.”
[Taariikh Dimasyq 40/318][3]

Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir meriwayatkan dengan sanadnya hingga Ishaaq bin Bisyr, telah memberitakan Sa’iid bin Abu ‘Aruubah, dari Qataadah, dari Al-Hasan, dari ‘Abdullaah bin Sallaam radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

أن عزيرا هو العبد الذي أماته الله مائة عام ثم بعثه قال وأنا إسحاق أنا عثمان بن الساج عن محمد الكلبي عن أبي صالح عن ابن عباس أن عزيرا بن سورخا هو الذي قال الله تعالى في كتابه ” أو كالذي مر على قرية وهي خاوية على عروشها قال أنى يحيي هذه الله بعد موتها فأماته الله مائة عام “

“Bahwa ‘Uzair adalah seorang hamba yang Allah mewafatkannya selama 100 tahun kemudian Allah membangkitkannya kembali.” (Ismaa’iil bin ‘Iisaa) berkata, dan telah memberitakan kepada kami Ishaaq, telah memberitakan kepada kami ‘Utsmaan bin As-Saaj, dari Muhammad Al-Kalbiy, dari Abu Shaalih, dari Ibnu ‘Abbaas, “Bahwa ‘Uzair bin Sawarkhaa adalah hamba yang disebut Allah Ta’ala dalam kitabNya : “Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun [QS Al-Baqarah : 259].”
[Taariikh Dimasyq 40/320][4]

Kisah ‘Uzair

Secara utuh kisah ini akan kami sebutkan dengan mengambil keterangan dari Al-Haafizh Ibnu Katsiir dalam kitab Taariikh-nya[5], bahwa semua sanadnya bersumber dari Ishaaq bin Bisyr, ia berkata, telah memberitakan kepada kami Sa’iid bin Basyiir, dari Qataadah, dari Ka’b, (dari jalur sanad yang lain) dan dari Sa’iid bin Abu ‘Aruubah, dari Qataadah, dari Al-Hasan, (dari jalur sanad yang lain) dan dari Muqaatil dan Juwaibir, dari Adh-Dhahhaak, dari Ibnu ‘Abbaas, (dari jalur sanad yang lain) dan dari ‘Abdullaah bin Ismaa’iil As-Suddiy, dari Ayahnya, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbaas, (dari jalur sanad yang lain) dan dari Idriis, dari Wahb bin Munabbih. Ishaaq bin Bisyr berkata, mereka semua menceritakan kepadaku mengenai kisah ‘Uzair dan mereka saling menambahkan satu dengan yang lain.

Mereka berkata dengan sanad masing-masing, sesungguhnya ‘Uzair adalah seorang hamba yang shalih dan bijaksana. Pada suatu hari ia keluar menuju sebuah desa kecil demi menunaikan sebuah janji. Ketika ia berangkat, ia berhenti di sebuah reruntuhan bangunan karena saking panasnya cuaca hari itu. Ia masuk ke dalamnya bersama dengan keledainya, lalu ia menurunkan dari keledainya 1 keranjang yang berisi buah tiin dan anggur, juga mengeluarkan mangkuk yang dibawanya. Ia peras anggur lalu menuangkannya ke dalam mangkuk kemudian ia mengeluarkan roti kering yang dibawanya dan ia celupkan ke dalam air perasan anggur didalam mangkuk, ia pun memakannya.

Setelah itu, ‘Uzair berbaring dan menyandarkan kakinya ke dinding sambil memandangi atap bangunan dan sekelilingnya, ia pun melihat sekelompok tulang yang telah rapuh, ‘Uzair bergumam :

أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا

“Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” [QS Al-Baqarah : 259]

‘Uzair sedikitpun tidak merasa ragu bahwa Allah Ta’ala Maha Kuasa untuk membangkitkannya kembali dan ia berkata demikian karena perasaan takjub. Allah Ta’ala mengutus malaikat maut untuk menahan ruh ‘Uzair, maka Allah Ta’ala mewafatkannya selama 100 tahun. Diantara rentang waktu 100 tahun tersebut banyak sekali peristiwa yang terjadi pada bani Israa’iil. Beberapa orang mengatakan, ketika Allah Ta’ala mengutus malaikat maut kepada ‘Uzair, hati ‘Uzair dijadikan oleh Allah tetap dapat menimbang, matanya melihat, otaknya menimbang dan berpikir bagaimana Allah Ta’ala menghidupkan yang telah mati, menyusun ciptaanNya dan ‘Uzair pun memperhatikannya, kemudian Allah Ta’ala membungkus tulang-tulang itu dengan daging, rambut dan kulit, ditiupkan ruh padanya. Semua kejadian tersebut dilihat oleh ‘Uzair dan direnungkan dengan keadaan duduk tegak. Malaikat maut bertanya kepadanya, “Berapa lamakah kau telah tinggal disini?” ‘Uzair menjawab, “Aku telah tinggal disini selama sehari atau setengah hari.”

‘Uzair mengira ia mulai tertidur sejak pertengahan siang dan dibangunkan pada sore hari saat matahari belum terbenam, oleh karena itu ia berkata, setengah hari dan tidak sampai sehari. Lalu malaikat maut berkata kepadanya :

بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ

“Sebenarnya kau telah tinggal di sini seratus tahun lamanya, lihatlah kepada makanan dan minumanmu.” [QS Al-Baqarah : 295]

Yaitu, lihatlah kepada roti kering dan air perasan anggur didalam mangkuk. Makanan dan minumannya tetap seperti semula dan tidak sedikitpun mengalami perubahan begitu pula buah tiin dan sisa anggur yang masih utuh, sehingga didalam hati ‘Uzair mengingkari apa yang ia alami ini. Malaikat maut berkata, “Apakah kau mengingkari apa yang telah kukatakan? Lihatlah keledaimu!”

Maka ‘Uzair melihat kondisi keledainya yang tulang-tulangnya telah rapuh dan membusuk. Malaikat pun memanggil tulang-tulang tersebut, dalam sekejap semua yang berserakan menjadi terkumpul hingga Malaikat menyusunnya kembali sedangkan ‘Uzair memperhatikannya. Tulang-tulang itupun dibungkus kembali dengan urat dan otot dan dibalut dengan daging lalu ditumbuhkan kulit serta rambut, dan Malaikat pun meniupkan ruh kepadanya hingga keledai dapat berdiri dengan menegakkan kepalanya ke langit dan ia meringkik karena ia menyangka telah terjadi kiamat. Allah Ta’ala telah berfirman :

وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا

“Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” [QS Al-Baqarah : 259]

Lalu ‘Uzair menunggangi keledainya hingga ia kembali ke desa asalnya. Orang-orang pun tidak mengenalinya dan sebaliknya, ia tidak mengenali mereka berikut tempat tinggal mereka. ‘Uzair berjalan dengan harap cemas hingga ia tiba di rumahnya. ‘Uzair mendapati seorang wanita tua dan buta kedua matanya, sedang duduk, umurnya ia perkirakan mencapai 120 tahun karena ketika ‘Uzair berangkat dari desanya, umur wanita itu masih 20 tahun sedangkan wanita itu dahulu mengenalnya.

‘Uzair bertanya, “Wahai nenek, apakah ini rumah milik ‘Uzair?” Wanita tua menangis dan berkata, “Selama ini aku tidak mengetahui ada yang bertanya mengenai ‘Uzair, sungguh ia dilupakan manusia.”

‘Uzair berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah ‘Uzair. Allah mewafatkanku selama 100 tahun lamanya, kemudian Dia membangkitkanku kembali.” Wanita tua berkata, “Subhanallah! Sesungguhnya ‘Uzair telah menghilang dari kami selama 100 tahun dan kami sekalipun tidak pernah mendengar khabarnya.”

‘Uzair berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah ‘Uzair.”

Wanita tua berkata, “Sesungguhnya ‘Uzair adalah seorang yang do’anya selalu diijabah. Ia mendo’akan orang yang sakit dan orang yang terkena musibah agar sehat kembali. Jika benar kau adalah ‘Uzair, maka berdo’alah kepada Allah (untuk menyembuhkanku) agar mataku dapat kembali melihat dan mengenalimu.”

Diriwayatkan bahwa ‘Uzair pun berdo’a kepada Allah Ta’ala dan setelah itu ia menyeka kedua tangannya ke mata wanita tua sehingga kedua matanya pulih dan dapat melihat kembali seperti sediakala. ‘Uzair memegang kedua tangan wanita tua dan berkata, “Berdirilah, bi’idznillah!”

Seketika itu pula kedua kaki wanita tua mampu berdiri dan sehat kembali, ia memperhatikan ‘Uzair dengan seksama dan berkata, “Aku bersaksi bahwa kau benar-benar ‘Uzair.” Setelah berkata begitu, ia keluar dan langsung menuju majelis tempat bani Israa’iil berkumpul. Anak-anaknya ‘Uzair yang telah beranjak tua pun ada di tempat tersebut. Wanita tua memanggil mereka dan berseru, “Inilah ‘Uzair! Inilah ‘Uzair! Sungguh ia telah datang kembali kepada kalian.” Bani Israa’iil tidak mempercayainya.

Wanita tua berkata, “Aku adalah pemimpin kalian, ‘Uzair telah berdo’a kepada Rabbnya untuk menyembuhkan kebutaan dan cacat pada kedua kakiku, dan ia telah mengaku bahwa Allah telah mewafatkannya selama 100 tahun lalu membangkitkannya kembali.”

Diriwayatkan bahwa kemudian bani Israa’iil berdiri, mereka menuju tempat ‘Uzair berada. Mereka menerimanya lalu memperhatikan sekujur tubuhnya. Salah seorang anak ‘Uzair berkata, “Ayahku dahulu memiliki tanda hitam diantara kedua punggungnya.” Maka diperiksalah punggung ‘Uzair dan benarlah bahwa terdapat tanda tersebut dan mereka pun yakin ia adalah ‘Uzair. Bani Israa’iil berkata, “Sesungguhnya tidak ada seorangpun diantara kita yang paling hapal Taurat selain ‘Uzair. Bukhtanashar telah membakar seluruh Taurat dan tidak tersisa sedikitpun melainkan yang terdapat pada hapalan beberapa orang laki-laki, maka tuliskanlah kembali isi Taurat kepada kami.”

Ayahnya ‘Uzair dahulu menyembunyikan sebuah Taurat dan menguburkannya ketika Bukhtanashar datang, di tempat yang tidak diketahui oleh seorangpun kecuali oleh ‘Uzair. Bani Israa’iil bersama-sama dengan Uzair segera menuju tempat tersebut untuk menggali kembali. Namun setelah digali, didapati ternyata lembaran-lembarannya telah lusuh dan rusak.

‘Uzair duduk di bawah sebuah pohon untuk menuliskan kembali kitab Taurat sementara bani Israa’iil mengelilingi dan memperhatikannya. Tidak berapa lama, turunlah dua benda berupa api dari langit, masuk ke dalam rongga mulut ‘Uzair hingga akhirnya ia pun dapat mengingat keseluruhan isi Taurat dan menuliskan kembali untuk bani Israa’iil.

Dari peristiwa inilah orang-orang Yahudi kemudian mengatakan, “‘Uzair adalah putera Allah,” dikarenakan benda bagai api yang masuk ke dalam rongga mulutnya, penulisan ulang kitab Taurat yang ia lakukan dan kasih sayangnya terhadap bani Israa’iil. ‘Uzair menulis ulang Taurat di sebuah daerah di sekitar desa Hizqil, dan kota yang ia meninggal didalamnya bernama Sayarabadz.

Ibnu ‘Abbaas berkata, “Sesuai dengan firman Allah Ta’ala :

وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ

“Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia.” [QS Al-Baqarah : 259]

Maksudnya adalah tanda kekuasaan Allah bagi bani Israa’iil, dan disebabkan karena ‘Uzair duduk mengajarkan Taurat bersama kaumnya yang mana mereka telah beranjak tua dan ‘Uzair terlihat masih seperti seorang pemuda, hal ini karena ia diwafatkan pada usia menginjak 40 tahun maka ia pun dibangkitkan kembali oleh Allah dalam wujud seperti seorang pemuda, sebagaimana keadaannya ketika ia wafat. Ibnu ‘Abbaas berkata, ‘Uzair dibangkitkan setelah masa Bukhtanashar, demikian pula pendapat Al-Hasan.

Pasal : Kesimpulan

Kesimpulan ini kami nukil dari apa yang disimpulkan oleh Al-Haafizh Ibnu Katsiir pada akhir pembahasan kisah ‘Uzair.

Telah masyhur bahwasanya ‘Uzair adalah seorang Nabi dari Nabi-nabi bani Israa’iil. Ia hidup diantara masa Nabi Daawud dan Sulaimaan, dan diantara Nabi Zakariyaa dan Yahyaa. Ketika tak ada seorangpun dari bani Israa’iil yang lebih menghapal Taurat, Allah Ta’ala mengilhaminya untuk menghapalnya lalu ia membaguskan bacaannya untuk bani Israa’iil, sebagaimana dikatakan oleh Wahb bin Munabbih, “Allah Ta’ala memerintahkan Malaikat untuk turun dengan membawa setumpuk cahaya lalu melemparkannya pada ‘Uzair, maka ‘Uzair dapat menuliskan ulang Taurat huruf per hurufnya.”

Ibnu ‘Abbaas bertanya kepada ‘Abdullaah bin Sallaam mengenai firman Allah :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ

Orang-orang Yahudi berkata, “‘Uzair itu putra Allah.” [QS At-Taubah : 30]

Maka Ibnu Sallaam menjelaskan kepadanya bahwa hal itu disebabkan ‘Uzair menuliskan ulang Taurat kepada bani Israa’iil dari hapalannya. Bani Israa’iil berkata, “Muusaa tidak mampu mendatangkan kepada kami isi Taurat kecuali dengan cara tulisan, tetapi sesungguhnya ‘Uzair mampu mendatangkan kepada kami isi Taurat tidak dengan tulisan,” maka segolongan dari bani Israa’iil menyatakan bahwa, “‘Uzair adalah putra Allah.”

Dari sini pula, banyak para ulama mengatakan sesungguhnya tingkat ke-mutawatiran Taurat berakhir pada zaman ‘Uzair. Dan hal ini sangat jelas menandakan jika ‘Uzair bukan seorang Nabi, sebagaimana perkataannya ‘Athaa’ bin Abi Rabaah dan Al-Hasan Al-Bashriy seperti yang diriwayatkan oleh Ishaaq bin Bisyr, dari Muqaatil bin Sulaimaan, dari ‘Athaa’, (dari jalur sanad yang lain) dan dari ‘Utsmaan bin ‘Athaa’ Al-Khurasaaniy, dari Ayahnya dan Muqaatil, dari ‘Athaa’ bin Abi Rabaah, ia berkata, “Pada masa fatrah telah terjadi 9 peristiwa : Bukhtanashar, Jannah Shan’aa, Jannah Saba’, Ashhaabul Ukhduud, peristiwa Haashuuraa, Ashhaabul Kahfi, Ashhaabul Fiil, kota Anthaakiyah, dan peristiwa Tubba’.”

Al-Hasan dan ‘Athaa’ bin Abi Rabaah berkata bahwa peristiwa Bukhtanashar dan ‘Uzair terjadi di masa fatrah. Wahb bin Munabbih berkata bahwa ‘Uzair hidup antara masa Nabi Sulaimaan dan Nabi ‘Iisaa. Anas bin Maalik dan ‘Athaa’ bin As-Saa’ib berkata bahwa ‘Uzair hidup di masa Nabi Muusaa bin ‘Imraan. Semua ini diriwayatkan oleh Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh-nya.

Diriwayatkan oleh segolongan jama’ah ahli hadits[6], dengan sanadnya hingga Yuunus bin Yaziid, dari Ibnu Syihaab Az-Zuhriy, dari Sa’iid bin Al-Musayyib dan Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dari Abu Hurairah, demikian pula diriwayatkan hingga Syu’aib bin Abu Hamzah, Maalik dan Al-Mughiirah Al-Hizaamiy, dari Abu Az-Zinaad, dari Al-A’raj ‘Abdurrahman bin Hurmuz, dari Abu Hurairah, dan diriwayatkan hingga Ma’mar, dari Hammaam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

نَزَلَ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ تَحْتَ شَجَرَةٍ فَلَدَغَتْهُ نَمْلَةٌ فَأَمَرَ بِجِهَازِهِ فَأُخْرِجَ مِنْ تَحْتِهَا وَأَمَرَ بِهَا فَأُحْرِقَتْ فِي النَّارِ قَالَ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ فَهَلَّا نَمْلَةً وَاحِدَةً

“Seorang Nabi dari para Nabi singgah di bawah sebuah pohon, ia digigit oleh seekor semut. Lalu ia memerintahkan agar barang bawaannya dijauhkan dari pohon tersebut kemudian ia memerintahkan agar sarang semut dibakar dengan api. Maka Allah memberi wahyu kepadanya, “Mengapa tidak hanya satu semut saja?”

Mujaahid, Hasan Al-Bashriy dan Ibnu ‘Abbaas berkata, Nabi yang dimaksud dalam sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah ‘Uzair.

Selesai nukilan kesimpulan dari Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah.

Sebagai penutup, kami katakan bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui kebenaran akan kisah ‘Uzair ini, dikarenakan Al-Qur’an hanya menerangkannya secara umum dalam Surat Al-Baqarah ayat 259 tanpa menyebut nama ‘Uzair dan bahwasanya kisah yang detil ini tidak berasal dari lisan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang ma’shum dan terjaga dari kesalahan, mungkin para sahabat ataupun tabi’in mengambilnya dari kisah-kisah Isra’iliyyat yang berasal dari sahabat yang dahulunya adalah rahib Yahudi seperti ‘Abdullaah bin Sallaam, ataupun dari tabi’in seperti Ka’b Al-Ahbaar dan Wahb bin Munabbih yang mana telah ma’ruuf mereka telah memeluk Islam dari agama terdahulu mereka yaitu Nashrani.

Maka berlakulah sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma, Nabi bersabda :

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, riwayatkanlah dari bani Israa’iil dan tidaklah berdosa. Dan barangsiapa berdusta dengan sengaja atas namaku, maka bersiaplah menempati tempat duduknya dari api neraka.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 3461]

Jadi, diperbolehkan menceritakan kisah ini dengan tanpa pembenaran, dan hendaknya disebutkan pula bahwa kisah ini berasal dari kisah Isra’iliyyat. Ibrah yang bisa diambil dari kisah ‘Uzair adalah betapa benar firman Allah Ta’ala bahwa Yahudi kerap menzhalimi Nabi-nabi mereka dengan berkata-kata secara berlebihan mengenainya. Allah Ta’ala berfirman :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata, “‘Uzair itu putra Allah,” dan orang Nashrani berkata, “Al-Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [QS At-Taubah : 30]

Allah Ta’ala juga berfirman :

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

“Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya.” [QS Al-Maa’idah : 13]

Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka shifatkan.

Selesai kisah ‘Uzair, walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.
Wallaahu a’lamu bish-shawwaab.

Diselesaikan di Ciputat, 23 Ramadhan 1435 H.
Jelang makan sahur penuh berkah.

Tommi Marsetio -wafaqahullah-

Sumber :

Al-Bidaayah wa An-Nihaayah, karya Al-Haafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsiir, tahqiiq : Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdil Muhsin At-Turkiy, penerbit Daar Hijr, cetakan pertama.

Footnotes :

[1] Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth dalam ta’liiq Sunan Abu Daawud 7/65 mengatakan bahwa sanad hadits ini para perawinya adalah para perawi tsiqah kecuali terdapat ‘illat irsal.

Dalam Taariikhul Kabiir 1/153, Al-Imam Al-Bukhaariy berkata :

قال لي عبد الله بن محمد حدثنا هشام، قال حدثنا معمر، عن بن أبي ذئب، عن الزهري، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ما أدري أعزير نيبا كان أم لا وتبع لعينا كان أم لا والحدود كفارات لأهلها أم لا. وقال عبد الرزاق، عن معمر، عن بن أبي ذئب، عن سعيد عن أبي هريرة، عن النبي صلى الله عليه وسلم، والأول أصح ولا يثبت هذا عن النبي صلى الله عليه وسلم لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الحدود كفارة

‘Abdullaah bin Muhammad berkata kepadaku, telah menceritakan kepada kami Hisyaam, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Az-Zuhriy, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku tidak mengetahui apakah ‘Uzair seorang Nabi atau bukan, apakah Tubba’ dilaknat atau tidak, dan aku tidak mengetahui apakah Al-Huduud (hukuman) merupakan kaffarah untuk pelakunya ataukah tidak.”

Dan ‘Abdurrazzaaq berkata, dari Ma’mar, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’iid, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam (sabdanya). Sanad yang pertama lebih shahih dan tidaklah tsabt hadits ini dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam karena beliau bersabda, “Al-Huduud merupakan kaffarah.”

Al-Haafizh Al-‘Asqalaaniy menukil perkataan Al-Imam Ad-Daaraquthniy dalam Takhriij Ahaadiits Al-Kasyaaf 4/148 dan Al-Fath 1/66 :

تفرد بوصله عبد الرزاق وغيره أرسله

“‘Abdurrazzaaq tafarrud (menyendiri) dalam menyambung sanadnya sementara yang lainnya meng-irsal-nya.”

Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Waadi’iy mencacatkan hadits ini dalam Ahaadiitsu Mu’allah hal. 426, Syaikh Muqbil berkata :

قال الحافظ إبن عبد البر في كتابه جامع بيان العلم وفضله بعد ذكره زعم الدارقطني أنه انفرد عبد الرزاق بهذا الإسناد، قال أبو عمر: حديث عبادة بن الصامت عن النبي صلى الله عليه وسلم فيه أن الحدود كفارة، وهو أثبت وأصح إسنادا من حديث أبي هريرة

“Al-Haafizh Ibnu ‘Abdil Barr berkata dalam kitabnya, Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi wa Fadhlihi, setelah menyebutkan klaim Ad-Daaraquthniy bahwa ‘Abdurrazzaaq menyendiri dengan sanad ini, Abu ‘Umar (yaitu Ibnu ‘Abdil Barr) berkata, “Hadits ‘Ubaadah bin Ash-Shaamit dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang didalamnya terdapat matan “Al-Huduud merupakan kaffarah”, lebih tsabt dan lebih shahih sanadnya dibanding hadits Abu Hurairah.”

[2] Ishaaq bin Bisyr, Abu Hudzaifah Al-Bukhaariy, pemilik kitab Al-Mubtada’. Ibnu Hibbaan berkata “tidak halal menulis haditsnya kecuali dengan maksud memperingatkan”, Ad-Daaraquthniy berkata “kadzdzaab matruuk”, Adz-Dzahabiy berkata “mereka (para ulama) meninggalkannya dan Ibnul Madiiniy mendustakannya”, wafat di Bukhara pada bulan Rajab, tahun 206 H. [Miizaanul I’tidaal 1/335]

[3] Sanadnya sangat lemah karena sebab Ishaaq bin Bisyr dan ada inqitha’, dikarenakan Adh-Dhahhaak (ia adalah Ibnu Muzaahim) tidak pernah bertemu dengan Ibnu ‘Abbaas, sebagaimana dinyatakan dalam Tahdziibul Kamaal no. 2928 :

قال أبو داود الطيالسي، عن شعبة: حدثني عبد الملك بن ميسرة، قال : الضحاك لم يلق ابن عباس، إنما لقي سعيد بن جبير بالري، فأخذ عنه التفسير

Abu Daawud Ath-Thayaalisiy berkata, dari Syu’bah, telah menceritakan kepadaku ‘Abdul Malik bin Maisarah, ia berkata, “Adh-Dhahhaak tidak bertemu dengan Ibnu ‘Abbaas, sesungguhnya ia berjumpa dengan Sa’iid bin Jubair di Ray, maka aku mengambil tafsir Al-Qur’an darinya.”

[4] Sanadnya juga sangat lemah karena sebab Ishaaq bin Bisyr dan Muhammad Al-Kalbiy, dia adalah Muhammad bin As-Saa’ib bin Bisyr Al-Kalbiy, Abu An-Nadhr Al-Kuufiy, ia perawi yang tertuduh berdusta dan tertuduh rafidhah, demikian kata Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 5901 dan ia telah dilemahkan oleh para ulama.

Kemudian Abu Shaalih dalam sanad ini bukanlah Abu Shaalih Dzakwaan As-Sammaan, Al-Haafizh Ats-Tsiqah Ats-Tsabt, perawi Asy-Syaikhain. Abu Shaalih ini adalah Baadzaam atau Baadzaan Abu Shaalih maulaa Ummu Haani’, ia dha’iif mudallis dan kerap melakukan irsal, demikian kata Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 634. Muhammad Al-Kalbiy tidaklah dikenal mempunyai periwayatan dari Abu Shaalih Dzakwaan As-Sammaan namun ia biasa meriwayatkan dari Baadzaam Abu Shaalih maulaa Ummu Haani’. Silahkan rujuk biografi Al-Kalbiy dalam Tahdziibul Kamaal no. 5234.

[5] Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 2/384, dengan tahqiiq Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdil Muhsin At-Turkiy.

[6] Diriwayatkan oleh Kutubul Khamsah (Shahiih Al-Bukhaariy no. 3319; Shahiih Muslim no. 2243; Sunan Abu Daawud no. 5265; Sunan An-Nasaa’iy no. 4358; Sunan Ibnu Maajah no. 3225) kecuali At-Tirmidziy, juga dalam Musnad Ahmad no. 8976 dan no. 9509.

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s