‘Ilal Hadits : Hadits “Wudhunya Seorang Hamba” dan Hadits “Unta Zakat”

broken-glass-titlewave-19033278-500-313Matan ‘ilal hadits :

قَالَ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيَّ عَنْ حَدِيثِ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ , عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ , عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الصُّنَابِحِيِّ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ فَتَمَضْمَضَ خَرَجْتِ الْخَطَايَا مِنْ فِيهِ» الْحَدِيثُ، فَقَالَ: مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَهِمَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ , فَقَالَ: عَبْدُ اللَّهِ الصُّنَابِحِيُّ، وَهُوَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الصُّنَابِحِيُّ وَاسْمُهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُسَيْلَةَ، وَلَمْ يَسْمَعْ منِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَهَذَا الْحَدِيثُ مُرْسَلٌ , وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ هُوَ الَّذِي رَوَى عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ , وَالصُّنَابِحُ بْنُ الْأَعْسَرِ الْأَحْمَسِيُّ صَاحِبُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: قُلْتُ لَهُ: كَمْ رَوَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: حَدِيثَيْنِ , حَدِيثُهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ» , وَحَدِيثٌ آخَرُ حَدِيثُ الصَّدَقَةِ وَلَيْسَ هُوَ عِنْدِي بِصَحِيحٍ , رَوَاهُ مُجَالِدٌ , عَنْ قَيْسٍ , عَنِ الصُّنَابِحِ. قَالَ أَبُو عِيسَى: وَإِنَّمَا قَالَ مُحَمَّدٌ: لَا يَصِحُّ حَدِيثُ مُجَالِدٍ لِأَنَّ إِسْمَاعِيلَ بْنَ أَبِي خَالِدٍ رَوَاهُ عَنْ قَيْسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى فِي إِبِلِ الصَّدَقَةِ نَاقَةً مُسِنَّةً وَلَمْ يَذْكُرْ عَنِ الصُّنَابِحِ

Abu ‘Iisaa At-Tirmidziy berkata, “Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillaah Muhammad bin Ismaa’iil Al-Bukhaariy mengenai hadits Maalik bin Anas, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari ‘Abdullaah Ash-Shunaabihiy, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang hamba muslim berwudhu’ kemudian ia berkumur-kumur, keluarlah dosa-dosanya dari dalam mulutnya…” Al-Hadiits[1]. Maka Al-Bukhaariy berkata, “Maalik bin Anas salah dalam hadits ini.”

Ia melanjutkan, “‘Abdullaah Ash-Shunaabihiy, ia adalah Abu ‘Abdillaah Ash-Shunaabihiy, namanya ‘Abdurrahman bin ‘Usailah[2] dan ia tidak mendengar dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Hadits ini mursal[3], dan ‘Abdurrahman ini adalah ‘Abdurrahman yang meriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiiq. Sementara Ash-Shunaabih bin Al-A’sar Al-Ahmasiy adalah sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam[4].”

Abu ‘Iisaa berkata, “Aku tanyakan kepadanya, berapa hadits yang ia riwayatkan dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam?” Al-Bukhaariy menjawab, “2 hadits. Haditsnya dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yaitu : sesungguhnya aku akan membanggakan kalian atas banyaknya jumlah kalian dari seluruh umat[5], dan hadits yang lain yaitu hadits sedekah dan tidaklah ia shahih menurutku[6]. Mujaalid meriwayatkannya, dari Qais, dari Ash-Shunaabih.”

Abu ‘Iisaa berkata, “Sebenarnya Muhammad berkata, “Tidaklah shahih hadits Mujaalid tersebut dikarenakan Ismaa’iil bin Abu Khaalid meriwayatkannya dari Qais, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat unta musinnah (unta yang berumur setahun) pada sekumpulan unta zakat, namun (dalam sanadnya) tidak disebutkan dari Ash-Shunaabih[7].”
[Al-‘Ilal Al-Kabiir no. 1]

Pembahasan Matan ‘Ilal Hadits

[1] Hadits dengan sanad ini diriwayatkan oleh Maalik rahimahullah dalam Al-Muwaththa’ riwayat Yahyaa bin Yahyaa Al-Laitsiy no. 62 :

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الصُّنَابِحِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Telah menceritakan kepadaku dari Maalik, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari ‘Abdullaah Ash-Shunaabihiy, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “…”

Dan dengan sanad ini, An-Nasaa’iy (Sunan Al-Mujtaba’ no. 103; Al-Kubraa no. 107); Al-Haakim (Al-Mustadrak 1/129); Al-Baihaqiy (Sunan Al-Kubraa 1/81; Syu’abul Iimaan no. 2734)

Ibnu Maajah meriwayatkannya dalam As-Sunan no. 282, dari jalan Hafsh bin Maisarah, telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam, dan seterusnya.

Kemudian Ahmad dalam Al-Musnad no. 18584, dari jalan Abu Ghassaan Muhammad bin Mutharrif, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dan seterusnya.

[2] Namanya adalah ‘Abdurrahman bin ‘Usailah Al-Muraadiy, Abu ‘Abdillaah Ash-Shunaabihiy Al-Yamaaniy. Diperselisihkan statusnya sebagai sahabat. Yang rajih, ia adalah tabi’in. Ia berhijrah dari Yaman menuju Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam namun beliau telah wafat 5 malam sebelum Ash-Shunaabihiy sempat menemuinya. Oleh karena itu ia adalah mukhadhram, yaitu orang yang mendapati masa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam kemudian berislam namun ia belum pernah bertemu Nabi. Rujuk Al-Ishaabah 5/105.

Meriwayatkan dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam secara mursal, Abu Bakr Ash-Shiddiiq, ‘Umar bin Al-Khaththaab, ‘Aliy bin Abi Thaalib, Bilaal, Sa’d bin ‘Ubaadah, Mu’aadz bin Jabal, Mu’aawiyah, ‘Aaisyah, dan lain-lain. Radhiyallaahu ‘anhum.

Meriwayatkan darinya Aslam maulaa ‘Umar, Rabii’ah bin Yaziid Ad-Dimasyqiy, ‘Athaa’ bin Yasaar, Suwaid bin Ghaflah, Mahmuud bin Labiid (ia adalah sahabat kecil), Yuunus bin Maisarah, dan lain-lain. Rahimahumullah.

Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 3952 berkata :

ثقة من كبار التابعين قدم المدينة بعد موت النبي صلي الله عليه وسلم بخمسة أيام مات في خلافة عبد الملك

“Tsiqah, tabi’in senior, datang ke Madinah 5 malam setelah wafatnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ia wafat pada kekhilafahan ‘Abdul Malik.”

[3] Mursal yaitu seorang tabi’in menisbatkan haditsnya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan tanpa menyebutkan perantara sahabat.

[4] Namanya adalah Ash-Shunaabih bin Al-A’sar Al-‘Ijliy Al-Ahmasiy. Seorang sahabat yang mulia. Meriwayatkan dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam 1 hadits. Meriwayatkan darinya Qais bin Abu Haazim. Ia berasal dari Kuufah dan tidak tepat pendapat yang menyebutkan namanya dengan Ash-Shunaabihiy dikarenakan Ash-Shunaabihiy adalah nama nisbat kepada sebuah qabilah di Yaman, lagipula Ash-Shunaabihiy adalah seorang tabi’in, sedangkan Ash-Shunaabih adalah nama sahabat. Radhiyallaahu ‘anhu. Rujuk Al-Ishaabah 3/447.

[5] Diriwayatkan Al-Imam Ibnu Maajah dalam As-Sunan no. 3944 :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ عَنْ قَيْسٍ عَنْ الصُّنَابِحِ الْأَحْمَسِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ فَلَا تَقَتِّلُنَّ بَعْدِي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillaah bin Numair, telah menceritakan kepada kami Ayahku, dan Muhammad bin Bisyr, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil, dari Qais, dari Ash-Shunaabih Al-Ahmasiy, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku akan mendahului kalian kepada Al-Haudh, dan sesungguhnya aku akan membanggakan kalian dengan banyaknya jumlah kalian dari seluruh umat, maka janganlah kalian saling membunuh sepeninggalku.”

Dan dengan sanad Ismaa’iil bin Abi Khaalid dengannya, Ibnu Hibbaan (Shahiih-nya no. 6446); Abu ‘Awaanah (Mustakhraj no. 4019); Ibnu Abi Syaibah (Al-Mushannaf no. 32190).

Dalam Musnad Ahmad no. 18603, nama Ash-Shunaabih disebut dengan Ash-Shunaabihiy dan ini adalah kekeliruan seperti telah kami sebut dalam poin no. 4. Al-Haafizh berkata dalam Tahdziibut Tahdziib 4/438 :

قال البخاري قال ابن عيينة ويحيى ومروان وابن نمير عن إسماعيل عن قيس عن الصنابح وقال وكيع وابن المبارك عن الصنابحي والأول أصح وقال ابن المديني ويعقوب بن شيبة وابن السكن من قال فيه الصنابحي فقد أخطأ

“Al-Bukhaariy berkata, “Ibnu ‘Uyainah, Yahyaa (Al-Qaththaan), Marwaan dan Ibnu Numair berkata, dari Ismaa’iil, dari Qais, dari Ash-Shunaabih. Lalu Wakii’ dan Ibnul Mubaarak berkata, dari Ash-Shunaabihiy, yang pertama lebih shahih (yaitu yang menyebutnya Ash-Shunaabih). Ibnul Madiiniy, Ya’quub bin Syaibah dan Ibnu As-Sakan berkata, barangsiapa yang berkata : Ash-Shunaabihiy, maka ia telah keliru.”

[6] Yaitu hadits sedekah atau hadits unta zakat, tidak shahih di sisi Al-Imam Al-Bukhaariy karena hadits tersebut terjadi perbedaan pada sanadnya, sebagaimana keterangan yang akan datang berikut.

[7] Hadits unta zakat tersebut secara lengkap adalah :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنِ الصُّنَابِحِيِّ الأَحْمَسِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَبْصَرَ نَاقَةً حَسَنَةً فِي إِبِلِ الصَّدَقَةِ، فَقَالَ: قَاتَلَ اللَّهُ صَاحِبَ هَذِهِ النَّاقَةِ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي ارْتَجَعْتُهَا بِبَعِيرَيْنِ مِنْ حَوَاشِي الإِبِلِ، فَقَالَ: ” فَنَعَمْ إِذًا

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahiim bin Sulaimaan, dari Mujaalid, dari Qais bin Abu Haazim, dari Ash-Shunaabih Al-Ahmasiy, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat seekor unta yang bagus pada sekumpulan unta zakat, beliau bersabda, “Semoga Allah memerangi pemilik unta ini!” Pemilik unta tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menukarnya dengan dua ekor unta dari unta-unta kecil (dari harta zakat).” Rasulullah bersabda, “Jika begitu maka baiklah.”
[Musnad Abu Ya’laa no. 1453]

Mujaalid adalah Mujaalid bin Sa’iid bin ‘Umair bin Bisthaam, Abu ‘Amr atau Abu Sa’iid Al-Kuufiy Al-Hamdaaniy. Al-Haafizh berkata dalam At-Taqriib no. 6478 :

ليس بالقوي وقد تغير في آخر عمره

“Laisa bil qawiy (tidak kuat), dan berubah hapalannya di akhir usianya.”

Mujaalid Abu ‘Amr diselisihi oleh Ismaa’iil bin Abu Khaalid dalam sanadnya dari Qais bin Abu Haazim. Mujaalid meriwayatkan dengan marfuu’ sedangkan Ismaa’iil meriwayatkannya dengan mursal :

حَدَّثَنَا حَفْصٌ، عَنْ إسْمَاعِيلَ، عَنْ قَيْسٍ، قَالَ: أَبْصَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم نَاقَةً حَسَنَةً فِي إبِلِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ: ” مَا أَمْرُ هَذِهِ النَّاقَةِ؟ ” فَقَالَ صَاحِبُ الصَّدَقَةِ: يَا رَسُولَ اللَّهِ عَرَفْتُ حَاجَتَكَ إلَى الظَّهْرِ فَارْتَجَعْتُهَا بِبَعِيرَيْنِ مِنَ الصَّدَقَةِ

Telah menceritakan kepada kami Hafsh, dari Ismaa’iil, dari Qais, ia berkata, “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat seekor unta yang bagus pada sekumpulan unta zakat. Beliau bersabda, “Untuk apa unta ini?” Maka pemilik unta zakat tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah mengetahui kebutuhanmu akan hewan tunggangan, maka aku menukarnya dengan dua ekor unta dari harta zakat.”
[Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 10005]

Ismaa’iil bin Abi Khaalid Al-Ahmasiy Al-Bajaliy, perawi Ash-Shahiihain, Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 438 berkata ia tsiqah tsabt.

Jadi, hadits ini mursal dan inilah sanad yang mahfuuzh ketimbang sanad yang marfuu’. Demikian penjelasan Al-Imam Abu ‘Iisaa At-Tirmidziy yang ia dapat dari keterangan gurunya, Al-Imam Al-Bukhaariy.

Adapun redaksi “naaqah musinnah (unta yang berumur setahun)” seperti yang tertulis pada matan ‘ilal, kami dapatkan lafazh ini ada dalam Sunan Al-Kubraa Al-Baihaqiy 4/112 dari riwayat Mujaalid yang marfuu’, bukan dari riwayat Ismaa’iil bin Abu Khaalid.

Selesai. Semoga bermanfaat.
Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di Ciputat pada hari Ahad, 13 Dzulqa’dah 1435 H

Tommi Marsetio

Sumber :
‘Ilal At-Tirmidziy Al-Kabiir“, karya Al-Imam Abu ‘Iisaa At-Tirmidziy rahimahullah, tahqiiq dan ta’liiq : Shubhiy As-Saamiraa’iy dan yang lainnya, penerbit : Maktabah An-Nahdhah Al-‘Arabiyyah, Beirut, cetakan pertama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s