Fatwa Al-Lajnah Ad-Daa’imah Yaman : Hukum Shalat Fardhu Berjama’ah di Masjid

solat-jemaahPertanyaan diajukan kepada Lajnah Daa’imah Yaman (Lembaga Fatwa Yaman) :

ما حكم الجماعة في المسجد؟ سائل

Apa hukum shalat berjama’ah di Masjid? Penanya.

الجواب: الجماعة في المسجد فيها ثلاثة أقوال:

القول الأول: وهو قول الجمهور من الفقهاء المالكية والشافعية والمعتمد عند الحنابلة أنها في المسجد أفضل وتجوز في البيت والسوق ونحو ذلك.

واستدلوا بحديث جابر في الصحيحين وفيه: وجعلت لي الأرض مسجداً وطهوراً فأيما رجل من أمتي أدركته الصلاة فليصل

Dijawab oleh tim fatwa Lajnah Daa’imah :

Shalat berjama’ah di masjid ada 3 pendapat mengenainya.

Pendapat pertama : Adalah pendapat jumhur dari fuqaha’ Maalikiyyah, Asy-Syaafi’iyyah dan yang mu’tamad di sisi Hanaabilah bahwa shalat berjama’ah di masjid lebih afdhal, namun dibolehkan shalat di rumah, di pasar dan yang sejenisnya. Mereka berdalil dengan hadits Jaabir yang diriwayatkan dalam Ash-Shahiihain, yaitu : “Bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan tempat suci, maka dimana saja salah seorang dari ummatku menjumpai waktu shalat, hendaklah ia shalat.”

القول الثاني: ليس للرجل فعلها إلا في المسجد إلا من عذر وهو رواية عن الإمام أحمد واختاره ابن القيم وقواه بالأدلة وأشار إلى اختياره شيخ الإسلام بن تيمية.

ومن أدلة هذا القول: ما في الصحيحين من حديث أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «لقد هممت أن آمر بحطب يحتطب ثم آمر بالصلاة فيؤذن لها ثم آمر رجلاً فيؤم الناس ثم أخالف إلى رجال لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم، فوالذي نفسي بيده لو يعلم أحدهم أنه يجد عرقا سمينا أو مرماتين حسنتين لشهد العشاء».

وحديث الأعمى الذي استأذن النبي صلى الله عليه وسلم في التخلف عن صلاة الجماعة فقال له: «هل تسمع النداء بالصلاة. فقال: نعم. قال فأجب» [رواه مسلم].

وكذلك الأثر عن ابن مسعود في أهمية المحافظة على الجماعة في المسجد إذْ يقول: «و لقد رأيتُنا وما يتخلَّف عنها إلا منافق معلوم النفاق» [رواه مسلم]

Pendapat kedua : Tidak ada bagi seorang laki-laki yang shalat melainkan ia melaksanakannya di masjid, kecuali dalam keadaan ‘udzur. Ini adalah riwayat Al-Imam Ahmad dan dipilih oleh Ibnul Qayyim, beliau menguatkan pendapat ini dengan sejumlah dalil dan mengisyaratkan kepada pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Diantara dalil pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan dalam Ash-Shahiihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh aku ingin memerintahkan seseorang untuk mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin shalat. Sedangkan aku akan mendatangi orang-orang (yang tidak ikut shalat berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, kalaulah seseorang di antara kalian mengetahui bahwa ia akan memperoleh daging yang gemuk, atau dua potongan daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat ‘Isya berjama’ah.”

Lalu hadits seorang buta yang ia meminta izin Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk (diberi keringanan) menunda shalat berjama’ah (di masjid), Nabi bertanya kepadanya, “Apakah kau mendengar An-Nidaa’ (seruan adzan) untuk shalat?” Ia menjawab, “Ya,” Nabi bersabda, “Maka wajib (bagimu mendatangi adzan tersebut).” [Diriwayatkan Muslim].

Demikian pula atsar dari Ibnu Mas’uud mengenai kemuliaan menjaga shalat berjama’ah di masjid dimana beliau -radhiyallaahu ‘anhu- mengatakan, “Sungguh aku melihat pendapat kami (yaitu para sahabat), yaitu tidaklah seseorang (menyengaja) tertinggal dari shalat melainkan ia seorang munafiq yang jelas nifaq-nya.” [Diriwayatkan Muslim].

القول الثالث: التفريق بين من يسمع النداء فلا تصح صلاته إلا في المسجد، وبين من لا يسمع النداء فلا يشترط لها حضور المسجد ولا بد من الجماعة، وهو قول بن حزم.

ومن أدلة هذا القول حديث: «من سمع النداء فلم يجب فلا صلاة له إلا من عذر» [رواه بن ماجة والدارمي وابن حبان وصححه هو والحاكم ووافقه الذهبي، وصححه شعيب الأرناؤوط]

Pendapat ketiga : Pendapat ini memisahkan antara seseorang yang mendengar seruan adzan maka tidak sah shalatnya kecuali di masjid, dan antara seseorang yang tidak mendengar seruan adzan maka tidaklah disyaratkan baginya untuk mendatangi masjid dan (tidak disyaratkan) harus berjama’ah. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm.

Diantara dalil pendapat ini adalah hadits, “Barangsiapa yang mendengar seruan adzan namun ia tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali ia memiliki ‘udzur.” [Diriwayatkan Ibnu Maajah, Ad-Daarimiy, Ibnu Hibbaan dan dishahihkan olehnya dan Al-Haakim, disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Dishahihkan Syu’aib Al-Arnaa’uuth].

والراجح هو القول الثاني بوجوب صلاتها في المسجد لقوة أدلته وسلامتها من الاعتراضات الصحيحة

Pendapat yang rajih adalah pendapat kedua yaitu wajibnya shalat berjama’ah di masjid dengan kuatnya dalil yang mendasarinya, dan lebih selamatnya pendapat tersebut dari bantahan-bantahan shahih.

المصدر: المنتدى الفقهي بجامعة الإيمان

Sumber : Al-Muntadaa Al-Fiqhiy, Universitas Al-Iimaan.

المجيب: أعضاء اللجنة الدائمة في اليمن: الشيخ عبد الوهاب الديلمي (غائب بعذر). الشيخ محمد الصادق مغلس. الشيخ أمين علي مقبل. الشيخ أحمد حسان. الشيخ مراد القدسي

Penjawab : Tim Al-Lajnah Ad-Daa’imah Yaman, yaitu Asy-Syaikh ‘Abdul Wahhaab Ad-Dailamiy (berhalangan hadir karena ‘udzur), Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shaadiq Mughlas, Asy-Syaikh Aamiin ‘Aliy Muqbil, Asy-Syaikh Ahmad Hassaan, Asy-Syaikh Muraad Al-Qudsiy -hafizhahumullah-.

Link fatwa : http://olamaa-yemen.net/main/articles.aspx?article_no=8150

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s