Al-Munkar

munkarDidalam term ilmu hadits, para ahli hadits menggunakan istilah munkar kepada 2 makna :

1. Sebuah riwayat yang menyelisihi riwayat para perawi tsiqah.

2. Tidak ada riwayat dari seorang yang adil lagi dhaabith, dan jika tidak ada yang menyelisihinya, maka dinamakan pula munkar.

Al-Imam Muslim berkata dalam muqaddimah kitab Shahih-nya :

“Tanda-tanda munkarnya sebuah hadits yang tidak dikenal adalah apabila dibandingkan riwayatnya tersebut dengan hadits atas riwayat lainnya dari para perawi yang hapalannya kuat dan diridhai, yang mana riwayatnya bertentangan dengan riwayat mereka (yaitu para perawi yang hapalannya kuat tersebut), atau tidak ada yang menyepakatinya. Maka jika telah jelas berlaku hal yang demikian dari haditsnya, ia disebut mahjuurul hadiits (perawi yang ditinggalkan haditsnya), bukan termasuk perawi yang diterima dan dipakai haditsnya.” Selesai.

Adapun jika terdapat perawi yang tafarrud (bersendirian) dengannya dan ia termasuk perawi ‘adil, dhaabith, haafizh dan diterima secara syara’, maka haditsnya tidak termasuk munkar, namun jika disebut demikian maka ia hanyalah lughah saja[1].

Dan akan mengakibatkan timbulnya nakarah dalam hadits dengan banyaknya kelalaian atau kefasikan. Maka perawi yang berlaku keadaannya seperti ini, hadits darinya tidak diterima, sama saja apakah ia menyelisihi para perawi tsiqah ataupun tidak.

Contoh mukhalafah (penyelisihan) riwayat para perawi tsiqah adalah :

1. Hadits yang diriwayatkan ashabus-sunan[2], dari Hammaam, dari Ibnu Juraij, dari Az-Zuhriy, dari Anas -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ

“Dahulu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam jika hendak masuk kakus, beliau melepaskan cincinnya.”

Al-Imam Abu Daawud berkata :

هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ وَإِنَّمَا يُعْرَفُ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ ثُمَّ أَلْقَاهُ وَالْوَهْمُ فِيهِ مِنْ هَمَّامٍ وَلَمْ يَرْوِهِ إِلَّا هَمَّامٌ

“Ini hadits munkar, sementara yang diketahui dari Ibnu Juraij, dari Ziyaad bin Sa’d, dari Az-Zuhriy, dari Anas, adalah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam memakai cincin yang terbuat dari perak kemudian beliau membuangnya. Kekeliruan ini berasal dari Hammaam dan tidak diriwayatkan kecuali dari Hammaam.”

Al-Imam At-Tirmidziy berkata :

حسن غريب

“Hadits hasan ghariib.”

Al-Imam An-Nasaa’iy berkata :

وهذا الحديث غير محفوظ

“Dan hadits ini tidak mahfuuzh (terjaga).”

Kemudian diriwayatkan dengan jalannya dari Ibraahiim bin Sa’d, dari Ibnu Syihaab (Az-Zuhriy), dari Anas :

أنه رأى في يد رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق يوما واحدا، فصنعوه فلبسوه فطرح النبي صلى الله عليه وسلم وطرح الناس

Bahwasanya ia melihat cincin yang terbuat dari perak di (jari) tangan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari, maka para sahabat pun mulai membuat cincin serupa kemudian memakainya. Lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam membuangnya dan orang-orang pun ikut membuangnya.

Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy berkata setelah meriwayatkan hadits dari jalan Ibnu Juraij, dari Az-Zuhriy, kemudian menukil perkataan Abu Daawud :

هذا هو المشهور عن إبن جريج، دون حديث همام

“Inilah yang masyhur dari Ibnu Juraij, tanpa hadits Hammaam.[3]

Kemudian Al-Baihaqiy menyebutkan hadits penguat yang berderajat dha’if dari hadits Ibnu Juraij semisal hadits Hammaam.

Para ulama menyebut contoh yang telah disebutkan tadi dengan hadits munkar, namun yang lebih tepat ia adalah hadits syaadz, karena walaupun Hammaam bin Yahyaa telah menyelisihi, ia adalah perawi tsiqah, diriwayatkan oleh jama’ah (yaitu para imam kutubus sittah).

Al-Imam Ahmad berkata mengenainya :

ثبت في كل المشايخ

“Orang yang tsabt pada semua masyaikhnya.”

Al-Imam Abu Haatim Ar-Raaziy berkata :

ثقة، في حفظه شيء

Tsiqah, pada hapalannya terdapat sesuatu.”

Al-Haafizh Al-‘Asqalaaniy berkata dalam Taqriib-nya :

ثقة، ربما وهم

Tsiqah, kemungkinan ada wahm.”

Al-Imam Ibnu At-Turkumaaniy tidak menerima ta’liil dari Al-Baihaqiy pada hadits Hammaam dari Ibnu Juraij, bahkan ia menetapkan hadits Ibnu Juraij dari Az-Zuhriy dengan tanpa perantara, padahal hadits Ibnu Juraij dari Az-Zuhriy dengan perantara berjumlah 2 hadits yang bertentangan sanad dan matannya (dengan yang tanpa perantara).

Al-Haafizh menjelaskan masalah ini, beliau berkata :

“Sesungguhnya Abu Daawud menghukumi hadits ini dengan sebab munkar, dikarenakan Hammaam tafarrud meriwayatkannya dari Ibnu Juraij. Keduanya, walaupun termasuk para perawi Ash-Shahiih, namun Asy-Syaikhain (yaitu Al-Bukhaariy dan Muslim) sama sekali tidak mengeluarkan riwayat Hammaam dari Ibnu Juraij karena Hammaam mengambil riwayat darinya tatkala Ibnu Juraij berada di Bashrah, yang mana penyimakan mereka dari Ibnu Juraij di Bashrah ini pada hadits-haditsnya terdapat cacat dalam penerimaannya. Cacatnya yaitu dari sisi Ibnu Juraij yang mentadlis dari Az-Zuhriy dengan memotong perawi perantaranya, ia adalah Ziyaad bin Sa’d, dan Hammaam telah keliru dalam lafazhnya sebagaimana telah dikonfirmasi oleh Abu Daawud dan yang lain. Inilah sisi penghukuman atas hadits ini dengan sebab munkar, sementara penghukuman An-Nasaa’iy dengan sebab tidak mahfuuzh, maka inilah yang mendekati kebenaran karena sebenarnya hadits ini syaadz, disebabkan perawi yang tafarrud didalamnya adalah perawi yang termasuk syarat Ash-Shahiih namun ia mukhalafah sehingga jelas haditsnya syaadz.[4]” Selesai.

2. Contoh yang kedua adalah hadits yang dikeluarkan Al-Imam Ibnu Maajah[5], dari riwayat Abu Zukair Yahyaa bin Muhammad bin Qais, dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari Ayahnya, dari ‘Aaisyah -radhiyallaahu ‘anha-, secara marfuu’ :

كُلُوا الْبَلَحَ بِالتَّمْرِ… فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَغْضَبُ

“Makanlah kurma muda dengan tamr… karena sesungguhnya syetan akan marah.”

Al-Imam An-Nasaa’iy berkata :

منكر تفرد به أبو زكير

Munkar, Abu Zukair tafarrud dengannya.”

Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Al-Baihaqiy dalam Kitab Al-Adab[6], beliau berkata :

تفرد به أبو زكير حديثا

“Hadits yang Abu Zukair tafarrud dengannya.”

Disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Jauziy dalam kitab Al-Maudhuu’aat. Hadits ini dikeluarkan pula oleh Al-Imam Al-Haakim dalam Mustadrak-nya[7] namun tidak dihukumi keshahihannya oleh beliau bersamaan dengan kebiasaan tasahul-nya. Al-Haafizh Adz-Dzahabiy memberikan ta’liq dengan perkataannya :

هذا حديث منكر لم يصححه المؤلف

“Hadits ini munkar, mu’allif (penulis, -yaitu Al-Haakim-) tidak menshahihkannya.”

Sebagaimana Adz-Dzahabiy menyebutkan hadits ini dalam Miizaan-nya[8] pada biografi Yahyaa bin Muhammad bin Qais, beliau berkata pula :

هذا حديث منكر

“Hadits ini munkar.”

Sebagai kesimpulan, ketahuilah, bahwasanya syaadz dan munkar keduanya bertemu pada kondisi mukhalafah, dan dibedakan dari beberapa segi : jika syaadz maka perawi yang mukhalafah tersebut adalah perawi tsiqah atau shaduuq, dan jika munkar maka perawi yang mukhalafah adalah perawi lemah. Sementara hadits yang diselisihi oleh hadits munkar disebut hadits ma’ruuf, dan hadits yang diselisihi oleh hadits syaadz disebut hadits mahfuuzh.

Selesai. Semoga bermanfaat.
Wallaahu a’lam

Ciputat, Jum’at, 8 Dzulhijjah 1435 H

Tommi Marsetio Abu Ahmad

Diterjemahkan dari :

Mu’jam Mushthalahaat Al-Hadiits wa Lathaa’if Al-Asaaniid” hal. 467-470, karya : Asy-Syaikh Dr. Muhammad Dhiyaa’urrahman Al-A’zhamiy, penerbit Adhwaa’ As-Salaf, cetakan pertama.

Footnotes :

[1] Lihat Ikhtishaar ‘Uluumil Hadiits karya Al-Haafizh Ibnu Katsiir, 1/183.

[2] Diriwayatkan Abu Daawud (Kitab Ath-Thahaarah no. 19); At-Tirmidziy (Kitab Al-Libaas no. 1746, dan dalam Asy-Syamaa’il no. 88); Ibnu Maajah (Kitab Ath-Thahaarah no. 303); dan An-Nasaa’iy (Al-Kubraa no. 9542), semua dari jalan Hammaam bin Yahyaa, dengannya.

[3] As-Sunan Al-Kubraa lil-Baihaqiy 1/95.

[4] An-Nukat 2/688.

[5] Sunan Ibnu Maajah, Kitab Al-Ath’amah no. 3330.

[6] Kitab Al-Adab no. 667.

[7] Al-Mustadrak ‘alaa Ash-Shahiihain 4/121.

[8] Miizaanul I’tidaal 4/405.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s