Munkarul Hadiits

munkarul haditsPara ulama ahli hadits memuthlakkan munkarul hadiits ke dalam beberapa makna, diantaranya :

1. Hadits yang diriwayatkan oleh perawi lemah, menyelisihi riwayat perawi tsiqah

Al-Imam Muslim berkata dalam muqaddimah kitab Shahih-nya :

“Tanda-tanda munkar-nya sebuah hadits yang tidak dikenal adalah apabila dibandingkan riwayatnya tersebut dengan hadits atas riwayat lainnya dari para perawi yang hapalannya kuat dan diridhai, yang mana riwayatnya bertentangan dengan riwayat mereka (yaitu para perawi yang hapalannya kuat tersebut), atau tidak ada yang menyepakatinya. Maka jika telah jelas berlaku hal yang demikian dari haditsnya, ia disebut mahjuurul hadiits (perawi yang ditinggalkan haditsnya), bukan termasuk perawi yang diterima dan dipakai haditsnya.[1]

Dari sebab-sebab tersebut lantas dibedakanlah antara munkar dengan syaadz, karena perawi hadits syaadz adalah perawi tsiqah. Maka lawan dari hadits munkar adalah hadits ma’ruuf, dan lawan dari hadits syaadz adalah hadits mahfuuzh.

Mukhaalafah dapat terjadi pada sanad maupun matan. Diantara contoh yang menunjukkannya adalah hadits yang ditanyakan kepada Al-Imam Abu Zur’ah, dari riwayat Habiib bin Habiib -saudara Hamzah Az-Zayyaat-, dari Abu Ishaaq, dari Al-‘Aizaar bin Huraits, dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَقَامَ الصَّلاةَ، وَآتَى الزَّكَاةَ، وَحَجَّ الْبَيْتَ، وَصَامَ رَمَضَانَ، وَقَرَى الضَّيْفَ، دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, berpuasa Ramadhan serta memuliakan tamu, ia akan masuk surga.[2]

Abu Zur’ah berkata :

هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ، إِنَّمَا هُوَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ مَوْقُوفٌ

“Hadits ini munkar, yang benar adalah dari Ibnu ‘Abbaas secara mauquuf.[3]

Contoh diatas adalah contoh mukhaalafah dalam sanad.

Jika terdapat seorang perawi yang meriwayatkan sejumlah kalimat dan beberapa diantaranya ada hal-hal yang diingkari, maka ia munkar. Al-Imam Ibnu Daqiiq Al-‘Iid berkata :

“Perkataan mereka : meriwayatkan hal-hal yang diingkari, tidaklah sampai menurunkannya hingga derajat ditinggalkan riwayatnya, sampai terbukti bahwa ia banyak meriwayatkan hal-hal yang diingkari dalam riwayatnya sehingga sempurnalah ia dengan sebutan “munkarul hadiits“, karena munkarul hadiits disifatkan kepada seorang perawi yang layak untuk ditinggalkan haditsnya, namun pemaknaan yang lain (bagi sebutan munkar ini) tidak melazimkan kekekalan (bahwa ia ditinggalkan haditsnya) ; bagaimana halnya dengan Ahmad yang telah berkata mengenai Muhammad bin Ibraahiim At-Taimiy, “Meriwayatkan hadits-hadits munkar“? Sementara Muhammad bin Ibraahiim adalah perawi yang disepakati (kehujjahannya) oleh Asy-Syaikhaan (yaitu Al-Bukhaariy dan Muslim), dan darinyalah hadits “Al-A’maalu bin-niyyaat” berasal.[4]

2. Hadits yang diriwayatkan oleh perawi lemah dengan selain adanya mukhaalafah

Seperti perkataan Al-Imam At-Tirmidziy dalam Jaami’-nya pada kitab Al-Adab, bab “Maa jaa’a fiy as-salaam qabla al-kalaam” : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Ash-Shabbaah, telah mengkhabarkan kepada kami Sa’iid bin Zakariyaa, dari ‘Anbasah bin ‘Abdirrahman, dari Muhammad bin Zaadzaan, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jaabir bin ‘Abdillaah -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

السَّلَامُ قَبْلَ الْكَلَامِ

“Salam adalah sebelum berbicara.”

Dan dengan sanad ini, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

لَا تَدْعُوا أَحَدًا إِلَى الطَّعَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ

“Janganlah kalian memanggil seseorang untuk makan sehingga ia selesai mengucapkan salam.”

Abu ‘Iisaa At-Tirmidziy berkata :

هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ و سَمِعْت مُحَمَّدًا يَقُولُ عَنْبَسَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ضَعِيفٌ فِي الْحَدِيثِ ذَاهِبٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ زَاذَانَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ

“Hadits ini munkar, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini. Dan aku mendengar Muhammad (yaitu Al-Bukhaariy, guru beliau) mengatakan, “‘Anbasah bin ‘Abdirrahman dha’iif dalam hadits, dzaahib (orang yang hilang haditsnya), sementara Muhammad bin Zaadzaan munkarul hadiits.[5]

Al-Haafizh Adz-Dzahabiy berkata pada biografi Al-Imam ‘Aliy bin Al-Madiiniy :

“Jika seorang yang tsiqah mutqin bersendirian, maka haditsnya disebut shahiih ghariib. Jika seorang yang shaduuq atau yang berada dibawahnya bersendirian, maka haditsnya disebut munkar. Namun jika seorang perawi seringkali meriwayatkan hadits-hadits yang tidak disepakati lafazh dan sanad padanya, perbuatan seperti ini akan menjadikannya perawi yang matruukul hadiits (orang yang haditsnya ditinggalkan).[6]

3. Hadits yang bersendiriannya seorang perawi tsiqah didalam sanadnya tanpa ada mukhaalafah dari perawi yang lebih tsiqah

Al-Imam Ahmad dalam kitabnya, Al-‘Ilal, membawakan istilah ini pada banyak perawi. Beliau memuthlakkan kalimat “munkarul hadiits” pada seorang perawi jika perawi tersebut tafarrud padahal ia adalah seorang yang tsiqah.

Al-Haafizh berkata pada biografi Yaziid bin ‘Abdillaah bin Khushaifah :

“Lafazh ini dimuthlakkan oleh Ahmad pada seorang perawi yang meriwayatkan secara ghariib atas perawi lain yang sepadan haditsnya. Cara mengetahui yang demikian adalah dengan istiqra’ (meneliti) keadaannya. Dan sungguh, Ibnu Khushaifah telah dijadikan hujjah oleh Maalik dan semua imam hadits.[7]

Ini jika diketahui bahwa ia tidak menyelisihi. Adapun jika ada penyelisihan dari perawi yang lebih tsiqah darinya, seperti mukhaalafah Ibnu Khushaifah dengan teman sejawatnya, Muhammad bin Yuusuf, dalam hal shalat tarawih 20 raka’at, -Muhammad bin Yuusuf lebih tsiqah dari Ibnu Khushaifah dan ia meriwayatkan 11 raka’at-, maka hadits Ibnu Khushaifah syaadz menurut istilah yang umum.

Atas dasar pemaparan yang telah disebutkan, didapat hasil bahwasanya Al-Imam Ahmad rahimahullahu Ta’ala memuthlakkan perkataan “munkarul hadiits” kepada dua makna :

A. Tafarrud seorang perawi tsiqah tanpa adanya mukhaalafah.

B. Mukhaalafah seorang perawi tsiqah dengan perawi yang lebih tsiqah darinya.

Al-Haafizh berkata pada biografi Yaziid bin ‘Abdillaah bin Abu Burdah bin Abu Muusaa Al-Asy’ariy :

“Haditsnya dijadikan hujjah oleh semua imam hadits, sementara Ahmad dan yang lain memuthlakkan munkar atas para perawi yang menyendiri secara muthlak.[8]

Dari sinilah beberapa ulama menyamakan antara syaadz dengan penyendirian muthlak, sama saja apakah perawi yang menyendiri tersebut tsiqah atau tidak, menyelisihi atau tidak; jika ia meriwayatkan sebuah hadits dan ia menyendiri didalam sanadnya, maka ia disebut hadits syaadz. Jadi, syaadz menurut mereka terbagi menjadi 2 jenis : syaadz shahiih dan syaadz ghariib. Inilah madzhab Al-Haafizh Abu Ya’laa Al-Khaliiliy.[9]

4. Dimuthlakkannya munkar pada seorang perawi tsiqah jika meriwayatkan hal-hal yang diingkari dari para perawi lemah

Al-Imam Al-Haakim berkata, “Aku bertanya kepada Ad-Daaraquthniy, “Bagaimana dengan Sulaimaan ibnu bintu Syarahbiil[10]?” Ia menjawab, “Tsiqah.” Aku bertanya kembali, “Bukankah padanya terdapat hal-hal yang diingkari?” Ad-Daaraquthniy menjawab, “Ia meriwayatkan hal-hal yang diingkari tersebut dari sekelompok perawi lemah, adapun ia sendiri maka tsiqah.[11]

5. Terkadang terjadi nakaarah dari sisi perawi lain yang meriwayatkan dari seorang perawi

Sebagai contoh adalah Ibraahiim bin Al-Haitsam bin Al-Muhallab, Abu Ishaaq Al-Baladiy. Al-Imam Ibnu ‘Adiy berkata mengenainya :

“Aku telah memeriksa dengan seksama pada banyak haditsnya, aku tidak melihat padanya ada hadits munkar dari sisi Ibraahiim sendiri, melainkan kemunkaran terjadi dari sisi perawi lain yang meriwayatkan darinya.[12]

6. Perawi yang riwayat darinya tidak halal (untuk diriwayatkan)

Inilah madzhab Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah. Al-Haafizh Adz-Dzahabiy berkata pada biografi Abaan bin Jabalah Al-Kuufiy, Abu ‘Abdirrahman :

“Al-Bukhaariy berkata, “Munkarul hadiits,” dan Ibnul Qaththaan menukil bahwa Al-Bukhaariy berkata, “Semua perawi yang aku katakan mengenainya : munkarul hadiits, maka tidak halal menerima riwayat darinya.[13]

Dan pada biografi Sulaimaan bin Daawud Al-Yamaamiy :

“Al-Bukhaariy berkata, “Munkarul hadiits,” dan telah berlalu pada kami bahwa Al-Bukhaariy berkata, “Barangsiapa yang aku katakan mengenainya : munkarul hadiits, maka tidak halal menerima riwayat haditsnya.[14]

Selesai pembahasan munkarul hadiits. Semoga bermanfaat.
Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di Ciputat, pada hari Jum’at penuh berkah, 15 Dzulhijjah 1435 H

Tommi Marsetio Abu Ahmad

Diterjemahkan dari :

Mu’jam Mushthalahaat Al-Hadiits wa Lathaa’if Al-Asaaniid” hal. 470-474, karya : Asy-Syaikh Dr. Muhammad Dhiyaa’urrahman Al-A’zhamiy, penerbit Adhwaa’ As-Salaf, cetakan pertama.

Footnotes :

[1] Muqaddimah Shahiih Muslim hal. 7.

[2] Diriwayatkan Ath-Thabaraaniy (Al-Kabiir 12/136); Ibnu ‘Adiy (Al-Kaamil 3/330); dari jalan Habiib bin Habiib, dari Abu Ishaaq, dengannya.

Hadits ini dinisbatkan kepada Abu Bakr bin Abi Syaibah, Al-Haafizh berkata :

وَقَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ: حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ حَبِيبٍ أَخُو حَمْزَةَ الزَّيَّاتِ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْعَيْزَارِ بْنِ حُرَيْثٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: ” أَتَاهُ أَعْرَابِيٌّ….إلخ

Abu Bakr bin Abi Syaibah berkata : Telah menceritakan kepada kami Habiib bin Habiib -saudara Hamzah Az-Zayyaat-, dari Abu Ishaaq, dari Al-‘Aizaar bin Huraits, dari Ibnu ‘Abbaas, Al-‘Aizaar berkata, “Seorang ‘Arab badui mendatangi Ibnu ‘Abbaas…(al-hadits).”
[Al-Mathaalibul ‘Aaliyah 3/306]

Disebutkan oleh Al-Buushiiriy dalam Ithaaf Al-Khairah no. 1089 dan ia menisbatkannya pula kepada Abu Bakr bin Abi Syaibah.

Abul Hasan Al-Haitsamiy dalam Majma’ Az-Zawaa’id 1/50 berkata :

في إسناده حبيب بن حبيب أخو حمزة بن حبيب الزيات وهو ضعيف

“Didalam sanadnya ada Habiib bin Habiib, saudara Hamzah bin Habiib Az-Zayyaat. Habiib dha’iif.”

[3] ‘Ilal At-Tirmidziy 2/182.

[4] Fathul Mughiits 1/347.

[5] Jaami’ At-Tirmidziy no. 2699.

[6] Miizaanul I’tidaal 3/140-141.

[7] Hadyus Saariy hal. 453.

[8] Hadyus Saariy hal. 292.

[9] Fathul Mughiits 1/187.

[10] Namanya adalah Sulaimaan bin ‘Abdirrahman bin ‘Iisaa bin Maimuun At-Tamiimiy Ad-Dimasyqiy, Abu Ayyuub bin bintu Syarahbiil bin Muslim Al-Khaulaaniy, meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, Ibnu Wahb, Al-Waliid bin Muslim, Baqiyyah bin Al-Waliid dan lain-lain. Serta meriwayatkan darinya Al-Bukhaariy, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, Ibnu Maajah dan lain-lain.

Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib 4/207.

[11] Fathul Mughiits 1/347.

[12] Al-Kaamil fiy Adh-Dhu’afaa’ 1/273.

[13] Miizaanul I’tidaal 1/6.

[14] Miizaanul I’tidaal 2/202.

* * * * *

3 thoughts on “Munkarul Hadiits

  1. Imam Ahmad rahimahullaah berarti memasukkan hadits syadz ke dalam munkarul hadiits?
    selain hadits yang gharib tanpa ada pertentangan?

    berarti luas sekali definisi munkarul hadiits beliau ya, pak?

  2. oya, yang bagian
    4. Dimuthlakkannya munkar pada seorang perawi tsiqah jika meriwayatkan hal-hal yang diingkari dari para perawi lemah

    kalo boleh saran dituker redaksinya jadi
    4. Dimuthlakkannya munkar pada seorang perawi tsiqah jika meriwayatkan dari para perawi lemah, hal-hal yang diingkari

    kalau redaksi awal tadi sekilas juga bisa bermakna meriwayatkan yang diingkari perawi2 lemah, berarti kesannya malah jadi hadits ma’ruf

    cuma saran sih pak, tapi in syaa Allaah paham setelah baca contoh di bawahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s