Nabiyullah Al-Khidhir ‘Alaihissalaam

a.aaa-place-where-two-seas-meet-thKaum muslimin mengenal beliau pada kisahnya bersama Nabiyullah Muusaa bin ‘Imraan ‘Alaihissalaam dalam surat Al-Kahfi ketika Allah Ta’ala memerintahkan Muusaa untuk bertemu dengan salah seorang hambaNya yang berada pada pertemuan dua laut. Kisahnya bersama Muusaa pun ada dalam Ash-Shahiihain yang teriwayatkan dari ‘Abdullaah bin ‘Abbaas, yang mana ia menceritakan dari ‘Ubay bin Ka’b radhiyallaahu ‘anhum, dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, kisah Al-Khidhir ‘Alaihissalaam.

Disamping itu pula, banyak cerita-cerita mistis yang beredar seputar peri kehidupan Al-Khidhir, bahwasanya beliau dikaruniai umur yang sangat panjang (beberapa orang menyebutnya kehidupan yang abadi) hingga konon beliau masih hidup hingga masa sekarang ini, dan banyak pula cerita mistis lainnya seperti beliau yang kerap menyamar menjadi seorang pengemis yang meminta-minta pada beberapa kaum muslimin untuk menguji keimanan mereka, beliau yang pernah berguru kepada Al-Imam Abu Haniifah rahimahullah, hingga ada beberapa orang yang mengaku pernah bertemu dengan Al-Khidhir dalam mimpi lantas beliau mengilhami mereka bacaan-bacaan shalawat dan dzikir kemudian kaifiyat-kaifiyat dan fadhilahnya yang tidak pernah sama sekali dicontohkan ataupun diriwayatkan dari Rasulullah dan para salafush shaalih kita melalui jalur sanad yang shahih lagi muttashil.

Dari sinilah maka kaum muslimin terbagi kepada dua pendapat mu’tabar mengenai Nabi Khidhir, ada yang berketetapan bahwa beliau masih hidup (dan biasanya pendapat ini dianut oleh kaum sufi dan ulama-ulamanya), ada yang berpendapat bahwa beliau sudah wafat (ini adalah pendapat ahli hadits, ulama-ulama muhaqqiq (peneliti), dan mayoritas kaum muslimin). Siapakah Nabi Khidhir sebenarnya?

Nama dan Nasab Al-Khidhr

1. Pendapat pertama : dikatakan, ia adalah bin Adam yang diciptakan langsung dari sulbi Adam ‘Alaihissalaam. Pendapat ini diriwayatkan Al-Imam Ad-Daaraquthniy dalam “Al-Afraad“, dari jalan Rawwaad bin Al-Jarraah, dari Muqaatil bin Sulaimaan, dari Adh-Dhahhaak, dari Ibnu ‘Abbaas -radhiyallaahu ‘anhuma-[1].

Ibnu Katsiir (Al-Bidaayah 1/326) mengatakan pendapat ini munqathi’ dan gharib. Rawwaad dha’iif, Muqaatil matruuk, sementara Adh-Dhahhaak tidak pernah mendengar dari Ibnu ‘Abbaas.

2. Pendapat kedua : Ia adalah bin Qaabiil bin Adam. Pendapat ini disebutkan oleh Abu Haatim As-Sijistaaniy dalam kitab “Al-Mu’ammariin“, telah menceritakan kepada kami para masyaikh kami, termasuk Abu ‘Ubaidah, kemudian menyebutkannya. Pendapat ini lemah karena mu’dhal[2], dan dihikayatkan oleh pemilik kitab ini bahwa namanya adalah Khadhruun, yang mana ia adalah Al-Khidhir[3].

3. Pendapat ketiga : Pendapat Wahb bin Munabbih, bahwa namanya adalah Balyaa bin Mulkaan bin Faalagh bin ‘Aabar bin Syaalakh bin Arfakhsyadz bin Saam bin Nuuh[4]. Inilah pendapat Ibnu Qutaibah dan dihikayatkan oleh An-Nawawiy.

4. Pendapat keempat : Pendapat Ismaa’iil bin Abu Uwais, bahwa namanya adalah Al-Mu’ammar bin Maalik bin ‘Abdillaah bin Nashr bin Al-Azd[5]. Dan dikatakan namanya adalah ‘Aamir, dihikayatkan oleh Abul Khaththaab bin Dihyah dari Ibnu Habiib Al-Baghdaadiy.

5. Pendapat kelima : Ia adalah bin ‘Amaa’iil bin Nuur bin Al-‘Aish bin Ishaaq[6]. Dihikayatkan oleh Ibnu Qutaibah. Ayah beliau (‘Amaa’iil) disebut pula Muqaatil.

6. Pendapat keenam : Disebutkan bahwa Al-Khidhr adalah cucu Haaruun ‘Alaihissalaam, saudara Muusaa. Diriwayatkan dari Al-Kalbiy, dari Abu Shaalih, dari Ibnu ‘Abbaas. Pendapat ini jauh dari kebenaran[7]. Ibnu Ishaaq berpendapat bahwa namanya adalah Armiyaa bin Halqiyaa namun Ibnu Jariir Ath-Thabariy telah membantah pendapat ini.

7. Pendapat ketujuh : Ia adalah anak dari putri Fir’aun, dihikayatkan oleh Muhammad bin Ayyuub dari Ibnu Lahii’ah. Dan dikatakan ia adalah putra Fir’aun dari sulbinya, dihikayatkan oleh An-Naqqaasy[8].

8. Pendapat kedelapan : Ia adalah Ilyasa’, dihikayatkan dari Muqaatil bin Sulaimaan dan pendapat ini jauh dari kebenaran[9].

9. Pendapat kesembilan : Ia adalah keturunan Persia. Ini adalah pendapat Ibnu Syaudzab, diriwayatkan oleh Ibnu Jariir Ath-Thabariy dengan sanad yang jayyid, dari jalan Dhamrah bin Rabii’ah, dari Ibnu Syaudzab[10].

10. Pendapat kesepuluh : Ia berasal dari keturunan beberapa orang yang beriman kepada Nabi Ibraahiim ‘Alaihissalaam, kemudian berhijrah bersama beliau dari tanah Baabil, ‘Iraaq. Pendapat ini dihikayatkan Ibnu Jariir Ath-Thabariy dalam Taariikh-nya[11]. Dikatakan bahwa ayahnya adalah lelaki Persia sementara ibunya adalah wanita Romawi.

Kesemua pendapat yang telah disebutkan membutuhkan sanad-sanad yang shahih sampai kepada yang mengatakannya, walaupun begitu, jika memang shahih sanadnya maka tetap tidaklah bisa dijadikan hujjah lantaran pendapat-pendapat ini tidak berasal dari lisan Al-Ma’shuum -Shallallaahu ‘alaihi wasallam-, namun apabila pendapat-pendapat ini berasal dari kisah-kisah Isra’iliyyat maka wajib mendiamkannya, tidak menerimanya dan juga tidak menolaknya. Hanya Allah Ta’ala yang lebih mengetahui kebenarannya.

Adapun telah tetap dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhaariy, mengenai sebab mengapa beliau dinamakan Al-Khidhir, Rasulullah bersabda :

إِنَّمَا سُمِّيَ الْخَضِرَ أَنَّهُ جَلَسَ عَلَى فَرْوَةٍ بَيْضَاءَ فَإِذَا هِيَ تَهْتَزُّ مِنْ خَلْفِهِ خَضْرَاءَ

“Dinamakan Al-Khidhir karena ia pernah duduk diatas sebuah kain dari bulu binatang yang berwarna putih. Apabila kain tersebut melambai-lambai maka akan tampak dari baliknya warna hijau.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 3402]

An-Nawawiy berkata, “Nama kuniyah beliau adalah Abul ‘Abbaas,” dan pendapat ini disepakati.[12]

Al-Khidhir adalah Nabi, bukan Wali apalagi Malaikat

Al-Khidhir ‘Alaihissalaam adalah Nabi, dan ini adalah pendapat jumhur ulama. Ats-Tsa’labiy berkata, “Beliau adalah Nabi diatas semua pendapat[13],” Al-Qurthubiy berkata, “Al-Khidhir adalah seorang Nabi menurut (pendapat) jumhur[14].” Al-Aaluusiy menyebutkan mengenai status kenabiannya di sisi jumhur ulama[15], serta pendapat ini dirajihkan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar.

Al-Haafizh berkata :

“Sebagian para ulama besar mengatakan : Pangkal masalah dari timbulnya kezindiq-an adalah keyakinan meliputi kenabian Al-Khidhir, karena orang-orang zindiq menyatakan beliau bukan Nabi, hingga keyakinan mereka bahwa derajat Wali lebih afdhal dari Nabi, sebagaimana perkataan mereka :

Maqam kenabian adalah di Alam Barzakh
Maka binasalah Rasul kecuali Wali[16]

Dalil-dalil Al-Qur’an bahwa Al-Khidhir adalah Nabi

1. Firman Allah Ta’ala :

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” [QS Al-Kahfi : 65]

Diriwayatkan Ibnu Abi Haatim dari Ibnu ‘Abbaas bahwa makna “rahmatam-min ‘indinaa” adalah petunjuk dan kenabian[17].

2. Perkataan Muusaa kepada Al-Khidhir, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala :

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا. قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا. وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا. قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا. قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Khidhir menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan dapat sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Muusaa berkata, “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” Khidhir berkata, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” [QS Al-Kahfi : 66-70]

Jika Al-Khidhir adalah seorang Wali dan bukan Nabi, maka Muusaa tidak akan berbicara dengannya dengan pembicaraan seperti ini, dan Al-Khidhir tidak akan menjawab permintaan Muusaa dengan jawaban seperti ini. Tidaklah ilmu dan derajat seorang Nabi itu lebih rendah dari seorang Wali. Muusaa ‘Alaihissalaam adalah seorang Nabi yang agung, Rasul yang mulia, wajib baginya sifat ma’shuum, maka bagaimana mungkin seorang Nabi mengikuti seorang Wali yang ilmu dan derajatnya jelas tidak sejajar dengan kenabian dan tidak ada padanya sifat ma’shuum?

3. Perbuatan Al-Khidhir ketika membunuh seorang anak kecil, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.” [QS Al-Kahfi : 74]

Ayat ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa tidaklah Al-Khidhir melakukan perbuatan yang demikian (keberanian membunuh anak kecil tersebut) melainkan dengan wahyu yang diturunkan kepadanya dari Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah dalil tersendiri bagi kenabian Al-Khidhir dan bukti nyata atas kema’shumannya. Dan seorang Wali yang tidak ma’shuum tidak diperbolehkan melakukan hal yang demikian karena ia bukanlah Nabi yang diturunkan kepadanya wahyu dan wajib baginya sifat ma’shuum.

4. Perkataan Al-Khidhir ketika ia menjelaskan kepada Muusaa mengenai hakikat perbuatan-perbuatannya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Dan tidaklah aku melakukan itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” [QS Al-Kahfi : 82]

Yakni, tidaklah aku melakukan perbuatan-perbuatan tersebut menurut kehendak diriku, bahkan inilah yang aku diperintahkan dengannya dan diwahyukan kepadaku.

5. Firman Allah ‘Azza wa Jalla :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya.” [QS Al-Jinn : 26-27]

Kisah Muusaa bersama Al-Khidhir menunjukkan bahwa ia adalah bagian dari hal-hal ghaib yang Allah tampakkan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah tidak sekalipun menampakkan hal-hal yang ghaib kepada para Wali.

Dalil-dalil As-Sunnah

Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah bahwa Al-Khidhir adalah seorang Nabi ada pada kisah Muusaa dan Al-Khidhir yang disabdakan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

1. Ta’wil Al-Khidhir mengenai perbuatannya ketika membunuh seorang anak kecil :

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَطُبِعَ يَوْمَ طُبِعَ كَافِرًا وَكَانَ أَبَوَاهُ قَدْ عَطَفَا عَلَيْهِ فَلَوْ أَنَّهُ أَدْرَكَ أَرْهَقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا، فَأَرَدْنَا أَنْ يُبَدِّلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

“Dan adapun anak kecil itu, telah ditakdirkan padanya kekafiran sedangkan orang tuanya termasuk orang-orang shalih, apabila dia sudah besar dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Allah mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ayah dan ibunya).”
[Shahiih Muslim no. 2381]

Dari redaksinya bisa diketahui dengan mudah bahwasanya ta’wil ini mengandung perkara-perkara ghaib (yang belum terjadi) sementara mustahil seseorang bisa mengetahui perkara-perkara seperti ini kecuali dari jalan nubuwwah dan wahyu. Dalil ini menguatkan pendapat bahwasanya Al-Khidhir adalah seorang Nabi, namun ia bukanlah Rasul.

2. Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam :

لَمَّا لَقِيَ مُوسَى الْخَضِرَ عَلَيْهِمَا السَّلامُ جَاءَ طَيْرٌ فَأَلْقَى مِنْقَارَهُ فِي الْمَاءِ، فَقَالَ الْخَضِرُ لِمُوسَى تَدَبَّرْ مَا يَقُولُ هَذَا الطَّيْرُ، قَالَ: وَمَا يَقُولُ؟ قَالَ: يَقُولُ: مَا عِلْمُكَ وَعِلْمُ مُوسَى فِي عِلْمِ اللَّهِ إِلا كَمَا أَخَذَ مِنْقَارِي مِنَ الْمَاءِ

“Tatkala Muusaa dan Al-Khidhir ‘Alaihimassalaam bertemu, datanglah seekor burung yang menaruh paruhnya di air. Al-Khidhir berkata kepada Muusaa, “Renungkanlah apa yang dikatakan oleh burung ini!” Muusaa bertanya, “Apa gerangan yang dikatakan?” Khidhir menjawab, “Burung ini mengatakan : Tidaklah ilmumu dan ilmu Muusaa di sisi ilmu Allah, melainkan seperti air yang diambil paruhku ini.”
[Al-Mustadrak 2/382][18]

Al-Khidhir mengerti suara burung, maka ini adalah perkara-perkara ghaib yang mana tidak mungkin dikaruniakan kepada manusia biasa. Sebagaimana Allah Ta’ala mengkaruniakan Nabi Sulaimaan ‘Alaihissalaam dengan mu’jizat dapat mengerti suara burung. Nabi Sulaimaan berkata seperti difirmankan Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

“Wahai Manusia, kami telah diberi ilmu tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.” [QS An-Naml : 16]

3. Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam :

بَيْنَمَا مُوسَى فِي مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنْكَ قَالَ مُوسَى لَا فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى مُوسَى بَلَى عَبْدُنَا خَضِرٌ

“Ketika Muusaa sedang berada di tengah-tengah para pembesar bani Israa’iil, datanglah seorang laki-laki yang bertanya kepadanya, “Apakah engkau mengetahui seseorang yang lebih berilmu darimu?” Muusaa berkata, “Tidak.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepada Muusaa, “Ada! Yaitu hamba Kami, Al-Khidhir.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 74]

Dalil ini menunjukkan takhsis Allah ‘Azza wa Jalla atas perkara ghaib yang belum diketahui Muusaa, yaitu keberadaan Al-Khidhir. Bersamaan dengan status Muusaa sebagai Rasul Ulul ‘Azmi, Allah Ta’ala memberitahukannya mengenai Al-Khidhir yang telah diberi Nubuwwah dan ilmu yang belum diketahui Muusaa. Maka dari sini, jelaslah bahwa Al-Khidhir adalah Nabi, tidak mungkin ia Wali sebab mustahil seorang Wali diberikan ilmu yang menyamai atau bahkan melebihi seorang Nabi.

Wallaahu Ta’ala a’lam.

Ciputat, penghujung tahun 1435 H

Abu Ahmad Tommi Marsetio

Disarikan dan diterjemahkan dari :

Az-Zahr An-Nadhr fiy Haal Al-Khidhir“, karya Al-Haafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy, tahqiiq dan takhriij : Shalaahuddiin Maqbuul Ahmad, penerbit Daar Ghiraasy, Kuwait, cetakan kedua.

Footnotes :

[1] Diriwayatkan Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq 16/399-400; Ibnul ‘Adiim dalam Bughyatuth-Thalib 7/341, dari jalan Ad-Daaraquthniy.

[2] Riwayat mu’dhal yaitu riwayat yang dalam sanadnya gugur dua orang perawi atau lebih.

[3] Al-Mu’ammariin hal. 3; Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/326; Al-Ishaabah 2/286.

[4] Taariikh Ath-Thabariy 1/365; Al-Kaamil li Ibnil Atsiir 1/326; Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/326, semua menukil dari Wahb.

[5] Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/326.

[6] Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/326.

[7] Pendapat ini jauh dari kebenaran, karena Al-Kalbiy adalah pendusta, sementara syaikhnya, Abu Shaalih, ia bukanlah Abu Shaalih Dzakwaan As-Sammaan Al-Imam Al-Haafizh, sahabat Abu Hurairah. Abu Shaalih ini adalah Baadzaam maulaa Ummu Haani’, dilemahkan oleh Al-Bukhaariy, Ibnu Ma’iin menyebutkan, “Jika Al-Kalbiy meriwayatkan darinya, maka riwayatnya tersebut tidak ada nilainya,” dan Abu Shaalih tidak mendengar tafsir dari Ibnu ‘Abbaas. Lihat Miizaanul I’tidaal 2/3.

[8] Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/326; Al-Ishaabah 2/287.

[9] Al-Bahrul Muhiith 6/147; Al-Ishaabah 2/287.

[10] Taariikh Ath-Thabariy 1/365; Al-Ishaabah 2/287.

[11] Taariikh Ath-Thabariy 1/365; Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 1/326.

[12] Syarh Shahiih Muslim 15/136.

[13] Al-Bahrul Muhiith 6/147.

[14] Tafsiir Al-Qurthubiy 11/16.

[15] Ruuhul Ma’aaniy 15/19.

[16] Al-Ishaabah 2/288 – bait sya’ir ini dinukil dari Ibnu ‘Arabiy Ash-Shuufiy Al-Huluuliy.

[17] Fathul Qadiir 3/355.

[18] Al-Imam Al-Haakim berkata :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ

“Hadits ini shahih sesuai syarat Asy-Syaikhain namun keduanya tidak mengeluarkannya.”

Dan disepakati Adz-Dzahabiy dalam Talkhiish-nya.

* * * * *

One thought on “Nabiyullah Al-Khidhir ‘Alaihissalaam

  1. Pingback: Riwayat Nabi Khidhir(1) : Nabi Khidhir ‘Alaihissalaam Berada di Pasar dan Menjadi Budak | Al-Muhandisu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s