Riwayat Nabi Khidhir(1) : Nabi Khidhir ‘Alaihissalaam Berada di Pasar dan Menjadi Budak

pasar-suuqKisah yang panjang ini diriwayatkan oleh Al-Imam Abul Qaasim Ath-Thabaraaniy rahimahullah dengan sanad dan matan :

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْعَلاءِ بْنِ زِبْرِيقٍ الْحِمْصِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ عِمْرَانَ الْكِنْدِيُّ، ثنا بَقِيَّةُ، ح وَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعْمَرِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مَيْمُونٍ الرَّقِّيُّ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَطَّابُ، ثنا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الأَلْهَانِيُّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لأَصْحَابِهِ: ” أَلا أُحَدِّثُكُمْ عَنِ الْخَضِرِ؟ ” قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: ” بَيْنَا هُوَ ذَاتَ يَوْمٍ يَمْشِي فِي سُوقِ بَنِي إِسْرَائِيلَ، أَبْصَرَهُ رَجُلٌ مُكَاتَبٌ، فَقَالَ: تَصَدَّقْ عَلَيَّ بَارَكَ اللَّهُ فِيكَ، فَقَالَ الْخَضِرُ: آمَنْتُ بِاللَّهِ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ أَمْرٍ يَكُونُ مَا عِنْدِي شَيْءٌ أُعْطِيكَهُ، فَقَالَ الْمِسْكِينُ: أَسْأَلُكَ بِوَجْهِ اللَّهِ لِمَ تَصَدَّقْتَ عَلَيَّ؟ فَإِنِّي نَظَرْتُ السِّيمَاءَ فِي وَجْهِكَ، وَرَجَوْتُ الْبَرَكَةَ عِنْدَكَ، فَقَالَ الْخَضِرُ: آمَنْتُ بِاللَّهِ مَا عِنْدِي شَيْءٌ أُعْطِيكَهُ إِلا أَنْ تَأْخُذَنِي فَتَبِيعَنِي، فَقَالَ الْمِسْكِينُ: وَهَلْ يَسْتَقِيمُ هَذَا؟ قَالَ: نَعَمِ الْحَقَّ أَقُولُ، لَقَدْ سَأَلْتَنِي بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَا إِنِّي لا أُخَيِّبُكَ بِوَجْهِ رَبِّي، بِعْنِي، قَالَ: فَقَدَّمَهُ إِلَى السُّوقِ، فَبَاعَهُ بِأَرْبَعِ مِائَةِ دِرْهَمٍ، فَمَكَثَ عِنْدَ الْمُشْتَرِي زَمَانًا لا يَسْتَعْمِلُهُ فِي شَيْءٍ، فَقَالَ لَهُ: إِنَّكَ إِنَّمَا ابْتَعْتَنِي الْتِمَاسَ خَيْرٍ عِنْدِي، فَأَوْصِنِي بِعَمَلٍ، قَالَ: أَكْرَهُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ إِنَّكَ شَيْخٌ كَبِيرٌ ضَعِيفٌ، قَالَ: لَيْسَ يَشُقُّ عَلَيَّ، قَالَ: فَقُمْ فَانْقُلْ هَذِهِ الْحِجَارَةَ، وَكَانَ لا يَنْقُلُهَا دُونَ سِتَّةِ نَفَرٍ فِي يَوْمٍ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ لِبَعْضِ حَاجَتِهِ، ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ نَقَلَ الْحِجَارَةَ فِي سَاعَةٍ، فَقَالَ: أَحْسَنْتَ وَأَجْمَلْتَ، وَأَطَقْتَ مَا لَمْ أَرَكَ تُطِيقُهُ، قَالَ: ثُمَّ عَرَضَ لِلرَّجُلِ سَفَرٌ، فَقَالَ: إِنِّي أَحْسَبُكَ أَمِينًا، فَاخْلُفْنِي فِي أَهْلِي خِلافَةً حَسَنَةً، قَالَ: فَأَوْصِنِي بِعَمَلٍ، قَالَ: إِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ، قَالَ: لَيْسَ يَشُقُّ عَلَيَّ، قَالَ: فَاضْرِبْ مِنَ اللَّبِنِ لِبَيْتِي حَتَّى أُقْدِمَ عَلَيْكَ، قَالَ: فَمَضَى الرَّجُلُ لِسَفَرِهِ فَرَجَعَ الرَّجُلُ، وَقَدْ شَيَّدَ بِنَاءَهُ، فَقَالَ: أَسْأَلُكَ بِوَجْهِ اللَّهِ مَا سَبِيلُكَ، وَمَا أَمْرُكَ؟ قَالَ: سَأَلْتَنِي بِوَجْهِ اللَّهِ، وَوَجْهُ اللَّهِ أَوْقَعَنِي فِي الْعُبُودِيَّةِ، فَقَالَ الْخَضِرُ: سَأُخْبِرُكَ مَنْ أَنَا، أَنَا الْخَضِرُ الَّذِي سَمِعْتَ بِهِ سَأَلَنِي مِسْكِينٌ صَدَقَةً، فَلَمْ يَكُنْ عِنْدِي شَيْءٌ أُعْطِيَهُ، فَسَأَلَنِي بِوَجْهِ اللَّهِ، فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ رَقَبَتِي، فَبَاعَنِي، وَأُخْبِرُكَ أَنَّهُ مَنْ سُئِلَ بِوَجْهِ اللَّهِ، فَرَدَّ سَائِلَهُ وَهُوَ يَقْدِرُ وَقَفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جِلْدُهُ وَلا لَحْمَ لَهُ وَلا عَظْمَ يَتَقَعْقَعُ، فَقَالَ الرَّجُلُ: آمَنْتُ بِاللَّهِ، شَقَقْتُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَلَمْ أَعْلَمْ، فَقَالَ: لا بَأْسَ، أَحْسَنْتَ وَأَبْقَيْتَ، فَقَالَ الرَّجُلُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، يَا نَبِيَّ اللَّهِ، احْكُمْ فِي أَهْلِي وَمَالِي بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ أَوْ أُخَيِّرُكَ، فَأُخَلِّي سَبِيلَكَ، فَقَالَ: أُحِبُّ أَنْ تُخَلِّيَ سَبِيلِي فَأَعْبُدَ رَبِّي، فَخَلَّى سَبِيلَهُ، فَقَالَ الْخَضِرُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَوْقَعَنِي فِي الْعُبُودِيَّةِ، ثُمَّ نَجَّانِي مِنْهَا

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ishaaq bin Ibraahiim bin Al-‘Alaa’ bin Zibriiq Al-Himshiy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl bin ‘Imraan Al-Kindiy, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah. (Dalam jalur sanad yang lain) Dan telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Ma’mariy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Maimuun Ar-Raqqiy, telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin ‘Ubaidillaah Al-Haththaab, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al-Waliid, dari Muhammad bin Ziyaad Al-Alhaaniy, dari Abu Umaamah Al-Baahiliy radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya :

“Maukah kalian kuceritakan mengenai Al-Khidhir?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun mulai bercerita, “Pada suatu hari tatkala Al-Khidhir sedang berjalan di pasar bani Israa’iil, ada seorang budak mukatab melihatnya, budak tersebut berseru, “Bersedekahlah kepadaku, semoga saja Allah memberkahimu!” Al-Khidhir mendengar seruannya dan menjawab, “Aku beriman kepada Allah bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kuberikan kepadamu.” Berkatalah kembali budak miskin tersebut, “Aku meminta kepadamu dengan Wajah Allah, mengapakah kau tidak bersedekah kepadaku? Karena sesungguhnya aku telah melihat tanda adanya kebaikan pada wajahmu, dan aku mengharapkan berkah di sisimu.” Al-Khidhir berkata, “Aku beriman kepada Allah, aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kuberikan kepadamu, kecuali kau mengambil dan menjual diriku sebagai seorang budak.”

Budak miskin bertanya, “Apakah benar perkataanmu ini?” Al-Khidhir menjawab, “Ya, benar apa yang kukatakan. Kau telah meminta kepadaku dengan sebuah perkara yang sungguh agung. Lakukanlah, sesungguhnya aku tidak akan mengecewakanmu dengan Wajah Rabbku. Juallah diriku.”

Rasulullah melanjutkan, “Lalu dibawalah Al-Khidhir menuju pasar, budak miskin menjualnya dengan harga 400 dirham. Maka tinggallah Al-Khidhir di kediaman sang majikan selama beberapa masa akan tetapi majikannya tidak menyuruhnya mengerjakan sesuatu pun. Al-Khidhir merasa heran dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau telah membeliku dengan mengharapkan kebaikan dariku, maka pintalah aku untuk bekerja.”

Majikannya berkata, “Aku tidak suka jika kau mengalami kesulitan, kau sudah tua dan lemah.”

Al-Khidhir menampik, “Tidak ada yang menyulitkanku.”

Majikannya berkata, “Jika begitu, maka berdirilah, pindahkan batu-batuan ini.” Tidak ada yang bisa memindahkan batu-batuan tersebut dalam sehari, kecuali dikerjakan oleh 6 orang secara bersamaan. Lalu majikannya keluar dari rumah untuk beberapa keperluan kemudian ia kembali dan pada saat itu juga, batu-batuan tersebut telah selesai dipindahkan.

Sang majikan berkata, “Bagus dan rapi sekali pekerjaanmu! Tak kukira kau mampu dengan keadaanmu yang seperti ini.”

Rasulullah kembali melanjutkan, “Kemudian sang majikan hendak safar kembali, ia berkata, “Aku percaya penuh kepadamu, lindungilah keluargaku dengan perlindungan yang baik.” Al-Khidhir menjawab, “Pintalah aku untuk bekerja.” Majikan kembali berkata, “Sesungguhnya aku tidak suka jika kau mengalami kesulitan.” Al-Khidhir pun kembali menampik, “Tidak ada yang menyulitkanku.”

Maka majikannya berkata, “Jika begitu, buatlah batu bata untuk membangun rumahku hingga aku kembali kepadamu.”

Lalu sang majikan pun pergi safar, selang beberapa lama kembalilah ia dan sungguh Al-Khidhir telah selesai membangun rumah tersebut! Bertanyalah sang majikan, “Aku bertanya kepadamu dengan Wajah Allah, siapakah gerangan dirimu? Dan apakah keperluanmu disini?” Al-Khidhir menjawab dengan tenang, “Kau bertanya kepadaku dengan Wajah Allah, dan Wajah Allah-lah yang telah menjadikanku sebagai seorang budak.”

Al-Khidhir melanjutkan, “Aku akan khabarkan engkau mengenai siapa diriku. Aku adalah Al-Khidhir yang pernah kau dengar dengannya. Suatu hari, seorang budak miskin meminta sedekah kepadaku namun aku tidak memiliki apa-apa untuk kuberikan padanya padahal ia meminta kepadaku dengan Wajah Allah, lalu aku tawarkan diriku kepadanya, dan ia menjualku. Sekarang aku beritahu engkau, bahwasanya barangsiapa yang diminta dengan Wajah Allah namun ia menolak orang yang memintanya tersebut padahal ia mampu memberinya, niscaya ia akan berdiri di hari kiamat nanti dengan kulit yang tanpa adanya daging, dan tanpa adanya tulang yang membuatnya bisa bergerak.”

Sang majikan terkejut seraya berkata, “Aku beriman kepada Allah, aku telah menyusahkanmu wahai Nabiyullah! Dan aku tidak mengetahui bahwa kau adalah Al-Khidhir!”

Al-Khidhir menenangkannya, “Tidak mengapa, kau adalah orang yang baik dan suka menjaga kebaikan.”

Sang majikan kembali berkata, “Demi ayah dan ibuku, wahai Nabiyullah! Aturlah keluarga dan hartaku sesuai dengan apa yang Allah kehendaki padamu atau sekehendakmu! Niscaya aku akan membebaskan jalanmu!” Al-Khidhir membalas, “Aku menyukai kau membebaskan jalanku sehingga aku bebas beribadah kepada Rabbku.” Lantas sang majikan membebaskannya.

Al-Khidhir berujar pelan, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai seorang budak kemudian menyelamatkanku darinya.”
[Mu’jam Al-Kabiir no. 7530]

Takhrij dan Pandangan Ulama Terhadap Kisah Ini

Selain dalam Al-Kabiir, Ath-Thabaraaniy meriwayatkannya dalam Musnad Asy-Syaamiyyiin no. 832, dari jalan ‘Amr bin Ishaaq Al-Himshiy, dari Muhammad bin Al-Fadhl bin ‘Imraan Al-Kindiy, dari Baqiyyah, dengannya.

Dan dari jalan Musnad Asy-Syaamiyyiin inilah, Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir meriwayatkan dalam Taariikh Dimasyq 16/417.

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahaawiy meriwayatkan dalam Musykil Al-Atsaar no. 1877, dari jalan Abu Umayyah, dari Sulaimaan bin ‘Ubaidillaah Al-Anshaariy, dari Baqiyyah, dengannya. Sebagaimana Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy dalam Akhbaar Ashbahaan 2/257, dan An-Naqqaasy dalam Funuun Al-‘Ajaa’ib 1/214, keduanya dari jalan Sulaimaan bin ‘Ubaidillaah, dari Baqiyyah.

Al-Haafizh Ibnu Katsiir menyebutkan kisah ini dalam Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 2/253 (tahqiiq : Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdil Muhsin At-Turkiy, Ar-Risaalah), dari jalan Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy, dari Sulaimaan bin Ahmad bin Ayyuub Ath-Thabaraaniy, dari ‘Amr bin Ishaaq Al-Himshiy, dari Muhammad bin Al-Fadhl Al-Kindiy, dari Baqiyyah, dengannya.

Disebutkan pula oleh Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah 2/254 : diriwiyatkan oleh Ibnul Jauziy dalam kitab ‘Ujalah Al-Muntazhir fiy Syarh Haal Al-Khidhr, dari jalan ‘Abdul Wahhaab bin Adh-Dhahhaak -dan dia perawi yang matruuk-, dari Baqiyyah, dengannya.

Dapat disimpulkan, jalan periwayatan kisah ini bersumber dari 3 perawi yang kesemuanya bermuara pada Baqiyyah bin Al-Waliid, mereka adalah : Sulaimaan bin ‘Ubaidillaah Al-Anshaariy, Muhammad bin Al-Fadhl Al-Kindiy, serta ‘Abdul Wahhaab bin Adh-Dhahhaak.

Al-Haafizh Abul Hasan Al-Haitsamiy berkata :

رجاله موثقون إلا أن بقية مدلس

“Para perawinya adalah orang yang di-tsiqah-kan kecuali ada Baqiyyah yang seorang mudallis.” [Majma’ Az-Zawaa’id 3/103, 8/212-213]

Maka pendapat Al-Haitsamiy (para perawinya adalah orang yang di-tsiqah-kan) perlu diteliti lagi.

1. Sulaimaan bin ‘Ubaidillaah Al-Anshaariy, Abu Ayyuub Al-Haththaab Ar-Raqqiy. Yahyaa bin Ma’iin berkata “laisa bi syai'”, Abu Haatim berkata “tidaklah kami melihatnya kecuali kebaikan, shaduuq”, Abu Zur’ah berkata “munkarul hadiits”, An-Nasaa’iy berkata “laisa bil qawiy”, Al-‘Uqailiy berkata “haditsnya tidak ada muttabi'”, Al-Haafizh berkata “shaduuq, laisa bil qawiy”, Al-Albaaniy melemahkannya seraya berkata “perkataan Abu Haatim tidak menafikan kelemahan Sulaimaan dengan kemungkinan hal ini dibawa kepada dirinya bukanlah perawi yang tertuduh, dan demikian pula tidak menafikan kelemahannya dengan sifat lalai yang berasal dari hapalan yang buruk”, Al-Arna’uuth pun berkata “dha’iif”. [Al-Jarh wa At-Ta’diil 4/127; Adh-Dhu’afaa’ Al-Kabiir no. 617; Miizaanul I’tidaal 3/302; Tahdziibul Kamaal no. 2547; Taqriibut Tahdziib no. 2591; Silsilah Adh-Dha’iifah 11/582; Tahriir At-Taqriib 2/73]

2. Muhammad bin Al-Fadhl bin ‘Imraan Al-Kindiy. Ia majhuul, tidak diketemukan biografinya. [Silsilah Adh-Dha’iifah 11/583]

3. ‘Abdul Wahhaab bin Adh-Dhahhaak Al-Himshiy Al-‘Urdhiy. Abu Haatim mendustakannya, An-Nasaa’iy dan lainnya berkata “matruuk”, Al-Bukhaariy berkata “ia memiliki kisah-kisah yang mengherankan”, Shaalih bin Muhammad Al-Haafizh berkata “munkarul hadiits, semua haditsnya dusta”, Abu Daawud berkata “tidak tsiqah dan tidak ma’muun”, Ibnu Hibbaan berkata “mencuri hadits, tidak halal berhujjah dengan riwayatnya”, Al-Haakim dan Abu Nu’aim berkata “meriwayatkan hadits-hadits palsu”, Al-Haafizh berkata “matruuk, didustakan Abu Haatim”. [Tahdziibut Tahdziib 6/446; Miizaanul I’tidaal 4/432; Taqriibut Tahdziib no. 4257]

Dan adapun…

4. Baqiyyah bin Al-Waliid bin Shaa’id Al-Kalaa’iy, Abu Yuhmid Al-Himshiy, maka ia telah masyhur banyak melakukan tadlis termasuk tadlis taswiyah dan ia sering mentadlis dari para perawi lemah walaupun ia sendiri perawi shaduuq, sebagaimana dalam At-Taqriib no. 734. Jika ia meriwayatkan dengan ‘an’anah, riwayatnya bukan hujjah, adapun jika ia meriwayatkan dengan tahdiits (haddatsana, akhbarana) maka tahdiits-nya haruslah hingga thabaqah sahabat.

Al-Haafizh Ibnu Katsiir berkata mengenai hadits ini :

رفعه خطأ والأشبه أن يكون موقوفا وفي رجاله من لا يعرف

“Sanad yang marfu’ adalah keliru, yang mendekati kebenaran adalah ia mauquuf. Dan diantara para perawinya adalah orang-orang yang tidak dikenal.” [Al-Bidaayah 2/254]

Al-Haafizh Ibnu Hajar berkata :

وسند هذا الحديث حسن، لو لا عنعنة بقية، ولو ثبت لكان نصا أن الخضر نبي، لحكاية النبي صلى الله عليه وسلم قول الرجل: يا نبي الله، وتقرير على ذلك

“Sanad hadits ini hasan jika tidak ada ‘an’anah Baqiyyah. Dan jika tsabt hadits ini, niscaya ini adalah bukti nash bahwa Al-Khidhir adalah seorang Nabi, dengan hikayat dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pada perkataan lelaki majikan : Wahai Nabiyullah, dan persetujuan Nabi atas yang demikian.” [Az-Zahr An-Nadhr fiy Haal Al-Khidhir hal. 120]

Walhasil, kisah ini adalah hadits yang lemah sebagaimana telah dipaparkan kelemahannya diatas dari beberapa sisi.

Tanbiih

Pada beberapa orang, kisah ini dijadikan kisah khurafat dan keyakinan mengenai masih hidupnya Nabi Khidhir dan ia kerap berada di pasar-pasar dengan menyamar sebagai orang miskin yang lusuh pakaiannya kemudian meminta-minta sedekah dengan menyebut “bi Wajhillah” dengan maksud ingin menguji kaum muslimin, jika ia tidak diberi sedekah dari orang yang ia minta, maka orang tersebut akan dido’akan keburukan dengan terlebih dahulu ia menyebut bahwa ia adalah Nabi Khidhir. Namun jika ia diberi, maka ia akan mendo’akan kebaikan untuk orang tersebut. Seraya dari khurafat ini digalakkanlah sebuah “targhiib” memberi sedekah kepada orang yang minta-minta serta “tarhiib” bahwa siapa tahu orang yang minta-minta tersebut adalah Nabi Khidhir, jika ia tidak diberi maka ia akan mendo’akan keburukan. Maka lahirlah sebuah “mau’izhah hasanah” : janganlah engkau kasar kepada orang yang minta-minta, kalau memang tidak mau memberi maka tolaklah dengan baik, jika engkau kasar maka siapa tahu orang minta-minta yang engkau kasari tersebut adalah Nabi Khidhir yang sedang menyamar, dan engkau tahu sendiri akibatnya jika mengkasari seorang Nabiyullah!!

Harus kami akui, kami memang pernah mendengar khurafat dan tahayul semacam ini beberapa kali, dan ada beberapa orang yang mempercayainya terutama mereka yang menggemari cerita-cerita sufistik berbau mistik hingga otakpun menjadi gothik. Lantas muncullah keyakinan-keyakinan rusak dan menzhalimi Nabi Khidhir bahwasanya beliau bisa berpindah-pindah tempat dengan mudah, hingga kepada keyakinan bahwa beliau adalah seafdhal-afdhalnya wali melebihi maqamnya para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalaam. Inilah yang dimaksud oleh Al-Haafizh rahimahullah sebagaimana telah kami kutip dalam tulisan sebelumnya bahwa keyakinan-keyakinan seperti ini dapat memicu munculnya kezindikan dari dalam hati, hingga kemudian sampai pada tingkat paling parah yaitu nampaknya sifat zindiq tersebut pada amalan perbuatannya dan ‘aqidahnya. Allaahul musta’aan wal’iyadzubillaah.

Akhirnya, jauhilah segala macam khurafat yang dapat merusak ‘aqidah dan fondasi keimanan kita sebagai muslim yang bertauhid, beriman kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb dan sesembahan yang paling haq, serta beriman kepada para Nabi dan Rasul. Berhati-hati kepada talbis iblis dan selalu mohon perlindungan kepada Allah Jalla Jalaaluh.

Wallaahu Ta’ala a’lam.

Bersambung…..

Mega Kuningan, 4 Muharram 1436 H

Tommi Marsetio Abu Ahmad

2 thoughts on “Riwayat Nabi Khidhir(1) : Nabi Khidhir ‘Alaihissalaam Berada di Pasar dan Menjadi Budak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s