Ushuul As-Sunnah Bersama Al-Imam Al-Humaidiy

foundation-stonesBab : Ushuul As-Sunnah

Al-Imam Al-Haafizh Abu Bakr Al-Humaidiy rahimahullah, berkata dalam akhir kitab Musnad, pembahasan bab Ushuul As-Sunnah :

السُّنَّةُ عِنْدَنَا أَنْ يُؤْمِنَ الرَّجُلُ بِالقَدرِ: خَيْرِهِ وَشَرِهِ، حُلوِهِ ومُرِّهِ، وأنْ يَعْلَمَ أنَّ مَا أَصَابَهُ لْم يَكنْ لِيُخْطِئهُ، وأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ، وَأَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ قَضَاءٌ مِنَ اللَّهِ عز وجل

وَأَنَّ الإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، يَزِيدُ وَيَنْقُصُ، وَلا يَنْفَعُ قَوْلٌ إِلا بِعَمَلٍ، وَلا عَمَلٌ وَقَوْلٌ إِلا بِنِيَّةٍ، وَلا قَوْلٌ وَعَمَلٌ بِنِيَّةٍ إِلا بِسُنَّةٍ، وَالتَّرَحُّمِ عَلَى أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم كُلُّهُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ عز وجل قَالَ: [وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ]، فَلَمْ نُؤْمرْ إِلا بِالاسْتِغفارِ لهمْ، فَمَنْ سَبَّهُمْ أَوْ تَنَقَّصُهُمْ أَوْ أَحدًا مِنْهُمْ، فَلَيْس عَلَى السُّنَّةِ، وليسَ لَهُ فِي الْفَيءِ حَقٌ “، أخْبَرَنَا بِذلِك غَيْرُ وَاحِدٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ أَنَّهُ قَالَ: قَسَمَ اللَّهُ تَعَالَى الفَيءَ، فَقَالَ: [لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ]، ثُمَّ قَالَ: [وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا]، فَمَنْ لَمْ يَقُلْ هذَان لَهُمْ، فَلَيْسَ مِمَّنْ جُعِلَ لَهُ الْفَيءَ

وَالْقُرآنُ كَلامُ اللَّهِ، سَمِعْتُ سُفْيَانَ يَقُولُ: القُرآنُ كلامُ اللَّهِ، وَمَنْ قَالَ: مَخلوقٌ فهُوَ مُبتَدِعٌ، لَمْ نَسمَعْ أحدًا يقولُ هَذَا، وَسَمِعْتُ سُفَيْانَ يَقُولُ: الإِيمانُ قَولٌ وَعَملٌ، وَيزيدُ وينْقُص، فَقَالَ لَهُ أَخُوهُ إِبراهيمُ ابنُ عُيينَةَ: يَا أَبا مُحَمَّدٍ، لا تَقُلْ ينْقُص، فَغَضِبَ وَقَالَ: اسُكتْ يَا صبيُّ، بَلى، حتَّى لا يبقَى منهُ شَيءٌ، وَالإِقْرارُ بالرُّوْيةِ بَعْدَ الموتِ، ومَا نَطقَ بهِ القُرآنُ وَالحديثُ مِثلُ: [وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ] وَمِثْلُ: [وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ]

ومَا أَشبَهَ هَذَا مِنَ القُرآنِ وَالحديثِ، لا نَزيدُ فِيهِ، وَلا نُفَسِّرُهُ، نقِفُ عَلَى مَا وَقفَ عَليهِ القُرآنُ والسَّنَّةُ، وَنَقُولُ:ف الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىق، ومنْ زعمَ غيرَ هَذَا، فَهوَ مُعَطِّلٌ جَهْميٌ، وَأنْ لا يَقُولَ كَمَا قَالَتِ الخَوارجُ: مَنْ أَصَابَ كَبيرَةً، فقدْ كَفَرَ، وَلا نُكَفَّرُ بِشّيءٍ منَ الذُّنوبِ، إِنَّما الكُفرُ فِي تَرْكِ الخَمْسِ التَّي قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍِ، شَهَادَةِ أنْ لا إلهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيتِ. .. .. . .، ” فَأَمَّا ثَلاثٌ مِنْهَا فَلا يُناظَرُ تَارِكُهَا: منْ لمْ يتَشَهَّدْ، ولْم يُصَلِّ، ولْم يَصُمْ، لأَنَّهُ لا يُؤَخَّرْ مَنْ هَذَا شَيءٌ عنْ وَقِتهِ، وَلا يُجزئُ منْ قَضَاهُ بعدَ تَفريطِهِ فِيهِ عَامِدًا عَنْ وقتِهِ، وَأَمَّا الزَّكَاةُ، فَمَتَى مَا أَدَّاهَا أَجْزَأَتْ عَنْهُ، وَكَانَ آثِمًا فِي الْحَبْسِ

وَأَمَّا الْحَجُ فَمَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ، وَوَجَدَ السَّبِيلَ إِلَيْهِ، وَجَبَ عَلَيْهِ، وَلا يَجبُ عليهِ فِي عَامِهِ ذلكَ حتَّى لا يَكُونَ لُه منْهُ بُدٌّ، متَى أَدَّاهُ كانَ مُؤَدِّيًا، ولَمْ يَكُنْ آثِمًا فِي تَأْخِيرهِ إِذَا أَدَّاهُ، كَمَا كَانَ آثِمًا فِي الزَّكاةِ، لأَنَّ الزَّكَاةَ حَقٌّ لُمسْلِمينَ مَسَاكينَ حَبَسَةُ عليهمْ فكانَ آثِما حتَّى وَصلَ إِلَيْهم، وَأَمَّا الحَجُّ فَكَانَ فِي مَا بينَهُ وبينَ رَبِّهِ إذَا أَدَّاهُ، فَقَدْ أَدَّى، وإِنْ هُوَ مَاتَ وَهُوَ واجدٌ مُسْتَطيعٌ وَلَمْ يحُجَّ، سَأَلَ الرَّجْعَةَ إِلَى الدُّنيا أنْ يَحُجَّ، ويَجبُ لأَهِلهِ أنْ يَحُجُّوا عنهُ، ونَرجُو أَنْ يكونَ ذلكَ مُؤَدِّيًا عنهُ كَمَا لوْ كانَا عَليهِ دَينٌ فَقُضِيَ عنهُ بعْد مَوتِهِ

“As-Sunnah di sisi kami adalah : Berimannya seseorang dengan qadar, baik dan buruknya, manis dan pahitnya, dan agar seseorang mengetahui bahwasanya setiap kejadian yang menimpanya tidaklah berasal dari kesalahannya semata, dan bahwasanya setiap kesalahannya tidaklah berasal dari dirinya semata, yang demikian semuanya adalah qadha’ (ketentuan) dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Bahwasanya iman adalah qaul wa ‘amal (ucapan dengan lisan dan amalan dengan anggota tubuh, -pent), bisa bertambah dan berkurang, tiada bermanfaat ucapan dengan lisan saja melainkan disertai dengan amalan anggota tubuh, tidak ada amalan anggota tubuh dan ucapan dengan lisan melainkan disertai dengan niat dan tidak ada amalan anggota tubuh disertai dengan niat melainkan dengan mengikuti sunnah. (Ahlussunnah) ber-tarahhum (yaitu mengucapkan : rahimahullah, -pent) kepada seluruh para sahabat Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.” [QS Al-Hasyr : 10]

Kami tidak diperintahkan kecuali untuk memohonkan ampunan bagi mereka. Barangsiapa yang mencaci-maki mereka, tidak mengakui mereka atau salah seorangpun dari mereka, maka ia tidak berada diatas jalan As-Sunnah dan tidak berhak baginya harta fai’ (harta rampasan perang, -pent). Tidak hanya seorang yang telah mengkhabarkan kami mengenai hal yang demikian, dari Maalik bin Anas, bahwasanya beliau berkata, “Allah Ta’ala membagi harta fai’, Dia berfirman :

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ

“(Juga) bagi para fuqara’ dan kaum Muhajirin yang diusir dari kampung halaman mereka.” [Al-Hasyr : 8]

Kemudian Dia berfirman :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.” [QS Al-Hasyr : 10]

Maka jelaslah, barangsiapa yang tidak mengucapkan ini (yaitu tarahhum dan ampunan, -pent) bagi mereka, maka ia bukan termasuk orang yang berhak diberi harta fai’.

Al-Qur’an adalah kalaamullah, aku telah mendengar Sufyaan mengatakan, “Al-Qur’an adalah kalaamullah, barangsiapa yang berkata Al-Qur’an adalah makhluk maka dia adalah ahli bid’ah, kami tidak mendengar seorangpun (dari para pendahulu kami) yang mengatakan pendapat demikian.” Dan aku telah mendengar pula Sufyaan mengatakan, “Iman adalah ucapan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang.” Lalu berkatalah saudaranya, Ibraahiim bin ‘Uyainah kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, jangan engkau katakan iman itu berkurang!” Maka marahlah Sufyaan, ia berseru, “Diamlah bocah! Bahkan iman itu berkurang hingga tak tersisa sedikitpun darinya!”

Dan penetapan adanya ru’yah (yaitu melihat Allah ‘Azza wa Jalla tanpa adanya penghalang, -pent) setelah kematian. Al-Qur’an dan Al-Hadits menjelaskan mengenainya, semisal ayat :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu. [QS Al-Maa’idah : 64]

Dan ayat :

وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. [QS Az-Zumar : 67]

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menyerupai hal-hal seperti ini (yaitu mengenai masalah asma dan shifat Allah, -pent), kami tidak menambahinya dan kami tidak pula menakwilnya. Kami berdiri diatas apa-apa yang Al-Qur’an dan As-Sunnah berdiri padanya. Kami mengatakan (sebagaimana firman Allah Ta’ala) :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas ‘Arsy. [QS Thaahaa : 5]

Barangsiapa yang mengklaim selain dari apa yang ada pada ayat ini, maka ia adalah seorang Jahmiyyah mu’aththil (yang meniadakan shifat-shifat Allah, -pent).

Dan tidak mengatakan sebagaimana perkataan Khawarij, “Barangsiapa yang melakukan dosa besar, maka ia telah kafir.” Kami tidak mengkafirkan seorangpun yang melakukan dosa-dosa, sesungguhnya yang dimaksud kekufuran itu adalah ia meninggalkan 5 perkara yang telah disabdakan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Islam dibangun atas 5 perkara, yaitu : Persaksian bahwa tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah…”

Adapun pada ketiga perkara dari sabda Rasulullah tersebut, maka tidak perlu diperdebatkan mengenai orang yang meninggalkannya, yaitu : orang yang tidak bersyahadat, tidak shalat dan tidak berpuasa, disebabkan ketiga perkara ini tidak boleh diakhirkan sama sekali dari waktu yang telah ditetapkan serta ketiga perkara ini tidak dapat tertunaikan dari ketentuannya setelah terlewat dari waktunya secara disengaja. Adapun mengenai zakat, maka kapan saja ia membayarkannya itu sudah mencukupinya, dan ia mendapat dosa jika menahannya.

Adapun mengenai haji, maka siapa saja yang telah memenuhi syarat-syarat wajibnya dan telah memperoleh jalan menuju kepadanya (yaitu ia telah memperoleh harta yang cukup untuk pergi berhaji, -pent), maka wajib baginya berhaji. Dan tidak wajib baginya berhaji dalam rentang waktu setahun hingga ia mendapat jalan keluar untuk melaksanakan ibadah tersebut, kapan saja ia menunaikannya maka ia telah memenuhi kewajiban. Tiada berdosa mengakhirkan haji apabila ia melakukannya, sebagaimana dosa dalam hal zakat (bila ia mengakhirkannya), karena zakat adalah hak kaum muslimin yang miskin. Apabila ia menahannya maka ia berdosa hingga ia menyampaikannya kepada mereka. Adapun haji, maka ia adalah ibadah antara dirinya dengan Rabbnya yang apabila ia menunaikannya, maka selesailah kewajibannya. Jika ia wafat dan ia adalah orang yang mampu namun belum berhaji, niscaya ia (bagai) meminta dikembalikan ke dunia agar ia bisa berhaji, wajib bagi keluarganya agar berhaji untuknya dan kami berharap semoga hal tersebut dapat menunaikan kewajibannya sebagaimana apabila dirinya mempunyai hutang maka ditunaikanlah hutang tersebut oleh keluarganya setelah ia wafat.”

===

Inilah akhir pembahasan bab Ushuul As-Sunnah, yaitu akhir dari kitab Al-Musnad milik Imam Al-Humaidiy, sebuah penutupan yang sangat indah dari beliau, seolah-olah beliau ingin menekankan dan menegaskan kepada para muridnya, para murid dari murid-muridnya, juga kepada generasi-generasi yang datang setelahnya yang membaca dan meriwayatkan kitab Musnad beliau, bahwa inilah madzhab ‘aqidah yang dianut oleh beliau, para guru beliau serta para imam pendahulu yang mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, serta wajiblah bagi para penuntut ilmu untuk berpegang kepada madzhab ‘aqidah yang selamat tersebut serta menjauhi madzhab-madzhab menyimpang lagi sesat dan menyesatkan yang dianut firqah-firqah ahli bid’ah seperti Qadariyyah, Jabbariyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Khawarij, Syi’ah Raafidhah dan yang lainnya serta dari kalangan Zindiq yang berpura-pura masuk Islam padahal mereka ingin menghancurkan Islam dari dalam dan mengaburkan umat akan ‘aqidah Islam yang benar lagi lurus. Dan akhirnya kami berharap semoga apa yang kami tulis ini berguna bagi kaum muslimin.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita keselamatan dalam ‘aqidah dan memberikan pemahaman akan ‘aqidah yang benar.

Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di Ciputat, 11 Jumadil Awwal 1436 H

Tommi Marsetio, Abu Ahmad Al-Faqiir

Diterjemahkan dari :

Musnad Al-Imam Al-Humaidiy“, pada pembahasan bab : Ushuul As-Sunnah, karya Al-Imam Al-Haafizh Abu Bakr ‘Abdullaah bin Az-Zubair bin ‘Iisaa Al-Humaidiy (w. 219 H), tahqiiq, takhriij dan tashih : Husain Saliim Asad Ad-Daaraaniy, Daar As-Saqaa’, Damaskus.

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s