Berwudhu’ Karena Sebab Menyentuh Wanita Menurut Al-Imam Asy-Syaafi’iy

touching_handsCabang permasalahan pada bab “Nawaaqidhul Wudhuu'” atau pembatal-pembatal wudhu’ salah satunya adalah berwudhu’ atau mengulang wudhu’ karena sebab menyentuh wanita. Madzhab Asy-Syaafi’iy sebagai madzhab yang dianut oleh mayoritas kaum muslimin di Indonesia berpendapat bahwa hal tersebut (yaitu menyentuh wanita) membatalkan wudhu’.

Berkatalah Al-Imam Abu ‘Abdillaah Asy-Syaafi’iy rahimahullah dalam kitab Al-Umm, pada pembahasan “Wudhu’ Karena Menyentuh (Wanita) dan Buang Air Besar”, 2/37 :

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى {إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} الْآيَةَ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْوُضُوءَ عَلَى مَنْ قَامَ إلَى الصَّلَاةِ وَأَشْبَهَ أَنْ يَكُونَ مَنْ قَامَ مِنْ مَضْجَعِ النَّوْمِ وَذَكَرَ طَهَارَةَ الْجُنُبِ ثُمَّ قَالَ بَعْدَ ذِكْرِ طَهَارَةِ الْجُنُبِ {وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا} فَأَشْبَهَ أَنْ يَكُونَ أَوْجَبَ الْوُضُوءَ مِنْ الْغَائِطِ وَأَوْجَبَهُ مِنْ الْمُلَامَسَةِ وَإِنَّمَا ذَكَرَهَا مَوْصُولَةً بِالْغَائِطِ بَعْدَ ذِكْرِ الْجَنَابَةِ فَأَشْبَهَتْ الْمُلَامَسَةُ أَنْ تَكُونَ اللَّمْسَ بِالْيَدِ وَالْقُبْلَةَ غَيْرَ الْجَنَابَةِ

Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman :

“Apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” [QS Al-Maa’idah : 6]

Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan (wajibnya) wudhu’ bagi seseorang yang hendak mendirikan shalat dan maknanya sama dengan seseorang yang berdiri dari tidur berbaring. Lalu Allah menyebutkan bersuci dari junub kemudian Dia berfirman setelahnya :

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh wanita, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah…” [QS Al-Maa’idah : 6]

Maka makna yang mendekati adalah diperintahkan berwudhu’ setelah buang air besar dan karena sentuhan (wanita), dan Allah menyebutkan al-mulaamasah berdampingan dengan buang air besar setelah menyebutkan janabah, maka al-mulaamasah sama dengan menyentuh (wanita) dengan tangan dan ciuman tanpa (diiringi dengan hal-hal yang menyebabkan) janabah.

Al-Imam Asy-Syaafi’iy berkata :

أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُبْلَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَجَسُّهَا بِيَدِهِ مِنْ الْمُلَامَسَةِ فَمَنْ قَبَّلَ امْرَأَتَهُ أَوْ جَسَّهَا بِيَدِهِ فَعَلَيْهِ الْوُضُوءُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari Ibnu Syihaab, dari Saalim bin ‘Abdillaah, dari Ayahnya radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Ciuman dan sentuhan seorang laki-laki kepada istrinya adalah al-mulaamasah, maka barangsiapa yang mencium atau menyentuh istrinya dengan tangannya, wajib baginya berwudhu’.”[1]

وَبَلَغَنَا عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَرِيبٌ مِنْ مَعْنَى قَوْلِ ابْنِ عُمَرَ

“Telah sampai kepada kami riwayat dari Ibnu Mas’uud yang memiliki makna yang hampir sama dengan perkataan Ibnu ‘Umar.”[2]

Al-Imam Asy-Syaafi’iy berkata :

وَإِذَا أَفْضَى الرَّجُلُ بِيَدِهِ إلَى امْرَأَتِهِ أَوْ بِبَعْضِ جَسَدِهِ إلَى بَعْضِ جَسَدِهَا لَا حَائِلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا بِشَهْوَةٍ أَوْ بِغَيْرِ شَهْوَةٍ وَجَبَ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ وَوَجَبَ عَلَيْهَا، وَكَذَلِكَ إنْ لَمَسَتْهُ هِيَ وَجَبَ عَلَيْهِ وَعَلَيْهَا الْوُضُوءُ، وَسَوَاءٌ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ أَيُّ بَدَنَيْهِمَا أَفْضَى إلَى الْآخَرِ إذَا أَفْضَى إلَى بَشَرَتِهَا، أَوْ أَفْضَتْ إلَى بَشَرَتِهِ بِشَيْءٍ مِنْ بَشَرَتِهَا فَإِنْ أَفْضَى بِيَدِهِ إلَى شَعْرِهَا وَلَمْ يُمَاسَّ لَهَا بَشَرًا فَلَا وُضُوءَ عَلَيْهِ كَانَ ذَلِكَ لِشَهْوَةٍ أَوْ لِغَيْرِ شَهْوَةٍ كَمَا يَشْتَهِيهَا وَلَا يَمَسُّهَا فَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ وُضُوءٌ، وَلَا مَعْنَى لِلشَّهْوَةِ؛ لِأَنَّهَا فِي الْقَلْبِ، إنَّمَا الْمَعْنَى فِي الْفِعْلِ، وَالشَّعْرُ مُخَالِفٌ لِلْبَشَرَةِ

Jika seorang laki-laki menyentuhkan tangannya kepada istrinya, atau menyentuhkan sebagian anggota tubuhnya kepada sebagian anggota tubuh istrinya dengan tanpa adanya penghalang diantara keduanya, dengan syahwat atau tanpa syahwat, maka wajib bagi si laki-laki untuk berwudhu’ dan wajib pula bagi istrinya berwudhu’. Demikian pula jika sentuhan itu dari istrinya, wajib bagi keduanya berwudhu’. Sama saja dari semua anggota badan keduanya yang saling bersentuhan apabila si laki-laki menyentuh kulit wanita, atau si wanita menyentuh kulit laki-laki dengan salah satu bagian kulitnya. Namun jika si laki-laki menyentuh rambut wanita dengan tangannya tanpa bersentuhan dengan kulit si wanita, maka tidak wajib berwudhu’, baik dengan syahwat ataupun tanpa syahwat, sebagaimana jika si laki-laki memiliki birahi pada istrinya namun ia tidak menyentuhnya, maka tidak wajib baginya berwudhu’. Syahwat tidak dapat dihukumi karena ia ada didalam hati, ia baru dapat dihukumi ketika sudah terjadi perbuatan. Sementara rambut berbeda dengan kulit.

Al-Imam Asy-Syaafi’iy berkata :

وَلَوْ احْتَاطَ فَتَوَضَّأَ إذَا لَمَسَ شَعْرَهَا كَانَ أَحَبَّ إلَيَّ

Andaikan seseorang lebih berhati-hati, maka hendaknya ia berwudhu’ apabila menyentuh rambut wanita, itu lebih kusukai baginya.

Al-Imam Asy-Syaafi’iy berkata :

وَلَوْ مَسَّ بِيَدِهِ مَا شَاءَ فَوْقَ بَدَنِهَا مِنْ ثَوْبٍ رَقِيقٍ خَامٍ أَوْ بَتٍّ أَوْ غَيْرِهِ أَوْ صَفِيقٍ مُتَلَذِّذًا أَوْ غَيْرَ مُتَلَذِّذٍ وَفَعَلَتْ هِيَ ذَلِكَ لَمْ يَجِبْ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمَا وُضُوءٌ؛ لِأَنَّ كِلَاهُمَا لَمْ يَلْمِسْ صَاحِبَهُ إنَّمَا لَمَسَ ثَوْبَ صَاحِبِهِ

Seumpama ia menyentuhkan tangannya pada apa yang ia kehendaki dari tubuh istrinya yang mengenakan pakaian berkain katun tipis, atau tebal, atau selainnya, baik sentuhan yang mengundang kenikmatan atau yang tidak mengundang kenikmatan, dan istrinya berbuat hal yang serupa, maka tidak wajib atas salah satu dari keduanya untuk berwudhu’, karena keduanya tidak saling menyentuh, yang benar adalah mereka hanya menyentuh pakaian lawan jenisnya.

Inilah madzhab Asy-Syaafi’iy dalam masalah berwudhu’ karena sebab menyentuh wanita yang mana mereka berpendapat wajibnya berwudhu’ karena menyentuhnya, dan batalnya wudhu’ serta wajib mengulang wudhu’nya ketika laki-laki yang telah berwudhu’ tersebut menyentuh wanita.

Al-Imam Abu Ishaaq Asy-Syairaaziy rahimahullah berkata :

وأما لمس النساء فإنه ينقض الوضوء وهو أن يلمس الرجل بشرة المرأة أو المرأة بشرة الرجل بلا حائل بينهما فينتقض وضوء اللامس منهما لقوله عز وجل {أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا}، وفي الملموس قولان: أحدهما ينتقض وضوؤه لأنه لمس بين الرجل والمرأة ينقض طهر اللامس فينقض طهر الملموس كالجماع وقال في حرملة: لا ينتقض لأن عائشة رضي الله عنها قالت: افتقدت رسول الله صلى الله عليه وسلم في الفراش فقمت أطلبه فوقعت يدي على أخمص قدمه فلما فرغ من صلاته قال: أتاك شيطانك ولو انتقض طهره لقطع الصلاة ولأنه لمس ينقض الوضوء فنقض طهر اللامس دون الملموس كما لو لمس ذكر غيره

Adapun menyentuh wanita maka ia membatalkan wudhu’, yaitu seorang laki-laki yang menyentuh kulit seorang wanita atau seorang wanita yang menyentuh kulit seorang laki-laki dengan tanpa adanya penghalang antara keduanya, maka itu membatalkan wudhu’ orang yang menyentuh dari keduanya, dengan firmanNya ‘Azza wa Jalla : atau kamu telah menyentuh wanita, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah. Lalu untuk orang yang disentuh ada dua pendapat (dari Imam Asy-Syaafi’iy) : salah satunya adalah membatalkan wudhu’nya karena adanya sentuhan antara laki-laki dan wanita yang membatalkan kesucian orang yang menyentuh dan membatalkan pula kesucian orang yang disentuh sebagaimana halnya jimaa’. Lalu (Asy-Syaafi’iy) berkata pada Harmalah, tidak membatalkan wudhu’ karena hadits ‘Aaisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata, “Aku kehilangan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam diatas kasur, lalu aku berdiri mencari beliau dan tanganku mendapati telapak kaki beliau (yang sedang bersujud). Tatkala beliau selesai melaksanakan shalatnya, beliau bersabda, “Syetanmu telah mendatangimu[3],” andaikan batal kesucian beliau (karena tersentuh tangan ‘Aaisyah) maka beliau pasti akan memutus shalatnya karena sentuhan membatalkan wudhu’, maka dari dalil ini batallah kesucian orang yang menyentuh namun orang yang disentuh tidak batal, sebagaimana jika laki-laki menyentuh sesama laki-laki selainnya.
[Al-Muhadzdzab 1/51]

Al-Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata :

النَّاقِضُ الثَّالِثُ: لَمْسُ بَشَرَةِ امْرَأَةٍ مُشْتَهَاةٍ، فَإِنْ لَمَسَ شَعْرًا، أَوْ سِنًّا، أَوْ ظُفُرًا، أَوْ عُضْوًا مُبَانًا مِنِ امْرَأَةٍ، أَوْ بَشَرَةَ صَغِيرَةٍ لَمْ تَبْلُغْ حَدَّ الشَّهْوَةِ، لَمْ يَنْتَقِضْ وُضُوءُهُ، عَلَى الْأَصَحِّ. وَإِنْ لَمَسَ مُحَرَّمًا بِنَسَبٍ، أَوْ رَضَاعٍ، أَوْ مُصَاهَرَةٍ، لَمْ يَنْتَقِضْ عَلَى الْأَظْهَرِ. وَإِنْ لَمَسَ مَيْتَةً، أَوْ عَجُوزًا لَا تُشْتَهَى، أَوْ عُضْوًا أَشَلَّ، أَوْ زَائِدًا، أَوْ لَمَسَ بِغَيْرِ شَهْوَةٍ، أَوْ عَنْ غَيْرِ قَصْدٍ، انْتَقَضَ عَلَى الصَّحِيحِ فِي جَمِيعِ ذَلِكَ، وَيَنْتَقِضُ وُضُوءُ الْمَلْمُوسِ عَلَى الْأَظْهَرِ

Pembatal jenis ketiga adalah menyentuh kulit wanita dewasa. Apabila seorang laki-laki menyentuh rambut, gigi, kuku, atau anggota tubuh yang terpisah dari wanita (misalnya tangan wanita yang terpotong, -pent), atau kulit seorang wanita yang masih kecil yang tidak mendatangkan syahwat, maka tidak membatalkan wudhu’nya menurut pendapat yang paling shahih (dalam madzhab Asy-Syaafi’iy, -pent). Apabila seorang laki-laki menyentuh mahramnya karena sebab nasab, persusuan, ataupun karena hubungan kekerabatan melalui pernikahan, maka tidak membatalkan wudhu’nya menurut pendapat terkuat (dari beberapa pendapat Imam Asy-Syaafi’iy, -pent). Apabila seorang laki-laki menyentuh mayit wanita, atau nenek-nenek yang sudah tidak mengundang syahwat, atau anggota tubuh seorang wanita yang lumpuh atau wanita yang mengalami kelebihan anggota tubuh, atau menyentuh (semua itu) dengan tanpa syahwat dan tanpa disengaja, maka batallah wudhu’nya menurut pendapat yang paling shahih pada semua kasus tersebut, dan batal pula wudhu’ orang yang disentuh menurut pendapat terkuat.
[Raudhah Ath-Thaalibiin wa ‘Umdah Al-Muftiin 1/74-75]

Dalam Al-Fiqh Al-Manhajiy ‘alaa Madzhab Al-Imam Asy-Syaafi’iy disebutkan :

لمس الرجل زوجته أو المرأة الأجنبية من غير حائل، فإنه ينتقض وضوؤه ووضوؤها. والأجنبية هي كل امرأة يحل له الزواج بها. قال تعالى في بيان موجبات الوضوء: (أو لامستم النساء)، أي لمستم كما في قراءة متواترة

Sentuhan seorang laki-laki kepada istrinya atau kepada wanita ajnabiyyah dengan tanpa penghalang, maka membatalkan wudhu’ laki-laki tersebut dan juga wanita yang disentuhnya. Wanita ajnabiyyah adalah semua wanita yang dihalalkan bagi laki-laki untuk dinikahi. Allah Ta’ala berfirman sebagai bukti wajibnya wudhu’ (bagi orang yang menyentuh dan disentuh) : atau kamu menyentuh wanita, yaitu “lamastum” sebagaimana terdapat dalam qira’ah mutawatir.
[Al-Fiqh Al-Manhajiy 1/63]

Madzhab-madzhab yang Berbeda Dalam Permasalahan Ini

Salah seorang imam besar dari kalangan Asy-Syaafi’iyyah, yaitu Al-Mufassir Al-Imam Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawiy rahimahullah, ia menyebutkan cabang-cabang ikhtilaf ulama dalam permasalahan “al-mulaamasah” dan “al-lams” ini, ia berkata dalam kitab tafsirnya :

وَاخْتَلَفُوا فِي مَعْنَى اللَّمْسِ وَالْمُلَامَسَةِ، فَقَالَ قَوْمٌ: الْمُجَامَعَةُ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَالْحَسَنِ وَمُجَاهِدٍ وَقَتَادَةَ، وَكَنَّيَّ بِاللَّمْسِ [عَنِ الْجِمَاعِ لِأَنَّ الْجِمَاعَ لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِاللَّمْسِ]، وَقَالَ قَوْمٌ: هُمَا الْتِقَاءُ الْبَشَرَتَيْنِ سَوَاءٌ كَانَ بِجِمَاعٍ أَوْ غَيْرِ جِمَاعٍ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عُمَرَ، وَالشَّعْبِيِّ وَالنَّخَعِيِّ. وَاخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي حُكْمِ الْآيَةِ فَذَهَبَ جَمَاعَةٌ إِلَى أَنَّهُ إِذَا أَفْضَى الرَّجُلُ بِشَيْءٍ مِنْ بَدَنِهِ إِلَى شَيْءٍ مِنْ بَدَنِ الْمَرْأَةِ وَلَا حَائِلَ بينهما، ينتقض وضوؤهما، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَبِهِ قَالَ الزُّهْرِيُّ والأَوْزَاعِيُّ وَالشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. وَقَالَ مَالِكٌ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ: إِنْ كَانَ اللَّمْسُ بِشَهْوَةٍ نَقَضَ الطُّهْرَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِشَهْوَةٍ فَلَا يَنْتَقِضُ. وَقَالَ قَوْمٌ: لَا يَنْتَقِضُ الْوُضُوءُ بِاللَّمْسِ بِحَالٍ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبِهِ قَالَ الْحَسَنُ وَالثَّوْرِيُّ. وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَا يَنْتَقِضُ إِلَّا أَنْ يَحْدُثَ الِانْتِشَارُ

Mereka berbeda pendapat pada makna “al-lams” dan “al-mulaamasah”. Sekelompok orang berkata, “Bersenggama” dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbaas, Al-Hasan, Mujaahid dan Qataadah, dinamakan al-lams dari jima’ karena jima’ tidak akan terjadi kecuali dengan adanya al-lams (sentuhan). Sekelompok orang yang lain berkata, “Keduanya (yaitu al-lams dan al-mulaamasah) adalah bersentuhannya dua kulit (dari orang yang berlainan jenis) sama saja apakah dengan jima’ ataukah tanpa jima'” dan ini adalah pendapat Ibnu Mas’uud, Ibnu ‘Umar, Asy-Sya’biy dan An-Nakha’iy.

Lalu para ahli fiqh berbeda pendapat dalam masalah hukum ayat.

Sekelompok ahli fiqh berpendapat jika seorang laki-laki menyentuhkan salah satu anggota tubuhnya kepada salah satu anggota tubuh dari seorang wanita dengan tanpa adanya penghalang diantara keduanya maka hal ini membatalkan wudhu’ keduanya, ini adalah pendapat Ibnu Mas’uud dan Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma, dan dengannya Az-Zuhriy, Al-Auzaa’iy dan Asy-Syaafi’iy -radhiyallaahu ‘anhum- berpendapat.

Sementara Maalik, Al-Laits bin Sa’d, Ahmad dan Ishaaq berpendapat, jika al-lams tersebut terjadi dengan syahwat maka batal kesuciannya namun jika tidak ada syahwat maka tidak membatalkan.

Sekelompok orang berpendapat al-lams tidak membatalkan wudhu’ dalam segala keadaan, ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbaas dan dengannya Al-Hasan dan Ats-Tsauriy berpendapat.

Abu Haniifah radhiyallaahu ‘anhu berpendapat al-lams tidak membatalkan wudhu’ kecuali keluar sesuatu yang terpancar (air madzi atau mani, -pent).
[Ma’aalim At-Tanziil 2/222-223]

Al-Imam Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahullah merajihkan bahwa al-lams adalah jima’, ia berkata :

وَأَوْلَى الْقَوْلَيْنِ فِي ذَلِكَ بِالصَّوَابِ قَوْلُ مَنْ قَالَ: عَنَى اللَّهُ بِقَوْلِهِ: {أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ}، الْجِمَاعُ دُونَ غَيْرِهِ مِنْ مَعَانِي اللَّمْسِ , لِصِحَّةِ الْخَبَرِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Pendapat yang paling utama dan paling tepat pada dua pendapat dalam masalah tersebut adalah pendapat yang mengatakan : bahwa Allah menghendaki dengan firmanNya “atau kamu telah menyentuh wanita”, yaitu al-jimaa’, bukan makna yang lain dari sekian makna al-lams, dengan shahihnya khabar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau mencium sebagian istrinya kemudian beliau shalat dan tidak mengulang wudhu’nya.

Kemudian Imam Ath-Thabariy membawakan dalilnya :

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ: ثنا وَكِيعٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ، قُلْتُ: مَنْ هِيَ إِلَّا أَنْتِ؟ فَضَحِكَتْ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Al-A’masy, dari Habiib bin Abi Tsaabit, dari ‘Urwah, dari ‘Aaisyah, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar untuk shalat namun beliau tidak mengulang wudhu’nya. Aku (yaitu ‘Urwah) berkata, “Siapa lagi (istri yang beliau cium itu) selain engkau?” Maka ‘Aaisyah tertawa.
[Jaami’ Al-Bayaan 7/73-74][4]

Alhamdulillaahilladziy bi ni’matihi tatimmush shaalihaat.

Demikianlah tulisan kami yang sederhana ini mengenai pembahasan berwudhu’ karena sebab menyentuh wanita. Semoga dapat memperluas khazanah fiqh serta memahami perbedaan-perbedaan pendapat para ulama didalam istinbath dalil dan akhirnya mengambil kesimpulan hukum-hukum fiqh, dan tidak mudah menghukumi sesat atau bid’ah pada mereka yang memilih pendapat yang berbeda dalam masalah furu’iyyah mu’tabarah..

Wallaahu Ta’ala a’lam wa ahkam.

Dirampungkan di Ciputat, 17 Jumadal Ula 1436 H

Tommi Marsetio Abu Ahmad Al-Faqiir

Sumber :

Kitab “Al-Umm” karya Al-Imam Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy, tahqiiq : Dr. Rif’at Fauziy ‘Abdul Muththalib, Daar Al-Wafaa’, cetakan pertama.

Footnotes :

[1] Diriwayatkan oleh Imam Maalik dalam Al-Muwaththa’ no. 94; Ad-Daaraquthniy dalam Sunan-nya no. 511; kemudian Al-Baihaqiy dalam Sunan Ash-Shaghiir no. 30 dan Al-Kubraa 1/124, lalu Ma’rifah As-Sunan wal Atsaar no. 275, qaul Ibnu ‘Umar tersebut.

Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah berkata dalam Al-Kubraa :

لَفْظُ حَدِيثِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ بُكَيْرٍ، فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ، فَهَذَا قَوْلُ عُمَرَ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، وَخَالَفَهُمُ ابْنُ عَبَّاسٍ، فَحَمَلَ الْمُلامَسَةَ الْمَذْكُورَةَ فِي الْكِتَابِ الْعَزِيزِ عَلَى الْجِمَاعِ، وَلَمْ يرَ فِي الْقُبْلَةِ وُضُوءًا

“Lafazh hadits milik Asy-Syaafi’iy radhiyallaahu ‘anhu, sedangkan didalam riwayat Ibnu Bukair (dengan lafazh) : maka diwajibkan baginya berwudhu’. Ini adalah pendapat ‘Umar, Abdullaah bin Mas’uud dan ‘Abdullaah bin ‘Umar, sementara Ibnu ‘Abbaas menyelisihi mereka, dia membawa makna al-mulaamasah yang telah disebutkan didalam Al-Qur’an Al-‘Aziiz kepada jimaa’ (bersenggama) dan dia tidak berpendapat bahwa ciuman mewajibkan berwudhu’.”

[2] Riwayat Ibnu Mas’uud yang dimaksud Imam Asy-Syaafi’iy adalah :

عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ، أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ، قَالَ: ” يَتَوَضَّأُ الرَّجُلُ مِنَ الْمُبَاشَرَةِ، وَمِنَ اللَّمْسِ بِيَدِهِ، وَمِنَ الْقُبْلَةِ إِذَا قَبَّلَ امْرَأَتَهُ “، وَكَانَ يَقُولُ فِي هَذِهِ الآيَةِ: [أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ] “، قَالَ: ” هُوَ الْغَمْزُ

Dari Ma’mar, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim, dari Abu ‘Ubaidah bahwa Ibnu Mas’uud berkata, “Hendaklah seorang laki-laki berwudhu’ dari bercumbu, dari menyentuh (wanita) dengan tangannya dan dari ciuman jika ia mencium istrinya.” Ibnu Mas’uud juga berkata ketika mengomentari ayat ini : atau menyentuh wanita, “Yaitu al-ghamzu (meraba dengan tangan, -pent).”
[Al-Mushannaf li ‘Abdirrazzaaq no. 499]

[3] Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam Shahiih-nya no. 489, namun dengan matan yang agak berbeda karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan “Syetanmu telah mendatangimu” :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ، فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ، وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ، وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ، وَهُوَ يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ، كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah, telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullaah bin ‘Umar, dari Muhammad bin Yahyaa bin Habbaan, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, dari ‘Aaisyah -radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkata, “Aku kehilangan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dari kasurku pada suatu malam maka aku pun mencari beliau, lalu tanganku mendapati bagian telapak kaki beliau yang sedang berada didalam masjid, dan kedua telapak kaki beliau dalam posisi tegak lurus (yaitu beliau sedang shalat dan dalam posisi sujud, -pent), beliau berdo’a : Allaahumma a’uudzu biridhaaka min sakhaatik…(al-hadits).”

Hadits ini dijadikan dalil oleh madzhab yang mengatakan bahwa sentuhan lawan jenis tidak membatalkan wudhu’ secara muthlaq karena yang dapat dipahami dari hadits ini adalah Rasulullah (sebagai “al-malmuus” yaitu orang yang disentuh) tidak memutus shalatnya ketika ‘Aaisyah menyentuh telapak kakinya dan beliau pun tidak menyuruh ‘Aaisyah untuk memperbarui wudhu’nya kembali. Andaikan sentuhan lawan jenis membatalkan wudhu’ maka pasti akan terkhabarkan bahwa beliau memutus shalatnya pada saat itu kemudian memperbarui wudhu’nya kembali dan beliau pun akan menyuruh ‘Aaisyah pula. Wallaahu a’lam.

[4] Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Arna’uuth dalam ta’liiq Musnad Ahmad 42/497, kemudian Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih At-Tirmidziy no. 86.

Namun hadits ini di-‘ilal-kan oleh beberapa ulama ahli hadits. Al-Haafizh Ibnu ‘Abdil Haadiy memberikan ta’liil terhadap hadits ini :

وهذا الإسناد في الظاهر على شرط الصحيحين، لكن قد قيل إن عروة ليس هو ابن الزبير بل هو عروة المزني وهو مجهول، وحبيب بن أبي ثابت لم يسمع من عروة بن الزبير

Sanad hadits ini secara zhahir sesuai syarat Ash-Shahiihain, akan tetapi dikatakan bahwa ‘Urwah disini bukanlah Ibnu Az-Zubair, bahkan ia adalah ‘Urwah Al-Muzaniy dan ia perawi majhuul, sementara Habiib bin Abu Tsaabit tidak mendengar dari ‘Urwah bin Az-Zubair.
[Syarh ‘Ilal Ibnu Abi Haatim hal. 366]

Kemudian Asy-Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Waadi’iy berkata :

هذا الحديث إذا نظرت إليه وجدت رجاله رجال الصحيح، ولكن الإمام الترمذي رحمه الله تعالى يقول (ج1ص284) : وإنما ترك أصحابنا حديث عائشة عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وعلى آله وَسَلَّمَ في هذا لأنه لا يصح عند هم لحمال الإسناد. قال: سمعت أبا بكر العطار البصري يذكر عن علي بن المديني قال: ضعف يحي بن سعيد القطان هذا الحديث جدا. وقال: شبه لاشيء. قال: سمعت محمد بن إسماعيل يضعف هذا الحديث وقال: حبيب بن أبي ثابت لم يسمع من عروة. وقد روى عن إبراهيم التيمي سماعاً من عائشة أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وعلى آله وَسَلَّمَ قبلها ولم يتوضأ. ولا يصح أيضاً ولا نعرف لإبراهيم التيمي سماعا من عائشة، وليس يصح عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وعلى آله وَسَلَّمَ في هذا الباب شيء

Hadits ini apabila engkau melihat sanadnya maka engkau dapati para perawinya adalah para perawi kitab Shahih, namun Al-Imam At-Tirmidziy rahimahullahu Ta’ala berkata (dalam Jaami’nya 1/284), “Sesungguhnya hadits ini ditinggalkan oleh para sahabat kami yaitu hadits ‘Aaisyah dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wasallam dalam permasalahan ini karena tidak ada yang shahih menurut para ulama dalam membawa sanadnya.”

Imam At-Tirmidziy melanjutkan, “Aku mendengar Abu Bakr Al-‘Aththaar Al-Bashriy menyebutkan perkataan dari ‘Aliy bin Al-Madiiniy, ia berkata, “Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan sangat melemahkan hadits ini, katanya, “Hadits ini menyerupai sesuatu yang tidak ada nilainya.”

Imam At-Tirmidziy berkata kembali, “Aku mendengar Muhammad bin Ismaa’iil (Al-Bukhaariy, -pent) melemahkan hadits ini, ia berkata, “Habiib bin Abu Tsaabit tidak mendengar dari ‘Urwah”. Lalu diriwayatkan dari Ibraahiim At-Taimiy, penyimakan hadits ini dari ‘Aaisyah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wasallam menciumnya namun tidak mengulang wudhu’. Hadits ini pun tidak shahih dan kami tidak mengetahui penyimakan Ibraahiim At-Taimiy dari ‘Aaisyah, tidak ada satu hadits pun yang shahih dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bab ini.”
[Ahaadiitsu Mu’allah hal. 460]

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s