Hukum dan Keutamaan Shalat Fardhu Berjama’ah Dalam Pandangan Madzhab Asy-Syaafi’iy

berjamaahHukum Shalat Fardhu Berjama’ah Menurut Imam Asy-Syaafi’iy

Ar-Rabii’ bin Sulaimaan Al-Muraadiy rahimahullah berkata :

أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ إدْرِيسَ الْمُطَّلِبِيُّ قَالَ: ذَكَرَ اللَّهُ تَبَارَكَ اسْمُهُ الْأَذَانَ بِالصَّلَاةِ فَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ {وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا} [المائدة: 58] وَقَالَ {إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ} [الجمعة: 9] فَأَوْجَبَ اللَّهُ – وَاَللَّهُ أَعْلَمُ – إتْيَانَ الْجُمُعَةِ وَسَنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْأَذَانَ لِلصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ فَاحْتَمَلَ أَنْ يَكُونَ، أَوْجَبَ إتْيَانَ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي غَيْرِ الْجُمُعَةِ كَمَا أَمَرَ بِإِتْيَانِ الْجُمُعَةِ وَتَرْكِ الْبَيْعِ وَاحْتَمَلَ أَنْ يَكُونَ أُذِنَّ بِهَا لِتُصَلَّى لِوَقْتِهَا وَقَدْ جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مُسَافِرًا وَمُقِيمًا خَائِفًا وَغَيْرَ خَائِفٍ وَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – {وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ} [النساء: 102] الْآيَةُ وَاَلَّتِي بَعْدَهَا

Asy-Syaafi’iy Muhammad bin Idriis Al-Muththalibiy -rahimahullah- mengkhabarkan kepada kami, ia berkata, “Allah -Maha Agung namaNya- menyebutkan perihal adzan untuk shalat, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan.” [QS Al-Maa’idah : 58]

Dia berfirman pula :

“Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” [QS Al-Jumu’ah : 9]

Allah mewajibkan -wallaahu a’lam- agar mendatangi shalat Jum’at dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mensunnahkan adzan bagi shalat-shalat fardhu. Dimungkinkan maknanya adalah diwajibkan pula untuk mendatangi shalat fardhu berjama’ah selain shalat Jum’at sebagaimana Allah memerintahkan mendatangi shalat Jum’at serta meninggalkan jual beli, dan dimungkinkan pula maknanya adalah diizinkannya mengerjakan shalat jika telah masuk waktunya. Sungguh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengerjakan shalat fardhu berjama’ah baik dalam keadaan safar, muqim, kondisi takut maupun kondisi aman. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada NabiNya -Shallallaahu ‘alaihi wasallam- :

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu…-hingga ayat setelahnya-.” [QS An-Nisaa’ : 102]

قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَنْ أَتَى الصَّلَاةَ أَنْ يَأْتِيَهَا وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ وَرَخَّصَ فِي تَرْكِ إتْيَانِ الْجَمَاعَةِ فِي الْعُذْرِ بِمَا سَأَذْكُرُهُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى فِي مَوْضِعِهِ، وَأَشْبَهُ مَا وُصِفَتْ مِنْ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ أَنْ لَا يَحِلَّ تَرْكُ أَنْ يُصَلِّيَ كُلَّ مَكْتُوبَةٍ فِي جَمَاعَةٍ حَتَّى لَا يَخْلُوَا جَمَاعَةٌ مُقِيمُونَ وَلَا مُسَافِرُونَ مِنْ أَنْ يُصَلَّى فِيهِمْ صَلَاةُ جَمَاعَةٍ

Asy-Syaafi’iy berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada orang yang mendatangi shalat fardhu berjama’ah agar mendatanginya dengan tenang dan beliau memberikan rukhshah (keringanan) meninggalkan shalat fardhu berjama’ah karena ada ‘udzur sebagaimana yang akan aku sebutkan nanti -insya Allah Ta’ala- pada tempat tersendiri, dan serupa dengan apa yang telah aku gambarkan dari Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu tidak halal meninggalkan semua shalat fardhu secara berjama’ah hingga tidak terdapat sekelompok orang pun baik yang muqim maupun musafir yang dapat melaksanakan shalat berjama’ah bersama mereka.”

أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْت أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إلَى رِجَالٍ يَتَأَخَّرُونَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ فَوَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَظْمًا سَمِينًا، أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ

Maalik mengkhabarkan kepada kami, dari Abu Az-Zinaad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku berkeinginan memerintahkan orang-orang agar mengumpulkan kayu bakar kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengumandangkan adzan agar orang-orang shalat. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang dan aku beralih kepada para laki-laki yang tidak hadir, lalu aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, kalau saja salah seorang dari mereka mengetahui bahwa ia akan mendapatkan daging yang gemuk atau daging yang menempel antara dua tapak kaki kambing, niscaya ia akan menghadiri shalat ‘Isya’.”[1]

أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَرْمَلَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْمُنَافِقِينَ شُهُودُ الْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ لَا يَسْتَطِيعُونَهُمَا، أَوْ نَحْوُ هَذَا

Asy-Syaafi’iy mengkhabarkan kepada kami, ia berkata, Maalik mengkhabarkan kepada kami, dari ‘Abdurrahman bin Harmalah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perkara (yang membedakan) di antara kami dan orang-orang munafik adalah menghadiri shalat ‘Isya’ dan Subuh, mereka tidak sanggup melaksanakannya.” Atau yang semisal lafazh ini.[2]

قَالَ الشَّافِعِيُّ: فَيُشْبِهُ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ هَمِّهِ أَنْ يُحَرِّقَ عَلَى قَوْمٍ بُيُوتَهُمْ أَنْ يَكُونَ قَالَهُ فِي قَوْمٍ تَخَلَّفُوا عَنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ لِنِفَاقٍ وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ فَلَا أُرَخِّصُ لِمَنْ قَدَرَ عَلَى صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي تَرْكِ إتْيَانِهَا إلَّا مِنْ عُذْرٍ وَإِنْ تَخَلَّفَ أَحَدٌ صَلَّاهَا مُنْفَرِدًا لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ إعَادَتُهَا صَلَّاهَا قَبْلَ صَلَاةِ الْإِمَامِ، أَوْ بَعْدَهَا إلَّا صَلَاةَ الْجُمُعَةِ، فَإِنَّ عَلَى مَنْ صَلَّاهَا ظُهْرًا قَبْلَ صَلَاةِ الْإِمَامِ إعَادَتُهَا؛ لِأَنَّ إتْيَانَهَا فَرْضُ عَيْنٍ وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Asy-Syaafi’iy berkata, “Begitu pula pada apa yang disabdakan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bermaksud membakar rumah-rumah sekelompok orang yaitu sabda beliau pada sekelompok orang yang meninggalkan shalat ‘Isya’ karena kemunafikan, wallaahu Ta’ala a’lam. Maka aku tidak memberi keringanan meninggalkan shalat berjama’ah bagi siapapun yang mampu menghadirinya kecuali karena ada ‘udzur. Apabila seseorang meninggalkan shalat berjama’ah kemudian ia shalat sendiri, maka ia tidak perlu mengulang shalatnya baik shalat yang ia lakukan sebelum imam memulai shalat ataupun sesudahnya kecuali shalat Jum’at, karena siapapun yang mengerjakan shalat Zhuhur sebelum imam mengerjakan shalat Jum’at maka wajib mengulangnya, dikarenakan menghadiri shalat Jum’at adalah fardhu ‘ain. Wallaahu Ta’ala a’lam.”

وَكُلُّ جَمَاعَةٍ صَلَّى فِيهَا رَجُلٌ فِي بَيْتِهِ، أَوْ فِي مَسْجِدٍ صَغِيرٍ، أَوْ كَبِيرٍ قَلِيلِ الْجَمَاعَةِ، أَوْ كَثِيرِهَا أَجْزَأَتْ عَنْهُ وَالْمَسْجِدُ الْأَعْظَمُ وَحَيْثُ كَثُرَتْ الْجَمَاعَةُ أَحَبُّ إلَيَّ، وَإِنْ كَانَ لِرَجُلٍ مَسْجِدٌ يَجْمَعُ فِيهِ فَفَاتَتْهُ فِيهِ الصَّلَاةُ فَإِنْ أَتَى مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ غَيْرَهُ كَانَ أَحَبَّ إلَيَّ، وَإِنْ لَمْ يَأْتِهِ وَصَلَّى فِي مَسْجِدٍ مُنْفَرِدًا فَحَسَنٌ وَإِذَا كَانَ لِلْمَسْجِدِ إمَامٌ رَاتِبٌ فَفَاتَتْ رَجُلًا، أَوْ رِجَالًا فِيهِ الصَّلَاةُ صَلُّوا فُرَادَى وَلَا أُحِبُّ أَنْ يُصَلُّوا فِيهِ جَمَاعَةً فَإِنْ فَعَلُوا أَجْزَأَتْهُمْ الْجَمَاعَةُ فِيهِ وَإِنَّمَا كَرِهْت ذَلِكَ لَهُمْ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِمَّا فَعَلَ السَّلَفُ قَبْلَنَا بَلْ قَدْ عَابَهُ بَعْضُهُمْ

“Semua shalat fardhu berjama’ah yang dikerjakan seorang laki-laki di rumahnya, di masjid kecil atau besar dengan jama’ah yang jumlahnya sedikit atau banyak, maka aku memandang itu telah mencukupinya. Jika ia shalat berjama’ah di masjid yang lebih besar yang mana terdapat jama’ah yang lebih banyak maka aku menyukai hal tersebut. Apabila seorang laki-laki menemukan masjid yang dikerjakan shalat berjama’ah didalamnya lalu ia terlewat salah satu shalat berjama’ah, jika ia mendatangi masjid yang lainnya lalu shalat berjama’ah, maka aku menyukai hal tersebut, namun apabila ia tidak mendatangi masjid yang lain dan lebih memilih shalat di masjid tersebut secara sendiri maka itu adalah hal yang baik. Apabila di masjid terdapat imam rawatib (imam rutin, -pent) dan seorang atau beberapa orang laki-laki terlewat shalat berjama’ah (yang diimami imam rawatib tersebut), maka mereka shalat sendiri-sendiri dan aku tidak menyukai mereka shalat dengan berjama’ah. Apabila mereka mengerjakannya dengan sendiri-sendiri niscaya mereka mendapat keutamaan seperti shalat berjama’ah. Sesungguhnya aku membenci mereka membuat jama’ah kedua (pada masjid yang ada imam rawatib-nya) karena perbuatan tersebut bukan berasal dari para salaf sebelum kami, bahkan sebagian mereka mencelanya.”

Keutamaan Shalat Fardhu Berjama’ah Menurut Imam Asy-Syaafi’iy

قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Asy-Syaafiiy rahimahullahu Ta’ala berkata, Maalik mengkhabarkan kepada kami, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhuma-, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat berjama’ah lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.”[3]

أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا

Ar-Rabii’ mengkhabarkan kepada kami, ia berkata, Asy-Syaafi’iy mengkhabarkan kepada kami, ia berkata, Maalik mengkhabarkan kepada kami, dari Abu Az-Zinaad, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat berjama’ah lebih afdhal dari shalat salah seorang dari kalian secara sendirian dengan 25 bagian.”[4]

قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَالثَّلَاثَةُ فَصَاعِدًا إذَا أَمَّهُمْ أَحَدُهُمْ جَمَاعَةٌ، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ الِاثْنَانِ يَؤُمُّ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ جَمَاعَةً، وَلَا أُحِبُّ لِأَحَدٍ تَرْكَ الْجَمَاعَةِ وَلَوْ صَلَّاهَا بِنِسَائِهِ، أَوْ رَقِيقِهِ، أَوْ أُمِّهِ، أَوْ بَعْضِ وَلَدِهِ فِي بَيْتِهِ وَإِنَّمَا مَنَعَنِي أَنْ أَقُولَ صَلَاةُ الرَّجُلِ لَا تَجُوزُ وَحْدَهُ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى جَمَاعَةٍ بِحَالِ تَفْضِيلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَاةَ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الْمُنْفَرِدِ وَلَمْ يَقُلْ لَا تُجْزِئُ الْمُنْفَرِدَ صَلَاتُهُ

Asy-Syaafi’iy berkata, “Jika jama’ah berjumlah 3 orang atau lebih dan seorang dari mereka menjadi imam shalat maka itulah shalat berjama’ah, dan aku harap dengan jumlah jama’ah hanya 2 orang lalu salah seorang dari keduanya menjadi imam bagi yang lain maka itupun sudah cukup disebut shalat berjama’ah. Aku tidak menyukai seseorang meninggalkan shalat berjama’ah walaupun ia hanya mengerjakannya dengan istri, budak, ibu ataupun sebagian anaknya di rumahnya. Sesungguhnya yang membuatku tidak berani mengatakan bahwa shalat seseorang itu tidak boleh dilakukan sendirian meskipun ia mampu shalat berjama’ah, adalah karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam hanya menyebutkan keutamaan shalat berjama’ah diatas shalat sendirian, dan beliau tidak berkata bahwa shalat seseorang yang sendirian tersebut tidak mencukupi.”

وَإِنَّمَا صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ بِأَنْ يَأْتَمَّ الْمُصَلُّونَ بِرَجُلٍ فَإِذَا ائْتَمَّ وَاحِدٌ بِرَجُلٍ فَهِيَ صَلَاةُ جَمَاعَةٍ وَكُلَّمَا كَثُرَتْ الْجَمَاعَةُ مَعَ الْإِمَامِ كَانَ أَحَبَّ إلَيَّ وَأَقْرَبَ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ الْفَضْلِ

“Sesungguhnya disebut shalat berjama’ah karena adanya orang-orang yang shalat bermakmum kepada seorang laki-laki (yang mengimami mereka, -pent), maka apabila hanya ada satu orang yang bermakmum kepada seorang laki-laki, ini sudah cukup disebut shalat berjama’ah. Bilamana jumlah jama’ah shalat bersama imam bertambah banyak, aku menyukai hal yang demikian dan insya Allah lebih dekat kepada keutamaan.”

— Semua qaul Imam Asy-Syaafi’iy yang telah disebutkan diatas, kami sarikan dari kitab Al-Umm 2/290-294 —

Apa Pendapat Ashab Asy-Syaafi’iyyah Terkait Masalah Ini?

1. Al-Imam Abu Bakr Ibnul Mundzir rahimahullah

فدلت الأخبار التي ذكرناها على وجوب فرض الجماعة على من لا عذر له، فمما دل عليه قوله لإبن أم مكتوم وهو ضرير: لا أجد لك رخصة، فإذا كان الأعمى كذلك لا رخصة له فالبصير أولى بأن لا تكون له رخصة

“Maka aku telah tunjukkan khabar-khabar yang menyebutkan akan wajibnya shalat fardhu berjama’ah atas orang yang tidak mempunyai ‘udzur. Diantara khabar-khabar yang menunjukkan akan wajibnya berjama’ah adalah sabda Rasulullah kepada Ibnu Ummi Maktuum -radhiyallahu ‘anhu- dan ia seorang yang buta : “Aku tidak menemukan rukhshah untukmu[5]“. Apabila bagi seorang yang buta saja tidak ada rukhshah, maka lebih utama bagi orang yang bisa melihat (untuk mendatangi shalat fardhu berjama’ah) karena lebih-lebih tidak ada rukhshah baginya.” [Al-Ausath fiy As-Sunan 4/134]

2. Al-Imam Abul Hasan Al-Maawardiy rahimahullah

لَا اخْتِلَافَ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْجَمَاعَةَ لِلْجُمُعَةِ مِنْ فُرُوضِ الْأَعْيَانِ، وَلَا يَصِحُّ أَدَاؤُهَا إِلَّا فِي جَمَاعَةٍ فَوَجَبَ أَنْ تَكُونَ الْجَمَاعَةُ لَهَا فَرْضًا عَلَى الْأَعْيَانِ فَأَمَّا الْجَمَاعَةُ لِسَائِرِ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَاتِ فَلَا يَخْتَلِفُ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَسَائِرِ أَصْحَابِهِ أَنَّهَا لَيْسَتْ فَرْضًا عَلَى الْأَعْيَانِ، وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا هَلْ هِيَ فَرْضٌ عَلَى الْكِفَايَةِ أَمْ سُنَّةٌ؟ فَذَهَبَ أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ سُرَيْجٍ، وَجَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا إِلَى أَنَّهَا فَرَضٌ عَلَى الْكِفَايَةِ، وَذَهَبَ أَبُو عَلِيِّ بْنُ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَسَائِرُ أَصْحَابِنَا إِلَى أَنَّهَا سُنَّةٌ

“Tidak ada perselisihan diantara para ulama bahwa shalat Jum’at yang dilakukan dengan berjama’ah adalah termasuk ibadah-ibadah fardhu ‘ain. Tidak sah melaksanakannya kecuali dengan berjama’ah, maka adanya jama’ah bagi shalat Jum’at adalah syarat fardhu ‘ain. Adapun shalat berjama’ah bagi keseluruhan shalat-shalat fardhu, maka tidak ada perbedaan dalam madzhab Asy-Syaafi’iy dan semua ashab-nya bahwa hukumnya bukan fardhu ‘ain, namun sahabat-sahabat kami berbeda pendapat apakah hukumnya fardhu kifaayah atau sunnah? Abul ‘Abbaas bin Suraij dan sejumlah sahabat kami berpendapat bahwa hukumnya fardhu kifaayah, sementara Abu ‘Aliy bin Abu Hurairah dan seluruh sahabat kami berpendapat bahwa hukumnya sunnah.” [Al-Haawiy Al-Kabiir 2/297]

3. Al-Imam Abu Ishaaq Asy-Syairaaziy rahimahullah

إختلف أصحابنا في الجماعة فقال أبو عباس وأبو إسحاق: هي فرض على الكفاية يجب إظهارها في الناس فإن امتنعوا من إظهارها قوتلوا عليها وهو المنصوص في الإمامة والدليل عليه ما روى أبو الدرداء رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ما من ثلاثة في قرية أو بدو لا تقام فيهم الصلاة إلا قد استحذوا عليهم الشيطان عليك بالجماعة فإنما يأخذ الذئب القاصية من الغنم. ومن أصحابنا من قال هي سنة لما روى أبو هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: صلاة الجماعة أفضل من صلاة أحدكم وحده بخمس وعشرين درجة

“Para sahabat kami berbeda pendapat mengenai hukum shalat fardhu berjama’ah. Abu ‘Abbaas dan Abu Ishaaq berkata : Hukumnya fardhu kifaayah, wajib menampakkannya pada manusia, karena jika mereka menghalang-halangi kaum muslimin yang menampakkannya maka mereka wajib diperangi, inilah yang tertera dalam kitab Al-Imaamah. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abud Dardaa’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah 3 orang di sebuah desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjama’ah didalamnya melainkan syetan telah menguasai mereka, wajib atasmu (untuk tetap shalat) berjama’ah karena sesungguhnya serigala hanya akan memakan kambing yang sendirian[6].” Dan dari sahabat-sahabat kami yang berkata bahwa hukumnya adalah sunnah dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Shalat berjama’ah lebih afdhal dari shalat salah seorang dari kalian yang dilakukan secara sendiri dengan 25 derajat[7].” [Al-Muhadzdzab fiy Fiqh Al-Imam Asy-Syaafi’iy 1/176]

4. Al-Imam Hujjatul Islam Abu Haamid Al-Ghazaaliy rahimahullah

وهي مستحبة، وليست بواجبة إلا في الجمعة، ولا فرض كفاية، على الأظهر، وتستحب للنساء

“Hukumnya sunnah mustahab, tidak wajib kecuali dalam shalat Jum’at, tidak pula fardhu kifaayah menurut pendapat terkuat dari beberapa penafsiran pendapat Imam Asy-Syaafi’iy, dan mustahab bagi perempuan untuk mengerjakannya.” [Al-Wajiiz fiy Fiqh Al-Imam Asy-Syaafi’iy 1/182]

5. Al-Imam Muhyiddiin Abu Zakariyaa An-Nawawiy rahimahullah

اعْلَمْ أَنَّ أَرْكَانَ الصَّلَاةِ وَشُرُوطِهَا، لَا تَخْتَلِفُ بِالْجَمَاعَةِ وَالِانْفِرَادِ، لَكِنَّ الْجَمَاعَةَ أَفْضَلُ. فَالْجَمَاعَةُ فَرْضُ عَيْنٍ فِي الْجُمُعَةِ، وَأَمَّا فِي غَيْرِهَا مِنَ الْمَكْتُوبَاتِ، فَفِيهَا أَوْجُهٌ. الْأَصَحُّ: أَنَّهَا فَرْضُ كِفَايَةٍ. وَالثَّانِي: سُنَّةٌ. وَالثَّالِثُ: فَرْضُ عَيْنٍ قَالَهُ مِنْ أَصْحَابِنَا، ابْنُ الْمُنْذِرِ، وَابْنُ خُزَيْمَةَ. وَقِيلَ: إِنَّهُ قَوْلٌ لِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ

“Ketahuilah bahwa rukun-rukun shalat dan syarat-syaratnya, tidak ada perbedaan dikerjakan dengan berjama’ah dan sendiri. Namun shalat berjama’ah lebih afdhal. Maka hukum shalat berjama’ah adalah fardhu ‘ain dalam shalat Jum’at. Adapun dalam shalat-shalat fardhu selain shalat Jum’at, maka ada beberapa pendapat. Pendapat yang paling shahih dari pendapat-pendapat para sahabat kami adalah hukumnya fardhu kifaayah. Kedua, hukumnya sunnah. Ketiga, hukumnya fardhu ‘ain, demikianlah Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah dari sahabat kami mengatakannya, dan dikatakan bahwa inilah pendapat Asy-Syaafi’iy rahimahullah.” [Raudhah Ath-Thaalibiin 1/339]

6. Al-Imam Taqiyuddiin Abu Bakr Al-Husainiy rahimahullah

الأَصْل فِي مَشْرُوعِيَّة الْجَمَاعَة الْكتاب وَالسّنة وَإِجْمَاع الْأمة قَالَ تَعَالَى {وَإِذا كنت فيهم فأقمت لَهُم الصَّلَاة فلتقم طَائِفَة مِنْهُم مَعَك} الْآيَة أَمر بِالْجَمَاعَة فِي قَوْله فلتقم فَعِنْدَ الْأَمْن أولى وَهِي فرض عين فِي الْجُمُعَة وَأما فِي غَيرهَا فَفِيهِ خلاف الصَّحِيح عِنْد الرَّافِعِيّ أَنَّهَا سنة وَقيل فرض كِفَايَة وَصَححهُ النَّوَوِيّ وَقيل فرض عين وَصَححهُ ابْن الْمُنْذر وَابْن خُزَيْمَة

“Asal pensyari’atan shalat berjama’ah berasal dari Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman : Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu… hingga akhir ayat. Allah dalam firmanNya memerintahkan untuk shalat dengan berjama’ah maka hendaklah berdiri. Jika situasi telah aman maka lebih diutamakan shalat berjama’ah dan hukumnya fardhu ‘ain dalam shalat Jum’at. Adapun dalam shalat-shalat fardhu selainnya, maka didalamnya terdapat khilaf. Pendapat yang shahih menurut Ar-Raafi’iy bahwasanya hukumnya adalah sunnah. Dikatakan dalam suatu pendapat hukumnya fardhu kifaayah, pendapat ini dishahihkan oleh An-Nawawiy dan dikatakan hukumnya fardhu ‘ain, pendapat ini dishahihkan oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah” … (kemudian Al-Imam Taqiyuddiin Abu Bakr menyebutkan dalil-dalil dari masing-masing pendapat). [Kifaayatul Akhyaar hal. 129]

7. Al-Imam Syamsuddiin Al-Khathiib Asy-Syarbiiniy rahimahullah

وَصَلَاة الْجَمَاعَة فِي المكتوبات غير الْجُمُعَة سنة مُؤَكدَة وَلَو للنِّسَاء للأحاديث السَّابِقَة وَهَذَا مَا قَالَه الرَّافِعِيّ وَتَبعهُ المُصَنّف وَالأَصَح الْمَنْصُوص كَمَا قَالَه النَّوَوِيّ أَنَّهَا فِي غير الْجُمُعَة فرض كِفَايَة

“Shalat berjama’ah dalam shalat-shalat fardhu selain shalat Jum’at hukumnya adalah sunnah mu’akkad meskipun bagi wanita dengan dalil hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Inilah yang dikatakan oleh Ar-Raafi’iy dan diikuti oleh penulis. Dan yang shahih dari beberapa pendapat ashab Asy-Syaafi’iy adalah yang tertera (dalam kitab Al-Imaamah) sebagaimana An-Nawawiy mengatakannya bahwa hukumnya adalah fardhu kifaayah selain shalat Jum’at.” [Al-Iqnaa’ 1/163]

8. Asy-Syaikh Zainuddiin Ahmad bin ‘Abdil ‘Aziiz Al-Maliibaariy rahimahullah

صلاة الجماعة في أداء مكتوبة لا جمعة سنة مؤكدة للخبر المتفق عليه: صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة، والأفضلية تقتضي الندبية فقط. وحكمة السبع والعشرين: أن فيها فوائد تزيد على صلاة الفذ بنحو ذلك

“Shalat berjama’ah ketika menunaikan shalat-shalat fardhu, bukan shalat Jum’at, hukumnya adalah sunnah mu’akkadah dengan khabar muttafaq ‘alaih : Shalat berjama’ah lebih afdhal dari shalat sendirian dengan 27 derajat. Afdhaliyyah yang ada pada hadits ini hanya menunjukkan anjuran saja, dan hikmah dari pahala 27 derajat ini adalah didalam shalat berjama’ah terdapat fawa’id yang menambah pahala shalat sendirian dengan jumlah tersebut.” [Fath Al-Mu’iin hal. 170-171]

Demikianlah pendapat para ashab Asy-Syaafi’iyyah yang kami rasa sudah cukup mewakili bagaimana madzhab Asy-Syaafi’iy dalam masalah ini dikarenakan para ashab tersebut tergolong para pembesar madzhab.

Kesimpulan

Beberapa point yang dapat kami simpulkan dari pemaparan diatas, adalah sebagai berikut :

1. Disepakatinya kewajiban berjama’ah dalam hal pelaksanaan shalat Jum’at, dan ia fardhu ‘ain, tidak ada pertentangan antara Imam Asy-Syaafi’iy dengan ashabnya. Barangsiapa yang shalat Zhuhur sebelum imam memulai shalat Jum’at maka tidak sah shalatnya tersebut dan ia wajib shalat bersama imam.

2. Zhahir yang kami pahami dari perkataan Imam Asy-Syaafi’iy adalah beliau mewajibkan shalat fardhu berjama’ah walaupun seseorang itu berjama’ah bersama keluarganya di rumahnya dan beliau tidak memberi keringanan untuk meninggalkan berjama’ah selama memang mampu mengerjakannya dan selama tidak ada ‘udzur syar’i, namun beliau berpendapat bahwa jika seseorang meninggalkan shalat berjama’ah dan shalat sendirian, maka ia tidak perlu mengulang shalatnya baik shalat yang dilakukan sebelum imam memulai shalat berjama’ah maupun sesudahnya. Adapun seutama-utama shalat berjama’ah menurut beliau adalah yang dilakukan di masjid apalagi jika banyak jama’ahnya.

3. Jika ada 2 orang, orang yang satu mengimami yang satunya lagi, maka menurut Imam Asy-Syaafi’iy ini sudah cukup disebut berjama’ah. Jika jama’ahnya berjumlah banyak maka menurut beliau hal ini lebih dekat kepada keutamaan.

4. Terjadi khilaf mu’tabar di sisi ashab Asy-Syaafi’iyyah mengenai hukum shalat fardhu berjama’ah.

– Ada yang menghukumi fardhu ‘ain dan ini adalah pendapat Abu Bakr Ibnul Mundzir dan Ibnu Khuzaimah, dalilnya adalah bahwa Rasulullah tidak memberi rukhshah sekalipun kepada Ibnu Ummi Maktuum -dan ia buta- untuk tidak menghadiri shalat berjama’ah, kepada orang yang buta saja tidak ada rukhshah maka lebih-lebih lagi kepada orang yang bisa melihat.

– Ada yang menghukumi fardhu kifaayah dan ini adalah pendapat An-Nawawiy, dalilnya adalah hadits Abud Dardaa’ yang telah berlalu, juga karena shalat berjama’ah ini adalah termasuk di antara syi’ar-syi’ar Islam maka wajib untuk menampakkannya kepada manusia dan barangsiapa yang menghalang-halangi kaum muslimin maka wajib diperangi.

– Ada yang menghukumi sunnah, ini adalah pendapat Al-Ghazaaliy, ‘Abdul Kariim Ar-Raafi’iy dan mayoritas ulama-ulama Asy-Syaafi’iyyah. Dalilnya adalah bahwa pahala 25 derajat pada hadits Ibnu ‘Umar atau pahala 27 derajat pada hadits Abu Hurairah hanya menunjukkan keutamaan saja dan lebih afdhalnya shalat fardhu yang dilakukan secara berjama’ah.

Inilah yang dapat kami simpulkan mengenai pembahasan hukum dan keutamaan shalat fardhu berjama’ah di sisi madzhab Asy-Syaafi’iy. Dan pembahasan seperti ini termasuk dalam ranah khilafiyah mu’tabarah. Seseorang bisa saja berbeda dengan yang lainnya ketika melihat dan mengambil istinbath terhadap keseluruhan dalil-dalil yang ada dalam masalah ini, bahkan diantara ashab Asy-Syaafi’iyyah bisa saja berbeda pendapat dengan Imam Asy-Syaafi’iy, maka bagaimanakah lagi dengan madzhab-madzhab yang lainnya (Hanafiyyah, Maalikiyyah atau Hanaabilah)?

Hanya saja perlu kami ingatkan -terutama bagi diri kami sendiri-, bahwa apapun pendapat yang dipilih oleh saudara-saudara kami kaum muslimin dalam masalah ini, hendaknya kita sepakat untuk tidak mengecilkan shalat fardhu berjama’ah berikut keutamaan-keutamaannya, sebagaimana dalam hadits berikut yang diriwayatkan dari Abu Hurairah :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau saja manusia mengetahui pahala yang terdapat pada adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak menemukan cara (untuk mendapatkan pahala tersebut) melainkan dengan mengundinya, niscaya mereka akan melakukannya. Kalau saja mereka mengetahui pahala yang terdapat pada bersegera (ke masjid untuk mengerjakan shalat berjama’ah jika telah tiba waktunya), niscaya mereka akan berlomba-lomba menyegerakannya. Kalau saja mereka mengetahui pahala yang terdapat pada shalat ‘Isya’ dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya walau dengan cara merangkak.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 615; Shahiih Muslim no. 440]

Dan hadits berikut, diriwayatkan dari Anas bin Maalik radhiyallahu ‘anhu :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat berjama’ah karena Allah selama 40 hari dan ia mendapatkan takbir pertama, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal, terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat nifaq.” [Jaami’ At-Tirmidziy no. 241][8]

Kita sering berlomba-lomba dan berlelah-lelah untuk meraih keutamaan-keutamaan duniawi seperti kenaikan gaji, bonus, tunjangan, kenaikan pangkat dan jabatan maupun demi mengejar ridha manusia, namun entah mengapa kita sering malas jika keutamaan-keutamaan tersebut untuk akhirat dan lebih memilih untuk ‘cari aman’ saja dengan dalih ‘yang penting kewajiban sudah tertunaikan’. Allaahul Musta’aan. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari sifat malas dalam rangka mengejar wajah Allah dan keridhaanNya.

Wallaahu Ta’ala a’lam wa ahkam.

Diselesaikan di Ciputat, beberapa minggu menuju Ramadhan. 3 Sya’ban 1436 H

Tommi Marsetio Abu Ahmad

Footnotes :

[1] Diriwayatkan Al-Bukhaariy dalam Shahiih-nya no. 644, dari jalan ‘Abdullaah bin Yuusuf, ia berkata, Maalik mengkhabarkan kepada kami, dan seterusnya. Kemudian Muslim dalam Shahiih-nya no. 652, dari jalan ‘Amr An-Naaqid, ia berkata, Sufyaan bin ‘Uyainah mengkhabarkan kepada kami, dari Abu Az-Zinaad, dan seterusnya.

Diriwayatkan pula oleh An-Nasaa’iy (Ash-Shughraa no. 848; Al-Kubraa no. 923), Al-Baihaqiy (Sunan Al-Kubraa 3/54; Ma’rifah As-Sunan wal Atsaar no. 1426), Ibnu Khuzaimah (Shahiih no. 1400), Ibnu Hibbaan (Shahiih no. 2096), dan yang lainnya.

Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah berkata dalam Al-Ma’rifah :

رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الصَّحِيحِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يُوسُفَ، عَنْ مَالِكٍ، وَأَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ وَأَخْرَجَاهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ بِبَعْضِ مَعْنَاهُ ” إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Diriwayatkan Al-Bukhaariy dalam kitab Shahih, dari ‘Abdullaah bin Yuusuf, dari Maalik, dan dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Ibnu ‘Uyainah, dari Abu Az-Zinaad. Lalu dikeluarkan oleh keduanya (yaitu Al-Bukhaariy dan Muslim, -pent) dari hadits Abu Shaalih, dari Abu Hurairah dengan sebagian makna (matan) haditsnya adalah : “Sesungguhnya shalat yang terberat bagi orang-orang munafik adalah shalat ‘Isya’ dan shalat Subuh, kalau saja orang-orang mengetahui apa yang terdapat didalam kedua shalat tersebut niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.”

[2] Sanad ini mu’dhal, yaitu gugurnya dua orang perawi antara ‘Abdurrahman bin Harmalah dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. ‘Abdurrahman ibnu Harmalah adalah tabi’in kecil dan ia tidak pernah bertemu dengan para sahabat, oleh karena itu butuh 2 orang perawi (tabi’in yang lebih senior darinya dan sahabat) untuk menyambungkan sanadnya hingga Rasulullah.

Namun Imam Maalik rahimahullah dalam Al-Muwaththa’ (no. 294) meriwayatkan sanad ini dengan perantara Sa’iid bin Al-Musayyab diantara Ibnu Harmalah dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka dari sisi Imam Maalik, sanadnya menjadi mursal yaitu mursal Ibnul Musayyab.

[3] Diriwayatkan Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya no. 645 dari jalan ‘Abdullaah bin Yuusuf, ia berkata, Maalik mengkhabarkan kepada kami, dan seterusnya. Kemudian Muslim dalam Shahiih-nya no. 651 dari jalan Yahyaa bin Yahyaa, ia berkata, aku membacakan hadits kepada Maalik, dari Naafi’, dan seterusnya.

[4] Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy berkata dalam Sunan Al-Kubraa 3/59-60 :

كَذَا رَوَاهُ الرَّبِيعُ، عَنِ الشَّافِعِيِّ فِي كِتَابِ الإِمَامَةِ، وَرَوَاهُ الْمُزَنِيُّ، وَحَرْمَلَةُ عَنِ الشَّافِعِيِّ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الْمَشْهُورُ، عَنْ مَالِكٍ فَمِنَ الْحُفَّاظِ مَنْ زَعَمَ أَنَّ الرَّبِيعَ وَاهِمٌ فِي رِوَايَتِهِ، وَمِنْهُمْ زَعَمَ أَنَّ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ رَوَى فِي الْمُوَطِّأِ عِدَّةَ أَحَادِيثَ رَوَاهَا خَارِجَ الْمُوَطِّأِ بِغَيْرِ تِلْكَ الأَسَانِيدِ وَهَذَا مِنْ جُمْلَتِهَا، فَقَدْ رَوَاهُ رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، عَنْ مَالِكٍ نَحْوَ رِوَايَةِ الرَّبِيعِ

“Demikianlah yang diriwayatkan Ar-Rabii’, dari Asy-Syaafi’iy dalam kitab Al-Imaamah. Dan diriwayatkan Al-Muzaniy dan Harmalah, dari Asy-Syaafi’iy, dari Maalik, dari Ibnu Syihaab, dari Sa’iid bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, inilah yang masyhur dari riwayat Maalik, oleh karenanya beberapa huffaazh ada yang menduga Ar-Rabii’ mengalami wahm dalam riwayatnya dan sebagian mereka menyangka bahwa Maalik bin Anas meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ sejumlah hadits-hadits yang ia pun meriwayatkannya diluar Al-Muwaththa’ dengan selain sanad-sanad tersebut, dan sanad ini (yaitu sanad Ar-Rabii’) termasuk didalamnya. Rauh bin ‘Ubaadah telah meriwayatkan hadits ini pula dari Maalik yang seperti riwayat Ar-Rabii’.”

[5] Diriwayatkan Abu Daawud dalam Sunan-nya no. 552; An-Nasaa’iy dalam Ash-Shughraa no. 851 dan Al-Kubraa no. 926; Ibnu Maajah dalam As-Sunan no. 792; Ahmad dalam Musnad no. 15064; Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1399; Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 1/247; Al-Baihaqiy dalam Sunan Al-Kubraa 3/57; dan yang lainnya.

Terdapat ta’wil bagi perkataan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam “aku tidak menemukan rukhshah untukmu”, Abu Bakr Al-Baihaqiy berkata :

قَالَ لَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ: لَيْسَ فِي أَمَرِهِ هَذَا الأَعْمَى بِحُضُورِ الْجَمَاعَةِ مَا يَدُلُّ أَنَّ حُضَورَهَا فَرْضٌ لأَنَّهُ قَدْ رَخَّصَ لِعِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ، وَهُوَ أَعْمَى، التَّخَلُّفَ عَنْ حُضُورِهَا فَدَلَّ عَلَى أَنَّ قَوْلَهُ ” لا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً ” أَيْ لا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً تَلْحَقُ فَضِيلَةَ مَنْ حَضَرَهَا

Abu ‘Abdillaah (yaitu Imam Al-Haakim, beliau adalah guru Al-Baihaqiy, -pent) berkata kepada kami, Abu Bakr Ahmad bin Ishaaq Al-Faqiih berkata, “Perintah Rasulullah kepada orang buta ini agar menghadiri shalat berjama’ah bukanlah menunjukkan sebuah kewajiban, dikarenakan beliau telah memberi keringanan kepada ‘Itbaan bin Maalik -dan ia pun orang yang buta- untuk tidak ikut menghadiri shalat berjama’ah, hal ini menunjukkan bahwa sabda beliau “aku tidak menemukan rukhshah untukmu”, maksudnya adalah aku tidak menemukan rukhshah untukmu yang menyamai keutamaan orang yang menghadirinya.”

[6] Diriwayatkan Abu Daawud dalam Sunan-nya no. 547; An-Nasaa’iy dalam Ash-Shughraa no. 847; Ahmad dalam Musnad-nya no. 21202 dan no. 26967.

[7] Telah berlalu keterangan Al-Baihaqiy mengenai hadits ini.

[8] Hadits ini terdapat perselisihan mengenai keshahihannya. Al-Imam At-Tirmidziy rahimahullah berkata dalam ta’liiq-nya :

وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ، عَنْ أَنَسٍ مَوْقُوفًا وَلَا أَعْلَمُ أَحَدًا رَفَعَهُ إِلَّا مَا رَوَى سَلْمُ بْنُ قُتَيْبَةَ، عَنْ طُعْمَةَ بْنِ عَمْرٍوَ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، وَإِنَّمَا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ الْبَجَلِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَوْلَهُ، حَدَّثَنَا بِذَلِكَ هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ خَالِدِ بْنِ طَهْمَانَ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ الْبَجَلِيِّ، عَنْ أَنَسٍ نَحْوَهُ وَلَمْ يَرْفَعْهُ، وَرَوَى إِسْمَاعِيل بْنُ عَيَّاشٍ هَذَا الْحَدِيثَ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم نَحْوَ هَذَا، وَهَذَا حَدِيثٌ غَيْرُ مَحْفُوظٍ، وَهُوَ حَدِيثٌ مُرْسَلٌ، وَعُمَارَةُ بْنُ غَزِيَّةَ لَمْ يُدْرِكْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيل حَبِيبُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ يُكْنَى أَبَا الْكَشُوثَى وَيُقَالُ: أَبُو عُمَيْرَةَ

“Hadits ini telah diriwayatkan dari Anas secara mauquuf, dan aku tidak mengetahui seorang pun yang memarfu’-kannya kecuali dari hadits yang diriwayatkan Salm bin Qutaibah, dari Thu’mah bin ‘Amr, dari Habiib bin Abu Tsaabit, dari Anas. Yang benar hadits ini diriwayatkan dari Habiib bin Abu Habiib Al-Bajaliy, dari Anas bin Maalik, perkataannya. Hannaad telah menceritakan yang demikian kepada kami, Wakii’ telah menceritakan kepada kami, dari Khaalid bin Thuhmaan, dari Habiib bin Abu Habiib Al-Bajaliy, dari Anas yang semakna hadits ini dan ia tidak memarfu’-kannya. Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy meriwayatkan hadits ini dari ‘Umaarah bin Ghaziyyah, dari Anas bin Maalik, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan lafazh yang semakna, namun hadits ini tidak mahfuuzh, ia hadits mursal, ‘Umaarah bin Ghaziyyah tidak pernah menjumpai Anas bin Maalik. Muhammad bin Ismaa’iil (Al-Bukhaariy) berkata, “Habiib bin Abu Habiib berkuniyah Abul Kasyuutsaa dan dikatakan : Abu ‘Umairah.”

Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy rahimahullah menghasankan hadits ini karena banyaknya jalan-jalan periwayatannya jika dikumpulkan, demikian dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1979 dan no. 2652, dan beliau pun menghasankannya di beberapa tempat dalam kitab-kitab beliau seperti Shahiih At-Tirmidziy, Shahiih At-Targhiib no. 409, dan Shahiih Al-Jaami’ no. 6365. Sementara dalam Takhriij Al-Misykaah no. 1102, beliau berkata shahiih lighairihi.

* * * * *

6 thoughts on “Hukum dan Keutamaan Shalat Fardhu Berjama’ah Dalam Pandangan Madzhab Asy-Syaafi’iy

  1. Assalamu’alaikum

    Syaikh, izin mau tanya.
    Pada masjid/surau yang dekat dengan keramaian, bila shalat (fardu) berjamaah telah lewat, saya jumpai dua keadaan.
    Di sebagian surau, didirikan jamaah baru, demikian berulang-ulang.
    Sementara di sebagian surau lainnya, shalat sendiri-sendiri, berjamaah hanya berlaku sekali di awal waktu.

    Mohon diterangkan, manakah yang lebih kuat?
    Syukran.

    • Wa’alaikumussalam warahmatullah,

      Apakah di masjid/surau tersebut ada imam rawatib-nya? Bila ada, maka menurut Asy-Syaafi’iy makruh hukumnya membuat jama’ah kedua, ketiga dst ketika imam rawatib telah mengimami shalat berjama’ah di awal waktu. Adapun apabila masjid/surau tersebut biasa sebagai tempat lalu lalang banyak orang dan tidak ada imam rawatib melainkan sekedar imam cabutan dari orang-orang yang kebetulan lewat dan shalat berjama’ah disitu, maka tidak masalah membuat jama’ah baru setelah jama’ah yang di awal waktu, dan juga tidak masalah jika mengerjakan shalatnya sendiri-sendiri setelah jama’ah pertama. Wallaahu a’lam. Afwan.

      • Syeh, Untuk case ketinggalan jamaah di Masjid yang ada imam rawatib nya, bila kemudian Shalat sendiri-sendiri, bagaimana dengan keutamaan Shalat berjamaah, bukankah Secara umum lebih utama Shalat berjamaah dibanding sendirian (Shalat Fardhu)

        Syukran atas penjelasannya

  2. @mas Kuncoro,

    hukum mendirikan jama’ah kedua di sebuah masjid yg ada imam rawatibnya itu sendiri masih diperselisihkan kebolehannya. Adapun Asy-Syaafi’iy memang memakruhkan karena beliau menganggap bahwa mendirikan jama’ah itu hak imam, jika orang2 mendirikan jama’ah tanpa izin dari imam rawatib, maka beliau menganggap ini bisa memecah belah kaum muslimin dan melanggar hak imam. Oleh karenanya beliau merajihkan untuk shalat sendiri2 dengan harapan mendapat keutamaan shalat berjama’ah tanpa melanggar hak imam.

    Tapi saya menemukan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, keterangan begini :

    أَمَّا إِذَا كَانَ الْمَسْجِدُ يَقَعُ فِي سُوقٍ، أَوْ فِي مَمَرِّ النَّاسِ، أَوْ لَيْسَ لَهُ إِمَامٌ رَاتِبٌ، أَوْ لَهُ إِمَامٌ رَاتِبٌ وَلَكِنَّهُ أَذِنَ لِلْجَمَاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَلاَ كَرَاهَةَ فِي الْجَمَاعَةِ الثَّانِيَةِ وَالثَّالِثَةِ وَمَا زَادَ، بِالإِْجْمَاعِ

    Yang terjemahannya kurang lebih : “Adapun jika ada masjid yang terletak di pasar, atau di tempat biasa orang lalu lalang, masjid tersebut tidak punya imam rawatib atau malah memiliki imam rawatib, namun ia memberikan izin bagi jama’ah kedua, maka tidak ada larangan bagi jama’ah kedua, ketiga dan seterusnya, dengan ijma’.” [Mausu’ah Fiqhiyyah 22/47]

    Dari keterangan para fuqaha Kuwait diatas, maka tidak perlu kuatir terhadap larangan Imam Asy-Syaafi’iy karena jamak kita temui di negeri kita, masjid2, mushalla2, atau surau2 yang memang memiliki imam rawatib namun mereka tidak mempermasalahkan orang-orang mendirikan jama’ah kedua setelah jama’ah pertama yang diimami sang imam rawatib. Saya malah belum pernah melihat ada imam rawatib di negeri kita yang terang2an melarang org2 mendirikan jama’ah kedua atau ada semacam larangan tertulis di masjidnya. Maka kesimpulannya, silahkan mendirikan jama’ah kedua, ketiga dan seterusnya demi mendapatkan keutamaan shalat berjama’ah.

    Wallaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s