Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Bahiiraa Sang Rahib

sun brightAl-Haafizh ‘Imaaduddiin Abul Fidaa’ Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

حَكَى السُّهَيْلِيُّ عَنْ سِيَرِ الزُّهْرِيِّ أَنَّ بَحِيرَى كَانَ حَبْرًا مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُودِ قُلْتُ: وَالَّذِي يَظْهَرُ مِنْ سِيَاقِ الْقِصَّةِ أَنَّهُ كَانَ رَاهِبًا نَصْرَانِيًّا. وَاللَّهُ أَعْلَمُ. وَعَنِ الْمَسْعُودِيِّ أَنَّهُ كَانَ مَنْ عَبْدِ الْقَيْسِ وَكَانَ اسْمُهُ سَرْجِسَ، وَفِي كِتَابِ الْمَعَارِفِ لِابْنِ قُتَيْبَةَ سُمِعَ هَاتِفٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قَبْلَ الْإِسْلَامِ بِقَلِيلٍ يَهْتِفُ، وَيَقُولُ: أَلَا إِنَّ خَيْرَ أَهْلِ الْأَرْضِ ثَلَاثَةٌ بَحِيرَى، وَرِئَابٌ الشَّنِّيُّ وَالثَّالِثُ الْمُنْتَظَرُ وَكَانَ الثَّالِثُ الْمُنْتَظَرُ هُوَ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“As-Suhailiy menghikayatkan dari Siyar Az-Zuhriy bahwa Bahiiraa adalah seorang alim dari golongan para uskup Yahudi. Aku (Ibnu Katsiir) katakan : Yang nampak dari konteks kisah bahwasanya Bahiiraa adalah seorang rahib Nashrani. Wallaahu a’lam. Dihikayatkan dari Al-Mas’uudiy bahwa ia adalah seseorang dari keturunan ‘Abd Qais, konon namanya adalah Sarjis. Didalam kitab Al-Ma’aarif karya Ibnu Qutaibah dihikayatkan, suatu saat pada masa jahiliyah sebelum Islam datang, terdengar sebuah suara pelan yang tak nampak wujud penuturnya, suara tersebut mengatakan, “Ingatlah! Sebaik-baik penduduk bumi ada 3 orang, Bahiiraa, Ri’aab Asy-Syanniy dan yang ketiga adalah Al-Muntazhar. Konon yang ketiga, yaitu Al-Muntazhar, adalah Rasul Shallallaahu ‘alaihi wasallam.” [Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 3/443]

Bahiiraa, atau sebagian mengenalnya dengan nama Buhairaa, adalah seorang pendeta Nashrani sebagaimana kata Ibnu Katsiir diatas. Kisahnya dengan Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam (beliau belum diangkat menjadi Rasul) adalah kisah masyhur sebagaimana sering kita baca dalam kitab-kitab sirah, dan mungkin sering kita dengar dari pengajian-pengajian yang membahas mengenai Sirah Nabawiyyah. Tidak ada salahnya kita membaca kembali kisah tersebut demi me-refresh mengenai kisah Rasul Muhammad tatkala masih berusia kanak-kanak dan mengenali tanda-tanda kenabian beliau yang telah nampak sebelum diutusnya.

Kisah ini teriwayatkan dengan sanad dan matan :

حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ سَهْلٍ أَبُو الْعَبَّاسِ الْأَعْرَجُ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَزْوَانَ أَبُو نُوحٍ أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجَ أَبُو طَالِبٍ إِلَى الشَّامِ وَخَرَجَ مَعَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَشْيَاخٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَلَمَّا أَشْرَفُوا عَلَى الرَّاهِبِ هَبَطُوا فَحَلُّوا رِحَالَهُمْ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ الرَّاهِبُ وَكَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ يَمُرُّونَ بِهِ فَلَا يَخْرُجُ إِلَيْهِمْ وَلَا يَلْتَفِتُ قَالَ فَهُمْ يَحُلُّونَ رِحَالَهُمْ فَجَعَلَ يَتَخَلَّلُهُمْ الرَّاهِبُ حَتَّى جَاءَ فَأَخَذَ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَذَا سَيِّدُ الْعَالَمِينَ هَذَا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ يَبْعَثُهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ فَقَالَ لَهُ أَشْيَاخٌ مِنْ قُرَيْشٍ مَا عِلْمُكَ فَقَالَ إِنَّكُمْ حِينَ أَشْرَفْتُمْ مِنْ الْعَقَبَةِ لَمْ يَبْقَ شَجَرٌ وَلَا حَجَرٌ إِلَّا خَرَّ سَاجِدًا وَلَا يَسْجُدَانِ إِلَّا لِنَبِيٍّ وَإِنِّي أَعْرِفُهُ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ أَسْفَلَ مِنْ غُضْرُوفِ كَتِفِهِ مِثْلَ التُّفَّاحَةِ ثُمَّ رَجَعَ فَصَنَعَ لَهُمْ طَعَامًا فَلَمَّا أَتَاهُمْ بِهِ وَكَانَ هُوَ فِي رِعْيَةِ الْإِبِلِ قَالَ أَرْسِلُوا إِلَيْهِ فَأَقْبَلَ وَعَلَيْهِ غَمَامَةٌ تُظِلُّهُ فَلَمَّا دَنَا مِنْ الْقَوْمِ وَجَدَهُمْ قَدْ سَبَقُوهُ إِلَى فَيْءِ الشَّجَرَةِ فَلَمَّا جَلَسَ مَالَ فَيْءُ الشَّجَرَةِ عَلَيْهِ فَقَالَ انْظُرُوا إِلَى فَيْءِ الشَّجَرَةِ مَالَ عَلَيْهِ قَالَ فَبَيْنَمَا هُوَ قَائِمٌ عَلَيْهِمْ وَهُوَ يُنَاشِدُهُمْ أَنْ لَا يَذْهَبُوا بِهِ إِلَى الرُّومِ فَإِنَّ الرُّومَ إِذَا رَأَوْهُ عَرَفُوهُ بِالصِّفَةِ فَيَقْتُلُونَهُ فَالْتَفَتَ فَإِذَا بِسَبْعَةٍ قَدْ أَقْبَلُوا مِنْ الرُّومِ فَاسْتَقْبَلَهُمْ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكُمْ قَالُوا جِئْنَا إِنَّ هَذَا النَّبِيَّ خَارِجٌ فِي هَذَا الشَّهْرِ فَلَمْ يَبْقَ طَرِيقٌ إِلَّا بُعِثَ إِلَيْهِ بِأُنَاسٍ وَإِنَّا قَدْ أُخْبِرْنَا خَبَرَهُ بُعِثْنَا إِلَى طَرِيقِكَ هَذَا فَقَالَ هَلْ خَلْفَكُمْ أَحَدٌ هُوَ خَيْرٌ مِنْكُمْ قَالُوا إِنَّمَا أُخْبِرْنَا خَبَرَهُ بِطَرِيقِكَ هَذَا قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ أَمْرًا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَقْضِيَهُ هَلْ يَسْتَطِيعُ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ رَدَّهُ قَالُوا لَا قَالَ فَبَايَعُوهُ وَأَقَامُوا مَعَهُ قَالَ أَنْشُدُكُمْ بِاللَّهِ أَيُّكُمْ وَلِيُّهُ قَالُوا أَبُو طَالِبٍ فَلَمْ يَزَلْ يُنَاشِدُهُ حَتَّى رَدَّهُ أَبُو طَالِبٍ وَبَعَثَ مَعَهُ أَبُو بَكْرٍ بِلَالًا وَزَوَّدَهُ الرَّاهِبُ مِنْ الْكَعْكِ وَالزَّيْتِ

Al-Fadhl bin Sahl Abul ‘Abbaas Al-A’raj Al-Baghdaadiy menceritakan kepada kami, ‘Abdurrahman bin Ghazwaan Abu Nuuh menceritakan kepada kami, Yuunus bin Abu Ishaaq mengkhabarkan kepada kami, dari Abu Bakr bin Abu Muusaa, dari Ayahnya -radhiyallaahu ‘anhu-.

Abu Muusaa Al-Asy’ariy menuturkan, “Abu Thaalib keluar menuju Syaam dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam (pada waktu itu beliau belum diutus menjadi Nabi dan Rasul) serta beberapa orang pemuka Quraisy ikut bersamanya. Tatkala mereka mendekati kediaman seorang rahib, mereka pun turun dan menghentikan perjalanan mereka. Lalu keluarlah sang rahib kepada rombongan Quraisy, padahal sebelum ini mereka kerap melewati kediaman rahib namun sang rahib tidak pernah keluar kepada mereka dan tidak pula menoleh sedikitpun.”

Abu Muusaa melanjutkan kisahnya, “Maka mereka pun singgah dari perjalanan mereka sementara sang rahib menyeruak di antara rombongan Quraisy tersebut hingga ia tiba di hadapan Rasul, lalu ia menggenggam kedua tangan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, seraya berseru, “Anak ini adalah sayyid (pemuka) seluruh alam semesta, anak ini adalah utusan Rabbul ‘aalamiin, Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam!”

Pemuka-pemuka Quraisy bertanya kepadanya, “Apa yang kau ketahui mengenai anak ini?”

Rahib menjawab, “Sebenarnya pada saat kalian mendaki jalan di atas bukit, tidaklah tersisa pepohonan dan bebatuan melainkan mereka semua membungkuk dan bersujud, dan tidaklah keduanya bersujud melainkan kepada seorang Nabi. Sesungguhnya aku mengenalinya dari tanda kenabian menyerupai buah apel yang terletak di bawah tulang rawan bahunya.”

Kemudian sang rahib masuk ke dalam rumahnya dan menyiapkan makanan untuk rombongan. Ketika rahib mendatangi kembali rombongan yang ada Rasul didalamnya, beliau sedang berada di antara sekawanan unta. Rahib berkata, “Utuslah seseorang kepadanya (untuk menjemputnya kemari).” Lalu Rasul menemui rahib dan di atas beliau ada segumpal awan yang menaunginya. Tatkala rahib mendekati rombongan, ia mendapati orang-orang dalam rombongan tersebut tengah berebutan mendahului Rasul untuk berlindung dibawah naungan bayangan sebuah pohon. Ketika Rasul telah duduk, bayangan pohon tersebut bergerak merunduk menaungi beliau.

Rahib berkata, “Lihatlah oleh kalian! Bayangan pohon itu merunduk menaunginya!”

Abu Muusaa melanjutkan, “Sewaktu rahib berdiri menghadap rombongan, ia bersumpah kepada mereka agar tidak pergi menuju Romawi karena apabila orang-orang Romawi melihat Rasul niscaya mereka akan mengenalinya melalui sifat-sifat tersebut lalu mereka akan membunuhnya. Tiba-tiba rahib menoleh dan ada 7 orang yang baru kembali dari Romawi mendekati rombongan. Rahib pun menemui ketujuh orang tersebut dan bertanya, “Apa yang membuat kalian datang kemari?”

Mereka menjawab, “Kedatangan kami ingin memastikan bahwa sesungguhnya Nabi ini muncul pada bulan ini, karenanya tidak ada lagi jalan lain kecuali kami harus mengutus beberapa orang kepadanya. Sesungguhnya kami telah diberitahu mengenai khabar beritanya maka diutuslah kami menuju jalanmu ini.”

Rahib bertanya, “Apakah di belakang kalian ada orang yang lebih baik dari kalian?”

Mereka menjawab, “(Tidak) dan sesungguhnya kami telah diberitahu mengenai khabar beritanya yang hendak melewati jalanmu ini.”

Rahib bertanya kembali, “Bagaimana pendapat kalian terhadap sebuah perkara yang hendak Allah putuskan, apakah ada salah seorang dari manusia yang mampu menolaknya?

Mereka menjawab, “Tidak.”

Abu Muusaa melanjutkan, “Maka mereka membai’at sang rahib dan tinggal bersamanya. Rahib berkata kepada rombongan Quraisy, “Aku bersumpah kepada kalian dengan nama Allah, adakah diantara kalian yang menjadi wali anak ini (sehingga aku bisa menyuruhnya agar cepat kembali ke Makkah)?” Rombongan Quraisy serempak menjawab, “Abu Thaalib!” Lalu senantiasa sang rahib bersumpah kepada Abu Thaalib hingga akhirnya Abu Thaalib menjawabnya (dan segera kembali ke Makkah). Selanjutnya Abu Bakr mengutus Bilaal untuk mengawal Rasul dan sang rahib membekalinya dengan makanan kering yang dilumuri minyak.

~00~

Takhriij dan Derajat Kisah

Kisah diatas diriwayatkan Imam At-Tirmidziy rahimahullah dalam Jaami’nya no. 3620, beliau berkata :

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

“Hadits ini hadits hasan ghariib, kami tidak mengetahuinya melainkan dari jalur ini.”

Diriwayatkan pula oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 2/613; Al-Bazzaar dalam Musnad-nya no. 3096; Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy dalam Ad-Dalaa’il no. 109, Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Ad-Dalaa’il 2/24; Al-Ashbahaaniy Qawwaamus Sunnah dalam Dalaa’il-nya no. 19; Ibnu Jariir Ath-Thabariy dalam Taariikh-nya no. 392; Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya no. 32266 secara ringkas, dan no. 37538; Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq 3/4-7; semuanya dari jalan Abu Nuuh ‘Abdurrahman bin Ghazwaan atau akrab dipanggil Quraad Abu Nuuh[1].

Abu Bakr Al-Bazzaar rahimahullah berkata :

وَهَذَا الْحَدِيثُ لا نَعْلَمُ رَوَاهُ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوسَى، عَنْ أَبِيهِ إِلا يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ وَلا عَنْ يُونُسَ إِلا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَزْوَانَ الْمَعْرُوفُ بِقُرَادٍ

“Hadits ini tidak kami ketahui diriwayatkan dari Abu Bakr bin Abu Muusaa, dari Ayahnya, melainkan dari Yuunus bin Abu Ishaaq. Dan tidak pula kami ketahui diriwayatkan dari Yuunus melainkan dari ‘Abdurrahman bin Ghazwaan yang terkenal dengan nama Quraad.”

Al-Haakim rahimahullah berkata :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

“Hadits ini shahih sesuai syarat Asy-Syaikhain namun keduanya tidak mengeluarkannya.”

Asy-Syaikh Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy rahimahullah mengomentari sanad ini, yang kami kutip dari situs resmi beliau, http://www.alalbany.net/4911 :

وحسنه الترمذي وإسناده جيد وقد صححه الحاكم والجزري وقواه العسقلاني والسيوطي وقد بينت صحته على طريقة أهل الحديث قريباً في مجلة المسلمون العدد الثامن من سنة 1379 (ص 393 – 397) فليرجع إليه من أراد زيادة في التثبت

“At-Tirmidziy menghasankannya dan sanadnya jayyid. Al-Haakim dan Al-Jazariy telah menshahihkannya serta dikuatkan oleh Al-‘Asqalaaniy dan As-Suyuuthiy. Aku telah menjelaskan keshahihannya menurut thariqah (metode) para ahli hadits baru-baru ini pada majalah Al-Muslimuun edisi ke-8 tahun 1379 H, hal. 393-397. Maka rujuklah kesana bagi siapapun yang menginginkan tambahan demi tatsabbut (verifikasi).”

Dan terdapat jalur lain bagi kisah ini. Masih dalam situs yang sama, Asy-Syaikh Al-Albaaniy berkata :

وأما رواية أبي مجلز فأخرجها ابن سعد في الطبقات الكبرى (1 / 120 )، قال : أخبرنا خالد بن خداش : أخبرنا معتمر بن سليمان قال : سمعت أبي يحدث عن أبي مجلز أن عبد المطلب أو أبا طالب -شك خالد- قال : لما مات عبد الله عطف على محمد -صلى الله عليه وسلم-، قال فكان لا يسافر سفراً إلا كان معه فيه

“Adapun riwayat Abu Mijlaz, maka dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat Al-Kubraa 1/120, ia berkata : Khaalid bin Khidaasy mengkhabarkan kepada kami, Mu’tamir bin Sulaimaan mengkhabarkan kepada kami, ia berkata : aku mendengar Ayahku menceritakan dari Abu Mijlaz, bahwa ‘Abdul Muththalib, atau Abu Thaalib -Khaalid ragu-ragu, ia berkata, “Tatkala ‘Abdullaah telah wafat, Abu Thaalib sangat sayang kepada Muhammad -Shallallaahu ‘alaihi wasallam- hingga konon ia tidak pernah mengadakan safar kecuali membawa Muhammad turut serta… (al-hadits)

Kemudian Asy-Syaikh berkata :

وهذا إسناد مرسل صحيح ، فإن أبا مجلز واسمه لاحق بن حميد تابعي ، ثقة ، جليل ، احتج به الشيخان في صحيحيهما ، وبقية أصحاب الكتب الستة ، وأخذ الحديث عن جماعة من الصحابة منهم : عمران بن حصين ، وأم سلمة زوج النبي -صلى الله عليه وسلم- ، وأنس ، وجندب بن عبد الله ، وغيرهم ، ومن بينه وبين ابن سعد كلهم عدول ثقات ، احتج بهم مسلم في صحيحه

“Dan sanad hadits ini mursal shahih, karena Abu Mijlaz -namanya adalah Laahiq bin Humaid- adalah seorang tabi’in, ia seorang yang tsiqah lagi mulia, hadits-haditsnya dijadikan hujjah oleh Asy-Syaikhaan dalam kitab Shahih keduanya dan oleh para ulama penulis empat kitab sunan dari Kutubus Sittah. Abu Mijlaz mengambil hadits dari sejumlah sahabat, diantaranya : ‘Imraan bin Hushain, Ummu Salamah istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, Anas, Jundab bin ‘Abdillaah, dan selain mereka. Dan para perawi antara Abu Mijlaz dan Ibnu Sa’d semuanya adalah para perawi ‘adil dan tsiqah, Muslim menjadikan hadits-hadits mereka hujjah dalam kitab Shahih-nya.”

Demikian kutipan dari situs resmi Asy-Syaikh.

Tanbiih

Walaupun beberapa ulama telah menshahihkan kisah ini, namun ada beberapa bagian yang masih perlu dipertanyakan keabsahannya. Diantaranya adalah keabsahan nama Bahiiraa sebagai nama sang rahib Nashrani. Didalam riwayat bersanad dari Imam At-Tirmidziy diatas tidak disebutkan namanya melainkan hanya disebut dengan “Ar-Raahib”. Sementara nama Bahiiraa disebutkan oleh Ibnu Ishaaq dalam kitab Maghaaziy-nya dengan tanpa sanad, sebagaimana dinukil oleh Al-Haafizh rahimahullah dalam Al-Ishaabah, dan nama Bahiiraa juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Ad-Dalaa’il dengan sanad dari Al-Waaqidiy, demikian pula Ibnu Sa’d dalam Thabaqaat-nya meriwayatkan nama Bahiiraa dari Al-Waaqidiy, demikianlah nukilan Al-Haafizh dalam Al-Ishaabah 1/643-644. Namun sayangnya Al-Waaqidiy -namanya adalah Muhammad bin ‘Umar bin Waaqid, Abu ‘Abdillaah Al-Waaqidiy- adalah perawi yang disepakati kelemahannya dan ia matruuk.

Bagian lain yang menjadi pertanyaan adalah penyebutan sahabat Abu Bakr Ash-Shiddiiq dan Bilaal -radhiyallahu ‘anhuma- dalam kisah ini, dan hal ini diingkari oleh banyak ulama. Al-Haafizh Al-‘Asqalaaniy berkata dalam Al-Ishaabah 1/644 :

وزاد فيها لفظة منكرة، وهي قوله: وأتبعه أبو بكر بلالا، وسبب نكارتها أن أبا بكر حينئذ لم يكن متأهّلا، ولا اشترى يومئذ بلالا، إلا أن يحمل على أن هذه الجملة الأخيرة مقتطعة من حديث آخر أدرجت في هذا الحديث، وفي الجملة هي وهم من أحد رواته

“Dan ditambahkan didalamnya lafazh yang terdapat kemungkaran, lafazh tersebut adalah perkataannya : Abu Bakr mengiringi Rasulullah (bersama) Bilaal. Penyebab nakarah-nya lafazh ini adalah bahwa Abu Bakr ketika itu belumlah menikah dan hari itu ia belum membeli Bilaal (yang menjadi budak), hanya saja ada kemungkinan terbawanya kalimat terakhir yang terambil dari hadits lain lalu tersisipkan pada hadits ini, dan dalam kalimat tersebut ada kekeliruan yang berasal dari salah seorang perawinya.”

Perkataan Al-Haafizh dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy di dalam Shahiih Jaami’ At-Tirmidziy, bahwa penyebutan Abu Bakr dan Bilaal adalah mungkar.

Fa’idah

Fa’idah yang sangat besar dapat kita petik dari kisah ini, yaitu kebenaran firman Allah Tabaraka wa Ta’ala (dan Dia tidak pernah menyelisihi janjiNya) mengenai akan datangnya Rasul akhir zaman yang telah dinubuatkan oleh para Nabi dan Rasul sebelum Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam, termasuk ‘Iisaa bin Maryam ‘alaihimassalaam. Nabi ‘Iisaa berkata sebagaimana difirmankan Allah :

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

“Wahai bani Isra’il, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” [QS Ash-Shaff : 6]

Kemudian ternyata Taurat dan Injil turut pula mengkhabarkan mengenai sifat-sifat sang Rasul akhir zaman tersebut berikut para pengikutnya yang beriman kepadanya. Allah Ta’ala berfirman :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil.” [QS Al-Fath : 29]

Walaupun telah ma’ruf bahwasanya Taurat dan Injil telah banyak diubah isinya atau ditahrif (dipalingkan makna ayat-ayatnya) oleh para rahib Yahudi maupun Nashrani, namun cahaya kebenaran tetaplah cahaya walau sinarnya redup. Allah Ta’ala menjaga ayat-ayat Taurat dan Injil yang mengkhabarkan mengenai Rasulullah Muhammad sehingga selamat dari tahrif orang-orang kafir paganis yang hendak memadamkan cahaya Allah. Ini tidaklah tersembunyi dari para rahib atau pendeta[2] yang masih mempunyai sifat inshaf ketika mereka meneliti Taurat atau Injil, bahwasanya memang terdapat beberapa nubuat mengenai kedatangan sang Rasul akhir zaman yang akan menerangi dunia dengan cahaya tauhid serta syari’at yang dibawanya adalah syari’at untuk seluruh alam, bukan untuk sebagian masyarakat atau kaum saja. Dan sang Rasul berasal dari bani Ismaa’iil, bukan bani Ishaaq.

Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.” [QS Al-An’aam : 20]

Nubuat ini pun telah diketahui oleh Bahiiraa, sang rahib Nashrani, sebelum kelahiran Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika di hadapannya lewat kafilah dagang Quraisy yang mengikut sertakan Muhammad remaja, tahulah Bahiiraa bahwasanya sang Rasul tersebut telah muncul dari tanda-tanda alam yang menyertai beliau serta dari stempel kenabian yang ada pada tubuh beliau. Oleh karenanya ia lekas-lekas menyuruh Abu Thaalib agar tidak melanjutkan perjalanan dagang ke Syaam karena disana orang-orang Yahudi akan berusaha untuk membunuh Muhammad, serta bersegera untuk kembali ke Makkah karena bukan mustahil ada beberapa orang Yahudi yang mengetahui bahwasanya ada kafilah dagang Quraisy yang membawa Muhammad, dan jika mereka mengetahuinya, maka mereka akan berusaha pula untuk membunuh beliau.

Selesai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kami dan saudara-saudara kami kaum muslimin.
Wallaahu a’lam.

Footnotes :

[1] ‘Abdurrahman bin Ghazwaan Al-Khuzaa’iy, atau Adh-Dhabbiy, Quraad Abu Nuuh. Ahmad berkata “ia termasuk para perawi yang berilmu”; Yahyaa bin Ma’iin dan Abu Haatim berkata “shaalih”, Ibnu Ma’iin menambahkan “tidak ada yang salah padanya”; Ibnul Madiiniy, Ibnu Numair dan Ya’quub bin Syaibah berkata “tsiqah”, Ibnu Numair menambahkan “hanya saja tidak ada perawi yang lebih senior meriwayatkan darinya”, Al-Haafizh berkata “tsiqah, ia mempunyai riwayat yang ia bersendirian padanya”. Dipakai Al-Bukhaariy dalam Kitab Shahih, Abu Daawud, At-Tirmidziy dan An-Nasaa’iy. [Tahdziibul Kamaal no. 3927; Taqriibut Tahdziib no. 3977]

[2] Ada seorang profesor mantan pendeta yang meneliti dan mengumpulkan nubuat-nubuat kedatangan Nabi Muhammad yang terdapat dalam kitab Injil. Namanya ketika masih beragama Nashrani adalah David Benjamin Kaldani, dan ketika memeluk Islam ia mengubah namanya menjadi ‘Abdul Ahad Daawud. Hasil penelitian tersebut ia kumpulkan dalam sebuah buku yang telah dialih bahasakan ke dalam bahasa Arab berjudul :

محمد صلى الله عليه وسلم كما ورد في كتاب اليهود والنصارى

Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam kamaa wurida fiy Kitaab Al-Yahuud wa An-Nashaaraa

Didalamnya, ia memaparkan bukti-bukti yang nyata bahwa memang benar Injil telah menubuatkan mengenai Nabi Muhammad sebagai Rasul akhir zaman. Ia menjelaskan ayat-ayat Injil tersebut serta menerangkan tahrif yang dilakukan oleh para pendeta penulis Injil, lalu membantah pula syubhat-syubhat mereka. Alhamdulillah, buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Pustaka Almahira dengan judul “Muhammad in the Bible“, oleh karena itu kami menyarankan kepada para pembaca yang memang antusias ingin mengetahui hal ini agar merujuk pada buku tersebut.

* * * * *

2 thoughts on “Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Bahiiraa Sang Rahib

  1. Terima kasih atas ilmunya. Izin tanya, adakah keterangan tentang usia Rasul pada saat kisah tersebut terjadi?
    Barakallahu fiikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s