Kisah Lelaki Kaum Anshar yang Diculik Jin Berikut Faidah-faidahnya

missing

Kisah yang ‘ajib ini terjadi di zaman Khulafa’ur Rasyidin yang kedua yaitu ‘Umar bin Al-Khaththaab radhiyallaahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah, beliau menuturkan :

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، وَأَبُو مُحَمَّدٍ عُبَيْدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ مَهْدِيٍّ لَفْظًا، قَالا: نا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، نا يَحْيَى بْنُ أَبِي طَالِبٍ، أنا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَطَاءٍ، نا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، ” أَنَّ رَجُلا مِنْ قَوْمِهِ مِنَ الأَنْصَارِ خَرَجَ يُصَلِّي مَعَ قَوْمِهِ الْعِشَاءَ فَسَبَتْهُ الْجِنُّ فَفُقِدَ، فَانْطَلَقَتِ امْرَأَتُهُ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَصَّتْ عَلَيْهِ الْقِصَّةَ فَسَأَلَ عَنْهُ عُمَرُ قَوْمَهُ، فَقَالُوا: نَعَمْ، خَرَجَ يُصَلِّي الْعِشَاءَ فَفُقِدَ، فَأَمَرَهَا أَنْ تَرَبَّصَ أَرْبَعَ سِنِينَ، فَلَمَّا مَضَتِ الأَرْبَعُ سِنِينَ أَتَتْهُ فَأَخْبَرَتْهُ فَسَأَلَ قَوْمَهَا، فَقَالُوا: نَعَمْ، فَأَمَرَهَا أَنْ تَتَزَوَّجَ فَتَزَوَّجَتْ فَجَاءَ زَوْجُهَا يُخَاصِمُ فِي ذَلِكَ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: يَغِيبُ أَحَدُكُمُ الزَّمَانَ الطَّوِيلَ لا يَعْلَمُ أَهْلُهُ حَيَاتَهُ، فَقَالَ لَهُ: إِنَّ لِي عُذْرًا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، قَالَ: وَمَا عُذْرُكَ؟ قَالَ: خَرَجْتُ أُصَلِّي الْعِشَاءَ فَسَبَتْنِي الْجِنُّ فَلَبِثْتُ فِيهِمْ زَمَانًا طَوِيلا فَغَزَاهُمْ جِنٌّ مُؤْمِنُونَ، أَوْ قَالَ: مُسْلِمُونَ، شَكَّ سَعِيدٌ فَقَاتَلُوهُمْ فَظَهَرُوا عَلَيْهِمْ فَسَبَوْا مِنْهُمْ سَبَايَا فَسَبَوْنِي فِيمَا سَبَوْا مِنْهُمْ، فَقَالُوا: نَرَاكَ رَجُلا مُسْلِمًا وَلا يَحِلُّ لَنَا سَبْيُكَ فَخَيَّرُونِي بَيْنَ الْمُقَامِ وَبَيْنَ الْقُفُولِ إِلَى أَهْلِي فَاخْتَرْتُ الْقُفُولَ إِلَى أَهْلِي فَأَقْبَلُوا مَعِي أَمَّا بِاللَّيْلِ فَلَيْسَ يُحَدِّثُونِي وَأَمَّا بِالنَّهَارِ فَعِصَارُ رِيحٍ أَتْبَعُهَا، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: فَمَا كَانَ طَعَامُكَ فِيهِمْ؟ قَالَ: الْفُولُ وَمَا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ، قَالَ: فَمَا كَانَ شَرَابُكَ فِيهِمْ؟ قَالَ: الْجَدَفُ، قَالَ قَتَادَةُ: وَالْجَدَفُ مَا لا يُخَمَّرُ مِنَ الشَّرَابِ، قَالَ: فَخَيَّرَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَيْنَ الصَّدَاقِ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ

Abu ‘Abdillaah Al-Haafizh dan Abu Muhammad ‘Ubaid bin Muhammad bin Muhammad bin Mahdiy telah mengkhabari kami -secara lafazh-, keduanya berkata, Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub telah mengkhabari kami, Yahyaa bin Abi Thaalib telah mengkhabari kami, ‘Abdul Wahhaab bin ‘Athaa’ telah memberitakan kami, Sa’iid telah mengkhabari kami, dari Qataadah, dari Abu Nadhrah, dari ‘Abdurrahman bin Abi Lailaa :

“Bahwasanya ada seorang lelaki dari kaumnya Ibnu Abi Lailaa yaitu kaum Anshar yang keluar untuk shalat ‘Isya bersama mereka. Tiba-tiba jin menawan lelaki tersebut dan hilanglah ia tak berbekas. Serta merta pergilah istri si lelaki kepada ‘Umar bin Al-Khaththaab radhiyallaahu ‘anhu lalu ia melapor kepada ‘Umar atas kejadian yang menimpa suaminya, kemudian ‘Umar pun bertanya kepada kaum Anshar perihal lelaki tersebut. Mereka menjelaskan, “Benar, ia keluar untuk shalat ‘Isya dan tahu-tahu ia menghilang!” Maka ‘Umar memerintahkan kepada istri si lelaki untuk menahan diri selama 4 tahun.

Ketika telah berlalu masa 4 tahun, ia kembali mendatangi ‘Umar dan memberitahukan keadaannya (yang telah menunggu hingga lewat masa 4 tahun) kepada ‘Umar. Lalu ‘Umar pun bertanya kepada kaum si wanita (mengenai kebenaran perkataannya). Mereka menjawab, “Benar!” Kemudian ‘Umar memerintahkan wanita tersebut agar menikah lagi dan ia pun menikah (dengan lelaki lainnya).

Tiba-tiba datanglah suaminya yang telah menghilang selama 4 tahun tersebut (dan ia mengetahui istrinya telah menikah lagi) lantas ia mendebat ‘Umar bin Al-Khaththaab mengenai hal ini.

‘Umar berkata, “Salah seorang dari kalian raib dalam rentang waktu yang demikian lama, keluarganya pun tidak ada yang mengetahui mengenai keberadaannya.”

Sang lelaki berusaha menjelaskan kepada ‘Umar, “Sesungguhnya diriku mempunyai ‘udzur, wahai amiirul mu’miniin!”

‘Umar bertanya, “Apa ‘udzurmu?”

Sang lelaki menceritakan kisah yang dialaminya, “Aku keluar untuk shalat ‘Isya dan tahu-tahu ada jin yang menawanku. Maka aku menetap di alam mereka selama rentang waktu yang panjang. Dan ada sekelompok jin mu’min -atau jin muslim, Sa’iid (salah seorang perawi kisah) ragu- yang memerangi jin-jin kafir tersebut, lantas kelompok jin mu’min berhasil menaklukkan kelompok jin kafir lalu para jin mu’min menawan para tawanan yang pernah ditawan para jin kafir dan aku termasuk ke dalam kelompok tawanan yang direbut dari mereka. Para jin mu’min berkata, “Kami melihatmu sebagai seorang lelaki muslim dan tidak halal bagi kami untuk menawan kamu.” Kemudian mereka memberiku pilihan antara tetap tinggal (di alam jin tersebut) atau kembali ke keluargaku, aku pun memilih kembali ke keluargaku dan para jin mu’min pun membebaskanku. Ketika malam hari tiba maka mereka tidak lagi berbicara denganku, dan adapun pada siang hari maka saat itulah ada deru angin yang aku mengikutinya (hingga aku dapat keluar dari alam mereka).”

‘Umar bertanya, “Apa makananmu ketika bersama mereka?”

Lelaki tersebut menjawab, “Sejenis kacang-kacangan dan segala sesuatu yang tidak disebut nama Allah padanya.”

‘Umar bertanya kembali, “Dan apa minumanmu ketika bersama mereka?”

Si lelaki menjawab, “Al-Jadaf.”

-Qataadah menjelaskan, “Al-Jadaf adalah segala jenis minuman yang tidak ditutup.”-

Akhirnya, ‘Umar pun memberi pilihan untuk si lelaki antara mahar dan istrinya.”

[Sunan Al-Kubraa li Al-Baihaqiy 7/733, Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah]

Takhrij dan Derajat Kisah

Sa’iid dalam sanad kisah diatas adalah Sa’iid bin Abi ‘Aruubah Al-Yasykuriy, Abu An-Nadhr Al-Bashriy. Al-Haafizh dalam Taqriib-nya no. 2365 berkata, “Tsiqah haafizh, mempunyai karya-karya tulis namun banyak melakukan tadlis dan mengalami ikhtilath (di akhir usianya), ia orang yang paling mengetahui hadits Qataadah.”

Dari keterangan Al-Haafizh diatas, maka diketahui bahwa an’anah-nya dari Qataadah tidak membahayakan sanad. Adapun penyimakan ‘Abdul Wahhaab bin ‘Athaa’ dari Sa’iid, maka penyimakannya tersebut dipakai oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya. Silahkan lihat Tahdziibul Kamaal no. 3605, dan pembahasan Jarh wa Ta’diil-nya.

Abu Nadhrah adalah Al-Mundzir bin Maalik bin Qutha’ah Al-‘Abdiy, masyhur dengan nama kuniyahnya, ia perawi Muslim dan dipakai Al-Bukhaariy secara mu’allaq. Tsiqah, demikian kata Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 6890.

Sanad lain untuk kisah ini :

قَالَ سَعِيدٌ: وَحَدَّثَنِي مَطَرٌ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلَ حَدِيثِ قَتَادَةَ، إِلا أَنَّ مَطَرًا زَادَ فِيهِ: قَالَ: أَمَرَهَا أَنْ تَعْتَدَّ أَرْبَعَ سِنِينَ وَأَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا. قَالَ: وَأنا عَبْدُ الْوَهَّابِ، أنا أَبُو مَسْعُودٍ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِثْلَ مَا رَوَى قَتَادَةُ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ. وَرَوَاهُ ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى مُخْتَصَرًا، وَزَادَ فِيهِ: قَالَ: ” فَخَيَّرَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَيْنَ الصَّدَاقِ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ فَاخْتَارَ الصَّدَاقَ “، قَالَ حَمَّادٌ: وَأَحْسَبُهُ، قَالَ: فَأَعْطَاهُ الصَّدَاقَ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ “. أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ، أنا أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ الْقَطَّانُ، نا إِسْحَاقُ بْنُ الْحَسَنِ الْحَرْبِيُّ، نا عَفَّانُ، نا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، أنا ثَابِتٌ، فَذَكَرَهُ

Sa’iid berkata, dan Mathar menceritakan kepadaku, dari Abu Nadhrah, dari ‘Abdurrahman bin Abu Lailaa, dari ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu semisal hadits Qataadah, hanya saja Mathar menambahkan kalimat, “‘Umar memerintahkan si wanita untuk ber-‘iddah selama 4 tahun 4 bulan 10 hari.”

‘Abdul Wahhaab memberitakan kami, Abu Mas’uud Al-Jurairiy memberitakan kami, dari Abu Nadhrah, dari ‘Abdurrahman bin Abu Lailaa, dari ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu semisal hadits yang diriwayatkan Qataadah, dari Abu Nadhrah.

Dan diriwayatkan Tsaabit Al-Bunaaniy, dari ‘Abdurrahman bin Abu Lailaa secara ringkas, dengan penambahan didalamnya, “Maka ‘Umar memberi pilihan untuk si lelaki antara mahar dan istrinya, lantas si lelaki memilih mahar.” Hammaad berkata, “Aku mengiranya berkata, “Lantas ‘Umar memberikan mahar untuknya dari baitul mal.” Abul Husain bin Al-Fadhl Al-Qaththaan mengkhabari kami, Abu Sahl bin Ziyaad Al-Qaththaan memberitakan kami, Ishaaq bin Al-Hasan Al-Harbiy mengkhabari kami, ‘Affaan mengkhabari kami, Hammaad bin Salamah mengkhabari kami, Tsaabit memberitakan kami, kemudian menyebutkan haditsnya.

(Sunan Al-Kubraa 7/733-734)

– Sanad pertama : Mathar, namanya adalah Mathar bin Thuhmaan Al-Warraaq, Abu Rajaa’ Al-Khuraasaaniy, Al-Haafizh dalam Taqriib-nya no. 6699 berkata, “Shaduuq, banyak kelirunya, terkhusus haditsnya dari ‘Athaa’ maka dha’if.”

– Sanad kedua : Abu Mas’uud Al-Jurairy, namanya adalah Sa’iid bin Iyaas Al-Jurairiy, Abu Mas’uud Al-Bashriy. Seorang yang tsiqah namun mengalami ikhtilath 3 tahun sebelum wafatnya, demikian kata Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 2273. Mengenai ‘Abdul Wahhaab yang menyimak dari Al-Jurairy, maka ada 2 kemungkinan perawi yaitu ‘Abdul Wahhaab bin ‘Athaa’ atau ‘Abdul Wahhaab bin ‘Abdil Majiid Ats-Tsaqafiy. Jika ‘Abdul Wahhaab bin ‘Athaa’, maka penyimakannya dha’if karena tidak diketahui apakah ia mendengar dari Al-Jurariy sebelum atau setelah ikhtilath-nya. Jika ‘Abdul Wahhaab bin ‘Abdil Majiid Ats-Tsaqafiy, maka penyimakannya shahih karena ia mendengar dari Al-Jurairiy sebelum ikhtilath. Lihat Al-Mukhtalithiin hal. 37 bagian catatan kaki oleh muhaqqiq.

– Sanad ketiga : ‘Affaan bin Muslim dan Tsaabit Al-Bunaaniy adalah perawi Asy-Syaikhain, sedangkan Hammaad bin Salamah adalah perawi Muslim.

Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menshahihkan kisah ini dalam At-Tamhiid 12/184, beliau berkata :

هَذَا خَبَرٌ صَحِيحٌ مِنْ رِوَايَةِ الْعِرَاقِيِّينَ وَالْمَكِّيِّينَ مَشْهُورٌ

“Ini adalah khabar shahih dari riwayat penduduk ‘Iraaq dan Makkah yang masyhur.”

Demikian pula Asy-Syaikh Naashiruddiin Al-Albaaniy rahimahullah dalam Irwaa’ Al-Ghaliil 6/151, beliau berkata :

وإسناده من طريق قتادة والجريرى صحيح , وأما طريق مطر وهو الوراق فإنه ضعيف

“Dan sanadnya shahih dari jalur Qataadah dan Al-Jurairiy[1], adapun jalur Mathar -ia adalah Al-Warraaq- maka ia dha’if.”

Kandungan Hukum Fiqh Terkait Kisah

Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Muhammad bin Ismaa’iil Ash-Shan’aaniy rahimahullah berkata :

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَذْهَبَ عُمَرَ أَنَّ امْرَأَةَ الْمَفْقُودِ بَعْدَ مُضِيِّ أَرْبَعِ سِنِينَ مِنْ يَوْمِ رَفَعَتْ أَمْرَهَا إلَى الْحَاكِمِ تَبِينُ مِنْ زَوْجِهَا كَمَا يُفِيدُهُ ظَاهِرُ رِوَايَةِ الْكِتَابِ، وَإِنْ كَانَتْ رِوَايَةُ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ دَالَّةً عَلَى أَنَّهُ يَأْمُرُ الْحَاكِمُ وَلِيَّ الْفَقِيدِ بِطَلَاقِ امْرَأَتِهِ، وَقَدْ ذَهَبَ إلَى هَذَا مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ، وَهُوَ أَحَدُ قَوْلَيْ الشَّافِعِيِّ وَجَمَاعَةٌ مِنْ الصَّحَابَةِ بِدَلِيلِ فِعْلِ عُمَرَ وَذَهَبَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ وَرِوَايَةٌ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَحَدُ قَوْلَيْ الشَّافِعِيِّ إلَى أَنَّهَا لَا تَخْرُجُ عَنْ الزَّوْجِيَّةِ حَتَّى يَصِحَّ لَهَا مَوْتُهُ، أَوْ طَلَاقُهُ، أَوْ رِدَّتُهُ، وَلَا بُدَّ مِنْ تَيَقُّنِ ذَلِكَ قَالُوا: لِأَنَّ عَقْدَهَا ثَابِتٌ بِيَقِينٍ، فَلَا يَرْتَفِعُ إلَّا بِيَقِينٍ وَعَلَيْهِ يَدُلُّ مَا رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ عَنْ عَلِيٍّ مَوْقُوفًا : امْرَأَةُ الْمَفْقُودِ امْرَأَةٌ اُبْتُلِيَتْ فَلْتَصْبِرْ حَتَّى يَأْتِيَهَا يَقِينُ مَوْتِهِ

“Didalam kisah ini terdapat dalil atas madzhab yang dianut ‘Umar tentang istri dari orang yang hilang setelah melewati masa 4 tahun terhitung dari hari si istri mengangkat perkaranya kepada hakim mengenai perpisahannya dari suaminya sebagaimana si istri memberitahukannya dan nampak pada riwayat kitab, dan adapun didalam riwayat Ibnu Abi Syaibah[2] menunjukkan bahwa hakim memerintahkan wali dari suami yang hilang tersebut untuk mentalak si istri. Mereka yang berpendapat seperti ini adalah Maalik, Ahmad, dan Ishaaq, dan ini adalah salah satu dari dua pendapat Asy-Syaafi’iy[3] serta sejumlah sahabat dengan dalil perbuatan ‘Umar.

Sementara Abu Yuusuf, Muhammad (bin Al-Hasan), dan riwayat dari Abu Haniifah serta Asy-Syaafi’iy dalam pendapatnya yang lain[4] berpendapat bahwa si istri tidak boleh melepaskan ikatan suami-istri hingga telah jelas baginya kematian suaminya, atau kalimat talak darinya, atau murtadnya si suami dan ia harus memastikan hal yang demikian. Mereka berkata, “Karena ikatan nikah si istri telah tetap dengan keyakinan, maka ikatan tersebut tidak bisa dihilangkan kecuali dengan sesuatu yang yakin pula.” Hal ini ditunjukkan dari khabar yang diriwayatkan Asy-Syaafi’iy dari ‘Aliy secara mauquuf : Istri dari seseorang yang hilang adalah istri yang sedang diuji, maka ia bersabar (menahan diri) hingga keyakinan akan kematian suaminya menjadi jelas[5].
[Subulus Salaam 2/303]

Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy rahimahullah berkata :

مَذْهَبَ الزُّهْرِيِّ فِي امْرَأَةِ الْمَفْقُودِ أَنَّهَا تَرَبَّصُ أَرْبَعَ سِنِينَ وَقَدْ أَخْرَجَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ وَسَعِيد بن مَنْصُور وبن أَبِي شَيْبَةَ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ عَنْ عُمَرَ مِنْهَا لِعَبْدِ الرَّزَّاقِ مِنْ طَرِيقِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ عُمَرَ وَعُثْمَانَ قَضَيَا بِذَلِكَ وَأَخْرَجَ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنْ بن عمر وبن عَبَّاسٍ قَالَا تَنْتَظِرُ امْرَأَةُ الْمَفْقُودِ أَرْبَعَ سِنِينَ وَثَبت أَيْضا عَن عُثْمَان وبن مَسْعُودٍ فِي رِوَايَةٍ وَعَنْ جَمْعٍ مِنَ التَّابِعِينَ كَالنَّخَعِيِّ وَعَطَاءٍ وَالزُّهْرِيِّ وَمَكْحُولٍ وَالشَّعْبِيِّ وَاتَّفَقَ أَكْثَرُهُمْ عَلَى أَنَّ التَّأْجِيلَ مِنْ يَوْمِ تَرْفَعُ أَمْرَهَا لِلْحَاكِمِ وَعَلَى أَنَّهَا تَعْتَدُّ عِدَّةَ الْوَفَاةِ بَعْدَ مُضِيِّ الْأَرْبَعِ سِنِينَ وَاتَّفَقُوا أَيْضًا عَلَى أَنَّهَا إِنْ تَزَوَّجَتْ فَجَاءَ الزَّوْجُ الْأَوَّلُ خُيِّرَ بَيْنَ زَوْجَتِهِ وَبَيْنَ الصَّدَاقَ

“Madzhab Az-Zuhriy dalam perkara istri dari orang yang hilang adalah bahwa si istri menahan diri hingga 4 tahun. ‘Abdurrazzaaq, Sa’iid bin Manshuur dan Ibnu Abi Syaibah telah mengeluarkan riwayat dari ‘Umar dengan sanad-sanad yang shahih, salah satunya pada ‘Abdurrazzaaq dari jalur Az-Zuhriy, dari Sa’iid bin Al-Musayyab bahwa ‘Umar dan ‘Utsmaan menghukumi dengan keputusan yang demikian. Dan dikeluarkan oleh Sa’iid bin Manshuur dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbaas, keduanya berkata : si istri menunggu 4 tahun, demikian pula telah tsabit dari ‘Utsmaan dan Ibnu Mas’uud dalam sebuah riwayat, juga dari sejumlah tabi’in seperti An-Nakha’iy, ‘Athaa’, Az-Zuhriy, Makhuul, Asy-Sya’biy dan sepakatnya mayoritas dari mereka bahwa waktu menunggu dimulai dari hari diangkatnya perkara si istri tersebut kepada hakim, lalu wajib atasnya menjalani masa ‘iddah kematian setelah berlalu 4 tahun. Mereka bersepakat pula bahwa jika si istri menikah lagi (setelah lewat masa ‘iddah) kemudian datanglah suaminya yang hilang tersebut dan ia diberi pilihan antara istrinya atau mahar.”
[Fathul Baariy 9/431]

Inilah pendapat-pendapat fiqh dari madzhab-madzhab yang ada dalam masalah mengenai istri dari seseorang yang menghilang. Dan sesungguhnya dalam pemaparan berikutnya terdapat tafshil dari masing-masing masalah seperti sebab-sebab menghilangnya si suami, misalnya karena ternyata ia menghilang demi menuntut ilmu, menghilang karena menikah diam-diam dan ia mengabaikan istri pertamanya, atau bagaimana jika ternyata mereka sudah punya anak sementara si suami menghilang dan tak pernah kembali. Dan kami mencukupkan diri pada pemaparan secara umum seperti diatas dikarenakan kami khawatir pembahasan akan melebar. Kami persilahkan para pembaca agar merujuk kepada kitab-kitab fiqh demi pembahasan yang lebih luas.

Fawa’id Lain dari Kisah

Sesungguhnya dalam kejadian-kejadian yang dialami para salaf atau terjadi pada masa salaf terdapat hikmah atau faidah yang banyak yang bisa diambil disamping hukum fiqh yang timbul karenanya. Salah satu hikmah dari kisah ini adalah mengenai para jin :

1. Bahwasanya kejadian-kejadian yang terjadi diluar akal sehat seperti jin-jin kafir yang kerap kali menzhalimi manusia dengan cara-cara yang aneh, adalah haq dan benar terjadi, sebagaimana dalam kisah yaitu seorang lelaki Anshar yang ditawan jin kafir, hilang tak berbekas hingga kerabat dan kaumnya tidak mengetahui kemana perginya dan ia pun baru muncul beberapa tahun kemudian ketika istrinya telah menikah lagi. Benarlah sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam :

خَمِّرُوا الْآنِيَةَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَأَجِيفُوا الْأَبْوَابَ وَاكْفِتُوا صِبْيَانَكُمْ عِنْدَ الْعِشَاءِ فَإِنَّ لِلْجِنِّ انْتِشَارًا وَخَطْفَةً

“Tutuplah bejana, ikatlah tempat minuman kalian, tutuplah pintu-pintu, dan tahanlah anak-anak kalian (di rumah) ketika tiba waktu ‘Isya’ karena sesungguhnya para jin sedang berkeliaran dan kerap menculik.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 3316]

2. Kejadian ini terjadi di masa kekhalifahan ‘Umar, yang mana termasuk masa 3 generasi terbaik sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan telah ma’ruf bagi kita bahwa pada masa tersebut kaum muslimin masih belum jauh dari masa Nubuwwah dan masih banyak para sahabat. Hikmahnya adalah, pada zaman tersebut yang termasuk sebaik-baik zaman dan sebaik-baik kaum muslimin, para jin kafir masih bisa berbuat zhalim, maka bagaimanakah lagi dengan zaman sekarang yang kaum musliminnya sendiri banyak yang tidak mengenal agamanya, banyak yang jauh dari tauhid serta banyak yang mengambil dukun untuk memecahkan masalah. Wal’iyadzubillaah.

3. Bermacam-macamnya keadaan para jin, ada yang muslim/mu’min, kafir, fasiq, Yahudi, Nashrani, dan lain-lain sebagaimana keadaan manusia.

4. Para jin mu’min kerapkali berperang melawan para jin kafir sebagaimana bertempurnya kaum muslimin melawan orang-orang kafir.

5. Alam jin, adalah benar adanya, yaitu alam yang dihuni oleh jin dan ia adalah alam ghaib yang hanya Allah yang Maha Mengetahui bagaimana hakikat alam tersebut. Oleh karenanya, jin adalah makhluk ghaib bagi manusia.

6. Makanan para jin (terutama jin kafir yang kerap mengganggu manusia) adalah sejenis kacang-kacangan dan segala sesuatu yang tidak disebut nama Allah. Dalam sebuah sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah bersabda :

ابْغِنِي أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا وَلَا تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلَا بِرَوْثَةٍ، فَقُلْتُ مَا بَالُ الْعَظْمِ وَالرَّوْثَةِ؟ قَالَ هُمَا مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ

“Carikan aku beberapa buah batu yang akan kugunakan untuk bersuci dengannya dan jangan kau bawakan aku tulang dan kotoran hewan.” Aku (Abu Hurairah) bertanya, “Ada apa dengan tulang dan kotoran hewan?” Rasul bersabda, “Keduanya adalah makanan jin.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 155]

Dan sungguh benarlah beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam tatkala menganjurkan kepada umatnya agar tidak lupa membaca basmalah ketika akan makan, agar para jin tidak ikut mengambil bagiannya :

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

“Jika salah seorang dari kalian sedang (memulai) memakan makanan, maka ucapkanlah : Bismillaah. Apabila ia lupa di awal, maka ucapkanlah : Bismillaahi fiy awwalihi wa aakhirihi.”
[Jaami’ At-Tirmidziy no. 1858]

Dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yamaan radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya setan akan mendapatkan makanan yang tidak disebut nama Allah padanya.”
[Shahiih Muslim no. 2020; Musnad Ahmad no. 22737]

7. Para jin meminum minuman-minuman dari bejana-bejana atau tempat minum yang tidak ditutupi sehingga beberapa jenis minuman ada yang mengalami proses fermentasi dan menjadi khamr. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menganjurkan agar umatnya selalu menutup tempat-tempat minuman sebagaimana dalam hadits yang telah berlalu, agar para jin tidak mengambil bagian darinya.

Sebagai penutup, izinkan kami menukil kalam Asy-Syaikh Wahiid bin ‘Abdissalaam Baaliy hafizhahullah, beliau berkata :

إن من أسس العقيدة الإسلامية الإيمان بالغيب، بل هو أول صفة وصف الله تبارك تعالى بها المتقين في كتابه حيث قال : [الم، ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ، الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ]. ولذا يجب على كل مسلم أن يؤمن بالغيب إيمانا لا يساوره ريب ولا يعتريه شك، والغيب هو ما غاب عنا وأخبرنا الله عز وجل أو رسوله صلى الله عليه وسلم كما قال إبن مسعود رضي الله عنه، والجن من الغيب الذي يجب أن يؤمن به حيث تضافرت الأدلة على وجوده قرآنا وسنة

“Sesungguhnya diantara pokok ‘aqidah agama Islam adalah beriman kepada hal-hal ghaib, bahkan perkara ini adalah sifat orang-orang bertaqwa yang pertama kali Allah Tabaraka wa Ta’ala sifati dalam kitabNya, dimana Dia berfirman :

“Alif Laam Miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada hal-hal yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka.” [QS Al-Baqarah : 1-3]

Karena itu, wajib bagi setiap muslim agar mengimani hal-hal ghaib dengan penuh keyakinan, tidak terpengaruh oleh keraguan dan tidak terserang oleh kebimbangan. Sedangkan makna ghaib adalah segala sesuatu yang tidak nampak oleh kita dan Allah ‘Azza wa Jalla atau RasulNya Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabari kita akan hal yang demikian sebagaimana keterangan Ibnu Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu. Jin termasuk makhluk ghaib yang wajib bagi seorang mu’min mengimani keberadaannya dimana sejumlah dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah telah menunjukkan akan keberadaan mereka.” Selesai.
[Wiqaayah Al-Insaan min Al-Jinn wa Asy-Syaithaan hal. 21, Maktabah At-Taabi’iin]

Dalil-dalil Al-Qur’an yang dimaksud adalah :

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an.” [QS Al-Ahqaaf : 29]

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ

“Wahai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah! Kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan. [QS Ar-Rahman : 33]

Sementara dalil As-Sunnah adalah, sebagaimana telah disebutkan diatas, dari Ibnu Mas’uud, ia berkata :

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَفَقَدْنَاهُ فَالْتَمَسْنَاهُ فِي الْأَوْدِيَةِ وَالشِّعَابِ فَقُلْنَا اسْتُطِيرَ أَوْ اغْتِيلَ قَالَ فَبِتْنَا بِشَرِّ لَيْلَةٍ بَاتَ بِهَا قَوْمٌ فَلَمَّا أَصْبَحْنَا إِذَا هُوَ جَاءٍ مِنْ قِبَلَ حِرَاءٍ قَالَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَدْنَاكَ فَطَلَبْنَاكَ فَلَمْ نَجِدْكَ فَبِتْنَا بِشَرِّ لَيْلَةٍ بَاتَ بِهَا قَوْمٌ فَقَالَ أَتَانِي دَاعِي الْجِنِّ فَذَهَبْتُ مَعَهُ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمْ الْقُرْآنَ قَالَ فَانْطَلَقَ بِنَا فَأَرَانَا آثَارَهُمْ وَآثَارَ نِيرَانِهِمْ وَسَأَلُوهُ الزَّادَ فَقَالَ لَكُمْ كُلُّ عَظْمٍ ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ يَقَعُ فِي أَيْدِيكُمْ أَوْفَرَ مَا يَكُونُ لَحْمًا وَكُلُّ بَعْرَةٍ عَلَفٌ لِدَوَابِّكُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَسْتَنْجُوا بِهِمَا فَإِنَّهُمَا طَعَامُ إِخْوَانِكُمْ

“Kami pernah bersama Rasulullah pada suatu malam, lalu kami kehilangan beliau sehingga kami mencarinya di lembah-lembah dan jalan-jalan setapak yang melewati gunung, hingga akhirnya kami berkata, “Beliau diterbangkan sesuatu atau beliau telah dibunuh secara diam-diam.” Maka kami bermalam dengan malam yang buruk bersama sejumlah kaum. Pada pagi harinya, sekonyong-konyong datanglah beliau dari arah Hiraa’. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah kehilanganmu lalu mencarimu, namun kami tidak mendapatkanmu hingga kami bermalam dengan malam yang buruk bersama sejumlah kaum.”

Beliau menjelaskan, “Seorang da’i dari kalangan jin telah mendatangiku semalam maka aku pergi bersamanya, lalu aku membaca Al-Qur’an di hadapan mereka.” Ibnu Mas’uud melanjutkan, “Lalu beliau beranjak pergi bersama kami untuk menunjukkan jejak-jejak mereka dan bekas perapian mereka. Dan mereka meminta bekal kepada Rasulullah, maka beliau bersabda, “Kalian mendapatkan setiap tulang yang disebutkan nama Allah atasnya (ketika disembelih), yang mana di tangan kalian lebih banyak menjadi daging dan setiap kotoran hewan adalah makanan untuk hewan tunggangan kalian.” Akhirnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, “Oleh karenanya janganlah kalian ber-istinja’ dengan keduanya (yaitu tulang dan kotoran hewan), karena sesungguhnya keduanya adalah makanan saudara kalian.”
[Shahiih Muslim no. 451]

Demikian, semoga kita semua dilindungi Allah dari gangguan dan godaan jin yang terkutuk. Semoga bermanfaat.

Wallaahu a’lam.

Tommi Marsetio -wafaqahullah-

Pondok Aren, 7 Dzulqa’dah 1436 H

Footnotes :

[1] Asy-Syaikh menshahihkan sanad Al-Jurairiy, kemungkinan beliau berpendapat bahwa ‘Abdul Wahhaab disitu adalah ‘Abdul Wahhaab bin ‘Abdil Majiid Ats-Tsaqafiy. Wallaahu a’lam.

[2] Riwayatnya adalah :

حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ مَنْصُورٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ، فِي غُرْفَةِ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّهُ قَالَ فِي امْرَأَةِ الْمَفْقُودِ: ” تَرَبَّصُ أَرْبَعَ سِنِينَ، ثُمَّ يُدْعَى وَلِيُّهُ فَيُطَلِّقُهَا، فَتَعْتَدُّ بَعْدَ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Ghundar menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari Manshuur, ia berkata, Mujaahid menceritakan kepada kami didalam ruangan milik Al-Minhaal bin ‘Amr, dari Ibnu Abi Lailaa, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab bahwa ia berkata pada perkara istri dari orang yang hilang, “Ia (yaitu si istri) menahan diri selama 4 tahun, kemudian ia meminta wali dari pihak suami untuk menceraikannya, lalu ia ber-‘iddah setelah itu selama 4 bulan 10 hari.”
[Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 16867]

[3] Qaul qadiim dari Imam Asy-Syaafi’iy.

[4] Qaul jadiid beliau.

[5] Riwayatnya adalah :

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ الْعَرْزَمِيِّ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ عُتَيْبَةَ، أَنَّ عَلِيًّا، ” قَالَ فِي امْرَأَةِ الْمَفْقُودِ: هِيَ امْرَأَةٌ ابْتُلِيَتْ فَلْتَصْبِرْ حَتَّى يَأْتِيَهَا مَوْتٌ، أَوْ طَلاقٌ

Dari Muhammad bin ‘Ubaidillaah Al-‘Arzamiy, dari Al-Hakam bin ‘Utaibah, bahwa ‘Aliy berkata dalam masalah istri dari orang yang hilang, “Ia adalah istri yang sedang diuji maka ia bersabar hingga jelas kematian suaminya, atau talak dari suaminya.”
[Mushannaf ‘Abdirrazzaaq no. 12330] – Muhammad bin ‘Ubaidillaah Al-‘Arzamiy matruuk, Al-Haafizh menyebutkannya dalam At-Taqriib no. 6108. Sementara Al-Hakam tidak pernah bertemu dengan ‘Aliy, maka riwayat ini munqathi’.

Juga 2 riwayat berikut :

عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنِ الْحَكَمِ، أَنَّ عَلِيًّا، قَالَ: ” هِيَ امْرَأَةٌ ابْتُلِيَتْ فَلْتَصْبِرْ حَتَّى يَأْتِيَهَا مَوْتٌ، أَوْ طَلاقٌ

Dari Ma’mar, dari Ibnu Abi Lailaa, dari Al-Hakam, bahwa ‘Aliy berkata, “Ia adalah istri yang sedang diuji maka ia bersabar hingga jelas kematian suaminya, atau talak.”
[Mushannaf ‘Abdirrazzaaq no. 12332] – Ibnu Abi Lailaa adalah Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Abi Lailaa, menurut Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 6081, ia shaduuq namun hapalannya sangat buruk. Dan riwayat ini pun munqathi’.

وَأَخْبَرَنَا بِوَجْهٍ ثَالِثٍ أَبُو سَعِيدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ الأَصَمُّ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، ثنا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ زَائِدَةَ بْنِ قُدَامَةَ، ثنا سِمَاكٌ، عَنْ حَنَشٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ لَيْسَ الَّذِي قَالَ عُمَرُ بِشَيْءٍ، يَعْنِي فِي ” امْرَأَةِ الْمَفْقُودِ، وَهِيَ امْرَأَةُ الْغَائِبِ حَتَّى يَأْتِيَهَا يَقِينُ مَوْتِهِ أَوْ طَلاقُهَا، وَلَهَا الصَّدَاقُ مِنْ هَذَا بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا، وَنِكَاحُهُ بَاطِلٌ

Abu Sa’iid Muhammad bin Muusaa mengkhabari kami -dengan jalur sanad yang ketiga-, Abul ‘Abbaas Al-Asham menceritakan kepada kami, Al-Hasan bin ‘Aliy bin ‘Affaan menceritakan kepada kami, Abu Usaamah menceritakan kepada kami, dari Zaa’idah bin Qudaamah, Simaak menceritakan kepada kami, dari Hanasy, ia berkata, ‘Aliy berpendapat dengan pendapat yang tidak sama dengan ‘Umar, yaitu pada masalah istri dari orang yang hilang, “Ia adalah istri dari seseorang yang tidak hadir wujudnya hingga jelas baginya keyakinan akan kematian suaminya, atau mentalak istrinya dan si istri berhak mendapat mahar karena suami telah menghalalkan farji istrinya, sementara nikahnya bathil.”
[Sunan Ash-Shaghiir li Al-Baihaqiy no. 3005] – Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsaar 5/151 berkata, “Hanasy tidak kuat dalam hadits.”

Sementara riwayat Asy-Syaafi’iy adalah :

أَخْبَرَنَا أَبُو سَعِيدٍ، نا أَبُو الْعَبَّاسِ، أنا الرَّبِيعُ، ثنا الشَّافِعِيُّ، أنا الثَّقَفِيُّ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ مَسْرُوقٍ، أَوْ قَالَ: أَظُنُّهُ عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: ” لَوْلا أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَيَّرَ الْمَفْقُودَ بَيْنَ امْرَأَتِهِ وَالصَّدَاقِ لَرَأَيْتُ أَنَّهُ أَحَقُّ بِهَا إِذَا جَاءَ “، قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي امْرَأَةِ الْمَفْقُودِ: ” امْرَأَةٌ ابْتُلِيَتْ فَلْتَصْبِرْ لا تَنْكِحُ حَتَّى يَأْتِيَهَا يَقِينُ مَوْتِهِ “، قَالَ: وَبِهَذَا نَقُولُ

Abu Sa’iid mengkhabari kami, Abul ‘Abbaas mengkhabari kami, Ar-Rabii’ memberitahu kami, Asy-Syaafi’iy menceritakan kepada kami, Ats-Tsaqafiy memberitahu kami, dari Daawud bin Abi Hind, dari Asy-Sya’biy, dari Masruuq -atau salah seorang perawi berkata : aku menduganya dari Masruuq-, ia berkata, “Kalaulah bukan karena ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu memberi pilihan kepada orang yang hilang tersebut antara istri atau mahar, niscaya aku berpandangan bahwa ia lebih berhak kepada istrinya jika ia kembali.”

Asy-Syaafi’iy berkata, “‘Aliy bin Abi Thaalib radhiyallaahu ‘anhu berpendapat pada perkara istri dari orang yang hilang : sang istri tersebut sedang diuji maka ia bersabar, tidak boleh menikah hingga jelas baginya keyakinan akan kematian suaminya.”

Asy-Syaafi’iy berkata lagi, “Dengan inilah kami berpendapat.”

قَالَ الشَّيْخُ: وَرَوَى قَتَادَةُ، عَنْ خِلاسِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: إِذَا جَاءَ الأَوَّلُ خُيِّرَ بَيْنَ الصَّدَاقِ الأَخِيرِ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، وَرِوَايَةُ خِلاسٍ، عَنْ عَلِيٍّ ضَعِيفَةٌ، وَأَبُو الْمَلِيحِ لَمْ يَسْمَعْهُ مِنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Asy-Syaikh (yakni Al-Baihaqiy) berkata, “Dan Qataadah meriwayatkan dari Khilaas bin ‘Amr, dari Abul Maliih, dari ‘Aliy radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata : Apabila datang suaminya yang pertama, ia diberi pilihan antara mahar yang terakhir atau istrinya. Riwayat Khilaas dari ‘Aliy adalah riwayat lemah karena Abul Maliih tidak mendengarnya dari ‘Aliy radhiyallaahu ‘anhu.”
[Sunan Al-Kubraa li Al-Baihaqiy 7/734-735]

* * * * *

One thought on “Kisah Lelaki Kaum Anshar yang Diculik Jin Berikut Faidah-faidahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s