Hadits “Barangsiapa Keluar Untuk Pergi Berhaji Lalu Wafat…”

hajiMusibah beruntun menimpa saudara-saudara kita yang tengah menunaikan ibadah haji di kota suci Makkah Al-Mukarramah, dari mulai insiden crane yang jatuh sehingga mengakibatkan beberapa orang tewas karena tertimpa crane, hingga yang terbaru kejadian ketika jama’ah haji melempar jumrah di Mina yang mana khabarnya ada sekelompok jama’ah yang tiba-tiba berhenti kemudian melawan arus jama’ah haji, menyebabkan arus menjadi kacau dan berhimpit-himpitan hingga banyak kaum muslimin yang tewas karena terhimpit atau terinjak-injak. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Sebagai muslim dan mu’min yang baik, sepantasnya kita mengucap istrija’ dan tarahhum (mendo’akan ‘rahimahullah’) bagi mereka yang wafat disana, serta mendo’akan agar amalan ibadah mereka diterima di sisi Allah Ta’ala dengan sebaik-baik pahala, dan semoga Allah Ta’ala mengampuni kesalahan-kesalahan mereka semasa hidupnya. Dan sudah sepantasnya pula kita tidak berkomentar terlalu berlebihan mengenai peristiwa yang terjadi sembari menunggu press release resmi dari kerajaan Arab Saudi yang sedang berusaha menyelidiki peristiwa tersebut.

Kita harapkan penyelesaian yang terbaik dan pengusutan yang tuntas…

Sementara itu, tidak kita sangsikan bahwa mereka yang wafat disana adalah wafat di sebaik-baik, seutama-utama dan seberkah-berkahnya tempat, apalagi mereka wafat disaat sedang menunaikan kewajiban dari rukun Islam kelima. Barakallaahu ‘alaihim wa rahimahumullaah.

Sebagian saudara-saudara kami pun dengan kreatifnya membuat picture yang memuat hadits yang membahas keutamaan tersebut kemudian menyebarkannya di media sosial, sebagaimana picture yang kami upload sebagai tema tulisan ini.

Hadits tersebut lengkapnya adalah :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” مَنْ خَرَجَ حَاجًّا فَمَاتَ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ خَرَجَ مُعْتَمِرًا فَمَاتَ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمَاتَ، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ الْغَازِي إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang keluar untuk pergi berhaji lalu wafat, Allah akan mencatat pahala berhaji baginya hingga hari kiamat. Barangsiapa keluar untuk pergi ber’umrah lalu wafat, Allah akan mencatat pahala ‘umrah baginya hingga hari kiamat. Dan barangsiapa keluar untuk berperang di jalan Allah lalu wafat, Allah akan mencatat pahala berperang baginya hingga hari kiamat.”

Kemudian dinukil keterangan bahwasanya hadits ini telah diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Ya’laa dalam Musnad-nya dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih At-Targhiib no. 1114.

Kami menjadi tergelitik untuk mencari pembahasan hadits ini selanjutnya, dan bagaimana takhrij Asy-Syaikh Al-Albaaniy perihal hadits ini. Bismillah…

Pembahasan Hadits

Benar, bahwasanya hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Haafizh Abu Ya’laa Al-Maushiliy rahimahullah dalam dua kitabnya, Al-Musnad dan Al-Mu’jam. Pada Al-Musnad hadits no. 6357 dengan tahqiq Syaikh Husain Saliim Asad rahimahullah cetakan Daar Al-Ma’muun lit-Turaats, dan pada Al-Mu’jam hadits no. 101 cetakan Al-‘Uluum Al-Atsariyyah, Pakistan dengan bantuan software Jawami’ul Kalim.

(-) Selanjutnya, kami ketahui bahwa Asy-Syaikh Al-Albaaniy mempunyai 2 pendapat mengenai hadits ini, melemahkan dan menshahihkan. Kami akan memulainya terlebih dahulu dengan tadh’if beliau yang kami nukil dari Silsilah Adh-Dhaa’ifah 2/168. Asy-Syaikh -semoga Allah Ta’ala merahmati dan melapangkan kuburnya- berkata :

ضعيف، رواه الطبراني في ” الأوسط ” (1 / 111 / 2) عن أبي معاوية: حدثنا محمد بن إسحاق عن جميل بن أبي ميمونة عن عطاء بن يزيد الليثي عن أبي هريرة مرفوعا وقال: ” لم يرو هـ عن عطاء إلا جميل، ولا عنه إلا ابن إسحاق تفرد به أبو معاوية “. ومن هذا الوجه رواه الضياء في ” المنتقى من مسموعاته بمرو” (33 / 1) وزاد: ” ومن خرج غازيا في سبيل الله فمات كتب له أجر الغازي إلى يوم القيامة “.
وهكذا أورده المنذري في ” الترغيب ” (2 / 112) وقال: ” رواه أبو يعلى من رواية محمد بن إسحاق، وبقية رواته ثقات “. قلت: يعني أن ابن إسحاق مدلس وقد عنعنه. فهذه علة، وفيه علة أخرى، فقال الهيثمي (3 / 208 – 209) بعد أن عزاه للطبراني وحده: ” وفيه جميل بن أبي ميمونة، وقد ذكره ابن أبي حاتم، ولم يذكر فيه جرحا ولا تعديلا، وذكره ابن حبان في (الثقات) “. قلت: وتساهل ابن حبان في التوثيق معروف، فالرجل مجهول الحال، والله أعلم. انتهى

“Dha’if, diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam “Al-Ausath” (2/111/1), dari jalan Abu Mu’aawiyah, Muhammad bin Ishaaq menceritakan kepada kami, dari Jamiil bin Abi Maimuunah, dari ‘Athaa’ bin Yaziid Al-Laitsiy, dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu-, secara marfuu’, dan Imam Ath-Thabaraaniy berkata, “Hadits ini tidak teriwayatkan dari ‘Athaa’ kecuali oleh Jamiil, dan tidak teriwayatkan dari Jamiil kecuali oleh Ibnu Ishaaq, Abu Mu’aawiyah tafarrud didalamnya.” Dan dari jalur ini Adh-Dhiyaa’ turut meriwayatkannya dalam “Al-Muntaqaa min Masmuu’aat”-nya (1/33) dan ada tambahan : “Barangsiapa keluar untuk berperang di jalan Allah lalu wafat, ditulis pahala berperang baginya hingga hari kiamat.”

Beginilah Al-Mundziriy menyebutkannya dalam “At-Targhiib” (2/112), ia berkata : “Diriwayatkan Abu Ya’laa dari jalur Muhammad bin Ishaaq, dan para perawi sisanya adalah orang-orang tsiqah.” Aku (yaitu Asy-Syaikh Al-Albaaniy, -pent) katakan bahwa Ibnu Ishaaq seorang mudallis[1] dan ia telah meriwayatkan dengan ‘an’anah, maka inilah ‘illat hadits, dan didalamnya ada ‘illat yang lain, Al-Haitsamiy (dalam Majma’nya 3/208-209) berkata setelah menisbatkan hadits ini kepada Ath-Thabaraaniy seorang : “Didalam sanadnya ada Jamiil bin Abi Maimuunah, disebutkan oleh Ibnu Abi Haatim[2] tanpa menyebut jarh atau ta’dil mengenainya serta disebutkan oleh Ibnu Hibbaan dalam Ats-Tsiqaat[3].” Aku (Asy-Syaikh Al-Albaaniy, -pent) katakan bahwa tasahul-nya Ibnu Hibbaan telah ma’ruf dalam hal mentautsiq perawi. Maka Jamiil majhuul haal. Wallaahu a’lam.” Selesai kutipan.

(-) Dan berikut ini kalam Asy-Syaikh ketika menshahihkan hadits ini. Kami nukil tashhih beliau dari Silsilah Ash-Shahiihah 6/116, Asy-Syaikh berkata :

أخرجه أبو يعلى في ” مسنده ” (4 / 1505) : حدثنا إبراهيم بن زياد – سبلان -: أخبرنا أبو معاوية أخبرنا محمد بن إسحاق عن جميل بن أبي ميمونة عن عطاء بن يزيد الليثي عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فذكره. وتابع أبا يعلى، الحافظ الطبراني في “الأوسط” (2 / 24 / 2 / 5454) : حدثنا محمد ابن السري قال: أخبرنا إبراهيم بن زياد – سبلان – به. وقال: ” تفرد به أبو معاوية “. ومن طريقه أخرجه ابن أبي حاتم في ” العلل ” (1 / 326 – 327)، والبيهقي في ” الشعب ” (3 / 474). قلت: وهذا إسناد فيه علتان: الأولى: جهالة حال جميل بن أبي ميمونة، فقد أورده ابن أبي حاتم عن أبيه من روايته عن ابن أبي زكريا الخزاعي. وعنه محمد بن إسحاق ثم قال: ” وروى عن سعيد بن المسيب. روى عنه الليث بن سعد “. وبه أعله الهيثمي، فقال (3 / 209) : “رواه الطبراني في ” الأوسط “، وفيه جميل بن أبي ميمونة، وقد ذكره ابن أبي حاتم، ولم يذكر فيه جرحا ولا تعديلا، وذكره ابن حبان في (الثقات) “. والأخرى: عنعنة ابن إسحاق، وبها أعله المنذري تلميحا، فقال (2 / 166) : “رواه أبو يعلى من رواية محمد بن إسحاق، وبقية إسناده ثقات “. قلت: وقد وجدت له إسنادا آخر عن الليثي، فقال يحيى بن صاعد في ” مجلسان من الأمالي ” (ق 51 / 2) : حدثنا عمرو بن علي قال: أخبرنا أبو معاوية الضرير قال: حدثنا هلال بن ميمون الفلسطيني عن عطاء بن يزيد الليثي به. وأخرجه أبو نعيم في “أخبار أصبهان” (2 / 21) من طريق ابن صاعد به، لكنه قال: “الواسطي” بدل “الفلسطيني”، وهو خطأ من الناسخ أو الطابع. قلت: وهذا إسناد جيد رجاله كلهم ثقات رجال الشيخين غير هلال بن ميمون الفلسطيني، وثقه ابن معين وابن حبان، وقال النسائي: ليس به بأس. وأما أبو حاتم فقال: ” ليس بالقوي، يكتب حديثه

“Dikeluarkan oleh Abu Ya’laa dalam “Musnad”-nya (4/1505) : Ibraahiim bin Ziyaad -Sabalaan- menceritakan kepada kami, Abu Mu’aawiyah mengkhabari kami, Muhammad bin Ishaaq mengkhabari kami, dari Jamiil bin Abi Maimuunah, dari ‘Athaa’ bin Yaziid Al-Laitsiy, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, -dan seterusnya-. Al-Haafizh Ath-Thabaraaniy dalam “Al-Ausath” (5454/2/24/2) menguatkan Abu Ya’laa : Muhammad bin As-Sariy menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibraahiim bin Ziyaad -Sabalaan- mengkhabari kami, -dengan sanad yang sama-. Ath-Thabaraaniy berkata : “Abu Mu’aawiyah tafarrud didalamnya.” Dan dari jalan ini Ibnu Abi Haatim mengeluarkannya dalam “Al-‘Ilal” (1/326-327) serta Al-Baihaqiy dalam “Asy-Syu’ab” (3/474).

Aku (Asy-Syaikh Al-Albaaniy, -pent) katakan, sanad hadits ini mempunyai 2 ‘illat. Pertama, majhuul haal-nya Jamiil bin Abi Maimuunah, Ibnu Abi Haatim menyebutkan dari ayahnya (yaitu Abu Haatim, -pent) riwayat Jamiil dari Ibnu Abi Zakariyaa Al-Khuzaa’iy dan meriwayatkan darinya Muhammad bin Ishaaq, kemudian Ibnu Abi Haatim berkata, “Meriwayatkan dari Sa’iid bin Al-Musayyab, meriwayatkan darinya Al-Laits bin Sa’d.” Dengan sebab inilah Al-Haitsamiy (dalam Majma’-nya 3/209) me-ma’lul-kannya, ia berkata, “Diriwayatkan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath dan didalam sanadnya ada Jamiil bin Abi Maimuunah, disebutkan oleh Ibnu Abi Haatim tanpa menyebut jarh atau ta’dil mengenainya serta disebutkan oleh Ibnu Hibbaan dalam Ats-Tsiqaat.

‘Illat lain adalah ‘an’anah Ibnu Ishaaq, karenanya Al-Mundziriy me-ma’lul-kan dengan isyarat, ia berkata (dalam Targhiib-nya 2/166) : “Diriwayatkan Abu Ya’laa dari riwayat Muhammad bin Ishaaq, dan para perawi lain dalam sanadnya adalah orang-orang tsiqah.”

Aku (Asy-Syaikh Al-Albaaniy, -pent) katakan, aku telah menemukan sanad lain bagi hadits ini dari Al-Laitsiy. Yahyaa bin Shaa’id berkata dalam “Al-Majlisaan min Al-Amaaliy” (2/51) : ‘Amr bin ‘Aliy menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Mu’aawiyah Adh-Dhariir mengkhabari kami, ia berkata, Hilaal bin Maimuun Al-Filisthiiniy menceritakan kepada kami, dari ‘Athaa’ bin Yaziid Al-Laitsiy -dengan sanad yang sama-. Dan dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam “Akhbaar Ashbahaan” (2/21) dari jalur Ibnu Shaa’id, namun didalamnya disebutkan Al-Waasithiy (untuk laqab Hilaal bin Maimuun, -pent) menggantikan Al-Filisthiiniy dan ini adalah kekeliruan dari penulis naskah atau pencetak.

Aku (Asy-Syaikh Al-Albaaniy, -pent) katakan, sanad hadits ini jayyid, semua para perawinya adalah orang-orang tsiqah, para perawi Asy-Syaikhain, kecuali Hilaal bin Maimuun Al-Filisthiiniy, ia ditautsiq oleh Ibnu Ma’iin dan Ibnu Hibbaan, An-Nasaa’iy berkata : laisa bihi ba’s (tidak ada yang salah padanya). Adapun Abu Haatim, ia berkata : laisa bil qawiy, ditulis haditsnya.”

(-) Lalu Asy-Syaikh pun menyebutkan tashhih-nya dalam Shahiih At-Targhiib no. 1114, beliau berkata, “Shahiih lighairihi.”

Zhahir yang nampak pada kami dari 2 pendapat Syaikh yang terlihat bertentangan ini, tadh’if beliau adalah pendapatnya yang terdahulu, sementara tashhih beliau adalah pendapatnya yang belakangan, dikarenakan Asy-Syaikh menemukan bukti sanad lain yang bisa menguatkan sanad Muhammad bin Ishaaq yang terkena syubhat tadlis ‘an’anah dan majhuul haal-nya Jamiil bin Abi Maimuunah. Namun, -dengan tanpa meremehkan usaha luar biasa Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam mentakhrij hadits- kami menemukan bahwa sanad lain yang ditemukan Asy-Syaikh ini pun tidak bebas dari ‘illat. Hal ini dikemukakan oleh Al-Imam Abul Hasan Ad-Daaraquthniy rahimahullah dalam Al-‘Ilal Al-Waaridah fiy Al-Ahaadiits An-Nabawiyyah 11/110 :

وَسُئِلَ عَنْ حَدِيثِ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ، عن أبي هريرة، قال رسول الله صلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ خَرَجَ حَاجًّا فَمَاتَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ الْحَاجِّ، وَمَنْ خَرَجَ مُعْتَمِرًا، أَوْ غَازِيًا كُتِبَ لَهُ أَجْرُ ذَلِكَ. فَقَالَ: يَرْوِيهِ أَبُو مُعَاوِيَةَ الضَّرِيرُ، وَاخْتُلِفَ عَنْهُ؛ فَرَوَاهُ عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ الضَّرِيرِ، عَنْ هِلَالِ بْنِ مَيْمُونٍ الْفِلِسْطِينِيِّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَوَهِمَ فِيهِ عَلَى أَبِي مُعَاوِيَةَ. وَغَيْرُهُ يَرْوِيهِ عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ جَمِيلِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَهُوَ الصَّوَابُ

“Imam Ad-Daaraquthniy ditanya mengenai hadits ‘Athaa’ bin Yaziid Al-Laitsiy, dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang keluar untuk pergi berhaji lalu wafat, ditulis pahala haji baginya… -dan seterusnya-.”

Imam Ad-Daaraquthniy menjawab, “Abu Mu’aawiyah Adh-Dhariir meriwayatkan dengan perbedaan darinya. Diriwayatkan ‘Amr bin ‘Aliy, dari Abu Mu’aawiyah Adh-Dhariir, dari Hilaal bin Maimuun Al-Filisthiiniy, dari ‘Athaa’ bin Yaziid Al-Laitsiy, dari Abu Hurairah, dan ada wahm yang dialami Abu Mu’aawiyah pada jalur ini. Sementara perawi lain meriwayatkannya dari Abu Mu’aawiyah, dari Muhammad bin Ishaaq, dari Jamiil bin Abi Maimuunah, dari ‘Athaa’ bin Yaziid, dari Abu Hurairah, dan jalur inilah yang benar.”

Walhasil, tashhih Asy-Syaikh Al-Albaaniy nampaknya harus diteliti kembali dan dipertimbangkan ulang dengan sebab ta’lil dari Imam Ad-Daaraquthniy bahwa sanad Hilaal bin Maimuun ada wahm dari Abu Mu’aawiyah Adh-Dhariir, dan telah ada isyarat dari Imam Ath-Thabaraaniy sebelumnya mengenai ke-gharib-an jalur Abu Mu’aawiyah dengan tafarrudnya, yaitu jalur yang ia riwayatkan dari Muhammad bin Ishaaq, dan menurut Imam Ad-Daaraquthniy jalur inilah yang benar[4].

Al-Haafizh Syihaabuddiin Abul ‘Abbaas Al-Buushiiriy rahimahullah dalam Ithaaf Al-Khairah Al-Mahrah 3/158 melemahkan hadits ini, beliau berkata :

رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ، لِتَدْلِيسِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ

“Diriwayatkan Abu Ya’laa dengan sanad dha’if karena tadlis Muhammad bin Ishaaq.”

Sementara Al-Haafizh ‘Imaaduddiin Abul Fidaa’ Ibnu Katsiir rahimahullah dalam Tafsir-nya 2/346 berkata :

غريب من هذا الوجه

“Ghariib dari jalur ini.”

Demikianlah yang dapat kami tuliskan, adapun pada saudara-saudara kami yang memutuskan untuk ikut pendapat Syaikh Al-Albaaniy dalam tashhih hadits ini karena mengikuti pendapat ahli ilmu yang telah ma’ruf pada bidangnya, maka kami persilahkan.

Wallaahu a’lam.

BSD, 15 Dzulhijjah 1436 H

Tommi Marsetio Abu Ahmad -wafaqahullah-

Footnotes :

[1] Dalam Thabaqaat Al-Mudallisiin, Ibnu Ishaaq rahimahullah dimasukkan ke dalam thabaqah keempat dari para perawi mudallis, oleh karena itu ‘an’anahnya tidaklah diterima hingga ia jelas menyatakan tashriih as-simaa’ atau tahdiits dari syaikhnya.

[2] Al-Jarh wa At-Ta’diil 2/519 :

جميل بن أبي ميمونة روى عن ابن أبي زكريا الخزاعي روى عنه محمد بن إسحاق سمعت أبي يقول ذلك.
قال أبو محمد وروى عن سعيد بن المسيب روى عنه الليث بن سعد

[3] Ats-Tsiqaat li Ibni Hibbaan 6/146 :

جميل بن أبي مَيْمُونَة يروي عَن عبيد الله بن أبي زَكَرِيَّا روى عَنهُ مُحَمَّد بن إِسْحَاق

[4] Ta’lil Imam Ad-Daaraquthniy inilah yang tidak disebut dalam takhrij Syaikh Al-Albaaniy pada Ash-Shahiihah-nya. Husnuzhan kami, kemungkinan Syaikh terluput ta’lil tersebut, dan ini bisa dimaklumi mengingat usaha Syaikh mentakhrij ribuan hadits dengan cara manual yaitu dengan meneliti kitab per kitab dan manuskrip per manuskrip dari sekian ribu kitab dan manuskrip yang ada di perpustakaan tempat beliau bekerja, sehingga bisa dipahami mungkin ada beberapa kalam ulama terdahulu yang tidak sengaja beliau lewatkan atau terluput darinya, dan kealpaan seperti ini adalah hal yang sangat manusiawi, apalagi pada zaman beliau tersebut teknologi komputer belumlah secanggih sekarang dimana hadits-hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam serta kalam para ulama berhasil dihimpun dan dikumpulkan dalam bentuk software seperti Jawami’ul Kalim atau Maktabah Syamilah yang bisa diunduh maupun dibaca secara online sehingga seseorang dapat dengan mudah melakukan penelitian tanpa harus pergi ke perpustakaan. -Kami katakan bahwa disinilah letak keberkahan ilmu para ulama seperti Syaikh Al-Albaaniy karena usaha tak kenal lelah mereka -rahimahumullah- dalam meneliti langsung dari sumbernya. Oleh karenanya, tidaklah sebanding jerih payah Syaikh dengan orang-orang yang memanfaatkan software dalam mencari dan meneliti hadits walaupun pada hasil akhirnya mungkin orang yang memanfaatkan software lebih unggul. Allaahul Musta’aan-.

Kemungkinan lain adalah Syaikh menganggap ta’lil Imam Ad-Daaraquthniy tersebut tidak cukup kuat sebagai bukti untuk melemahkan hadits sehingga beliau tidak sebutkan kalam sang imam, namun kemungkinan ini kecil karena bagi yang sering membaca kitab-kitab takhrij Syaikh Al-Albaaniy akan menemukan bahwa beliau biasa mengumpulkan perkataan-perkataan ulama yang beliau temukan ketika mentakhrij suatu hadits, dari sini beliau akan menyetujuinya jika beliau setuju atau membantahnya sesuai dengan apa yang perlu dibantah.

Wallaahu a’lam.

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s