Hadits Hasan dan Pembagiannya

hadits shahih dan bagannyaPara ulama muta’akhirin mengisthilahkan pembagian hadits hasan menjadi dua bagian. Al-Imam Taqiyuddiin Abu ‘Amr Ibnu Ash-Shalaah rahimahullah, setelah memaparkan beberapa definisi hadits hasan, beliau mengungkapkan penjelasan mengenai pembagian hadits hasan, beliau berkata :

أحدُهُما: الحديثُ الذي لا يخلو رجالُ إسنادِهِ مِنْ مستورٍ لَمْ تَتَحَقَّقْ أهليَّتُهُ، غيرَ أنَّهُ ليسَ مُغَفَّلاً كثيرَ الخطأِ فيما يَرْويهِ، ولا هوَ متَّهَمٌ بالكذبِ في الحديثِ، أي: لَمْ يَظهرْ منهُ تَعمُّدُ الكذبِ في الحديثِ ولا سببٌ آخرُ مفسِّقٌ، ويكونُ متنُ الحديثِ معَ ذلكَ قد عُرِفَ بأنْ رُوِيَ مِثْلُهُ أو نحوُهُ مِنْ وجهٍ آخرَ أو أكثرَ، حتَّى اعتضَدَ بمتابعةِ مَنْ تابعَ راويَهُ على مثلِهِ، أو بما لَهُ مِنْ شاهِدٍ، وهوَ ورُودُ حديثٍ آخرَ بنحوِهِ، فيَخْرُجُ بذلكَ عَنْ أنْ يكونَ شاذّاً ومُنْكَراً. وكلامُ الترمِذِيِّ على هذا القسمِ يتَنَزَّلُ

Bagian yang pertama : yaitu hadits yang rangkaian para perawi dalam sanadnya tidak bebas dari keberadaan perawi mastuur[1] dan belum terbukti kelayakannya (sebagai periwayat tsiqah), kecuali bahwa ia bukanlah perawi yang lemah ingatan dan banyak keliru dalam periwayatannya, serta tidak pula ia tertuduh dengan kedustaan di dalam hadits, yaitu : tidak nampak terhadap dirinya kesengajaan berdusta di dalam meriwayatkan hadits dan tidak ada pula sebab lainnya yang menjadikannya fasiq. Lalu terdapat matan hadits yang bersamaan dengannya telah diketahui bahwa ia teriwayatkan dari jalur lain atau banyak jalur dengan hadits yang semisalnya atau semakna dengannya, hingga ia terkuatkan dengan mutaba’ah perawi yang men-taabi’ riwayatnya pada hadits yang semisalnya, atau ketika ada riwayat syaahid untuknya yaitu kedatangan hadits lain (dari jalur sahabat yang lain, -pent) yang semakna dengannya. Maka keluarlah yang demikian dari kemungkinan adanya syaadz dan mungkar. Dan turunlah penjelasan At-Tirmidziy atas bagian ini.

القسمُ الثاني: أنْ يكونَ راوِيْهِ مِنَ المشهورينَ بالصدقِ والأمانةِ، غيرَ أنَّهُ لَمْ يبلغْ درجَةَ رجالِ الصحيحِ؛ لكونِهِ يقصُرُ عنهم في الحفظِ والإتقانِ، وهو معَ ذلكَ يرتفِعُ عَنْ حالِ مَنْ يُعَدُّ ما ينفرِدُ بهِ مِنْ حديثِهِ مُنكراً، ويُعْتَبَرُ في كلِّ هذا معَ سلامةِ الحديثِ مِنْ أنْ يكونَ شاذّاً ومُنكَراً : سلاَمَتُهُ مِنْ أنْ يكونَ معلَّلاً. وعلى القسمِ الثاني يتَنَزَّلُ كلامُ الخطَّابيِّ

Bagian yang kedua : Perawinya termasuk para perawi masyhur dengan kejujuran dan amanah, akan tetapi ia tidak mencapai derajat para perawi hadits shahih karena sebab kekurangannya dalam hal hapalan dan kekokohan, dan bersamaan dengan keadaan tersebut, terangkatlah mereka dari keadaan perawi yang tergolong meriwayatkan secara tafarrud pada riwayat haditsnya yang mungkar, dan i’tibar (penelitian, -pent) dari keseluruhan permasalahan ini yaitu bersamaan dengan bebasnya hadits terhadap kemungkinan adanya syaadz dan mungkar, yaitu : bebasnya ia dari kemungkinan menjadi hadits mu’allal. Pada bagian yang kedua ini turunlah penjelasan dari Al-Khaththaabiy.
[Muqaddimah Ibnu Ash-Shalaah hal. 100-101]

Bagian yang pertama adalah hadits hasan lighairihi, dan bagian yang kedua adalah hadits hasan lidzaatihi.

Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy rahimahullah berkata :

ومتى توبع السيء الحفظ بمعتبر وكذا المستور والمرسل ، والمدلّس صار حديثهم حسنا لا لذاته بل بالمجموع

“Dan bilamana ada perawi yang hapalannya buruk maka ia dimutaba’ah dengan cara mu’tabar (yaitu penelitian jalur-jalur sanadnya, -pent), demikian pula perawi mastuur dan mursal, sementara hadits para perawi mudallis cenderung hasan haditsnya namun bukan hasan lidzaatihi, bahkan hasan dengan penggabungan (jalan-jalan periwayatannya, -pent).”
[Nukhbatul Fikar hal. 83]

Dari semua pemaparan diatas, maka definisi hasan lidzaatihi adalah hadits hasan itu sendiri[2], adapun hasan lighairihi adalah hadits yang asalnya hadits dha’if yang tidak terlalu parah kelemahannya dan ia dikuatkan oleh hadits dari jalur lain yang semisalnya.

Contoh Hadits Hasan Lidzaatihi

Dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnad-nya no. 16395[3] :

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: أَنْبَأَنِي سَعْدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ مَعْبَدٍ الْجُهَنِيِّ، قَالَ: كَانَ مُعَاوِيَةُ قَلَّمَا يُحَدِّثُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شَيْئًا، وَيَقُولُ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ قَلَّمَا يَدَعُهُنَّ، أَوْ يُحَدِّثُ بِهِنَّ فِي الْجُمَعِ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُّ فِي الدِّينِ، وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ حُلْوٌ خَضِرٌ، فَمَنْ يَأْخُذْهُ بِحَقِّهِ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ، وَإِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ، فَإِنَّهُ الذَّبْحُ

‘Affaan menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sa’d bin Ibraahiim memberitahuku, dari Ma’bad Al-Juhaniy, ia berkata, dahulu Mu’aawiyah jarang menceritakan suatu hadits dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan hanya beberapa kalimat ini yang jarang ia tinggalkan atau kerap kali diceritakannya ketika berkumpul bersama orang-orang, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki dengan kebaikan maka Dia akan memahamkannya di dalam agama. Sesungguhnya harta ini sangat manis dan hijau (menarik hati, -pent), maka barangsiapa yang mengambilnya sesuai dengan haknya niscaya baginya berkah pada harta tersebut. Berhati-hatilah kalian dari saling memuji karena sesungguhnya memuji adalah penyembelihan.”

Penjelasan : Hadits ini sanadnya bersambung dan para perawinya adalah orang-orang tsiqah kecuali Ma’bad Al-Juhaniy, haditsnya hasan disebabkan dirinya shaduuq. Abu Haatim berkata “ia seorang yang shaduuq dalam hadits, juga gembong aliran qadariyyah”, Adz-Dzahabiy berkata dalam Al-Miizaan “shaduuq dirinya, akan tetapi ia merintis sunnah sayyi’ah, ia orang yang pertama kali membicarakan masalah qadar”, ditautsiq oleh Yahyaa bin Ma’iin, haditsnya diriwayatkan oleh Ibnu Maajah.

Lihat : Al-Jarh wa At-Ta’diil 8/280; Miizaanul I’tidaal 4/141; Taqriibut Tahdziib 2/262.

Contoh Hadits Hasan Lighairihi

Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidziy rahimahullah dalam Jaami’-nya no. 1113, Kitab Nikah, dan dihasankan olehnya :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَال: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ؟ ” قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: ” فَأَجَازَهُ

Muhammad bin Basysyaar menceritakan kepada kami; Yahyaa bin Sa’iid, ‘Abdurrahman bin Mahdiy dan Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, mereka berkata, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari ‘Aashim bin ‘Ubaidillaah, ia berkata, aku mendengar ‘Abdullaah bin ‘Aamir bin Rabii’ah, dari Ayahnya, bahwa ada seorang wanita dari bani Fazaarah menikah dengan mahar sepasang sandal, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah engkau ridha atas diri dan hartamu dengan dua sandal ini?” Wanita itu menjawab, “Ya.” ‘Aamir bin Rabii’ah berkata, “Lantas Nabi pun membolehkannya.”

Dan diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Maajah rahimahullah dalam Sunan-nya no. 1888 pada Kitab Nikah, beliau berkata :

حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ الضَّرِيرُ، وَهَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، عَنْ أَبِيهِ ” أَنَّ رَجُلًا مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَ عَلَى نَعْلَيْنِ، فَأَجَازَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم نِكَاحَهُ

Abu ‘Umar Adh-Dhariir dan Hannaad bin As-Sariy menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Wakii’ menceritakan kepada kami, dari Sufyaan, dari ‘Aashim bin ‘Ubaidillaah, dari ‘Abdullaah bin ‘Aamir bin Rabii’ah, dari Ayahnya, bahwa seorang lelaki dari bani Fazaarah menikah dengan mahar sepasang sandal, maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun membolehkan nikahnya tersebut.

Penjelasan : Sanad kedua hadits ini berputar di ‘Aashim bin ‘Ubaidillaah bin ‘Aashim Al-‘Adawiy dan dia perawi lemah karena buruknya hapalan[4]. Namun hadits ini dihasankan Al-Imam At-Tirmidziy[5] karena keberadaan jalur lain selain jalur diatas, yakni berbilangnya jalur lain tersebut. Jadi, asalnya hadits ini lemah namun dikuatkan dari jalur lain sehingga naik derajatnya menjadi hasan lighairihi.

Wallaahu a’lam.

Diterjemahkan dari : http://www.alssunnah.com/main/articles.aspx?selected_article_no=6475&menu_id=

Abu Ahmad Tommi Marsetio

Footnotes :

[1] Mastuur, maknanya adalah tertutup, maksudnya perawi hadits tersebut belum jelas kualitasnya atau masih samar keadaannya.

[2] Definisi hadits hasan kita telah ketahui bersama, yaitu hadits yang para perawinya ‘adil namun agak berkurang ke-dhabitannya dari perawi hadits shahih, bersambung sanadnya serta tidak terdapat syaadz maupun ‘illat.

[3] Sanadnya dishahihkan Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth dalam ta’liiq beliau pada Musnad Imam Ahmad 28/52.

[4] ‘Aashim bin ‘Ubaidillaah bin ‘Aashim bin ‘Umar bin Al-Khaththaab Al-‘Adawiy Al-Qurasyiy Al-Madaniy. Ibnu Mahdiy mengingkari hadits-haditsnya, Ahmad melemahkan hadits ‘Aashim, Ibnu Ma’iin juga melemahkannya, Ibnu Sa’d berkata “haditsnya banyak namun tidak dijadikan hujjah”, Ya’quub bin Syaibah berkata “orang-orang mengambil haditsnya sementara didalamnya terdapat kelemahan, dan ia memiliki hadits-hadits mungkar”, Al-Bukhaariy berkata “munkarul hadiits”, Abu Haatim berkata “mudhtharibul hadiits, munkarul hadiits, tidak ada padanya hadits yang dapat dijadikan pegangan”. Bersamaan dengan jarh dari para imam tersebut, hadits-hadits ‘Aashim diriwayatkan pula oleh para imam besar seperti Syu’bah, Ats-Tsauriy, Ibnu ‘Uyainah, Maalik bin Anas (1 hadits), Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan dan lainnya. Lihat selengkapnya di Tahdziibul Kamaal no. 3014.

[5] Al-Imam At-Tirmidziy berkata dalam ta’liiq-nya atas hadits ini :

وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَسَهْلِ بْنِ سَعْدٍ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأَنَسٍ وَعَائِشَةَ وَجَابِرٍ وَأَبِي حَدْرَدٍ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Dalam bab ini terdapat hadits semakna dari ‘Umar, Abu Hurairah, Sahl bin Sa’d, Abu Sa’iid, Anas, ‘Aaisyah, Jaabir dan Abu Hadrad Al-Aslamiy. Hadits ‘Aamir bin Rabii’ah ini adalah hadits hasan shahih.”

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s