Hadits-hadits Tidak Shahih Mengenai Syi’ah Rafidhah

sword_ooooSudah mafhum oleh kaum muslimin pada umumnya bahwa aqidah syi’ah rafidhah adalah aqidah yang sesat lagi menyesatkan. Sudah banyak para ulama dari zaman salaf hingga muta’akhirin yang menjelaskan kesesatan aqidah ini hingga keburukan orang-orang yang memeluknya. Para ulama menulis kitab-kitab fondasi (ushul) aqidah yang harus diyakini setiap muslim yang mengaku ahlussunnah wal jama’ah, diantaranya adalah menentang aqidah sesat syi’ah rafidhah. Hingga di zaman kita, hal tersebut masih tetap dilakukan oleh saudara-saudara kita yang peduli akan agama ini dan keselamatan kaum muslimin. Maka sepatutnya kita berucap syukur. Alhamdulillah.

Namun pada beberapa makalah, kami melihat beberapa saudara tersebut turut pula menukil hadits-hadits marfu’ mengenai syi’ah rafidhah dan perintah untuk memeranginya. Dengan tetap menghormati semangat mereka ketika memerangi kebathilan, kami katakan (sesuai dengan penjelasan para ahli hadits yang sampai kepada kami) bahwa hadits-hadits yang menyebutkan mengenai syi’ah rafidhah seluruhnya adalah hadits yang tidak memenuhi syarat shahih maupun hasan, bahkan beberapa diantaranya sangat parah kelemahannya! Dalam tulisan kali ini kami akan paparkan jalur-jalur sanadnya hingga menjadi jelas bahwa hadits-hadits tersebut tidak layak untuk dinukil ketika menjelaskan kesesatan syi’ah rafidhah.

Al-Imam Al-Haafizh Jamaaluddiin Abul Faraj ‘Abdurrahman bin ‘Aliy bin Muhammad Al-Jauziy Al-Hanbaliy –rahimahullah, kita mengenal beliau dengan nama Ibnul Jauziy- telah mengumpulkan hadits-hadits mengenai syi’ah rafidhah berikut dengan jalur-jalur periwayatannya, serta menjelaskan kelemahannya masing-masing di dalam kitab beliau, Al-‘Ilal Al-Mutanaahiyah.

Hadits Pertama

أَنَا ابْنُ الْحُصَيْنِ قَالَ أَنَا ابْنُ الْمُذْهِبِ قَالَ أَنَا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ قَالَ نا أَبِي قَالَ نا لُوَيْنٌ قَالَ نا أَبُو عَقِيلٍ يَحْيَى بْنُ الْمُتَوَكِّلِ عَنْ كَثِيرٍ النَّوَّاءِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ حَسَنِ بْنِ حَسَنِ بْنِ عَلِيِّ ابن أَبِي طَالِبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”يَظْهَرُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يُسَمُّونَ الرَّافِضَةَ يَرْفُضُونَ الْإِسْلَامَ

Ibnul Hushain memberitahu kami, ia berkata, Ibnul Mudzhib memberitahu kami, ia berkata, Ahmad bin Ja’far memberitahu kami, ia berkata, ‘Abdullaah bin Ahmad mengkhabari kami, ia berkata, Ayahku mengkhabari kami, ia berkata, Luwain mengkhabari kami, ia berkata, Abu ‘Aqiil Yahyaa bin Al-Mutawakkil mengkhabari kami, dari Katsiir bin An-Nawwaa’, dari Ibraahiim bin Hasan bin Hasan bin ‘Aliy bin Abi Thaalib, dari Ayahnya, dari Kakeknya, ia berkata, ‘Aliy bin Abi Thaalib berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Akan muncul sebuah kaum yang bernama rafidhah di akhir zaman nanti, mereka adalah kaum yang menolak Islam[1].” [Hadits no. 252]

قَالَ الْمُصَنِّفُ: هَذَا حَدِيثٌ لا يَصِحُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْيَى بْنُ الْمُتَوَكِّلِ قَالَ فِيهِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ هُوَ وَاهِيَ الْحَدِيثِ وَقَالَ ابْنُ مَعِينٍ لَيْسَ بِشَيْءٍ وَكَثِيرُ النَّوَّاءُ ضَعَّفَهُ النَّسَائِيُّ وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: كَانَ غَالِيًا فِي التَّشَيُّعِ مُفْرِطًا فِيهِ

Penulis (Imam Ibnul Jauziy) berkata, “Hadits ini tidak shahih dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Yahyaa bin Al-Mutawakkil dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal : waahiyul hadiits, Ibnu Ma’iin berkata : laisa bi syai’. Sementara Katsiir bin An-Nawwaa’ dilemahkan oleh An-Nasaa’iy, dan Ibnu ‘Adiy berkata : ia seorang yang ghuluw dalam tasyayyu’ dan melampaui batas padanya.”

Jalur lainnya

أَنَا عَبْدُ الأَوَّلِ قال أخبرنا الداوودي قَالَ نا ابْنُ أَعْيَنَ قَالَ نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خُرَيْمٍ قَالَ نا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ نا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ قَالَ حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ نا الْحَجَّاجُ بْنُ تَمِيمٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مَهْرَانَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يُسَمُّونَ الرَّافِضَةَ فَيَرْفُضُونَ الْإِسْلَامَ وَيَلْفُظُونَهُ اقْتُلُوهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ

‘Abdul Awwal memberitahu kami, ia berkata, Ad-Daawuudiy mengkhabari kami, ia berkata, Ibnu A’yan memberitahu kami, ia berkata, Ibraahiim bin Khuraim memberitahu kami, ia berkata, ‘Abd bin Humaid memberitahu kami, ia berkata, Haasyim bin Al-Qaasim memberitahu kami, ia berkata, ‘Imraan bin Zaid menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-Hajjaaj bin Tamiim memberitahu kami, dari Maimuun bin Mihraan, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Akan datang di akhir zaman nanti kaum yang dinamakan rafidhah dan mereka menolak Islam serta menentangnya, bunuhlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah kaum musyrik![2][Hadits no. 253]

قَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ عِمْرَانُ لا يُحْتَجُّ بِحَدِيثِهِ

Yahyaa bin Ma’iin berkata, “’Imraan haditsnya tak dijadikan hujjah.”

*Kami tambahkan bahwa kelemahan juga terletak pada Hajjaaj bin Tamiim, dia dilemahkan Abul Fath Al-Azdiy, An-Nasaa’iy berkata : laisa bi tsiqah, Al-‘Uqailiy berkata : meriwayatkan dari Maimuun bin Mihraan hadits-hadits yang sama sekali tidak punya penguat terhadapnya. Lihat biografinya dalam Tahdziib Al-Kamaal no. 1113.

Hadits Kedua

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي الْقَاسِمِ البغدادي قال نا حمد ابن أَحْمَدَ قَالَ أَنَا أَبُو نُعَيْمٍ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نا أَبُو أَحْمَدَ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ قَالَ نا عَلِيُّ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الصَّفَّارُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عِصْمَةَ عِصَامُ بْنُ الْحَكَمِ قَالَ نا جَمِيعُ بْنُ عُمَيْرٍ الْبَصْرِيُّ قَالَ نا سَوَّارٌ الْهَمَدَانِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَحَادَةَ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكَ وَشِيعَتَكَ فِي الْجَنَّةِ وَسَيَأْتِي قَوْمٌ لَهُمْ نَبَزٌ يُقَالُ لَهُمُ الرافضة فإذا لقيتموهم فقتلوهم فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ

Muhammad bin Abul Qaasim Al-Baghdaadiy mengkhabari kami, ia berkata, Hamad bin Ahmad mengkhabari kami, ia berkata, Abu Nu’aim Ahmad bin ‘Abdillaah memberitahu kami, ia berkata, Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad mengkhabari kami, ia berkata, ‘Aliy bin Ismaa’iil Ash-Shaffaar mengkhabari kami, ia berkata, Abu ‘Ishmah ‘Ishaam bin Al-Hakam menceritakan kepadaku, ia berkata, Jamii’ bin ‘Umair Al-Bashriy mengkhabari kami, ia berkata, Sawwaar Al-Hamadaaniy mengkhabari kami, dari Muhammad bin Juhaadah, dari Asy-Sya’biy, dari ‘Aliy radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya engkau (wahai ‘Aliy) dan syi’ahmu berada di dalam surga, dan akan datang suatu kaum yang mempunyai laqab yang disebut rafidhah. Maka apabila kalian menjumpai kaum tersebut, bunuhlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah kaum musyrik![3]” [Hadits no. 254]

قَالَ أَبُو نُعَيْمٍ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدٍ وَالشَّعْبِيِّ لَمْ نَكْتُبْهُ إِلا مِنْ حَدِيثِ عِصَامٍ وَقَالَ الْمُؤَلِّفُ: قُلْتُ وَفِي رِوَايَتِهِ سَوَّارٌ، قَالَ أَحْمَدُ وَيَحْيَى وَالنَّسَائِيُّ مَتْرُوكٌ

Abu Nu’aim berkata, “Ghariib dari hadits Muhammad dan Asy-Sya’biy, kami tidak menulisnya melainkan dari hadits ‘Ishaam.” Penulis (Imam Ibnul Jauziy) berkata : Aku katakan, “Didalam riwayatnya ada perawi bernama Sawwaar. Ahmad, Yahyaa dan An-Nasaa’iy berkata ; ia matruuk.”

Hadits Ketiga

أَنْبَأَنَا ابْنُ خَيْرُونَ، عَنِ الْجَوْهَرِيِّ، عَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ، عَنْ أَبِي حَاتِمِ بْنِ حَبَّانَ، قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: نا أَبُو سَعِيدٍ الأَشَجُّ، قَالَ: نا تَلِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمُحَارِبِيُّ، عَنْ أَبِي الْجَحَّافِ دَاوُدَ بْنِ أَبِي عَوْفٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو الْهَاشِمِيُّ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ عَلِيٍّ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَتْ: نَظَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِلَى عَلِيٍّ، فَقَالَ: ” هَذَا فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ قَوْمًا يُعْطَوْنَ الْإِسْلَامَ فَيَلْفُظُونَهُ، لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمُّونَ الرَّافِضَةَ، مَنْ لَقِيَهُمْ فَلْيَقْتُلْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ

Ibnu Khairuun memberitahu kami, dari Al-Jauhariy, dari Ad-Daaraquthniy, dari Abu Haatim bin Hibbaan, ia berkata, Muhammad bin Yuusuf mengkhabari kami, ia berkata, Abu Sa’iid Al-Asyaj mengkhabari kami, ia berkata, Taliid bin Sulaimaan Al-Muhaaribiy mengkhabari kami, dari Abul Jahhaaf Daawud bin Abu ‘Auf, dari Muhammad bin ‘Amr Al-Haasyimiy, dari Zainab binti ‘Aliy, dari Faathimah binti Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam memandang ‘Aliy, lantas beliau bersabda :

“Orang ini (yaitu ‘Aliy) berada di dalam surga, dan sesungguhnya diantara syi’ahnya ada kaum yang diberi karunia Islam lalu mereka menentangnya. Mereka mempunyai laqab yang disebut rafidhah. Barangsiapa yang menjumpai mereka maka bunuhlah karena sesungguhnya mereka adalah kaum musyrik![4]” [Hadits no. 255]

قَالَ الْمُصَنِّفُ: هَذَا لا يَصِحُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَحْمَدُ، وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ: تَلِيدٌ كَذَّابٌ

Penulis (Imam Ibnul Jauziy) berkata, “Hadits ini tidak shahih diriwayatkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ahmad dan Yahyaa bin Ma’iin berkata : Taliid (bin Sulaimaan) seorang pendusta.”

Hadits Keempat

أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْبَاقِي بْنِ أَحْمَدَ، قَالَ: نا حَمَدُ بْنُ أَحْمَدَ، قَالَ: نا أَبُو نُعَيْمٍ الْحَافِظُ، قَالَ: أَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلادٍ، قَالَ: نا الْحَارِثُ بْنُ أَبِي أُسَامَةَ، قَالَ: نا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، قَالَ: نا عِمْرَانُ بْنُ زَيْدٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ تَمِيمٍ، عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” يَكُونُ فِي الزَّمَانِ قَوْمٌ يُنْبَزُونَ بِالرَّافِضَةِ، يَرْفُضُونَ الْإِسْلَامَ وَيَلْفُظُونَهُ، فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ

Muhammad bin ‘Abdil Baaqiy bin Ahmad memberitahu kami, ia berkata, Hamad bin Ahmad mengkhabari kami, ia berkata, Abu Nu’aim Al-Haafizh mengkhabari kami, ia berkata, Abu Bakr bin Khalaad memberitahu kami, ia berkata, Al-Haarits bin Abu Usaamah mengkhabari kami, ia berkata Ahmad bin Yuunus mengkhabari kami, ia berkata, ‘Imraan bin Zaid mengkhabari kami, ia berkata, Al-Hajjaaj bin Tamiim menceritakan kepadaku, dari Maimuun bin Mihraan, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Akan ada pada suatu zaman, kaum yang di-laqabi dengan nama rafidhah, mereka kaum yang menolak Islam dan menentangnya. Maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah kaum musyrik![5]” [Hadits no. 256]

قَالَ الْمُصَنِّفُ: وَهَذَا لا يَصِحُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ الْعُقَيلِيُّ: حَجَّاجٌ لا يُتَابَعُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ وَلَهُ غَيْرُ حَدِيثٍ لا يُتَابَعُ عَلَيْهِ، قَالَ يَحْيَى: وَعِمْرَانُ بْنُ زَيْدٍ لا يُحْتَجُّ بِحَدِيثِهِ

Penulis (Imam Ibnul Jauziy) berkata, “Hadits ini tidak shahih diriwayatkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Al-‘Uqailiy berkata : Hajjaaj (bin Tamiim) tak punya mutaba’ah atas hadits ini dan padanya hadits lain yang juga tidak punya mutaba’ah. Yahyaa (bin Ma’iin) berkata : ‘Imraan bin Zaid haditsnya tak dijadikan hujjah.”

Hadits Kelima

أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْبَاقِي قَالَ نا حَمَدُ بْنُ أَحْمَدَ قَالَ نا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ نا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ قَالَ نا أَبُو يَزِيدَ الْقَرَاطِيسِيُّ قَالَ نا يُوسُفُ بْنُ عَدِيٍّ قَالَ نا الْحَجَّاجُ بْنُ تَمِيمٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مَهْرَانَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ عَلِيٌّ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:” يَا عَلِيَّ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِنَا قَوْمٌ يَنْتَحِلُونَ حُبَّنَا أَهْلِ الْبَيْتِ لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمُّونَهُ الرَّافِضَةُ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ

Muhammad bin ‘Abdil Baaqiy memberitahu kami, ia berkata, Hamad bin Ahmad mengkhabari kami, ia berkata, Abu Nu’aim mengkhabari kami, ia berkata, Sulaimaan bin Ahmad mengkhabari kami, ia berkata, Abu Yaziid Al-Qaraathiisiy mengkhabari kami, ia berkata, Yuusuf bin ‘Adiy mengkhabari kami, ia berkata, Al-Hajjaaj bin Tamiim mengkhabari kami, dari Maimuun bin Mihraan, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan di sisinya ada ‘Aliy. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun bersabda :

“Wahai ‘Aliy, akan ada pada umat kita nanti, suatu kaum yang mendakwa kecintaan kepada kita ahlul bait, mereka memiliki laqab yang dinamakan rafidhah. Maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya mereka adalah kaum musyrik![6]” [Hadits no. 257]

قَالَ الْمُصَنِّفُ: وَهَذَا لا يَصِحُّ وَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْحَجَّاجَ لا يُتَابَعُ عَلَى حَدِيثِهِ

Penulis (Imam Ibnul Jauziy) berkata, “Hadits ini pun tidak shahih, dan telah kami sebutkan bahwa Al-Hajjaaj (bin Tamiim) tak punya mutaba’ah atas haditsnya.”

Hadits Keenam

أَنَا أَبُو مَنْصُورٍ الْقَزَّازُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُخَلَّدٍ الْمُعَدَّلُ، قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْحَكِيمِيُّ، قَالَ: نا أَحْمَدُ بْنُ زُهَيْرٍ، قَالَ: نا الْفَضْلُ بْنُ غَانِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَوَّارُ بْنُ مُصْعَبٍ، عَنْ عَطِيَّةَ الْعَوْفِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: كَانَتْ لَيْلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، فَأَتَتْهُ فَاطِمَةُ وَمَعَهَا عَلِيٌّ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ” أَنْتَ وَأَصْحَابُكَ فِي الْجَنَّةِ، أَنْتَ وَشِيعَتُكَ فِي الْجَنَّةِ، أَلا إِنَّ مِمَّنْ يُحِبُّكَ قَوْمًا يُظْهِرُونَ الْإِسْلَامَ بِأَلْسِنَتِهِمْ، يَقْرَأُونَ الْقُرْآنَ لا يُجَاوِزُ تَرَاقِيهِمْ لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمُّونَ الرَّافِضَةَ، فَإِنْ لَقِيتَهُمْ فَجَاهِدْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ “، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا عَلامَةُ ذَلِكَ فِيهِمْ؟ قَالَ: ” يَتْرُكُونَ الْجَمَاعَةَ، وَيَطْعَنُونَ عَلَى السَّلَفِ الأَوَّلِ

Abu Manshuur Al-Qazzaaz memberitahu kami, ia berkata, Abu Bakr Ahmad bin ‘Aliy mengkhabari kami, ia berkata, Ibraahiim bin Makhlad Al-Mu’addal mengkhabari kami, ia berkata, Muhammad bin Ahmad bin Ibraahiim Al-Hakiimiy mengkhabari kami, ia berkata, Ahmad bin Zuhair mengkhabari kami, ia berkata, Al-Fadhl bin Ghaanim mengkhabari kami, ia berkata, Sawwaar bin Mush’ab menceritakan kepada kami, dari ‘Athiyyah Al-‘Aufiy, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, dari Ummu Salamah, ia berkata, “Malam itu adalah malamku dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu Faathimah bersama dengan ‘Aliy mendatangi beliau. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Aliy :

“Kamu dan para sahabatmu berada di dalam surga, kamu dan syi’ahmu juga berada di dalam surga. Ingatlah! Sesungguhnya diantara manusia yang mencintaimu ada suatu kaum yang menampakkan Islam dengan lidah-lidah mereka. Mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka memiliki laqab yang dinamakan rafidhah. Apabila kalian menjumpai mereka, maka perangilah karena sesungguhnya mereka adalah kaum musyrik!”

Aku (‘Aliy) bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa ciri-ciri yang terdapat pada mereka?”

Rasulullah bersabda, “Mereka meninggalkan jama’ah kaum muslimin serta menghujat para salaf yang pertama (para sahabat)[7].” [Hadits no. 258]

قَالَ الْمُؤَلِّفُ: وَهَذَا حَدِيثٌ لا يَصِحُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: عَطِيَّةُ قَدْ ضَعَّفَهُ الثَّوْرِيُّ، وَهُشَيْمٌ، وَأَحْمَدُ، وَيَحْيَى. وَسَوَّارٌ قَالَ فِيهِ أَحْمَدُ، وَيَحْيَى: مَتْرُوكٌ. وَالْفَضْلُ بْنُ غَانِمٍ قَالَ فِيهِ يَحْيَى: لَيْسَ بِشَيْء

Penulis (Imam Ibnul Jauziy berkata), “Hadits ini tidak shahih diriwayatkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. ‘Athiyyah (Al-‘Aufiy) telah dilemahkan oleh Ats-Tsauriy, Husyaim, Ahmad dan Yahyaa. Sementara Sawwaar dikatakan oleh Ahmad dan Yahyaa bahwa ia matruuk. Dan Al-Fadhl bin Ghaanim dikatakan oleh Yahyaa : laisa bi syai’.”

Hadits Ketujuh

أَنَا عَلِيُّ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: أَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ الرَّمَادِيُّ، قَالَ: نا أَبُو غَسَّانَ التِّرْمِذِيُّ، قَالَ: نا الْحَكَمُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ حَصِيرَةَ، عَنْ أَبِي صَادِقٍ وَاسْمُهُ مُسْلِمٌ الْأَزْدِيُّ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ نَاجِذٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ: دَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: يَا عَلِيُّ! إِنَّ فِيكَ مِنْ عِيسَى مَثَلا أَبْغَضَتْهُ الْيَهُودُ بَهَتُوا أُمَّهُ، وَأَحَبَّتْهُ النَّصَارَى حَتَّى أَنْزَلُوهُ بِالْمَنْزِلِ الَّذِي لَيْسَ بِهِ

‘Aliy bin ‘Ubaidillaah memberitahu kami, ia berkata, Ahmad bin Manshuur Ar-Ramaadiy memberitahu kami, ia berkata, Abu Ghassaan At-Tirmidziy mengkhabari kami, ia berkata, Al-Hakam bin ‘Abdil Malik mengkhabari kami, dari Al-Haarits bin Hashiirah, dari Abu Shaadiq –namanya Muslim Al-Azdiy-, dari Rabii’ah bin Naajidz, dari ‘Aliy bin Abi Thaalib, ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggilku, beliau bersabda :

“Wahai ‘Aliy! Sesungguhnya di dalam dirimu terdapat perumpamaan seperti Nabi ‘Iisaa. Orang-orang Yahudi membencinya lalu mereka membuat-buat kedustaan kepada ibunya. Sedangkan orang-orang Nashara mencintainya hingga mereka mendudukkannya dengan kedudukan yang bukan semestinya[8].” [Hadits no. 259]

قَالَ الْمُؤَلِّفُ: هَذَا حَدِيثٌ لا يَصِحُّ، قَالَ يَحْيَى: الْحَكَمُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ لَيْسَ بِثِقَةٍ، وَلَيْسَ بِشَيْءٍ، وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ: مُنْكَرُ الْحَدِيثِ

Penulis (Imam Ibnul Jauziy) berkata, “Hadits ini tidak shahih. Yahyaa berkata : Al-Hakam bin ‘Abdil Malik laisa bi tsiqah wa laisa bi syai’, sementara Abu Daawud berkata : munkarul hadiits.”

Hadits Kedelapan

رَوَى بِشْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْبَصْرِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اتَّخَذَ لِي أَصْحَابًا وَأَصْهُرًا وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يُبْغِضُونَهُمْ فَلا تُوَاكِلُوهُمْ وَلا تُشَارِبُوهُمْ وَلا تُصَلُّوا عَلَيْهِمْ وَلا تُصَلُّوا مَعَهُمْ

Diriwayatkan Bisyr bin ‘Abdillaah Al-Bashriy, dari Anas bin Maalik, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memilihkan untukku para sahabat serta kerabat, dan sesungguhnya akan ada di akhir zaman nanti suatu kaum yang membenci mereka (para sahabat Rasul). Oleh karenanya janganlah kamu sekalian makan bersama kaum tersebut, janganlah kalian minum bersama mereka, janganlah kalian menshalati mereka dan janganlah kalian shalat bersama mereka[9].” [Hadits no. 260]

قَالَ ابْنُ حَبَّانَ: خَبَرٌ بَاطِلٌ لا أَصْلَ لَهُ وَبِشْرٌ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ جِدًّا

Ibnu Hibbaan berkata, “Khabar ini baathil, tak ada asal-usulnya. Bisyr perawi yang haditsnya sangat mungkar.”

Akhirul Kalam

Demikianlah tulisan sederhana ini kami selesaikan, kami berharap semoga apa yang kami tulis ini menjadi tambahan informasi bagi kaum muslimin. ‘Alaa kulli haal, walaupun tidak ada hadits shahih dalam permasalahan ini, namun kesesatan dan penyimpangan syi’ah rafidhah merupakan sesuatu yang telah ijma’ sifatnya, sebagaimana para imam kaum muslimin telah menjelaskannya dan tak ada perbedaan pendapat diantara mereka mengenai kedua hal tersebut. Oleh karenanya alangkah bagus apabila kita merujuk kepada kalam para imam, juga fakta sejarah mengenai sekte berdarah ini, kapan mereka mulai mengemuka hingga akhirnya madzhab buruk mereka menyebar diantara kaum muslimin. Wal’iyadzubillah.

Sebagai penutup, marilah kita renungkan kalam Al-Imam Ibnul Jauziy berikut, semoga kita tidak termasuk diantara keduanya :

قد تعصب قوم ممن يدعى السنة فوضعوا في فضله أحاديث ليغضبوا الرافضة وتعصب قوم من الرافضة فوضعوا في ذمه أحاديث، وكلا الفريقين على الخطأ القبيح

“Sungguh kaum yang mendakwahkan sunnah telah bersikap ta’ashub sehingga mereka mengarang hadits-hadits keutamaan demi mencela rafidhah, dan kaum rafidhah telah bersikap ta’ashub pula sehingga mereka mengarang hadits-hadits sebagai kecaman (terhadap lawannya). Kedua kelompok ini berada diatas kesalahan yang buruk!”

Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di BSD, Serpong pada 17 Jumadil Awwal 1437 H

Tommi Marsetio Abu Ahmad

Mengambil sumber dari kitab :

Al-‘Ilal Al-Mutanaahiyah fiy Al-Ahaadiits Al-Waahiyah”, karya Al-Imam Jamaaluddiin Abul Faraj ‘Abdurrahman bin ‘Aliy bin Muhammad Al-Jauziy Al-Hanbaliy; taqdiim : Syaikh Khaliil Al-Mais; tahqiiq dan takhriij : Al-Ustadz Irsyaad Al-Haq Al-Atsariy, berdasarkan nuskhah yang telah dicetak dan diterbitkan di India; Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Libanon; cetakan pertama.

Footnotes :

[1] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad no. 810; ‘Abdullaah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/546-547; Abu Bakr Al-Bazzaar dalam Musnad-nya no. 499 sebagaimana dalam Kasyful Astaar no. 2774; Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 978; Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Ad-Dalaa’il 6/547, ia berkata :

تَفَرَّدَ بِهِ النَّوَّاءُ وَكَانَ مِنَ الشِّيعَةِ، وَرُوِيَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ

“An-Nawwaa’ tafarrud dengannya dan ia termasuk perawi syi’ah, diriwayatkan dari jalur lain yang dha’if.”

[2] Diriwayatkan oleh Abu Ya’laa dalam Musnad no. 2586; ‘Abd bin Humaid dalam Musnad no. 698; Abul Qaasim Ath-Thabaraaniy dalam Mu’jam Al-Kabiir no. 12997; Abu Bakr Al-Bazzaar sebagaimana dalam Kasyful Astaar no. 2775; Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy dalam Al-Mathaalibul ‘Aaliyah 3/94 menisbatkannya kepada Abu Ya’laa dan ‘Abd bin Humaid.

[3] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 4/329; Al-Khathiib Al-Baghdaadiy dalam Taariikh Baghdaad 14/227; Abul Qaasim Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq 42/331.

[4] Diriwayatkan oleh Abu Ya’laa dalam Musnad no. 6749; Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 1/205; Ibnul A’raabiy dalam Al-Mu’jam no. 1549; Al-Khathiib Al-Baghdaadiy dalam Maudhih Auhaam 1/51; Abul Qaasim Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq 42/334; serta disebutkan Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy dalam Al-Mathaalib no. 2996.

Terjadi tashhif yaitu kesalahan tulis nama perawi pada sanad Abu Ya’laa yaitu pada nama Ibnu Idriis :

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الأَشَجُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ أَبِي الْجَحَّافِ دَاوُدَ بْنِ أَبِي عَوْفٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو الْهَاشِمِيِّ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ عَلِيٍّ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ مُحَمَّدٍ، قَالَتْ: نَظَرَ النَّبِيُّ إِلَى عَلِيٍّ

Abu Sa’iid Al-Asyaj menceritakan kepada kami, Ibnu Idriis menceritakan kepada kami, dari Abul Jahhaaf Daawud bin Abu ‘Auf, dari Muhammad bin ‘Amr Al-Haasyimiy, dari Zainab binti ‘Aliy, dari Faathimah binti Muhammad, ia berkata, “Nabi memandang kepada ‘Aliy….”

Karena sebab tashhif inilah, lantas terjadi kekeliruan penghukuman hadits oleh Syaikh Husain Saliim Asad –semoga Allah merahmati dan memaafkannya-, ketika ia berkata dalam takhriij-nya terhadap Musnad Abu Ya’laa :

إسناده صحيح إن كانت زينب سمعت من أمها، وإلا فهو منقطع، وأبو سعيد الأشيج هو عبد الله بن سعيد، وإبن إدريس هو عبد الله، ومحمد بن عمرو هو إبن الحسن بن علي بن أبي طالب

“Sanadnya shahih apabila Zainab terbukti mendengar dari ibunya, jika tidak maka sanadnya munqathi’. Abu Sa’iid Al-Asyaj adalah ‘Abdullaah bin Sa’iid. Ibnu Idriis adalah ‘Abdullaah. Muhammad bin ‘Amr adalah bin Al-Hasan bin ‘Aliy bin Abi Thaalib.”

Ibnu Idriis ini bukanlah Abu Muhammad ‘Abdullaah bin Idriis Al-Audiy, seorang imam tsiqah, perawi Ash-Shahiihain. Akan tetapi dia adalah Abu Idriis Taliid bin Sulaimaan, atau Abu Sulaimaan Al-Muhaaribiy, inilah yang benar sebagaimana disebutkan oleh Al-Haafizh dalam Al-Mathaalib, wallaahu a’lam. Maka sanadnya bukan saja ada inqitha’, namun sangat lemah karena Taliid Abu Idriis didustakan dan ditinggalkan riwayatnya. Lihat biografinya dalam Al-Majruuhiin 1/204 dan Tahdziib Al-Kamaal no. 798.

[5] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 4/95.

[6] Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 4/95.

[7] Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Mu’jam Al-Ausath no. 6605; Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 14/303; Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah no. 1535.

[8] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad no. 27202; Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 3/120 –dan ia menshahihkannya-; An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 8434; Abu Ya’laa dalam Musnad no. 534; Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 1004; ‘Abdullaah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/543-544; dan Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir 3/247.

[9] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 1/187.

*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s