Adzan Terakhir Sang Mu’adzdzin Rasulullah

bilal muadzdzin

Wafatnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sungguh merupakan kesedihan yang luar biasa bagi para sahabat, bahkan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu seolah-olah tidak percaya beliau telah wafat, ‘Umar menyangka itu adalah berita yang dibuat-buat orang kafir, oleh karenanya ia mengancam akan membunuh orang yang menyebarkan berita tersebut, hingga kemudian Abu Bakr radhiyallaahu ‘anhu menyadarkannya “kembali ke bumi” bahwa Rasul memang benar-benar telah wafat. Tak terkecuali Bilaal bin Rabaah Al-Habasyiy radhiyallaahu ‘anhu, kenangan akan sosok mulia nan agung itu begitu membekas di hatinya. Kesedihan akan kehilangan sosok Rasul sebagai seorang guru yang menggembleng dirinya begitu mendalam, hingga mu’adzdzin Rasulullah tersebut ber-‘azzam untuk pergi berjihad di jalan Allah, menuju ke negeri Syaam, meninggalkan Madinah, kota dengan beribu kenangan indah bagi Bilaal bersama Al-Mushthafaa, yang terlalu indah untuk dilukiskan.

Sanad dan Matan Kisah

Al-Imam Abul Hasan (atau Abul Faidh) Muhammad bin Al-Faidh Al-Ghassaaniy (wafat 315 H) –rahimahullah- meriwayatkan dalam kitabnya, Akhbaar wa Hikaayaat :

حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالِ بْنِ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ أَبِيهِ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: ” لَمَّا دَخَلَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، سَأَلَ بِلَالًا أَنْ يَقْدِمَ الشَّامَ فَفَعَلَ ذَلِكَ. قَالَ: وَأَخِي أَبُو رُوَيْحَةَ، الَّذِي آخَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَ دَارِيَّا فِي خَوْلَانَ، فَأَقْبَلَ هُوَ وَأَخُوهُ إِلَى قَوْمٍ مِنْ خَوْلَانَ، فَقَالَا لَهُمْ: قَدْ جِئْنَاكُمْ خَاطِبَيْنِ، وَقَدْ كُنَّا كَافِرَيْنِ فَهَدَانَا اللَّهُ، وَمَمْلُوكَيْنِ فَأَعْتَقَنَا اللَّهُ، وَفَقِيرَيْنِ فَأَغْنَانَا اللَّهُ، فَإِنْ تُزَوِّجُونَا فَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَإِنْ تَرُدُّونَا فَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، فَزَوَّجُوهُمَا. ثُمَّ إِنَّ بِلَالًا رَأَى فِي مَنَامِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَقُولُ: ” مَا هَذِهِ الْجَفْوَةُ يَا بِلَالُ، أَمَا آنَ لَكَ أَنْ تَزُورَنِي يَا بِلَالُ؟ “. فَانْتَبَهَ حَزِينًا وَجِلًا خَائِفًا، فَرَكِبَ رَاحِلَتَهُ وَقَصَدَ الْمَدِينَةَ، فَأَتَى قَبْرَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَجَعَلَ يَبْكِي عِنْدَهُ، وَجَعَلَ يُمَرِّغُ وَجْهَهُ عَلَيْهِ، وَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمَا، فَجَعَلَ يَضُمُّهُمَا وَيُقَبِّلُهُمَا، فَقَالَا لَهُ: يَا بِلَالُ، نَشْتَهِي نَسْمَعُ أَذَانَكَ الَّذِي كُنْتَ تُؤَذِّنُهُ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي السَّحَرِ. فَفَعَلَ، فَعَلَا سَطْحَ الْمَسْجِدِ، فَوَقَفَ مَوْقِفَهُ الَّذِي كَانَ يَقِفُ فِيهِ، فَلَمَّا أَنْ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، ارْتَجَّتِ الْمَدِينَةُ، فَلَمَّا أَنْ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، زَادَ تَعَاجِيجُهَا، فَلَمَّا أَنُ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، خَرَجَ الْعَوَاتِقُ مِنْ خُدُورِهِنَّ فَقَالُوا: أَبُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَمَا رُئِيَ يَوْمٌ أَكْثَرَ بَاكِيًا وَلَا بَاكِيَةً بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Abu Ishaaq Ibraahiim bin Muhammad bin Sulaimaan bin Bilaal bin Abud Dardaa’ menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku –Muhammad bin Sulaimaan- menceritakan kepadaku, dari Ayahnya –Sulaimaan bin Bilaal-, dari Ummud Dardaa’, dari Abud Dardaa’, ia berkisah :

“Tatkala ‘Umar bin Al-Khaththaab memasuki Al-Jaabiyah, Bilaal meminta untuk pindah ke negeri Syaam dan ia pun mendapat izin untuk memenuhi keinginannya tersebut. Bilaal berkata, “Dan (turut serta pula) saudaraku, Abu Ruwaihah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang mempersaudarakan aku dengannya.” Mereka tiba di Dariyya, suatu tempat di Khaulaan. Mereka berdua datang kepada sekelompok kaum yang berasal dari Khaulaan, seraya berkata, “Sungguh, kami, 2 orang peminang, telah datang kepada kalian. Kami dahulu adalah dua orang kafir, kemudian Allah memberi kami petunjuk. Kami dahulu adalah 2 orang budak, kemudian Allah memerdekakan kami. Kami dahulu adalah 2 orang yang faqir, kemudian Allah mencukupi kami. Maka jika kalian mengawinkan kami (dengan wanita-wanita kalian), kami berucap segala puji bagi Allah. Namun jika kalian menolak kami, maka tak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.” Lantas mereka pun mengawinkan keduanya (dengan wanita dari kaum mereka).”

Abud Dardaa’ pun melanjutkan, “Kemudian pada suatu hari, Bilaal melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam mimpinya, dan beliau bersabda,

“Apakah engkau berpaling dariku wahai Bilaal? Tidakkah kau berkeinginan mengunjungiku sekarang wahai Bilaal?”

Seketika terbangunlah Bilaal dalam kesedihan yang mendalam dan ketakutan yang teramat sangat. Bergegaslah ia bersiap-siap dan menaiki unta tunggangannya dengan tujuan kota Madinah. Sesampainya Bilaal disana, ia langsung mendatangi kubur Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menangis di sisinya seraya berguling-guling diatas kuburan beliau. Tak lupa Bilaal mengunjungi Al-Hasan dan Al-Husain, bershalawat kepada Allah atas kedua cucu Rasulullah tersebut, merangkul serta mencium keduanya.

Al-Hasan dan Al-Husain meminta sesuatu kepada Bilaal, “Wahai Bilaal, sungguh kami berkeinginan mendengar lantunan adzanmu yang engkau kumandangkan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam saat menjelang terbit fajar.” Bilaal pun menyanggupi, ia menaiki atap masjid dan berdiri di tempatnya yang dahulu pada zaman Rasulullah, ia biasa berdiri di tempat tersebut untuk mengumandangkan adzan.

Ketika Bilaal berseru, “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar…”, berguncanglah seisi kota Madinah.

Ketika Bilaal berseru, “Asyhadu an laa Ilaaha Ilallaah…”, berhamburanlah penduduk kota Madinah (menuju sumber suara tersebut).

Ketika Bilaal berseru, “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah…”, keluarlah para gadis dari bilik-bilik mereka sembari bertanya-tanya, “Apakah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam diutus kembali?”

Maka, apapun yang terlihat di Madinah pada hari itu adalah banjir air mata dan tak ada tangisan sepeninggal Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam (yang lebih banyak) dari tangisan manusia yang terjadi pada hari tersebut.” [Akhbaar wa Hikaayaat no. 75]

Al-Haafizh Abul Qaasim Ibnu ‘Asaakir turut pula meriwayatkan kisah ini dalam Taariikh Dimasyq 7/137.

Faidah-faidah

Kisah nan syahdu ini dinukil oleh blog-blog dan website-website yang bertemakan sejarah Islam tanpa diketahui keterangan lebih lanjut mengenainya. Mungkin bertujuan bagus, yaitu ingin mengajak kita menapak tilasi kerinduan para sahabat pada waktu itu sepeninggal Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Namun sebenarnya ada pembicaraan mengenai kisah ini yang bisa jadi belum diketahui oleh para penulis blog dan website tersebut.

Al-Imam Adz-Dzahabiy dalam Miizaan Al-I’tidaal 1/190 pada biografi Ibraahiim bin Muhammad bin Sulaimaan bin Bilaal bin Abud Dardaa’, berkata bahwa Ibraahiim ini fiihi jahaalah, artinya tidak diketahui jarh maupun ta’diil-nya. Ia diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Faidh Al-Ghassaaniy.

Di dalam kitabnya yang lain, yaitu Siyar A’laam An-Nubalaa’ 1/358, Imam Adz-Dzahabiy menegaskan :

إِسْنَادُهُ لَيِّنٌ، وَهُوَ مُنْكَرٌ

“Sanadnya tidak kuat dan ia mungkar.”

Al-Haafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy dalam Lisaan Al-Miizaan 1/359 membawakan kalam Adz-Dzahabiy mengenai jahaalah Ibraahiim bin Muhammad, kemudian Al-Haafizh berkata :

ترجم له ابن عساكر ثم ساق من روايته، عَن أبيه، عَن جَدِّه، عن أم الدرداء، عَن أبي الدرداء في قصة رحيل بلال إلى الشام وفي قصة مجيئه إلى المدينة وأذانه بها وارتجاج المدينة بالبكاء لأجل ذلك وهي قصة بينة الوضع

“Ibnu ‘Asaakir menulis biografinya kemudian menyebutkan riwayatnya, dari Ayahnya, dari Kakeknya, dari Ummud Dardaa’, dari Abud Dardaa’ pada kisah perginya Bilaal menuju Syaam, dan di dalam kisah tersebut disebutkan kedatangannya kembali ke Madinah lalu ia pun beradzan disana, lantas bergetarlah seisi Madinah oleh tangisan manusia karenanya. Ini adalah kisah yang sangat jelas kepalsuannya.”

Kemudian Al-‘Allaamah Ibnu ‘Iraaq Al-Kinaaniy menukil kalam keduanya dalam Tanziih Asy-Syarii’ah 2/118.

Jadi, kisah ini adalah kisah yang tidak shahih serta tidak patut dinukil karena penisbatannya yang tidak benar kepada sahabat Bilaal, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama diatas.

Apa yang Terjadi Pada Bilaal Setelah Wafatnya Rasulullah?

Pada forum almeshkat, seseorang mengirim pertanyaan kepada Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillaah As-Suhaim mengenai kisah Bilaal diatas seraya menyebutkan kisahnya secara lengkap dan meminta Syaikh agar menjelaskan mengenai keshahihan kisah tersebut. Maka Syaikh pun menerangkan sebagaimana kami kutip dari http://www.almeshkat.net/vb/showthread.php?t=73073#gsc.tab=0 :

صحيح أن بلالاً رضي الله عنه ترك الأذان بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وأنه انطلق إلى أرض الشام مُجاهدا . وأن عمر رضي الله عنه طلب منه أن يُؤذِّن حينما قَدِم عمر رضي الله عنه إلى الشام .

فقد جاء عن زيد بن أسلم عن أبيه قال : قدمنا الشام مع عمر فأذَّن بلال ، فذكر الناسُ النبي صلى الله عليه وسلم فلم أرَ يوما أكثر باكيا .

وفي رواية : أن بلالا لم يؤذِّن لأحد بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وأراد الجهاد ، فأراد أبو بكر منعه ، فقال : إن كنت أعتقتني لله فخلِّ سبيلي . قال : فكان بالشام حتى قَدِم عُمَر الجابية فسأل المسلمون عمر أن يسأل لهم بلالاً يؤذِّن لهم ، فسأله فأذَّن يوما فلم يُرَ يوما كان أكثر باكيا من يومئذ ذِكْرًا منهم للنبي صلى الله عليه وسلم .

قال ابن حجر في ” الإصابة ” : ثم خرج بلال بعد النبي صلى الله عليه وسلم مجاهدا إلى أن مات بالشام . اهـ .

ولكن ليس صحيحا أنه تمرّغ على قبر النبي صلى الله عليه وسلم ، فلم يكن هذا من هدي الصحابة ولا كان من أفعالهم رضي الله عنهم .

وقد أورد الذهبي قصة رؤيا بلال للنبي صلى الله عليه وسلم وما جاء فيها ، ومجيئه إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم ، وطلب الحسن والحسين رضي الله عنهما منه أن يُؤذِّن … ثم ضعّفها الإمام الذهبي بقوله : إسناده لين ، وهو منكر .

والله أعلم

Benar bahwa Bilaal radhiyallaahu ‘anhu tidak beradzan lagi setelah wafatnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, untuk selanjutnya ia bertolak menuju bumi Syaam sebagai mujahid, lalu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu menginginkannya agar mengumandangkan adzan disana ketika ‘Umar memasuki Syaam.

Telah ada riwayat dari Zaid bin Aslam, dari Ayahnya (yaitu Aslam maulaa ‘Umar), ia berkata, “Kami datang ke Syaam bersama ‘Umar, lalu beradzanlah Bilaal. Lantas orang-orang pun menyebut-nyebut Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka seakan-akan aku tidak pernah melihat satu hari dimana banyak manusia berderai air mata (dibanding hari itu)[1].”

Dalam riwayat yang lain, “Bahwa Bilaal tidak pernah beradzan untuk seorang pun setelah wafatnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ia ingin pergi berjihad, namun Abu Bakr mencegahnya. Bilaal berkata, “Jika engkau memerdekakanku karena Allah, maka aku bebas memilih jalanku.” Bilaal berada di Syaam hingga ‘Umar mendatangi Al-Jaabiyah. Lalu kaum muslimin memohon kepada ‘Umar agar ia meminta kesediaan Bilaal beradzan untuk mereka. ‘Umar pun bertanya kepada Bilaal dan ia bersedia, jadilah Bilaal beradzan pada suatu hari. Maka seakan-akan tidak pernah terlihat hari dimana banyak manusia berderai airmata selain dari hari itu, ketika disebut nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam[2].”

Ibnu Hajar berkata dalam Al-Ishaabah, “Kemudian Bilaal keluar (menuju Syaam) sebagai mujahid setelah wafatnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, hingga akhir hidupnya di Syaam[3].”

Akan tetapi, tidaklah benar bahwa Bilaal berguling-guling diatas kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ini bukanlah termasuk jalan para sahabat dan bukan pula kebiasaan-kebiasaan mereka –radhiyallaahu ‘anhum-.

Adz-Dzahabiy membawakan kisah mengenai mimpi Bilaal akan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan apa yang terkandung di dalam kisah tersebut, lalu kedatangan Bilaal ke kuburan Nabi, hingga permintaan Al-Hasan dan Al-Husain –radhiyallaahu ‘anhuma- kepadanya agar ia bersedia mengumandangkan adzan. Kemudian Al-Imam Adz-Dzahabiy melemahkan kisah tersebut dengan penegasannya : sanadnya tidak kuat dan ia mungkar.

Wallaahu a’lam.”

Dari penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman As-Suhaim diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa setelah wafatnya Rasulullah, Bilaal pergi ke Syaam sebagai muslim yang merdeka dan ia berjuang di jalan Allah disana, hingga akhir kehidupannya ia tetap berada di negeri Syaam dan tidak pernah kembali ke Madinah. Sebagaimana telah ditegaskan oleh para ulama pakar hadits dan sejarah, diantaranya :

قَال الذهلي عَنْ يَحْيَى بْن بكير: مات بدمشق فِي طاعون عمواس، سنة سبع عشرة أو ثماني عشرة، وقيل: إنه مات بحلب، وهو ابن سبعين

Adz-Dzuhliy berkata, “Dari Yahyaa bin Bukair : Bilaal wafat di Damaskus, pada masa tha’un amwas, tahun 17 H atau 18 H. Dan dikatakan dalam suatu pendapat bahwa ia wafat di Halab pada usia 70 tahun.” [Tahdziib Al-Kamaal 4/290]

تُوُفِّيَ بِلالٌ بِدِمَشْقَ سَنَةَ عِشْرِينَ وَدُفِنَ عِنْدَ بَابِ الصَّغِيرِ فِي مَقْبَرَةِ دِمَشْقَ وَهُوَ ابْنُ بِضْعٍ وَسِتِّينَ سَنَةً وَذَلِكَ فِي خِلافَةِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ. رَضِيَ اللَّهُ عنه

“Bilaal wafat di Damaskus tahun 20 H dan dikuburkan di Baab Ash-Shaghiir di pekuburan Damaskus dan ia wafat pada usia sekitar 60 tahun pada masa khilafah ‘Umar bin Al-Khaththaab. Semoga Allah meridhai Bilaal.” [Ath-Thabaqaat Al-Kubraa li Ibni Sa’d 7/270]

فَذهب إِلَى الشَّام مؤثرا للْجِهَاد على الْأَذَان إِلَى أَن مَاتَ سنة عشْرين وَيُقَال إِن قَبره بِدِمَشْق وَسمعت أهل فلسطين يَقُولُونَ إِن قَبره بعمواس وَقد قيل إِن قَبره بداريا وَامْرَأَة بِلَال هِنْد الخولانية

“Maka Bilaal berangkat menuju Syaam memprioritaskan dirinya untuk berjihad diatas adzan, hingga ia wafat tahun 20 H. Dikatakan bahwa kuburannya berada di Damaskus, dan aku juga telah mendengar penduduk Palestina mengatakan kuburannya ada di ‘Amwaas. Dan telah dikatakan dalam pendapat yang lain bahwa kuburannya ada di Dariyya. Istri Bilaal adalah Hind Al-Khaulaaniyyah.” [Ats-Tsiqaat li Ibni Hibbaan 3/28]

قَالَ مُحَمَّدُ بنُ إِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيُّ، وَابْنُ إِسْحَاقَ، وَأَبُو عُمَرَ الضَّرِيْرُ، وَجَمَاعَةٌ: تُوُفِّيَ بِلاَلٌ سَنَةَ عِشْرِيْنَ بِدِمَشْقَ

Muhammad bin Ibraahiim At-Taimiy, Ibnu Ishaaq, Abu ‘Umar Ad-Dhariir dan sejumlah ulama lainnya berkata, “Bilaal wafat tahun 20 H di Damaskus.” [Siyar A’laam An-Nubalaa’ 1/359]

Menjadi jelaslah kini mengapa kisah di awal dikatakan mungkar, karena ia menyelisihi apa yang telah disepakati oleh para ulama sebagaimana dalam uraian-uraian yang telah kami sebutkan baru saja. Dan kisah-kisah yang mungkar termasuk ke dalam jenis riwayat yang tidak patut dinukil begitu saja tanpa ada keterangan, kecuali jika menyebutkan kelemahan dan cacatnya.

Demikianlah yang dapat kami tuliskan. Semoga ada manfaatnya, kebenaran mutlak milik Allah ‘Azza wa Jalla. Kekeliruan dan khilaf mutlak ada pada diri kami.

Wallaahu Ta’ala a’lam.

Diselesaikan di Pondok Aren, 11 Jumada Tsaniy 1437 H

 

Tommi Marsetio Abu Ahmad –waffaqahullah-

 

Footnotes :

[1] Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Daawud dalam Az-Zuhd no. 275 :

نا عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ، قَالَ: نا أَبُو نُوحٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَزْوَانَ، قَالَ: نا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَدِمْنَا الشَّامَ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَأَذَّنَ بِلالٌ فَذَكَرَ النَّاسُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، فَلَمْ أَرَ يَوْمًا كَانَ أَكْثَرَ بَاكِيًا مِنْهُ، جَاءَ بِلالٌ يَسْتَأْذِنُ عُمَرَ، وَنَحْنُ عَلَى بَابِهِ، فَقُلْنَا لَهُ: إِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ نَائِمٌ، فَقَالَ بِلالٌ: لا تَكَلَّمُونَ عِنْدَ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ نَائِمًا، وَاللَّهِ لَوْ كَانَ يَقْظَانًا لَقَرَأْتُ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ حَتَّى يَضَعَ رَقَبَتَهُ

Juga Al-Imam Al-Bukhaariy dalam Taariikh Al-Ausath no. 171 :

حَدَّثَنَا محمد قال: حَدَّثَنَا يحيى بْن بشر قال: حَدَّثَنَا قراد قال: أخبرنا هشام بْن سعد، عن زيد بْن أسلم، عن أبيه قال: قدمنا الشام مع عمر، فأذن بلال، فذكر الناس النبي صلى الله عليه وسلم، فلم أر يوما أكثر باكيا منه

[2] Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Sunan Al-Kubraa 1/419 :

وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، أنا أَبُو يَحْيَى أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، ثنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ ثنا أَبُو الْوَلِيدِ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقُرَشِيُّ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ: سَأَلْتُ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ عَنِ السُّنَّةِ فِي الأَذَانِ، فَقَالَ: مَا تَقُولُونَ أَنْتُمْ فِي الأَذَانِ وَعَمَّنْ أَخَذْتُمُ الأَذَانَ؟ قَالَ الْوَلِيدُ: فَقُلْتُ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَابْنُ جَابِرٍ وغيرهما، ” أَنَّ بِلالا لَمْ يُؤَذِّنْ لأَحَدٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَرَادَ الْجِهَادَ، فَأَرَادَ أَبُو بَكْرٍ مَنْعَهُ وَحَبْسَهُ، فَقَالَ: إِنْ كُنْتَ أَعْتَقْتَنِي لِلَّهِ فَلا تَحْبِسْنِي عَنِ الْجِهَادِ، وَإِنْ كُنْتَ أَعْتَقْتَنِي لِنَفْسِكَ أَقَمْتُ، فَخَلَّى سَبِيلُهَ، وَكَانَ بِالشَّامِ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْهِمْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ الْجَابِيَةَ، فَسَأَلَ الْمُسْلِمُونَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَنْ يَسْأَلَ لَهُمْ بِلالا يُؤَذِّنُ لَهُمْ، فَسَأَلَهُ فَأَذَّنَ لَهُمْ يَوْمًا أَوْ قَالُوا: صَلاةً وَاحِدَةً، قَالُوا: فَلَمْ يُرَ يَوْمًا كَانَ أَكْثَرَ بَاكِيًا مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ حِينَ سَمِعُوا صَوْتَهُ ذِكْرًا مِنْهُمْ لِرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

Dan disebutkan pula oleh Al-Imam Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar 1/357.

[3] Al-Ishaabah fiy Tamyiiz Ash-Shahaabah 1/455.

*****

One thought on “Adzan Terakhir Sang Mu’adzdzin Rasulullah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s