Nasehat Syaikh Muqbil Agar Meninggalkan Ta’ashub Kepada Ulama Tertentu

fanatic-logo

Dipaparkan pertanyaan kepada Syaikh Muqbil :

انتشر بين كثير من الشباب التعصب لبعض العلماء لأشخاصهم فأصبح يتمسك بقول العالم بغير دليل ولا برهان ,ومن هنا نشأت فتنة بين كثير من الشباب أبعدتهم عن طلب العلم الشرعي فماهي نصيحتك لهؤلاء وأمثالهم

Telah menyebar diantara sejumlah besar para pemuda, sikap ta’ashub kepada beberapa ulama karena individual mereka, hingga jadilah mereka memegang teguh ucapan seorang ‘alim dengan tanpa dalil, tidak juga burhan (bukti-bukti yang jelas, -pent). Dari sinilah mulai timbul fitnah di tengah-tengah para pemuda tersebut serta menjauhkan mereka dari menuntut ilmu syar’iy. Apakah nasehat anda kepada mereka dan orang-orang yang semisalnya?

Syaikh Muqbil menjawab :

نصيحتي أننا نحب علماءنا حباً شرعياً ، ولا نقلدهم ، ولا نتعصب لهم : ” اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ ” .

ولم يوجد في عصر الصحابة بكرياً ولا عمرياً بمعنى أنه يأخذ بجميع أقوال أبي بكر ويتعصب له ، أو بأقوال عمر ويتعصب له ، ولا عثماني إذا قالوا عثماني بمعنى أنه يحب عثمان وأنه أفضل من علي ، وليس معناه أنه يقلده في كل شيء ، وهكذا على إثر ذلك الزمن لأن أناس يرى أحقية علي بالخلافة أو أنه يحب علياً حباً زائداً .

فالمهم لم يوجد هذا زمن الصحابة رضوان الله عليهم ، فنحن كما قلنا أهل السنة نحب علماءنا حباً شرعياً ، ولا نرضى لأحدٍ أن يتنقصهم ، لكن ما نقلدهم ، التقليد حرام : ” وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ” .

والله سبحانه وتعالى يقول : ” وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ” ، ونحن في هذه البلد بلد التوحيد ، وبلد السنة فما ينبغي أن نسن للناس سنة سيئة ، وأن نتعصب لفلانٍ ولا فلان ، لكن نقرأ كتبهم ، ونستفيد من أفهامهم وجزاهم الله عن الإسلام خيراً ، ما كان فلان يرضى أن تتعصب له ، ولا كان أيضاً فلان يرضى أن تتعصب له . والله المستعان

“Nasehat dariku adalah, hendaknya kita mencintai para ulama dengan kecintaan syar’iy, jangan taqlid dan jangan pula ta’ashub kepada mereka. “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS Al-A’raaf : 3).

Tak ditemukan pada zaman sahabat, seseorang bernisbat ‘Bakriy’ (pengikut Abu Bakr, -pent) dan tidak juga ‘’Umariy’, maksudnya adalah dia mengambil semua perkataan Abu Bakr kemudian ta’ashub dengannya, atau perkataan ‘Umar kemudian ta’ashub dengannya, dan tidak pula ‘’Utsmaaniy’. Andaikan mereka berkata ‘Utsmaaniy maka maksudnya adalah ia mencintai ‘Utsmaan dan ia lebih afdhal daripada ‘Aliy, bukanlah maknanya ia bertaqlid kepada ‘Utsmaan dalam segala hal. Demikian pula yang terjadi sesudah zaman tersebut karena kemudian sebagian orang berpendapat ‘Aliy lebih berhak dengan khilafah atau ia mencintai ‘Aliy dengan kecintaan yang berlebihan kadarnya. Maka dapat dipahami bahwa tidak ditemukan hal-hal semacam ini pada zaman sahabat –ridhwanullaahi ‘alaihim-.

Jadi, kita katakan sebagaimana ahlussunnah berkata bahwa kita mencintai para ulama dengan kecintaan yang syar’iy dan kita tidak ridha kepada seorang pun yang merendahkan mereka, namun kita juga tidak bertaqlid kepada mereka karena taqlid itu haram : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS Al-Israa’ : 36).

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS Al-Hasyr : 7).

Kita berada di negeri ini yang merupakan negeri tauhid dan juga negeri sunnah. Maka dari itu tak patut kita memberi contoh sunnah yang buruk kepada orang-orang, tak patut pula kita ta’ashub kepada fulaan dan fulaan. Akan tetapi kita membaca kitab-kitab mereka dan mengambil faidah dari pemahaman mereka, sepatutnya kita ucapkan : semoga Allah membalas jasa-jasa mereka terhadap Islam dengan balasan yang baik. Tidaklah fulaan ridha engkau berta’ashub kepadanya dan tidaklah fulaan yang lain ridha engkau berta’ashub kepadanya. Wallaahul musta’aan.[1]

~ Syaikh Abu ‘Abdirrahman Muqbil bin Haadiy Al-Waadi’iy rahimahullah ~

Teks fatwa kami kutip dari : http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=250

Diterjemahkan di BSD, ba’da Ashar, 14 Jumada Tsaniy 1437 H

Abu Ahmad Tommi Marsetio –semoga Allah meluruskan jalannya-

Footnotes :

[1] Nasehat beliau ini berlaku juga bagi orang-orang yang ta’ashub bahkan ghuluw terhadap asatidz tertentu, kyai, radio, yayasan, dan yang lainnya, hingga sampai pada tahap tidak mengakui ke-ahlussunnah-an seseorang hanya karena perbedaan sikap dalam permasalahan furu’ untuk kemudian mengeluarkan stempel-stempel buruk kepada person tersebut, ataupun perbedaan masalah fiqhiyyah yang mana para ulama masih berbeda-beda pendapat mengenainya, akan tetapi mereka secara berlebihan menganggap pendapat mereka adalah pendapat final atau ijma’ yang seakan-akan saudaranya yang berbeda pendapat dengannya adalah ahli bid’ah karena menyelisihi ijma’. Wal’iyadzubillah.

Dan taqlid yang beliau maksud dalam fatwa ini kelihatannya lebih mengarah kepada taqlid buta, karena pada beberapa permasalahan, taqlid dengan derajat tertentu tidaklah jatuh sampai pada derajat haram apalagi bila mukallaf adalah orang awam yang tidak mengetahui dalil dan cara-cara berdalil. Wallaahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s