Para Sahabat Dalam Kajian Ilmu Hadits

hubbus-shahabah

Dalam istilah ilmu hadits, sahabat terdefinisikan sebagai :

مَن لقي النبي صلى الله عليه وسلم مؤمنا، ومات على الإسلام

“Seseorang yang menjumpai Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan beriman kepada beliau, kemudian wafat diatas agama Islam[1].”

Dari definisi diatas, kita ketahui bahwa mengenali para sahabat -radhiyallaahu ‘anhum- adalah ilmu yang sangat penting lagi mulia, sarat dengan fa’idah yang begitu banyak. Dengan ilmu inilah dapat diketahui sanad yang muttashil dari yang mursal.

Perbedaan Pendapat Para Ulama Seputar Pembatasan Definisi Sahabat :

 

A. Yang terkenal menurut kalangan ahli hadits adalah bahwasanya sahabat adalah setiap muslim yang melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, demikian pendapat Ibnu Ash-Shalaah yang dinukil dari Al-Bukhaariy dan selainnya, serta dinisbatkan kepadanya, kendati sahabat tersebut adalah sahabat yang buta seperti Ibnu Ummi Maktuum -radhiyallaahu ‘anhu- dan yang sepertinya, maka ia jelas adalah sahabat tanpa adanya khilaf bersamaan dengan ketidakmampuannya untuk melihat.

B. Seorang kafir yang sempat melihat Rasulullah kemudian ia baru memeluk Islam setelah wafatnya beliau, seperti utusan kaisar Romawi, maka tidak berlaku status sahabat padanya.

C. Seorang yang melihat jenazah beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam setelah wafatnya sebelum beliau dikuburkan, sebagaimana yang terjadi pada Abu Dzu’aib Khuwailid bin Khaalid Al-Hudzaliy[2], maka tidak berlaku status sahabat padanya.

D. Demikian pula orang yang sebelumnya bersahabat dengan Rasulullah, kemudian ia murtad (sebelum beliau wafat), contohnya Ibnu Khathal[3] dan yang semisalnya.

E. Adapun untuk orang yang murtad setelah wafatnya Rasulullah kemudian ia kembali memeluk Islam dan wafat sebagai seorang muslim, maka Al-Haafizh Al-‘Iraaqiy berkata :

في دخوله فيهم نظر، فقد نص الشافعي وأبو حنيفة على أن الرِّدة محبطة للعمل، قال: والظاهر أنها محبطة للصحبة السابقة، كقرة بن هبيرة، وكالأشعث بن قيس

“Tentang penggolongannya sebagai sahabat, maka perlu diteliti kembali. Asy-Syaafi’iy dan Abu Haniifah telah me-nash-kan bahwa ar-riddah (murtad, keluar dari Islam) adalah pembatal amalan. Yang nampak bahwasanya ar-riddah tersebut adalah pembatal pula status sahabat pada masa sebelum ia murtad, seperti Qurrah bin Hubairah dan Al-Asy’ats bin Qais[4].”

F. Dan adapun bagi orang yang ruju’ kepada Islam pada masa Rasulullah masih hidup (setelah sebelumnya ia murtad atau masih kafir), seperti ‘Abdullaah bin Abi Sarh, maka tiada penghalang untuk memasukkannya sebagai sahabat. Ditegaskan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar, ia berkata :

وهل يشترط لقيه في حال النبوة أو أعم من ذلك، حتى يدخل من رآه قبلها ومات على الحنيفية، كزيد بن عمرو بن نفيل، وقد عدّه إبن منده في الصحابة

“Apakah disyaratkan menjumpai beliau dalam masa kenabian ataukah yang lebih umum dari masa tersebut (maksudnya sebelum diutusnya beliau menjadi Rasul), hingga termasuklah (sebagai sahabat) orang yang melihat beliau sebelum masa kenabian dan ia wafat diatas agama yang lurus, -seperti Zaid bin ‘Amr bin Nufail-, Ibnu Mandah menggolongkannya sebagai sahabat[5].”

G. Beberapa ahli ushul mengatakan bahwa sahabat adalah orang yang bermajelis dengan Rasulullah dalam jangka waktu yang lama diatas jalan ittiba’ kepada beliau dan mengambil ilmu dari beliau, berbeda dengan orang yang datang kepada beliau kemudian pergi tanpa bersahabat dengan beliau dan tanpa adanya ittiba’.

H. Pendapat selanjutnya dalam hal pembatasan definisi sahabat adalah orang yang panjang masa persahabatannya dengan Rasulullah serta meriwayatkan dari beliau. Demikian dikatakan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy.

I. Seorang yang melihat Rasulullah dan ia telah mencapai usia baligh. Pendapat ini dihikayatkan oleh Al-Waaqidiy namun ini adalah pendapat yang syaadz[6].

J. Seorang yang menjumpai zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam namun ia tidak melihat beliau, demikian dikatakan oleh Yahyaa bin ‘Utsmaan bin Shaalih Al-Mishriy. Contohnya adalah Abu Tamiim ‘Abdullaah bin Maalik Al-Jaisyaaniy. Ia tidak rihlah ke Madinah kecuali pada masa kekhalifahan ‘Umar bin Al-Khaththaab -radhiyallaahu ‘anhu- atas kesepakatan para ulama mengenainya[7]. Diantara ulama yang meriwayatkan pendapat ini adalah Al-Qaraafiy dalam Syarh At-Tanqiih.

K. Dan juga masuk dalam pembahasan ini, anak-anak para sahabat yang otomatis memeluk Islam mengikuti agama orangtuanya, yang dido’akan oleh Rasulullah namun ketika masuk usia tamyiz mereka tidak menjumpai beliau (karena beliau lebih dulu wafat). Sebagaimana ‘Abdullaah bin Al-Haarits bin Naufal. Al-Haafizh Shalaahuddiin Al-‘Alaa’iy berkata :

عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ بْنُ نَوْفَلٍ حَنَّكَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَدَعَا لَهُ وَلَا صُحْبَةَ لَهُ، بَلْ وَلَا رُؤْيَةَ أَيْضًا، وَكَذَا قَالَ فِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيِّ، حَنَّكَهُ وَدَعَا لَهُ، وَلَا تُعْرَفُ لَهُ رُؤْيَةٌ بَلْ هُوَ تَابِعِيٌّ

“‘Abdullaah bin Al-Haarits bin Naufal; Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mentahniknya lalu berdo’a untuknya, dan ‘Abdullaah bukanlah sahabat, bahkan ia tak melihat Nabi. Demikian juga ‘Abdullaah bin Abi Thalhah Al-Anshaariy, ia ditahnik Nabi kemudian dido’akan namun tidak diketahui ia pernah melihat Nabi, bahkan ia adalah tabi’in[8].”

Dalam kitab An-Nukat disebutkan; yang nampak dari kalam para imam seperti Ibnu Ma’iin, Abu Zur’ah, Abu Haatim, Abu Daawud dan yang lainnya, adalah mereka mensyaratkan minimal usia tamyiz ketika melihat Nabi agar tergolong sebagai sahabat, karena para imam yang menetapkan syarat ini tidak menggolongkan anak-anak kecil yang ditahnik Nabi, diusap wajahnya oleh Nabi atau dilumuri mulutnya dengan air liur Nabi sebagai sahabat, contohnya Muhammad bin Haathib, ‘Abdurrahman bin ‘Utsmaan At-Taimiy, ‘Ubaidullaah bin Ma’mar dan lainnya.

Dan tidak disyaratkan berusia baligh (ketika melihat beliau) menurut pendapat yang rajih. Jika disyaratkan yang demikian, maka batallah ijma’ pada status sahabat dari Al-Hasan dan Al-Husain, lalu ‘Abdullaah bin Az-Zubair dan selain mereka, karena mereka melihat Nabi ketika mereka masih berusia tamyiz. Demikian kalam Al-Haafizh Jalaaluddiin As-Suyuuthiy dalam Tadriib Ar-Raawiy.

Bagaimana Mengenali Para Sahabat?

 

A. Salah satunya dengan mutawatirnya kemasyhuran sahabat tersebut, seperti Abu Bakr, ‘Umar dan seluruh sahabat yang termasuk ke dalam Al-Asyrah (10 sahabat yang telah dijamin masuk surga), radhiyallaahu ‘anhum jamii’an.

B. Tersebarnya kemasyhuran sahabat tersebut walau kemasyhurannya dibawah mutawatir, seperti ‘Ukaasyah bin Mihshan, Dhimaam bin Tsa’labah dan selain keduanya -radhiyallaahu ‘anhum-.

C. Persaksian sahabat yang lain bahwa ia adalah seorang sahabat. Contohnya Humamah bin Abu Humamah Ad-Dausiy -radhiyallaahu ‘anhu- yang wafat di negeri Ashbahan karena penyakit perut, maka Abu Muusaa Al-Asy’ariy -radhiyallaahu ‘anhu- bersaksi untuknya bahwa ia mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengkhabarkan Humamah dengan kematian syahid[9]. Atau bisa juga dengan perkataan sejumlah tabi’in bahwa ia adalah seorang sahabat.

D. Atau dengan pengakuan sahabat tersebut mengenai dirinya bahwa ia adalah seorang sahabat Rasul. Namun jika ada seseorang mengaku-ngaku hal ini setelah 100 tahun dari wafatnya Rasul, maka pengakuannya tidak bisa diterima walaupun telah tsabit sifat adil bagi dirinya sebelumnya, karena sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam :

أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ

“Tidakkah kalian perhatikan malam ini? Karena sesungguhnya di akhir 100 tahun darinya tidak akan ada seorang pun yang tersisa dari apa yang ada di muka bumi pada malam ini.”[10]

Maksud dari sabda beliau adalah berakhirnya generasi sahabat setelah kurun waktu tersebut dan tidak ada yang tersisa satupun dari mereka setelahnya.

Contoh orang yang mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah sahabat setelah 100 tahun wafatnya Rasul, yaitu Ratan Al-Hindiy. Disebutkan oleh Al-Haafizh Syamsuddiin Adz-Dzahabiy :

رتن الهندي. وما أدراك ما رتن! شيخ دجال بلا ريب، ظهر بعد الستمائة فادعى الصحبة، والصحابة لا يكذبون

“Ratan Al-Hindiy. Tahukah kalian siapa itu Ratan! Seorang syaikh dajjal dengan tanpa keraguan! Muncul setelah tahun 600 H dan dia mengaku dirinya sahabat, sementara para sahabat tak pernah berbohong.”[11]

Para Sahabat Semuanya Adil

 

Tanpa adanya pengecualian, termasuk mereka yang terlibat dalam peristiwa fitnah dan yang selain mereka, dengan ijma’ orang-orang yang mendalam keilmuannya -yaitu para ulama-. Allah Ta’ala berfirman :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu, umat yang pertengahan.” [QS Al-Baqarah : 143]

Yakni umat yang adil. Dia Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” [QS Ali ‘Imraan : 110]

Terlihat bahwa khithab (pembicaraan) yang ada pada ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang hadir pada saat itu, yaitu para sahabat.

Dan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam :

خير الناس قرني

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang hidup pada zamanku[12].”

Imam Al-Haramain berkata :

والسبب في عدم الفحص عن عدالتهم: أنهم حملة الشريعة، فلو ثبت توقف في روايتهم، لانحصرت الشريعة على عصره صلى الله عليه وسلم، ولما استرسلت سائر الأعصار.

وقيل: يجب البحث عن عدالتهم مطلقا، وقيل: بعد وقوع الفتن، وقالت المعتزلة: عدول إلا من قاتل عليا، وقيل: إلا المقاتِلُ والمقاتَلُ. وهذا كله ليس بصواب، إحسانا للظن بهم، وحملا لهم في ذلك على الإجتهاد المأجور فيه كل منهم

“Diantara sebab ketiadaan pemeriksaan mengenai keadilan para sahabat yaitu: mereka adalah para pembawa syari’at. Maka andaikan terjadi keragu-raguan dalam riwayat-riwayat mereka, niscaya terhentilah syari’at pada zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan seketika terlepaslah seluruh zaman.

Dikatakan dalam suatu pendapat : Wajib meneliti keadilan mereka secara muthlaq. Dan dikatakan dalam pendapat yang lain : Wajib menelitinya setelah timbulnya fitnah. Sementara kaum mu’tazilah berkata : Para sahabat adalah orang-orang yang adil kecuali mereka yang memerangi ‘Aliy. Dikatakan kembali : Kecuali orang yang memerangi dan diperangi.

Semua pendapat-pendapat ini tidak benar, (wajib) berprasangka baik kepada para sahabat serta membawa apa yang terjadi pada mereka atas dasar ijtihad dan tiap-tiap mereka diberi pahala dengannya[13].”

Para Sahabat yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadits

 

  1. Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

Meriwayatkan 5374 hadits. Hadits-haditsnya yang muttafaq ‘alaih (dikeluarkan oleh Al-Bukhaariy dan Muslim) berjumlah 325 hadits, yang diriwayatkan secara sendirian oleh Imam Al-Bukhaariy berjumlah 93 hadits, Imam Muslim berjumlah 189 hadits dan meriwayatkan dari Abu Hurairah sebanyak 800 orang perawi. Dia adalah sahabat yang paling haafizh. Imam Asy-Syaafi’iy berkata :

أبو هريرة أحفظ من روى الحديث في دهره

“Abu Hurairah adalah orang yang paling haafizh dari orang-orang yang meriwayatkan hadits Rasulullah pada zamannya[14].”

وروى إبن سعد أن إبن عمر كان يترحم عليه في جنازته، ويقول: كان يحفظ على المسلمين حديث النبي صلى الله عليه وسلم

Diriwayatkan Ibnu Sa’d bahwa Ibnu ‘Umar mendo’akan rahmat kepada jenazah Abu Hurairah, seraya mengatakan, “Ia menghapal hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam melampaui kaum muslimin[15].”

Dalam kitab Shahih, dari Abu Hurairah :

قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ

Abu Hurairah bercerita, aku pernah mengeluh kepada Rasul, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini banyak mendengar hadits darimu namun aku lupa.” Rasulullah bersabda, “Hamparkan selendangmu,” lantas aku menghamparkannya. Abu Hurairah melanjutkan ceritanya, “Maka seolah-olah beliau meraup sesuatu dengan tangannya. Kemudian beliau berseru, “Ambillah!” Lalu aku pun mengambil selendang tersebut, dan sejak saat itu aku tak pernah lupa sesuatu lagi[16].”

Dalam kitab Al-Mustadrak, Imam Al-Haakim meriwayatkan :

عن زيد بن ثابت: بَيْنَا أَنَا وَأَبُو هُرَيْرَةَ وَفُلانٌ فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ يَوْمٍ نَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى، وَنَذْكُرُ رَبَّنَا خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَلَسَ إِلَيْنَا، قَالَ: فَجَلَسَ وَسَكَتْنَا، فَقَالَ: ” عُودُوا لِلَّذِي كُنْتُمْ فِيهِ “، قَالَ زَيْدٌ: فَدَعَوْتُ أَنَا وَصَاحِبِي قَبْلَ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُؤَمِّنُ عَلَى دُعَائِنَا، قَالَ: ثُمَّ دَعَا أَبُو هُرَيْرَةَ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِثْلَ الَّذِي سَأَلَكَ صَاحِبَايَ هَذَانِ، وَأَسْأَلُكَ عِلْمًا لا يُنْسَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: ” آمِينَ “، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَنَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ عِلْمًا لا يَنْسَى، فَقَالَ: ” سَبَقَكُمَا بِهَا الدَّوْسِيُّ

Dari Zaid bin Tsaabit radhiyallaahu ‘anhu, “Ketika aku, Abu Hurairah dan fulan sedang berada di dalam masjid pada suatu hari dan kami sedang berdo’a kepada Allah Ta’ala sembari berdzikir kepada Rabb kami, tiba-tiba masuklah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada kami hingga ia duduk di dekat kami.” Zaid melanjutkan, “Maka beliau pun duduk dan terdiamlah kami.”

Rasulullah bersabda, “Ulangi apa yang kalian baca tadi!”

Zaid berkata, “Lalu aku dan sahabatku berdo’a sebelum Abu Hurairah, serta merta Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam meng-aminkan do’a kami.”

Kemudian giliran Abu Hurairah berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon padaMu seperti permohonan kedua sahabatku ini padaMu, dan aku memohon padaMu ilmu yang tiada lupa.”

Rasulullah pun bersabda, “Aamiin!”

Kami berdua (Zaid dan sahabatnya) pun berkata, “Wahai Rasulullah, dan kami pun memohon kepada Allah ilmu yang tiada lupa.”

Rasulullah bersabda, “Kalian berdua telah didahului oleh orang Daus ini[17].”

  1. ‘Abdullaah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.

Meriwayatkan 2630 hadits.

  1. Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu.

Meriwayatkan 2286 hadits.

  1. ‘Aaisyah ummul mu’minin radhiyallaahu ‘anha.

Meriwayatkan 2210 hadits.

  1. ‘Abdullaah bin ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma.

Meriwayatkan 1660 hadits.

  1. Jaabir bin ‘Abdillaah radhiyallaahu ‘anhuma

Meriwayatkan 1540 hadits.

Tidak ada sahabat yang riwayat haditsnya melebihi angka 1000 selain mereka yang telah disebut diatas, kecuali Abu Sa’iid Al-Khudriy radhiyallaahu ‘anhu karena ia meriwayatkan 1170 hadits.

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa sahabat seperti Abu Bakr Ash-Shiddiiq radhiyallaahu ‘anhu sedikit haditsnya padahal ia termasuk sahabat paling senior dan paling awal masuk Islam? Maka dapat dijawab; diantara sebab sedikitnya periwayatan dari Abu Bakr -bersamaan dengan paling awalnya ia (memeluk Islam), keseniorannya serta panjangnya masa mulazamahnya dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam-, adalah karena Abu Bakr lebih dahulu wafat sebelum masa tersebarnya hadits dan sebelum tercurahnya perhatian manusia pada kegiatan sima’i (mendengar dan menyimak) hadits, mengumpulkan dan menghapalnya. Disebutkan Imam An-Nawawiy dalam Tahdziib-nya bahwa periwayatan hadits Abu Bakr Ash-Shiddiiq berjumlah 142 hadits[18].

Keilmuan Para Sahabat

 

Sahabat yang paling banyak berfatwa adalah ‘Abdullaah bin ‘Abbaas, demikian diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, ia berkata :

ليس أحد من أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- يروى عنه في الفتوى أكثر من ابن عباس

“Tidak ada satupun dari kalangan sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang fatwanya teriwayatkan melebihi fatwa-fatwa Ibnu ‘Abbaas.”

روي عن مسروق بن الأجدع التابعي الجليل أنه قال: “انتهى علم الصحابة إلى ستة: عمر، وعلي، وأبي بن كعب، وزيد بن ثابت, وأبي الدرداء، وابن مسعود, ثم انتهى علم الستة إلى علي وابن مسعود”

Diriwayatkan dari Masruuq bin Al-Ajda’, seorang tabi’in yang mulia, bahwa ia berkata, “Ilmu para sahabat berakhir pada 6 orang : ‘Umar, ‘Aliy, Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsaabit, Abud Dardaa’ dan Ibnu Mas’uud. Kemudian ilmu keenam sahabat tersebut berakhir pada ‘Aliy dan Ibnu Mas’uud.[19]

Dan Asy-Sya’biy meriwayatkan dari Masruuq riwayat semakna, kecuali disana disebutkan Abu Muusaa Al-Asy’ariy sebagai pengganti Abud Dardaa’.

Lalu kita mengenal “Al-‘Abaadillah”, mereka adalah 4 orang sahabat yang bernama ‘Abdullaah : ‘Abdullaah bin ‘Umar bin Al-Khaththaab, ‘Abdullaah bin ‘Abbaas, ‘Abdullaah bin Az-Zubair dan ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash, demikian dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal.

Mengapa Ibnu Mas’uud tidak masuk ke dalam Al-‘Abaadillah? Bukankah ia bernama ‘Abdullaah juga? Dijawab oleh Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy :

لأنه تقدم موته، وهؤلاء عاشوا حتى احتياج إلى علمهم، فإذا إجتمعوا على شيء قيل هذا قول العبادلة

“Karena ia (Ibnu Mas’uud) lebih dahulu wafat, sementara mereka berempat masih hidup hingga kaum muslimin membutuhkan ilmu mereka. Apabila keempatnya bersepakat akan suatu perkara, maka dikatakan bahwa ini adalah ‘pendapat Al-‘Abaadillah’.[20]

Jumlah Para Sahabat

 

Satu hal yang pasti bahwasanya tidak ada yang dapat memastikan jumlah para sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam karena mereka sangat banyak dan mereka berpencar ke seluruh negeri dan penjuru bumi guna menyebarkan ilmu yang mereka peroleh dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana kata Ka’b bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu dalam hadits perang Tabuk yang sangat panjang :

وَالْمُسْلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرٌ وَلَا يَجْمَعُهُمْ كِتَابٌ حَافِظٌ

“Dan kaum muslimin yang menyertai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berjumlah sangat banyak, tidak ada yang bisa menuliskan nama mereka dalam sebuah kitab dan menghapalnya.[21]

Adapun beberapa ulama yang memastikan jumlah mereka, maka itu hanyalah hasil dari ijtihad semata dan jumlahnya pun berbeda-beda.

Contohnya Al-Khathiib Al-Baghdaadiy yang meriwayatkan dengan sanadnya hingga Abu Zur’ah Ar-Raaziy bahwa para sahabat berjumlah 114.000 orang, mereka berasal dari penduduk Madinah, Makkah dan yang bertempat tinggal diantara keduanya, ada juga dari kalangan Arab badui, dan orang-orang yang menyaksikan Rasulullah ketika haji Wada’, mereka semua melihat dan mendengar beliau di padang ‘Arafah.[22]

Jaabir bin ‘Abdillaah radhiyallaahu ‘anhuma berkata dalam hadits sifat haji Nabi :

فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ حَتَّى إِذَا اسْتَوَتْ بِهِ نَاقَتُهُ عَلَى الْبَيْدَاءِ نَظَرْتُ إِلَى مَدِّ بَصَرِي بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ رَاكِبٍ وَمَاشٍ وَعَنْ يَمِينِهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَعَنْ يَسَارِهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَمِنْ خَلْفِهِ مِثْلَ ذَلِكَ

“Kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam shalat di masjid lalu menaiki unta tunggangannya yang bernama Al-Qashwaa’, hingga apabila beliau telah tiba di dataran tinggi Al-Baidaa’, seketika itu aku memandang sekelilingku sejauh penglihatan mataku, di hadapan beliau penuh dengan manusia yang berkendara maupun yang berjalan kaki. Begitu pula di sebelah kanan, kiri dan belakang beliau.[23]

Thabaqah Para Sahabat

 

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah thabaqah para sahabat. Ibnu Sa’d menyebutkan 5 thabaqah mereka, sementara Al-Haakim mengatakan ada 12 thabaqah, diantaranya adalah :

Thabaqah pertama : kaum yang masuk Islam di Makkah, seperti Khalifah yang empat (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan dan ‘Aliy).

Thabaqah kedua : orang-orang yang menghadiri daar An-Nadwah.

Thabaqah ketiga : orang-orang yang berhijrah ke negeri Habasyah.

Thabaqah keempat : orang-orang yang menghadiri bai’at ‘Aqabah pertama.

Thabaqah kelima : orang-orang yang menghadiri bai’at ‘Aqabah kedua, mayoritas berasal dari kaum Anshaar.

Thabaqah keenam : kaum Muhajirin awal yang tiba dan bergabung dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam di masjid Qubaa’ sebelum mereka memasuki kota Madinah.

Thabaqah ketujuh : peserta perang Badar.

Thabaqah kedelapan : mereka yang berhijrah diantara peristiwa Badar dan perjanjian Hudaibiyyah.

Thabaqah kesembilan : orang-orang yang menghadiri bai’at Ar-Ridhwaan.

Thabaqah kesepuluh : orang-orang yang berhijrah diantara perjanjian Hudaibiyyah dan peristiwa Fathu Makkah, seperti Khaalid bin Al-Waliid dan ‘Amr bin Al-‘Aash -radhiyallaahu ‘anhuma-.

Thabaqah kesebelas : orang-orang yang masuk Islam pada peristiwa Fathu Makkah.

Thabaqah kedua belas : anak-anak dan para remaja yang melihat beliau pada Fathu Makkah saat haji Wada’, dan yang selain mereka.[24]

Sahabat yang Paling Afdhal

 

Sahabat yang paling afdhal secara muthlaq adalah Abu Bakr Ash-Shiddiiq, kemudian ‘Umar bin Al-Khaththaab -radhiyallaahu ‘anhuma- dengan ijma’ ahlussunnah. Lalu ‘Utsmaan bin ‘Affaan, kemudian ‘Aliy bin Abi Thaalib -radhiyallaahu ‘anhuma-. Inilah pendapat jumhur ulama ahlussunnah, begitu pula Maalik, Asy-Syaafi’iy, Ahmad dan Sufyaan Ats-Tsauriy, serta keseluruhan jama’ah ulama ahli hadits dan fiqh, dengan dalil perkataan Ibnu ‘Umar :

كُنَّا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نَعْدِلُ بِأَبِي بَكْرٍ أَحَدًا ثُمَّ عُمَرَ ثُمَّ عُثْمَانَ ثُمَّ نَتْرُكُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نُفَاضِلُ بَيْنَهُمْ

“Kami hidup pada zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kami tidak membandingkan seorang pun dari mereka terhadap Abu Bakr, lalu ‘Umar kemudian ‘Utsmaan. Kemudian kami pun membiarkan para sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam serta tidak mengutamakan seorang pun diantara mereka.[25]

Lalu berturut-berturut adalah :

– Sisa sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, yaitu Sa’d bin Abi Waqqaash, Sa’iid bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail, Thalhah bin ‘Ubaidillaah, Az-Zubair bin Al-‘Awwaam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah -radhiyallaahu ‘anhum-.

– Peserta perang Badar, mereka berjumlah kurang lebih 310 orang.

– Peserta perang Uhud.

– Para sahabat peserta bai’at Ar-Ridhwaan di Hudaibiyyah.[26]

Terkadang beberapa sahabat diutamakan dalam beberapa perkara khusus, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Maalik secara marfuu’ :

أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيٌّ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

“Diantara umatku yang paling mempunyai rasa belas kasih kepada umatku adalah Abu Bakr. Yang paling kokoh dalam menjalankan perintah Allah adalah ‘Umar. Yang paling jujur dan pemalu adalah ‘Utsmaan. Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’aadz bin Jabal. Yang paling mengetahui ilmu fara’idh (pembagian harta warisan) adalah Zaid bin Tsaabit. Yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya adalah Ubay. Setiap umat mempunyai orang kepercayaan dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah.[27]

Sahabat yang Pertama Masuk Islam dan yang Terakhir Wafat

 

Imam Ibnu Ash-Shalaah menyebutkan : Sahabat yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan laki-laki merdeka adalah Abu Bakr Ash-Shiddiiq, dari kalangan anak-anak adalah ‘Aliy bin Abi Thaalib, dari kalangan wanita adalah Khadiijah binti Khuwailid, dari kalangan maula (budak yang dibebaskan) adalah Zaid bin Haaritsah, dan dari kalangan hamba sahaya adalah Bilaal bin Rabaah. Pendapat ini diikuti oleh Imam An-Nawawiy.[28]

Sedangkan Abu Ath-Thufail ‘Aamir bin Waatsilah Al-Laitsiy -radhiyallaahu ‘anhu-, wafat tahun 100 H, demikian dikatakan oleh Imam Muslim[29]. Pendapat lain menyebutkan tahun 102 H, dikatakan oleh Mush’ab bin ‘Abdillaah Az-Zubairiy. Sementara Ibnu Hibbaan, Ibnu Qaani’ dan Abu Zakariyaa Ibnu Mandah menegaskan bahwa ia wafat tahun 107 H.

قَالَ وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ: سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: كُنْتُ بِمَكَّةَ سَنَةَ عشرٍ وَمِائَةٍ، فَرَأَيْتُ جِنَازَةً فَسَأَلْتُ عَنْهَا، فَقَالُوا: هَذَا أَبُو الطُّفَيْلِ

Wahb bin Jariir berkata, aku mendengar ayahku mengatakan, “Aku pernah berada di kota Makkah pada tahun 110 H, lantas aku melihat jenazah dan aku bertanya kepada orang-orang mengenai jenazah tersebut, mereka menjawab, “Itu adalah jenazah Abu Ath-Thufail.”

Adz-Dzahabiy menshahihkan riwayat ini.[30]

Adapun Anas bin Maalik, maka ia wafat sebelum Abu Ath-Thufail, yaitu di Bashrah pada tahun 93 H, ada yang mengatakan 92, 91 atau 90 H, dan Anas adalah sahabat yang paling terakhir wafat di Bashrah.

Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkata :

يقال إنه آخر من مات بالبصرة من أصحاب رسول الله صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، وما أعلم أحدًا مات بعده ممن رأى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلا أبا الطفيل عامر بن واثلة

“Dikatakan bahwa Anas adalah orang yang paling terakhir wafat di Bashrah dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan aku tidak mengetahui seorang sahabat pun yang pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang wafat setelah Anas kecuali Abu Ath-Thufail ‘Aamir bin Waatsilah.[31]

Karya-karya Tulis Mengenai Para Sahabat

 

Diantaranya kitab Ash-Shahaabah karya Imam Ibnu Hibbaan (w. 351 H), karya Imam Ibnu Mandah (w. 395 H) dan kitab ini adalah kitab yang besar lagi mulia. Abu Muusaa Al-Madiiniy (w. 581 H) membuat dzail (catatan tambahan) atas karya Ibnu Mandah ini. Lalu ada kitab karya Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy (w. 430 H), kitab karya Al-‘Askariy (w. 382 H), dan kitab yang paling baik serta yang paling banyak menghimpun fawa’id, yaitu “Al-Istii’aab fiy Ma’rifah Al-Ashhaab” karya Imam Ibnu ‘Abdil Barr (w. 463 H).

Imam Abul Hasan ‘Aliy bin Muhammad bin Al-Atsiir (w. 630 H) menulis kitab bagus bertemakan para sahabat, yaitu “Usdul Ghaabah”, kitabnya ini layaknya gabungan dari beberapa kitab para ulama diatas : Ibnu Mandah, Abu Muusaa, Abu Nu’aim, dan Ibnu ‘Abdil Barr. Imam Ibnul Atsiir menambahkan beberapa nama sahabat didalamnya yang tidak terdapat pada kitab lainnya kemudian ia mengkoreksi serta meneliti beberapa masalah yaitu atas adanya pengulangan nama dengan mempertimbangkan ikhtilaf dalam hal nama dan kuniyah.

Lalu kitab yang meringkas kitab-kitab diatas adalah karya Adz-Dzahabiy (w. 748 H), sebuah kitab tipis yang diberi nama “At-Tajriid”. Kemudian Al-Haafizh Ibnu Hajar (w. 852 H) dengan kitab “Al-Ishaabah fiy Tamyiiz Ash-Shahaabah”, kitab yang lengkap terdiri dari beberapa jilid, dan telah diringkas oleh As-Suyuuthiy (w. 911 H).

Selesai pembahasan para sahabat. Semoga ada manfaatnya.

Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di BSD, 9 Rabi’ul Akhir 1437 H.

Selesai diperiksa kembali di Pondok Aren, 3 Rajab 1437 H.

Abu Ahmad Tommi Marsetio

Disarikan kemudian diterjemahkan dari :

“Asy-Syarh Al-Hatsiits li Tadzkirah Ibnil Mulaqqin fiy ‘Uluum Al-Hadiits”, hal. 209 – 217, karya Dr. Abu Az-Zahraa’ ‘Abdul Qaadir Ahmad Sulaimaaniy, Daar Al-Imam Maalik, cetakan pertama.

~ dengan beberapa penambahan yang tidak mengubah esensi tulisan ~

Footnotes :

 

[1] Syarh An-Nukhbah hal. 64.

[2] Al-Imam Ibnul Atsiir dalam Usdul Ghaabah 1/628, berkata :

خويلد بْن خَالِد بْن المحرث بْن زبيد بْن مخزوم بْن صاهلة بْن كاهل بْن الحارث ابن تميم بْن سعد بْن هذيل، أَبُو ذؤيب الهذلي. الشاعر المشهور. أسلم عَلَى عهد رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ولم يره، قاله أَبُو عمر في الكنى. وقال أَبُو موسى: وفد عَلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، روى عنه الأخنس بْن زهير حديثًا، ذكره أبو مسعود

“Khuwailid bin Khaalid bin Al-Muharats bin Zubaid bin Makhzuum bin Shaahilah bin Kaahil bin Al-Haarits bin Tamiim bin Sa’d bin Hudzail, Abu Dzu’aib Al-Hudzaliy, seorang penyair yang masyhur. Masuk Islam pada masa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam namun tidak melihat beliau, demikian kata Abu ‘Umar (Ibnu ‘Abdil Barr) dalam Al-Kunaa. Abu Muusaa berkata, “Ia datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Al-Akhnas bin Zuhair meriwayatkan sebuah hadits darinya. Disebutkan oleh Abu Mas’uud.”

Dalam Al-Istii’aab 4/1650 :

قَالَ أَبُو ذؤيب: فشهدت الصلاة عَلَى مُحَمَّد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وشهدت دفنه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Abu Dzu’aib berkata, “Maka aku menyaksikan shalat jenazah atas Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan aku menyaksikan pula penguburan beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

[3] Imam Al-Bukhaariy meriwayatkan :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ وَعَلَى رَأْسِهِ الْمِغْفَرُ فَلَمَّا نَزَعَهُ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ ابْنُ خَطَلٍ مُتَعَلِّقٌ بِأَسْتَارِ الْكَعْبَةِ فَقَالَ اقْتُلْهُ قَالَ مَالِكٌ وَلَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا نُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ يَوْمَئِذٍ مُحْرِمًا

Yahyaa bin Qaza’ah menceritakan kepada kami, Maalik menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihaab, dari Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam memasuki kota Makkah pada hari penaklukkan Makkah dan beliau memakai helm besi diatas kepalanya. Tatkala beliau melepasnya, datanglah seorang laki-laki, ia berseru, “Ibnu Khathal bergelantungan pada tirai penutup Ka’bah!” Nabi bersabda, “Bunuhlah ia!”

Maalik berkata, “Yang kami tahu, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pada hari itu sedang tidak berihram, wallaahu a’lam.”

[Shahiih Al-Bukhaariy no. 4286]

Imam Muslim turut meriwayatkan pula dalam Shahiih Muslim no. 1359, dari jalan Al-Qa’nabiy, Yahyaa bin Yahyaa dan Qutaibah bin Sa’iid, semua dari Maalik bin Anas.

[4] Syarh At-Tabshirah wa At-Tadzkirah lil-Haafizh Al-‘Iraaqiy, tahqiiq : Dr. Maahir Yaasiin Al-Fihl, 1/205.

[5] Tadriib Ar-Raawiy 2/209.

[6] Tadriib Ar-Raawiy 2/212; Syarh At-Tabshirah wa At-Tadzkirah lil-Haafizh Al-‘Iraaqiy 1/206.

[7] Al-Haafizh Syamsuddiin Abu ‘Abdillaah Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar 4/73 berkata :

من أئمة التابعين بمصر واسمه عبد الله بن مالك بن أبي الأسحم وهو أخو سيف ولدا في حياة النبي صلى الله عليه وسلم وقدما المدينة زمن عمر

“Termasuk salah seorang dari para imam kalangan tabi’in di negeri Mesir, namanya ‘Abdullaah bin Maalik bin Abul Asham, dia saudara Saif. Dilahirkan pada masa hidup Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mendatangi Madinah pada zaman ‘Umar.”

[8] Sebagaimana dinukil dalam Tadriib Ar-Raawiy 2/668.

[9] Khabar tentang hal ini diriwayatkan Imam Ahmad, ia berkata :

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَوْدِيُّ، عَن حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيِّ، أَنَّ رَجُلًا كَانَ يُقَالُ لَهُ: حَمَمَةُ، مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ إِلَى أَصْبَهَانَ غَازِيًا فِي خِلَافَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: ” اللَّهُمَّ إِنَّ حَمَمَةَ يَزْعُمُ أَنَّهُ يُحِبُّ لِقَاءَكَ، فَإِنْ كَانَ حَمَمَةُ صَادِقًا، فَاعْزِمْ لَهُ بِصِدْقِهِ، وَإِنْ كَانَ كَاذِبًا، فَاعْزِمْ عَلَيْهِ، وَإِنْ كَرِهَ، اللَّهُمَّ لَا تَرُدَّ حَمَمَةَ مِنْ سَفَرِهِ هَذَا، قَالَ: فَأَخَذَهُ الْمَوْتُ وَقَالَ عَفَّانُ مَرَّةً: الْبَطْنُ فَمَاتَ بأَصْبَهَانَ، قَالَ: فَقَامَ أَبُو مُوسَى، فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّا وَاللَّهِ مَا سَمِعْنَا فِيمَا سَمِعْنَا مِنْ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم وَمَا بَلَغَ عِلْمَنَا، إِلَّا أَنَّ: حَمَمَةَ شَهِيدٌ

‘Affaan menceritakan kepada kami, Abu ‘Awaanah menceritakan kepada kami, Daawud bin ‘Abdillaah Al-Audiy menceritakan kepada kami, dari Humaid bin ‘Abdirrahman Al-Himyariy, bahwa ada seorang laki-laki yang bernama Humamah -ia salah seorang sahabat Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam- keluar menuju Ashbahan untuk berperang pada masa kekhalifahan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu.

Lantas ‘Umar pun berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya Humamah mengklaim bahwa ia menyukai perjumpaan denganMu. Jika Humamah seorang yang jujur, maka penuhilah kejujurannya. Jika Humamah berdusta, maka berilah balasan setimpal atas kedustaannya. Jika Humamah membenci (perjumpaan denganMu), ya Allah, jangan kembalikan Humamah dari perjalanannya ini.”

‘Affaan berkata, “Maka maut pun merenggut Humamah,” dan ia berkata sekali lagi, “(Karena terkena penyakit) perut, lalu ia pun wafat di Ashbahan.”

Berdirilah Abu Muusaa dan ia berkhutbah, “Wahai sekalian manusia! Demi Allah, sesungguhnya kami tidak mendengar hal-hal yang telah kami dengar dari Nabi kalian -Shallallaahu ‘alaihi wasallam- dan tidaklah kami mengetahui kecuali bahwa Humamah mati syahid.”

[Musnad Ahmad no. 19161]

[10] Diriwayatkan Imam Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya 1/55 no. 116; dan Imam Muslim dalam Shahih-nya 4/1965 no. 2537.

Dalam jalur sanad yang lain ada tambahan lafazh sebagai penjelas matan :

إِنَّمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ الْيَوْمَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ يُرِيدُ بِذَلِكَ أَنَّهَا تَخْرِمُ ذَلِكَ الْقَرْنَ

“Maksud sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam : tidak akan ada seorang pun yang tersisa dari apa yang ada di muka bumi pada malam ini, yaitu akan berakhirnya generasi yang ada pada kurun waktu tersebut.”

[11] Miizaan Al-I’tidaal 3/70.

[12] Shahiih Al-Bukhaariy 2/938 no. 2509; Shahiih Muslim 4/1963 no. 2533.

[13] Tadriib Ar-Raawiy 2/214.

[14] Al-Ishaabah fiy Tamyiiz Ash-Shahaabah 7/423.

[15] Qawaa’id At-Tahdiits, Al-‘Allaamah Jamaaluddiin Al-Qaasimiy 1/25.

[16] Shahiih Al-Bukhaariy 1/56.

[17] Al-Mustadrak 3/582.

Sanad lengkap riwayat ini adalah sebagai berikut :

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الأَصْبَهَانِيُّ، ثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حَفْصٍ، ثَنَا حَمَّادُ بْنُ شُعَيْبٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ قَيْسِ بْنِ مَخْرَمَةَ حَدَّثَهُ، أَنَّ رَجُلا جَاءَ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، فَقَالَ لَهُ زَيْدٌ: عَلَيْكَ بِأَبِي هُرَيْرَةَ

Abu ‘Abdillaah Muhammad bin ‘Abdillaah Al-Ashbahaaniy menceritakan kepada kami, Al-Husain bin Hafsh menceritakan kepada kami, Hammaad bin Syu’aib menceritakan kepada kami, dari Ismaa’iil bin Umayyah, bahwa Muhammad bin Qais bin Makhramah menceritakan kepadanya, bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsaabit dan ia bertanya kepada Zaid mengenai sesuatu, maka Zaid pun menjawabnya, “Wajib bagimu bertanya kepada Abu Hurairah…”

Imam Al-Haakim berkata :

صَحِيحُ الإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

“Sanadnya shahih namun keduanya (Al-Bukhaariy dan Muslim) tidak mengeluarkannya.”

Dengan segala kerendahan hati dan tidak ada maksud melampaui perkataan Imam Al-Haakim, kami katakan bahwa Hammaad bin Syu’aib dha’if. Namanya adalah Hammaad bin Syu’aib Al-Himmaaniy Al-Kuufiy, ia telah dilemahkan Ibnu Ma’iin, An-Nasaa’iy dan yang lainnya, Al-Bukhaariy berkata “fiihi nazhar (dan ini adalah salah satu jarh yang keras menurut manhaj kritik beliau)”, Abu Haatim berkata “laisa bil qawiy”. Lihat biografinya dalam Miizaanul I’tidaal 2/366.

[18] Tadriib Ar-Raawiy 2/216-218.

[19] Al-Wasiith fiy ‘Uluum wa Mushthalah Al-Hadiits, Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Suwailim Abu Syuhbah, hal. 514.

[20] Tadriib Ar-Raawiy 2/218-220.

[21] Shahiih Al-Bukhaariy no. 4418; Shahiih Muslim no. 2772.

[22] Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawiy 2/293.

[23] Shahiih Muslim no. 1219.

[24] Ma’rifah ‘Uluum Al-Hadiits 1/23; Tadriib Ar-Raawiy 2/221-222.

[25] Shahiih Al-Bukhaariy no. 3494.

[26] Tadriib Ar-Raawiy 2/222-224.

[27] Diriwayatkan Imam At-Tirmidziy dalam Jaami’-nya 5/664; Ibnu Maajah dalam Sunan-nya 1/55, dari hadits Abu Qilaabah, dari Anas. Imam At-Tirmidziy berkata, “Hadits hasan shahih.” Dishahihkan Al-Albaaniy dalam Shahiih At-Tirmidziy no. 3790.

[28] Ma’rifah Anwaa’ ‘Ilm Al-Hadiits hal. 403; At-Taqriib wa At-Taisiir 2/228.

[29] Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya no. 2341 :

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ قَالَ قُلْتُ لَهُ أَرَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ كَانَ أَبْيَضَ مَلِيحَ الْوَجْهِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا

Sa’iid bin Manshuur menceritakan kepada kami, Khaalid bin ‘Abdillaah menceritakan kepada kami, dari Al-Jurairiy, dari Abu Ath-Thufail, Al-Jurairiy bercerita, “Aku bertanya kepada Abu Ath-Thufail, “Apakah engkau pernah melihat Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Ya. Beliau berkulit putih dan berwajah tampan dengan wajah yang Allah Ta’ala telah meridhainya.”

Imam Muslim berkata :

مَاتَ أَبُو الطُّفَيْلِ سَنَةَ مِائَةٍ وَكَانَ آخِرَ مَنْ مَاتَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Abu Ath-Thufail wafat tahun 100 H, dia adalah sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang paling terakhir wafat.”

[30] Taariikh Al-Islaamiy 2/1201.

[31] Al-Istii’aab 1/111.

* * * * *

2 thoughts on “Para Sahabat Dalam Kajian Ilmu Hadits

  1. Assalamualaykum syaikh.. ana terkesan dan kagum dengan penulisan enta yang begitu ilmiah diblog ini..berbagai ibrah dan manfaat yang dapat ana kutip. Boleh kita bertaaruf dengan lebih dekat via email. Ingin menambah ilmu dan berkongsi haibah enta. Trm kasih. Wassalam.

    • Wa’alaikumussalam syaikh Amirul. Ahlan wa sahlan. Ana bukanlah siapa-siapa, hanya seorang pekerja kantoran dan ayah 4 orang anak yang sedang berusaha meniti agama yang mulia ini menurut thariqah yg haq. Tafadhdhal bila ingin sharing ilmu, ana ingin mendapat faidah dari antum.
      Email ana di : tommi82@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s