Dua Jalur Hadits yang Tidak Bisa Menguatkan ; Hadits “Sesungguhnya Allah Membenci Orang yang Keras Hati lagi Kasar…”

two-way-road-6984079

Ramai kita mendengar klaim sebagian saudara kita bahwa terdapatnya jalur lain atau berbilangnya jalur periwayatan dari suatu hadits dapat mengangkat status hadits dari dha’if menjadi hasan, atau bahkan shahih, secara muthlaq. Klaim ini perlu diteliti kembali. Berbilangnya jalur tidak lantas menguatkan hadits, malah terkadang dalam beberapa kasus jalur-jalur tersebut saling melemahkan karena terjadi idhthirab misalnya, hingga akhirnya tidak ada jalur yang bisa ditarjih. Pada tulisan kali ini, kami akan berikan contoh hadits yang teriwayatkan dengan dua jalur namun tidak bisa saling menguatkan.

Hadits :

إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالأَسْوَاقِ، جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ، حِمَارٍ بِالنَّهَارِ، عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا، جَاهِلٍ بِأَمْرِ الآخِرَةِ

Sesungguhnya Allah membenci tiap-tiap orang yang keras hati lagi kasar, rakus serta sombong, suka berteriak-teriak di pasar-pasar, bagai bangkai di malam hari dan bagai keledai di siang hari, pintar urusan dunia namun bodoh akan urusan akhirat.”

Hadits ini teriwayatkan dengan dua jalur.

Jalur pertama :

Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Hibbaan Al-Bustiy rahimahullah :

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ السُّلَمِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالأَسْوَاقِ، جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ، حِمَارٍ بِالنَّهَارِ، عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا، جَاهِلٍ بِأَمْرِ الآخِرَةِ

Ahmad bin Muhammad bin Al-Hasan mengkhabari kami, ia berkata, Ahmad bin Yuusuf As-Sulamiy menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdurrazzaaq mengkhabari kami, ia berkata, ‘Abdullaah bin Sa’iid bin Abi Hind mengkhabari kami, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah membenci tiap-tiap orang yang keras hati lagi kasar, rakus serta sombong, suka berteriak-teriak di pasar-pasar, bagai bangkai di malam hari dan bagai keledai di siang hari, mengetahui urusan dunia namun bodoh akan urusan akhirat.”

[Shahiih Ibnu Hibbaan 1/274]

Dan dengan jalur ini, Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah meriwayatkannya dalam Sunan Al-Kubraa 10/193, ia berkata :

أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ، وَأَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالا: أنبأ أَبُو بَكْرٍ الْقَطَّانُ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ السُّلَمِيُّ به

Abu Thaahir Al-Faqiih dan Abu Muhammad ‘Abdullaah bin Yuusuf mengkhabari kami, keduanya berkata, Abu Bakr Al-Qaththaan memberitahu, Ahmad bin Yuusuf As-Sulamiy menceritakan kepada kami, dan seterusnya.

Kata Syaikh Abu ‘Abdirrahman Muqbil bin Haadiy Al-Waadi’iy rahimahullah dalam Ahaadiitsu Mu’allah hal. 413, hadits no. 435, setelah menyebutkan penisbatan hadits ini pada Imam Ibnu Hibbaan :

رجاله كلهم ثقات، ولكن أبا حاتم يقول: سعيد بن أبي هند لم يلق أبا هريرة كما في المراسيل

“Keseluruhan para perawinya adalah orang-orang tsiqah, akan tetapi Abu Haatim berkata; Sa’iid bin Abi Hind tidak bertemu dengan Abu Hurairah sebagaimana tertera dalam Al-Maraasiil.”

Benar, para perawi dalam sanad Ibnu Hibbaan adalah orang-orang tsiqah. Ahmad bin Yuusuf As-Sulamiy, ‘Abdurrazzaaq, ‘Abdullaah bin Sa’iid bin Abi Hind, kemudian Sa’iid bin Abi Hind adalah para perawi kitab shahih, kecuali Ahmad bin Muhammad bin Al-Hasan, atau dikenal dengan laqab “Ibnu Asy-Syarqiy”, Abu Haamid An-Naisaabuuriy.

Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 6/110 berkata, “Ibnu Asy-Syarqiy seorang yang tsiqah, tsabat, mutqin lagi haafizh.”

Al-Khaliiliy berkata, “Ia seorang imam pada masanya tanpa ada penolakan.” Sedangkan Ibnu ‘Adiy berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih hafizh dan lebih indah perkataannya dari Abu Haamid Asy-Syarqiy.” Demikian dinukil oleh Ibnu Quthluubughaa Al-Hanafiy dalam kitab Ats-Tsiqaat miliknya; 2/5.

Kemudian, Ibnu Abi Haatim menukil kalam ayahnya dalam Al-Maraasiil hal. 75 :

سمعت أبي يقول: سعيد بن أبي هند لم يلق أبا هريرة

“Aku mendengar ayahku mengatakan, “Sa’iid bin Abi Hind tidak menjumpai Abu Hurairah.”

Dengannya maka didapatlah cacat hadits yaitu adanya keterputusan antara Sa’iid bin Abi Hind dengan Abu Hurairah sebagaimana Abu Haatim rahimahullah menghukumi demikian. Jadi, jalur pertama ini munqathi’.

Jalur kedua :

Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaaniy rahimahullah :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُسَيْدٍ، ثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّائِغُ، ثَنَا هَاشِمُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ، ثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ اللَّهَ عز وجل يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ فِي الأَسْوَاقِ جِيفَةُ اللَّيْلِ، حِمَارُ النَّهَارِ، عَالِمٌ بِالدُّنْيَا، جَاهِلٌ بِالآخِرَةِ

Muhammad bin ‘Abdillaah bin Usaid menceritakan kepada kami, Ja’far bin Muhammad Ash-Shaa’igh menceritakan kepada kami, Haasyim bin ‘Abdil Waahid menceritakan kepada kami, Yaziid bin ‘Abdil ‘Aziiz menceritakan kepada kami, dari ‘Abdullaah bin Sa’iid Al-Maqburiy, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membenci tiap-tiap orang yang berperangai keras lagi kasar, rakus serta sombong, suka berteriak-teriak di pasar-pasar, bagai bangkai di malam hari dan bagai keledai di siang hari, mengetahui urusan dunia namun bodoh akan urusan akhirat.”

[Amtsaal Al-Hadiits no. 234]

Dan dengan jalur ini, Al-Imam Abul Qaasim Al-Ashbahaaniy rahimahullah meriwayatkan dalam At-Targhiib wa At-Tarhiib 2/443, ia berkata :

أخبرنا سليمان بن إبراهيم، أنبأ أبو علي بن شاذان، أنبأ محمد بن عبد الله بن إبراهيم، ثنا جعفر بن محمد بن شاكر، ثنا هاشم بن عبد الواحد الجشاشي به

Sulaimaan bin Ibraahiim mengkhabari kami, Abu ‘Aliy bin Syaadzaan memberitahu, Muhammad bin ‘Abdillaah bin Ibraahiim memberitahu, Ja’far bin Muhammad bin Syaakir menceritakan kepada kami, Haasyim bin ‘Abdil Waahid Al-Jasyaasyiy menceritakan kepada kami, dan seterusnya.

Cacat pada jalur diatas bersumber dari ‘Abdullaah bin Sa’iid Al-Maqburiy, ia matruuk dan munkarul hadiits. Lihat Tahdziib Al-Kamaal no. 3305.

Maka jalur kedua ini dha’if jiddan.

Namun, ‘Abdullaah bin Sa’iid Al-Maqburiy tidak hanya meriwayatkan hadits ini dari Ayahnya, tetapi juga dari Kakeknya, yaitu Kaisaan Abu Sa’iid Al-Maqburiy, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abul ‘Abbaas Ja’far bin Muhammad Al-Mustaghfiriy rahimahullah, yang berkata dalam Fadhaa’il Al-Qur’an no. 482 :

أخبرنا أبو محمد عبد الله بن عمرو بن مسلم، حدثنا أبو علي الحسن بن خلف المؤدب، حدثنا خلف بن سليمان، حدثنا جبارة، حدثنا أبو بكر النهشلي، عَن عَبد الله بن سعيد، عن جده، عَن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله تعالى يبغض كل جعظري جواظ سخاب بالأسواق جيفة بالليل حمار بالنهار عالم بالدنيا جاهل بالآخرة

Abu Muhammad ‘Abdillaah bin ‘Amr bin Muslim mengkhabari kami, Abu ‘Aliy Al-Hasan bin Khalaf Al-Mu’addib menceritakan kepada kami, Khalaf bin Sulaimaan menceritakan kepada kami, Jubaarah menceritakan kepada kami, Abu Bakr An-Nahsyaliy menceritakan kepada kami, dari ‘Abdullaah bin Sa’iid, dari Kakeknya, dari Abu Hurairah –radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “…(al-hadits).”

Jubaarah dalam sanad ini adalah Jubaarah bin Al-Mughallis Al-Himmaaniy, Abu Muhammad Al-Kuufiy. Beragam perkataan para imam mengenainya :

‘Abdullaah bin Ahmad berkata, “Aku paparkan hadits-hadits yang aku mendengarnya dari Jubaarah kepada Ayahku…(kemudian ‘Abdullaah menyebutkan haditsnya), maka Ayahku mengingkarinya dan ia berkata ketika aku sedang memaparkan sebagian hadits, “Dari mana kamu mendengar hadits-hadits palsu atau dusta ini?”

Yahyaa bin Ma’iin mendustakannya.

Al-Bukhaariy berkata, “Haditsnya mudhtharib.”

Ibnu Numair berkata, “Shaduuq.”

Ibnu Abi Haatim berkata, “Dahulu Abu Zur’ah meriwayatkan darinya ketika masa-masa awal, kemudian Abu Zur’ah meninggalkan haditsnya setelah itu, seraya berkata, “Ibnu Numair berkata kepadaku; Di sisiku, Jubaarah bukan orang yang gemar mendustakan hadits. Konon ada orang yang sengaja memalsukan haditsnya, lantas ia pun meriwayatkan hadits tersebut (dan ia tidak tahu-menahu telah dipalsukan), menurutku ia bukan termasuk orang yang sengaja berdusta.”

Abu Haatim berkata, “Di hadapanku, Jubaarah ‘adil. Ia seperti Al-Qaasim bin Abi Syaibah.”

Ibnu ‘Adiy berkata, “Ia memiliki hadits-hadits dari sejumlah perawi tsiqah, dan pada sebagian hadits tidak ada mutaba’ahnya sama sekali, selain itu ia memang bukan orang yang menyengaja berdusta namun ia kerap lalai. Haditsnya mudhtharib sebagaimana Al-Bukhaariy menyebutkannya.”

Maka, sebagaimana pemaparan diatas yang kami kutip dari Tahdziib Al-Kamaal no. 891, Jubaarah bukanlah seorang pendusta atau pemalsu hadits. Jarh keras Ibnu Ma’iin terhadapnya terbantahkan oleh keterangan penjelas dari Ibnu Numair bahwa ia bukan sengaja berdusta.

Kesimpulan, Jubaarah dha’if, sebagaimana kata Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 890. Dan penisbatan hadits ini kepada Kaisaan Abu Sa’iid Al-Maqburiy (kakeknya ‘Abdullaah bin Sa’iid) juga kemungkinan berasal dari wahm dan lalainya Jubaarah. Wallaahu a’lam.

Kesimpulan

Hadits “Sesungguhnya Allah membenci tiap-tiap orang yang keras hati lagi kasar…” teriwayatkan dengan dua jalur. Jalur pertama berstatus munqathi’, sedangkan jalur kedua berstatus dha’if jiddan. Dilihat dari keadaan kedua jalur ini, maka mustahil jalur kedua bisa menguatkan jalur pertama, demikian pula sebaliknya. Maka hadits ini tetap pada kelemahannya dan tidak bisa terangkat ke derajat hasan.

Oleh karenanya menjadi penting bagi siapapun yang ingin meneliti status sebuah hadits, agar memperhatikan dan memeriksa dengan teliti jalur-jalur hadits tersebut, serta memperhatikan ada/tidaknya perkataan para imam mutaqaddimin ahli ‘ilal hadits akan ma’lul-nya suatu jalur.

Hadits ini adalah salah satu hadits diantara hadits-hadits yang Syaikh Al-Albaaniy mempunyai 2 pendapat. Pendapat pertama atau pendapat lama beliau adalah beliau menshahihkannya, sebagaimana dalam Shahiih Al-Jaami’ no. 1878 dan Ash-Shahiihah no. 195. Namun kemudian beliau ruju’ dari pendapat pertamanya menuju pendapat yang melemahkan hadits ini, sebagaimana dalam Adh-Dha’iifah 5/328, dan inilah yang mendekati kebenaran dengan bukti-bukti yang telah kami paparkan diatas. Wallaahul Muwaffiq.

Makna Hadits

Walaupun hadits ini dha’if, namun maknanya shahih. Markaz Fatawa Islamweb menafsirkan makna hadits ini kepada seseorang yang bertanya mengenainya. Berikut kutipannya secara lengkap :

فإن هذا الحديث رواه أحمد وغيره بألفاظ مختلفة، وباللفظ.المذكور رواه البيهقي في السنن وابن حبان في صحيحه.. وقال عنه الألباني في صحيح الجامع: صحيح .

ومعنى الجعظري-كما قال أهل العلم-: المتكبر الجافي عن الموعظة، وقيل: الفظ الغليظ.

والجواظ: هو الأكول الشروب البطِر الكفور.. وقيل: الجعظري: هو الذي يتنفخ بما ليس عنده. والجواظ: المختال في مشيه الغليظ الفظ.

والسخاب:- بالسين والصاد- كثير الخصام ، والسخب في الأسواق كثرة الخصام ورفع الصوت فيها.

ومعنى جيفة بالليل: كناية عن كثرة نومه وخموله وعدم قيامه لصلاة الليل…

ومعنى حمار بالنهار: أنه بليد في فهمه، منهمك في عمله الدنيوي لا يلتفت إلى سواه من الطاعة والعبادة.. فإذا جاء الليل استلقى على فراشه وبقي كالجيفة إلى الصباح.

وهو- مع هذا- عالم بأمور دنياه ولكنه جاهل بأمر دينه لا يهتم به ولا يسأل عنه.

والحديث تنبيه وتعليم للمسلم أن يبتعد عن هذه الصفات الذميمة ويتحلى بضدها من صفات أخلاق الإسلام الفاضلة.

والله أعلم

“Sesungguhnya hadits ini diriwayatkan Ahmad dan selainnya dengan lafazh-lafazh yang berlainan, dan lafazh yang kau sebutkan itu diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam kitab “As-Sunan” dan Ibnu Hibbaan dalam kitab Shahih-nya. Al-Albaaniy berkata mengenai hadis ini dalam Shahiih Al-Jaami’ ; shahih.

Arti dari Al-Ja’zhariy adalah –sebagaimana kata para ulama- orang sombong yang meremehkan nasehat, dan dikatakan : orang yang kasar lagi keras hatinya.

Al-Jawwaazh adalah orang rakus (banyak makan dan minum) yang tak pernah bersyukur serta kufur akan nikmat. Dikatakan bahwa Al-Ja’zhariy adalah orang yang gemar menyombongkan diri dengan hal-hal yang sebenarnya ia tak memilikinya, sedangkan Al-Jawwaazh adalah orang yang berjalan dengan angkuh, keras hati lagi kasar.

As-Sakhkhaab –dengan huruf siin dan bisa juga huruf shaad (sehingga dibaca Ash-Shakhkhaab)- adalah banyak berbantahan, dan hiruk-pikuk di pasar-pasar maksudnya adalah banyaknya orang yang berbantahan serta meninggikan suara di dalamnya.

Jiifatun bil lail (bangkai di malam hari) adalah kata kiasan dari orang yang banyak tidurnya dan malas, hingga alpa melakukan qiyamul lail.

Himaarun bin nahaar (keledai di siang hari) maknanya adalah ia pandir dalam memahami sesuatu, bersungguh-sungguh dalam kegiatan duniawinya namun tak menoleh sedikitpun kepada kegiatan lain yang bersifat keta’atan dan ibadah (kepada Rabb). Apabila malam tiba, ia berbaring diatas ranjangnya dan tidak bangun bagai Al-Jiifah (bangkai) hingga waktu subuh tiba.

Bersamaan dengannya, ia pintar dalam urusan dunia namun bodoh akan urusan agamanya, tiada peduli dan tak pernah bertanya mengenainya.

Walhasil, hadits ini adalah peringatan dan pengajaran kepada setiap muslim agar menjauhi sifat-sifat tercela, dan agar setiap muslim memiliki lawan dari sifat-sifat tercela tersebut yaitu sifat-sifat yang mencerminkan akhlaq islam yang terpuji.”

Wallaahu a’lam.

Selesai kutipan dari : http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=98568

Ada beberapa hadits yang semakna dengan hadits ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: الضُّعَفَاءُ الْمَظْلُومُونَ، قَالَ: أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: كُلُّ شَدِيدٍ جَعْظَرِيٍّ هُمْ الَّذِينَ لَا يَأْلَمُونَ رُءُوسَهُمْ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Maukah kalian kuberitahukan mengenai penduduk surga?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah,” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang lemah lagi terzhalimi.” Beliau kembali bertanya, “Maukah kalian kuberitahukan mengenai penduduk neraka?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah,” Beliau bersabda, “Semua orang sombong yang sangat keras hatinya, mereka adalah orang-orang yang kepalanya tak merasakan sakit (maksudnya tak mau menerima nasehat kebenaran, -pent).”

[Musnad Ahmad no. 10220]

عَنْ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَلا أُنَبِّئُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْمَغْلُوبُونَ الضُّعَفَاءُ، وَأَهْلُ النَّارِ كُلُّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Dari Suraaqah bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian kuberitahukan mengenai penduduk surga? Mereka adalah orang-orang yang terkalahkan dan orang-orang yang lemah. Sedangkan penduduk neraka adalah semua orang yang keras hati, rakus serta sombong.”

[Al-Mustadrak 1/60]

عَنْ حَارِثَةَ بْنَ وَهْبٍ الْخُزَاعِيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ؟ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ؟ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Dari Haaritsah bin Wahb Al-Khuzaa’iy radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, aku pernah mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam mewartakan, “Maukah kalian kukhabarkan mengenai penduduk surga? Yaitu semua orang yang lemah dan tertindas, sekiranya mereka bersumpah atas nama Allah niscaya Dia mengabulkannya. Maukah kalian kukhabarkan mengenai penduduk neraka? Yaitu semua orang yang berwatak beringas, rakus serta sombong.”

[Shahiih Al-Bukhaariy no. 4918; Shahiih Muslim no. 2855]

عَنْ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ الْجَوَّاظُ، وَلَا الْجَعْظَرِيُّ

Dari Haaritsah bin Wahb, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang rakus, dan tidak pula orang yang keras hati.”

[Sunan Abu Daawud no. 4801]

Demikian pemaparan yang sederhana ini, semoga bermanfaat dan semoga kita terhindar dari sifat-sifat tercela seperti yang telah disebutkan diatas.

Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di Pondok Aren, jelang waktu Subuh, 8 Sya’ban 1437 H.

Abu Ahmad Tommi Marsetio –waffaqahullah-

Maraji’ :

Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah wa Al-Maudhuu’ah”, karya Syaikh Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy, maktabah Al-Ma’aarif, Riyaadh, cetakan kelima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s