Memahami Makna “Hasan” Di Sisi Al-Imam Ad-Daaraquthniy

Doc076

Al-Imam Al-Haafizh Abul Hasan ‘Aliy bin ‘Umar Ad-Daaraquthniy –rahimahullah- adalah diantara sekian ulama huffaazh mutaqaddimin yang sering menghukumi hadits-hadits yang beliau riwayatkan dalam kitab Sunan-nya, manakala sebagian orang mungkin sedikit terkecoh dengan penghukuman “hasan” beliau atas sejumlah hadits-haditsnya. Sebagian lagi menyebutkan bahwa Ad-Daaraquthniy bersikap tasahul (bermudah-mudahan, -pent) di dalam kitab Sunan-nya sementara di kitab Al-‘Ilal beliau sangat-sangat teliti. Perkiraan seperti ini tidak akan timbul apabila kita mau meneliti terlebih dulu bagaimana metode Ad-Daaraquthniy dalam menghukumi hadits, kemudian menjama’-nya dengan penghukuman dalam kitab-kitabnya yang lain, dan dari qarinah-qarinah yang terlihat pada sanad maupun matan, lalu bagaimanakah metode para huffaazh mutaqaddimin dalam istilah dan definisi, karena definisi “hasan” itu sendiri menurut mutaqaddimin tidak selalu sama dengan yang dipahami oleh metode ulama muta’akhirin alias terbagi menjadi beberapa bagian, bisa bermakna gharabah atau nakarah, bisa pula bermakna hasan secara matan namun secara sanad bisa jadi sangat lemah atau malah ia hadits palsu, dan beberapa definisi lainnya.

‘Alaa kulli haal, mempelajari kitab-kitab para ulama masa kini yang concern membahas metode mutaqaddimin sangat diperlukan untuk memahami beberapa definisi dan lafazh-lafazh yang dipakai oleh ulama mutaqaddimin, yang dalam beberapa persoalan ternyata berbeda makna dengan muta’akhirin. Dan kali ini insya Allah, kami akan tuangkan tulisan dari Syaikh Abu Mu’aadz Thaariq bin ‘Awdhullaah –hafizhahullah-, seorang ulama hadits masa kini asal Mesir, mengenai lafazh “hasan” yang dipakai Al-Imam Ad-Daaraquthniy dalam kitab Sunan-nya.

Hasan di Sisi Al-Imam Ad-Daaraquthniy

Beberapa penghukuman hasan oleh beliau diantaranya adalah :

  1. Dikeluarkan dalam As-Sunan 1/351, hadits mengenai tasyahhud :

ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الأَشْعَثِ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ وَزِيرٍ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ، أَخْبَرَنِي جَعْفَرُ بْنُ رَبِيعَةَ، عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ الأَشَجِّ، أَنَّ عَوْنَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ كَتَبَ لِي فِي التَّشَهُّدِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَأَخَذَ بِيَدِي فَزَعَمَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَخَذَ بِيَدِهِ، فَزَعَمَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَخَذَ بِيَدِهِ فَعَلَّمَهُ التَّشَهُّدَ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ الْمُبَارَكَاتُ لِلَّه

‘Abdullaah bin Sulaimaan bin Al-Asy’ats menceritakan kepada kami, Muhammad bin Waziir Ad-Dimasyqiy menceritakan kepada kami, Al-Waliid bin Muslim menceritakan kepada kami, Ibnu Lahii’ah mengkhabariku, Ja’far bin Rabii’ah mengkhabariku, dari Ya’quub bin Al-Asyajj, bahwa ‘Aun bin ‘Abdillaah bin ‘Utbah menulis tasyahhud untukku, dari Ibnu ‘Abbaas, ia menggenggam tanganku (tangan ‘Aun, -pent) dan menyatakan bahwa ‘Umar bin Al-Khaththaab menggenggam tangannya (tangan Ibnu ‘Abbaas, -pent), dan ‘Umar menyatakan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menggenggam tangannya lalu mengajarinya cara bertasyahhud, “At-Tahiyyaatu lillaahi wash shalawaatuth thayyibaatul mubaarakaat.”

Kemudian Imam Ad-Daaraquthniy berkata :

هَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ، وَابْنُ لَهِيعَةَ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ

“Ini adalah sanad yang hasan, dan Ibnu Lahii’ah laisa bil qawiy.”

Maka makna hasan disini adalah ghariib atau munkar. Hal yang menjadi bukti akan hal ini adalah disebutkannya hadits ini oleh Imam Ad-Daaraquthniy dalam Al-Gharaa’ib wa Al-Afraad (melalui Athraaf Al-Gharaa’ib 1/55, karya Muhammad bin Thaahir Al-Maqdisiy), ia berkata :

غَرِيب من حَدِيث عمر عَن النَّبِي صلى الله عليه وسلم، وَمن حَدِيث ابْن عَبَّاس عَنهُ، وَلم يروه عَنهُ غير جَعْفَر بن ربيعَة عَن يَعْقُوب بن الْأَشَج، وَلَا نعلم أحدا رَوَاهُ غير الْوَلِيد بن مُسلم عَن ابْن لَهِيعَة، وَتَابعه عبد الله بن يُوسُف التينسي

“Ghariib dari hadits ‘Umar dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan dari hadits Ibnu ‘Abbaas dari ‘Umar. Tidak ada yang meriwayatkan dari ‘Aun bin ‘Abdillaah bin ‘Utbah selain Ja’far bin Rabii’ah dari Ya’quub bin Al-Asyajj. Aku tidak tahu seorang pun yang meriwayatkannya selain Al-Waliid bin Muslim dari Ibnu Lahii’ah, dan Al-Waliid dimutaba’ah oleh ‘Abdullaah bin Yuusuf At-Tuniisiy.”

Dapat diketahui dari sini bahwa hadits ini adalah termasuk hadits yang Ibnu Lahii’ah tafarrud didalamnya.

Ad-Daaraquthniy juga menyebutkannya dalam Al-‘Ilal 2/82-83 :

أَسْنَدَهُ الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ التِّنِّيسِيُّ، عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ، وَلَا نَعْلَمُ رَفَعَهُ عَنْ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَهُ وَالْمَحْفُوظُ مَا رَوَاهُ عُرْوَةُ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ الْقَارِيِّ، أَنَّ عُمَرَ كَانَ يُعَلِّمُ النَّاسَ التَّشَهُّدَ مِنْ قَوْلِهِ، غَيْرُ مَرْفُوعٍ

“Al-Waliid bin Muslim dan ‘Abdullaah bin Yuusuf At-Tuniisiy memusnadkan hadits ini dari Ibnu Lahii’ah, dan aku tidak tahu ada yang memarfu’-kannya dari ‘Umar dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam selain Ibnu Lahii’ah. Yang mahfuuzh adalah hadits ‘Urwah dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdil Qaariy bahwasanya ‘Umar mengajari orang-orang bacaan tasyahhud, dari perkataan ‘Umar, tidak marfuu’.”

Kesimpulannya, riwayat ini adalah hadits syaadz atau mungkar menurut Imam Ad-Daaraquthniy dengan sebab tafarrudnya Ibnu Lahii’ah memarfu’kan sanadnya dari ‘Umar dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ia menyelisihi riwayat yang mahfuuzh di sisi Imam Ad-Daaraquthniy, yaitu sanad mauquuf.

  1. Dikeluarkan dalam As-Sunan 1/335, hadits mengenai ta’min Rasulullah :

ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ، ثنا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ بْنِ صَالِحٍ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ، عَنِ الزُّبَيْدِيِّ، حَدَّثَنِي الزُّهْرِيُّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، وَسَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ أُمِّ الْقُرْآنِ رَفَعَ صَوْتَهُ، وَقَالَ: آمِينَ

Muhammad bin Ismaa’iil Al-Faarisiy menceritakan kepada kami, Yahyaa bin ‘Utsmaan bin Shaalih menceritakan kepada kami, Ishaaq bin Ibraahiim menceritakan kepada kami, ‘Amr bin Al-Haarits menceritakan kepadaku, ‘Abdullaah bin Saalim menceritakan kepadaku, dari Az-Zubaidiy, Az-Zuhriy menceritakan kepadaku, dari Abu Salamah dan Sa’iid, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Dahulu apabila Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam selesai membaca Ummul Qur’an (Al-Faatihah, -pent), beliau mengeraskan suaranya dan berucap : Aamiin.”

Kemudian Imam Ad-Daaraquthniy berkata :

هَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ

“Hadits ini sanadnya hasan.”

Ad-Daaraquthniy tiada bermaksud menetapkan hadits ini ketika ia menyebutkan tahsin-nya tersebut. Qarinah-nya adalah ia menyebutkan hadits ini pada kitab ‘Ilal 8/84-92 dan menjabarkan mukhalafah pada sanad-sanad dan matannya secara menyeluruh. Ad-Daaraquthniy berkata :

وَالْمَحْفُوظُ عَنِ الزُّهْرِيّ: إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ، فَأَمِّنُوا

“Yang mahfuuzh dari Az-Zuhriy : apabila imam shalat mengucapkan aamiin, maka ucapkanlah aamiin.”

  1. Dikeluarkan dalam As-Sunan 1/48, hadits mengenai sucinya kulit yang telah disamak :

ثنا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ، نا مُحَمَّدُ بْنُ عَقِيلِ بْنِ خُوَيْلِدٍ، نا حَفْصُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ صلى الله عليه وسلم: أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ

Abu Bakr An-Naisaabuuriy menceritakan kepada kami, Muhammad bin ‘Aqiil bin Khuwailid menceritakan kepada kami, Hafsh bin ‘Abdillaah menceritakan kepada kami, Ibraahiim bin Thahmaan menceritakan kepada kami, dari Ayyuub, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kulit apapun yang telah disamak, maka ia menjadi suci.”

Kemudian Imam Ad-Daaraquthniy berkata :

إِسْنَادٌ حَسَنٌ

“Sanadnya hasan.”

Yakni : ghariib, berdasarkan bukti bahwa hadits ini termasuk hadits yang diingkari oleh para ulama atas salah seorang perawinya, yaitu Ibnu Khuwailid, walaupun ia termasuk ke dalam golongan para perawi tsiqah, hanya saja ia telah melakukan kesalahan dalam sanad hadits ini.

Abu Ahmad Al-Haakim, sebagaimana dinukil dalam Tahdziib At-Tahdziib 9/348, berkata :

حدث بحديثين لم يتابع عليهما، ويقال دخل له حديث في حديث، وكان أحد الثقات النبلاء

“Meriwayatkan 2 hadits yang ia tak punya mutaba’ah atasnya. Dikatakan, ia tersisipi (keragu-raguan, -pent) dalam hadits demi hadits, dan ia adalah seorang perawi tsiqah lagi mulia.”

Ibnu Hibbaan dalam Ats-Tsiqaat 9/139 berkata :

رُبمَا أَخطَأ حدث بالعراق بِمِقْدَار عشرَة أَحَادِيث مَقْبُولَة

“Boleh jadi ia melakukan kesalahan, meriwayatkan sejumlah sepuluh hadits maqluub (terbolak-balik; bisa pada sanad maupun matan, -pent) ketika berada di ‘Iraaq.”

Lalu Adz-Dzahabiy dalam Miizaan Al-I’tidaal 6/261 berkata :

معروف، لا بأس به إلا أنه تفرد بهذا، فقال: حدثنا حفص بن عبد الله، حدثنا إبراهيم بن طهمان، عن أيوب، عن نافع، عن ابن عمر، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أيما إهاب دبغ فقد طهر

“Ma’ruuf, tidak mengapa dengannya, hanya saja ia tafarrud dengan hadits ini, ia berkata : Hafsh bin ‘Abdillaah menceritakan kepada kami…(dan seterusnya, kemudian menyebutkan hadits samak diatas, -pent).”

Yang benar, hadits sucinya kulit yang telah disamak ini berasal dari hadits ‘Abdurrahman bin Wa’lah, dari Ibnu ‘Abbaas, sebagaimana dalam Shahiih Muslim no. 367 :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ وَعْلَةَ أَخْبَرَهُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِذَا دُبِغَ الإِهَابُ، فَقَدْ طَهُر

Yahyaa bin Yahyaa menceritakan kepada kami, Sulaimaan bin Bilaal mengkhabari kami, dari Zaid bin Aslam, bahwa ‘Abdurrahman bin Wa’lah mengkhabarinya, dari ‘Abdullaah bin ‘Abbaas, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mensabdakan, “Apabila kulit telah disamak, maka ia menjadi suci.”

Inilah yang shahih.

  1. Dikeluarkan dalam As-Sunan 1/40, hadits mengenai haramnya minum dari bejana yang terbuat dari emas atau perak :

نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ الْفَاكِهِيُّ، نا أَبُو يَحْيَى بْنُ أَبِي مَسَرَّةَ، نا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَارِيُّ، نا زَكَرِيَّا بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُطِيعٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ شَرِبَ مِنْ إِنَاءِ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ، أَوْ إِنَاءٍ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ، فَإِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ

‘Abdullaah bin Muhammad bin Ishaaq Al-Faakihiy menceritakan kepada kami, Abu Yahyaa bin Abu Masarrah menceritakan kepada kami, Yahyaa bin Muhammad Al-Jaariy menceritakan kepada kami, Zakariyaa bin Ibraahiim bin ‘Abdillaah bin Muthii’ menceritakan kepada kami, dari Ayahnya, dari ‘Abdullaah bin ‘Umar, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa minum dari bejana emas atau perak, atau bejana yang terdapat benda yang demikian, maka sesungguhnya ia sedang menuangkan api neraka jahannam ke dalam perutnya.”

Kemudian Imam Ad-Daaraquthniy berkata :

إِسْنَادُهُ حَسَنٌ

“Sanadnya hasan.”

Dari perkataannya ini, tidaklah mungkin dibawa kepada makna hasan secara istilah, melainkan maknanya adalah ghariib atau mungkar, dengan bukti-bukti penjelas sebagai berikut :

A. Perawi bernama Yahyaa bin Muhammad Al-Jaariy, haditsnya tidaklah mendekati derajat hasan, bahkan ia lebih dekat kepada dha’if.

Dalam Tahdziib Al-Kamaal no. 6913, dikutip komentar para imam mengenainya. Al-Bukhaariy berkata :

يتكلمون فيه

“Mereka (para ulama, -pent) membicarakannya.”

Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat, ia berkata, “Yughrab,” maksudnya adalah kerap meriwayatkan hadits-hadits ghariib. Al-‘Ijliy mentautsiqnya, sementara Abu Ahmad Ibnu ‘Adiy berkata :

ليس بحديثه بأس

“Tak ada yang salah dengan haditsnya.”

Ibnu Hibbaan pun memasukkannya ke dalam Al-Majruuhiin 3/130, seraya berkata :

كان ممن يتفرد بأشياء لا يتابع عليها على قلة روايته كأنه كان يهم كثيرا فمن هنا وقع المناكير في روايته يجب التنكب عما انفرد من الروايات وان احتج به محتج فيما وافق الثقات لم أر بذلك بأسا

“Ia tergolong perawi yang kerap menyendiri pada beberapa riwayatnya, tak ada mutaba’ah atas riwayatnya tersebut disamping sedikitnya jumlah riwayatnya, seakan-akan ia banyak mengalami wahm. Dari sinilah timbul beberapa nakarah di dalam riwayatnya, wajib menghindar dari riwayat-riwayat yang ia tafarrud terhadapnya. Jika ingin menjadikannya hujjah, maka berhujjahlah pada riwayatnya yang menyepakati para perawi tsiqah, aku memandang tak mengapa dengan cara seperti itu.”

B. Perawi bernama Zakariyaa bin Ibraahiim bin ‘Abdillaah bin Muthii’ dan ayahnya, telah dimajhulkan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy 10/101 :

وَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ مِنْ طَرِيقِ زَكَرِيَّا بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُطِيعٍ عَنْ أَبِيه عَن بن عُمَرَ بِنَحْوِ حَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ وَزَادَ فِيهِ أَوْ فِي إِنَاءٍ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ مَعْلُولٌ بِجَهَالَةِ حَالِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُطِيعٍ وَوَلَدِهِ

“Adapun hadits yang dikeluarkan oleh Ad-Daaraquthniy, Al-Haakim dan Al-Baihaqiy dari jalur Zakariyaa bin Ibraahiim bin ‘Abdillaah bin Muthii’, dari Ayahnya, dari Ibnu ‘Umar yang mirip seperti hadits Ummu Salamah dengan tambahan matan di dalamnya : ‘atau bejana yang terdapat benda yang demikian’, maka hadits ini ma’luul dengan sebab majhuul haal-nya Ibraahiim bin ‘Abdillaah bin Muthii’ dan putranya.”

C. Tambahan matan : ‘atau bejana yang terdapat benda yang demikian’, adalah tambahan yang mungkar. Adz-Dzahabiy telah menyatakan demikian ketika ia menyebutkan hadits ini pada biografi Yahyaa bin Muhammad Al-Jaariy dalam Al-Miizaan 7/217, seraya berkata :

هذا حديث منكر، أخرجه الدارقطني، وزكريا ليس بالمشهر

“Ini hadits munkar, dikeluarkan oleh Ad-Daaraquthniy. Zakariyaa tidak masyhuur.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan kelemahan tambahan ini dalam Majmuu’ Al-Fataawaa 21/85 :

وَأَمَّا مَا يُرْوَى عَنْهُ مَرْفُوعًا مِنْ شُرْبٍ فِي إنَاءِ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ أَوْ إنَاءٍ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ، فَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ

“Adapun pada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’ : ‘Barangsiapa minum dari bejana emas atau perak, atau bejana yang terdapat benda yang demikian’, maka sanad riwayat ini dha’if.”

Hanya saja, tambahan matan ini shahih dari perbuatan Ibnu ‘Umar, sebagaimana dibuktikan oleh Abu Bakr Al-Baihaqiy dalam Sunan Al-Kubraa 1/29 :

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بِشْرَانَ بِبَغْدَادَ، أنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ: أَنَّهُ كَانَ لا يَشْرَبُ فِي قَدَحٍ فِيهِ حَلْقَةُ فِضَّةٍ، وَلا ضَبَّةُ فِضَّةٍ

Abul Husain bin ‘Aliy bin Muhammad bin ‘Abdillaah bin Bisyraan mengkhabari kami –di Baghdaad-, Ismaa’iil bin Muhammad Ash-Shaffaar memberitahu kami, Al-Hasan bin ‘Aliy bin ‘Affaan menceritakan kepada kami, ‘Abdullaah bin Numair menceritakan kepada kami, dari ‘Ubaidullaah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa ia tidak minum pada gelas yang didalamnya terdapat ring dari perak, atau aksesoris dari perak.”

Walhasil, pemuthlakkan lafazh “hasan” oleh Imam Ad-Daaraquthniy akan hadits ini, bukanlah bermakna hasan secara istilah, melainkan hasan bermakna ghariib atau mungkar sebagaimana telah berlalu penjelasannya.

Akhirul kalam, dari sini kita dapat menerapkan sikap wara’ (berhati-hati, -pent) ketika menemukan istilah-istilah khusus yang dipakai oleh para huffaazh mutaqaddimin, termasuk istilah hasan ini, karena ternyata dalam beberapa hadits, lafazh “hasan” tidak muthlak menunjukkan bahwa sanadnya atau haditsnya hasan, bahkan ketika diadakan penelitian riwayah maupun dirayah, terbukti sanadnya gharib dan dha’if, serta matannya terdapat tambahan yang munkar yang mustahil diberikan tahsin untuk riwayat-riwayat semacam itu. Dan ini bukanlah sifat tasahul (bermudah-mudahan, -pent) dari para huffaazh mutaqaddimin, melainkan mereka memang punya istilah-istilah khusus yang butuh pembelajaran dan penelitian khusus.

Dari sini pula, kita pun bisa mengadakan penelitian dan kesimpulan, seperti apa penghukuman hasan oleh Imam Ad-Daaraquthniy dalam hadits do’a ketika berbuka puasa : “Dzahabazh zhama’u, dan seterusnya. Apa benar hasan secara muthlak atau hasan dalam istilah khusus? Dan butuh ruang tersendiri untuk membahasnya.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat. Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di Smartfren BSD, jelang waktu maghrib, 24 Sya’ban 1437 H.

Abu Ahmad Tommi Marsetio –waffaqahullah-

Maraji’ :

Al-Irsyaadaat fiy Taqwiyyah Al-Ahaadiits bi Asy-Syawaahid wa Al-Mutaaba’aat; hal. 145-150, karya Syaikh Abu Mu’aadz Thaariq bin ‘Awdhullaah bin Muhammad, maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, cetakan pertama.

~ dengan beberapa penambahan yang tidak mengubah esensi tulisan ~

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s