Hakikat Orang-orang yang Muflis (Bangkrut) Lagi Zhalim

bangkrut

Menurut persepsi kita pada umumnya, bangkrut seringkali diartikan tidak punya harta, tidak punya uang atau sedikit sekali harta yang tersisa padanya sehingga mustahil ia dikatakan orang yang berkecukupan. Namun apakah ini definisi bangkrut yang juga dipahami dalam syari’at Islam? Ternyata tidak. Jika orang yang bangkrut harta di dunia masih memiliki kesempatan untuk memperkaya pahala dengan memperbanyak amalan shalih, bagaimana dengan bangkrut menurut syari’at Islam?

Al-Imam Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaaj rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Qutaibah bin Sa’iid dan ‘Aliy bin Hujr menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Ismaa’iil –dia adalah Ibnu Ja’far- menceritakan kepada kami, dari Al-‘Alaa’, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya,

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”

Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak mempunyai dirham dan tidak pula harta kekayaan.”

Rasulullah pun menjelaskan, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang di hari kiamat nanti dengan pahala amalan shalat, puasa dan zakat namun ia selalu mencaci-maki, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah serta memukul orang lain. Maka diberikanlah bagian dari pahala kebaikannya untuk orang-orang yang ia sakiti tersebut. Apabila pahala kebaikan miliknya telah habis sebelum terpenuhinya pembalasan atas perbuatan zhalimnya, diambillah dari dosa-dosa mereka kemudian dialihkan kepadanya, lantas ia pun dilemparkan ke dalam neraka!”

[Shahiih Muslim no. 2584; Kitab Al-Birr, Bab Haramnya Perbuatan Zhalim]

Pembahasan Hadits

Setelah membaca hadits diatas, perlunya kita khawatir dan bercermin kepada diri kita masing-masing, apakah selama ini tindak-tanduk serta ucapan kita kerap kali tajam menyakiti orang lain? Bahkan menuduhnya dengan berbagai macam tuduhan (yang sebenarnya belum terbukti secara tegas dan qath’iy) hingga terzhalimilah ia. Pantaslah kita takut akan bangkrutnya diri kita di akhirat nanti, sebab jika bangkrut di akhirat maka tak ada lagi yang bisa menolong kita dari ancaman api neraka. Wal’iyadzubillah. Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan menzhalimi orang lain.

Al-Imam Abu Zakariyaa An-Nawawiy rahimahullah ketika menjelaskan hadits diatas, beliau berkata :

“Hadits ini menunjukkan hakikat yang sebenarnya dari orang yang bangkrut. Adapun orang yang tidak ada padanya harta atau sedikit hartanya dan manusia menyebut keadaan orang yang seperti ini adalah orang yang bangkrut, maka ini bukanlah hakikat yang sebenarnya karena keadaan seperti ini akan hilang dan terhenti dengan wafatnya orang tersebut atau bisa jadi terhenti dengan kelapangan rezeki setelah ia mengalami keadaan yang demikian sulit dalam kehidupannya. Jadi, hakikat dari orang yang bangkrut adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas, yaitu orang yang binasa dengan kebinasaan yang sempurna, dan orang yang hilang (pahalanya) dengan pengurangan secara perlahan-lahan, diambillah pahala-pahala kebaikannya untuk orang-orang yang menjadi korban kezhalimannya.

Apabila telah habis pahala kebaikannya, diambillah dari keburukan-keburukan mereka lalu ditimpakan kepadanya, akhirnya dilemparkanlah ia ke dalam api neraka. Maka sempurnalah kerugian, kebinasaan dan kebangkrutannya.” [Al-Minhaaj 16/136]

Al-Maaziriy rahimahullah berkata :

“Sebagian kalangan ahli bid’ah menduga bahwa hadits ini bertentangan dengan firman Allah :

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (Az-Zumar : 7)

Ini adalah dugaan yang bathil dan kebodohan yang terang benderang, karena sesungguhnya orang yang zhalim itu dihukum sebab perbuatan dan dosanya. Lalu dihadapkan kepadanya hak-hak bagi para korban kezhalimannya, maka diberikanlah kepada mereka (orang-orang yang ia zhalimi tersebut) dari pahala-pahala kebaikan si pelaku kezhaliman. Tatkala telah habis pahala-pahala kebaikannya, maka diambillah dosa-dosa dari korban-korbannya lantas dipikulkan kepadanya. Jadi, hakikat hukumannya adalah sebab-musabab dari kezhalimannya dan ia tidak dihukum tanpa ada kesalahan yang diperbuatnya itu.” [Tuhfah Al-Ahwadziy 7/87]

Maimuun bin Mihraan rahimahullah berkisah, “Ada seorang lelaki yang membaca Al-Qur’an dan ia melaknat dirinya sendiri.”

Ditanyakan kepada Maimuun, “Bagaimanakah ia bisa melaknat dirinya sendiri?”

Maimuun menjawab, “Allah berfirman : Ingatlah, kutukan Allah ditimpakan atas orang-orang yang zhalim (Huud : 18). Dan ia zhalim. Tidak ada dosa-dosa yang lebih besar daripada perbuatan zhalim, karena jika dosamu itu adalah dosa antara dirimu dengan Allah Ta’ala, maka sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mulia dan (boleh jadi) Dia memaafkanmu. Namun apabila dosa itu adalah dosa antara dirimu dengan para hamba, maka tidak ada celah bagimu untuk bebas kecuali dengan ridha lawanmu. Oleh karenanya dianjurkan bagi orang yang berbuat zhalim agar bertaubat dari perbuatan zhalimnya dan meminta maaf terhadap orang yang dizhalimi di dunia. Jika ternyata ia tidak mampu melakukannya, maka ia harus beristighfar dan berdo’a untuknya, berharap agar orang yang dizhaliminya tersebut telah memaafkan perbuatannya.”

‘Abdullaah bin Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang membantu orang yang zhalim atas perbuatan zhalimnya, atau membisikkannya sebuah tuduhan yang dengan tuduhan ini ia menggugurkan hak seorang muslim lainnya, maka sungguh ia telah mendatangkan kemurkaan Allah Ta’ala dan baginya dosa atas perbuatannya tersebut.”

‘Umar radhiyallaahu ‘anhu bertanya kepada Al-Ahnaf bin Qais, “Siapakah orang yang paling bodoh?” Al-Ahnaf rahimahullah menjawab, “Orang yang menjual akhiratnya demi dunianya.”

[Tanbiih Al-Ghaafiliin hal. 377]

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya dosa ditimpakan atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi dengan tanpa hak. Mereka mendapat adzab yang pedih.” (Asy-Syuuraa : 42)

Berhati-hatilah terhadap do’a orang yang terzhalimi :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ … وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’aadz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke Yaman, “…Dan berhati-hatilah terhadap do’a orang yang terzhalimi karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah.” [Shahiih Muttafaqun ‘alaih]

Dianjurkan bagi kita untuk sebisa mungkin menolong saudara kita yang terzhalimi maupun yang menzhalimi dari perbuatan zhalim yang ia lakukan, itulah sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ اقْتَتَلَ غُلَامَانِ غُلَامٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَغُلَامٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَنَادَى الْمُهَاجِرُ أَوْ الْمُهَاجِرُونَ يَا لَلْمُهَاجِرِينَ وَنَادَى الْأَنْصَارِيُّ يَا لَلْأَنْصَارِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا هَذَا دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا أَنَّ غُلَامَيْنِ اقْتَتَلَا فَكَسَعَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ قَالَ فَلَا بَأْسَ وَلْيَنْصُرْ الرَّجُلُ أَخَاهُ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا إِنْ كَانَ ظَالِمًا فَلْيَنْهَهُ فَإِنَّهُ لَهُ نَصْرٌ وَإِنْ كَانَ مَظْلُومًا فَلْيَنْصُرْهُ

Dari Jaabir radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu ketika ada dua orang pemuda yang sedang berkelahi, seorang pemuda dari kalangan Muhajirin dan seorang lagi dari kalangan Anshar. Berteriaklah pemuda dari Muhajirin, “Wahai kaum Muhajirin…(mana pembelaan kalian?)!” Sementara pemuda Anshar pun berteriak, “Wahai kaum Anshar…(mana pembelaan kalian?)!”

Maka keluarlah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya bersabda, “Ada apa ini? Bukankah ini seruan orang-orang jahiliyah?”

Orang-orang pun menjawab, “Bukan wahai Rasulullah, hanya saja ada dua orang pemuda yang sedang berkelahi, salah seorang dari mereka mendorong yang lainnya.”

Rasulullah bersabda, “Kalau begitu tak mengapa, dan hendaklah seseorang menolong saudaranya yang berbuat zhalim atau dizhalimi. Jika ia berbuat zhalim maka cegahlah ia (dari perbuatannya tersebut) dan kau telah menolongnya. Jika ia dizhalimi maka tolonglah ia.” [Shahiih Muslim no. 2585]

Sedangkan dalam riwayat Al-Bukhaariy :

عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Dari Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tolonglah saudaramu baik yang menzhalimi maupun yang dizhalimi.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2443]

Dan di dalam jalur Mu’tamir bin Sulaimaan, dari Humaid, dari Anas, ada tambahan lafazh :

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, (kami paham) beginilah kami membela orang yang dizhalimi. Akan tetapi bagaimana kami membela orang yang menzhalimi?” Rasulullah bersabda, “Genggam erat tangannya (agar ia tidak berbuat zhalim)!” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2444]

Sebagai penutup pembahasan, Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah berkata :

“Akan tetapi hadits ini tidaklah menunjukkan orang yang bangkrut tersebut akan kekal di dalam neraka, namun ia di-’adzab sesuai dengan takaran dosa-dosa orang lain yang ia zhalimi yang dialihkan kepadanya, kemudian setelah menjalani ‘adzab tersebut ia akan dibawa menuju surga karena orang mu’min tidak kekal di dalam neraka. Akan tetapi api itu sangatlah panas, tak akan tahan seorang manusia berada di dalamnya walau hanya satu detik. Ini baru api dunia, terlebih lagi (bagaimanakah) api di akhirat itu. Semoga Allah melindungiku dan kalian darinya.” [Syarh Riyaadh Ash-Shaalihiin 2/529]

Kesimpulan

  1. Orang yang tidak punya harta atau hartanya habis karena hutang bukanlah bangkrut secara hakikat, karena bangkrut di dunia akan hilang dengan sendirinya jika ia wafat, atau jika ia diberi kemudahan rezeki oleh Allah Ta’ala yang membuat kesulitannya terangkat.
  2. Bangkrut secara hakikat adalah berkurangnya sedikit demi sedikit dari pahala-pahala kebaikan seseorang yang ia kerjakan semasa hidupnya, baik itu amalan-amalan shalihnya seperti shalat, puasa, zakat ataupun perbuatan-perbuatan baik hasil muamalahnya, pahala-pahala tersebut diberikan kepada orang-orang yang pernah ia sakiti, ia tuduh dengan tanpa haq, ia caci maki, ia tumpahkan darahnya hingga ia pun menzhaliminya. Hingga sampailah ia pada keadaan semua pahala miliknya telah habis sementara pembalasan atas perbuatan zhalimnya kepada manusia belumlah selesai, maka diambillah dosa-dosa dari orang-orang yang ia zhalimi, kemudian dosa-dosa tersebut ditimpakan kepadanya dan dilemparkanlah ia ke dalam api neraka. Sempurnalah ia menjadi orang yang binasa, merugi dan bangkrut.
  3. Kebangkrutan secara hakiki ini terjadi di akhirat, ketika hari Mahsyar disaat tidak ada hakim yang adil lagi bijaksana melainkan Allah Al-Hakiim.
  4. Semua perbuatan, baik itu perbuatan jahat maupun perbuatan baik, akan dibalas dengan balasan yang seadil-adilnya di hari Mahsyar dan tidak akan menzhalimi pihak manapun.
  5. Hadits ini adalah khabar akan Maha Adilnya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya. Diantara hikmahnya adalah, orang yang senantiasa dizhalimi ketika di dunia akan merasakan karuniaNya di akhirat nanti. Oleh karena itu, selayaknya ia bersabar akan keadaan yang ia alami dengan tetap berdo’a kepada Allah memohon kebaikan dunia dan akhirat serta kesabaran yang tetap.
  6. Perbuatan zhalim adalah salah satu bagian dari dosa-dosa besar. Allah Ta’ala mengutuk orang-orang yang zhalim sebagaimana Dia firmankan dalam surat Huud ayat 18.
  7. Do’a orang yang terzhalimi itu maqbul, maka berhati-hatilah darinya. Jika ia sudah merasa tidak tahan dan ia mengadu pada Allah akan kezhaliman hambaNya terhadap dirinya kemudian ia mendo’akan celaka, maka do’a tersebut akan menembus hijab antara dirinya dengan Allah.
  8. Dosa seorang hamba kepada Allah, maka Allah Maha Mulia yang dengan kemuliaanNya tersebut, boleh jadi Dia telah mengampuni hamba ketika sang hamba beristighfar memohon ampunan. Akan tetapi, dosa seorang hamba kepada hamba yang lain, maka tidak cukup hanya dengan beristighfar namun harus pula memohon ridha dari hamba tersebut dengan meminta maaf kepadanya, menghalalkan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.
  9. Sesiapa yang menolong perbuatan zhalim, membisikkan keterangan-keterangan dan tuduhan-tuduhan yang tidak benar kepada pihak yang menzhalimi tentang pihak yang terzhalimi hingga hak-haknya sebagai seorang muslim pun menjadi terlukai, maka ia akan mendapat dosa pula dan baginya murka Allah karena telah membantu kezhaliman.
  10. Wajib bagi seorang muslim agar membantu saudara muslim yang lainnya dari pihak yang dizhalimi maupun yang menzhalimi. Orang yang dizhalimi kita tolong dari kezhaliman saudaranya, sedangkan orang yang menzhalimi kita cegah dari perbuatan tersebut.
  11. Orang yang bangkrut dari kalangan kaum mu’minin maka ia tidak kekal di neraka walaupun pahala kebaikannya telah habis diberikan kepada para korban kezhalimannya. Ia akan di-‘adzab sesuai dengan kadar kezhalimannya tersebut. Apabila telah tunai ‘adzabnya, ia akan dibawa menuju surga. Orang-orang yang bertauhid tidak kekal di neraka.
  12. Jangan pernah sekalipun menganggap remeh siksa di neraka. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai panutan kita yang telah dijamin surga dan diampuni dosa-dosanya di masa lalu dan di masa datang, beliau tetap meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari siksa api neraka serta bertaubat dan beristighfar kepadaNya sebanyak lebih dari 70 kali dalam sehari (dalam riwayat lain lebih dari 100 kali sehari). Maka bagaimanakah lagi dengan diri kita yang bergelimang dalam lumpur dosa?

Demikian pemaparan yang sederhana ini, semoga bermanfaat sebagai sarana muhasabah kita bersama terutama bagi diri kami yang lemah ini.

Wallaahu Ta’ala a’lam.

Diselesaikan di Pondok Aren, Jum’at, 21 Dzulhijjah 1437 H

Tommi Marsetio –waffaqahullah-

 

Disarikan dari berbagai sumber

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s