Kalimat Ikhlash yang Mengantarkan ke Surga

paradise

Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya no. 128 dan Muslim dalam Shahih-nya no. 35, mengeluarkan hadits dari Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

كَانَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُعاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ يَا مُعَاذُ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ثَلَاثًا قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا قَالَ إِذًا يَتَّكِلُوا وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا

“Suatu hari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang menunggang tunggangannya dan Mu’aadz –radhiyallaahu ‘anhu- membonceng di belakangnya. Nabi berseru, “Wahai Mu’aadz bin Jabal!” Mu’aadz menjawab seruan Nabi, “Labbaika ya Rasulullah wa sa’daik!” Nabi berseru kembali, “Wahai Mu’aadz!” Dan Mu’aadz menjawab seruan beliau, “Labbaika ya Rasulullah wa sa’daik!” Rasulullah ulang seruannya sebanyak 3 kali, lantas beliau bersabda, “Tak seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, dan persaksian ini benar berasal dari hatinya, melainkan Allah haramkan ia dari api neraka.” Mu’aadz bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku khabari manusia dengan berita ini hingga mereka bersuka hati?” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu mereka akan menjadi pasrah.” Maka Mu’aadz pun memberitahukan hadits ini ketika ia akan wafat karena takut berdosa (telah menyembunyikan ilmu, -pent).”

Dalam Ash-Shahiihain (Al-Bukhaariy no. 425 dan no. 1186; Muslim no. 660) dari ‘Itbaan bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan api neraka bagi seseorang yang mengucapkan : Laa Ilaaha Illallaah, yang dengannya ia berharap wajah Allah.”

Dalam Shahih Muslim no. 30, dari Abu Hurairah, atau dari Abu Sa’iid Al-Khudriy –Al-A’masy, salah satu perawinya mengalami syak-, ia berkata :

لَمَّا كَانَ غَزْوَةُ تَبُوكَ أَصَابَ النَّاسَ مَجَاعَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَذِنْتَ لَنَا فَنَحَرْنَا نَوَاضِحَنَا فَأَكَلْنَا وَادَّهَنَّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْعَلُوا قَالَ فَجَاءَ عُمَرُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ فَعَلْتَ قَلَّ الظَّهْرُ وَلَكِنْ ادْعُهُمْ بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ ثُمَّ ادْعُ اللَّهَ لَهُمْ عَلَيْهَا بِالْبَرَكَةِ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَ فِي ذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ قَالَ فَدَعَا بِنِطَعٍ فَبَسَطَهُ ثُمَّ دَعَا بِفَضْلِ أَزْوَادِهِمْ قَالَ فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَجِيءُ بِكَفِّ ذُرَةٍ قَالَ وَيَجِيءُ الْآخَرُ بِكَفِّ تَمْرٍ قَالَ وَيَجِيءُ الْآخَرُ بِكَسْرَةٍ حَتَّى اجْتَمَعَ عَلَى النِّطَعِ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ يَسِيرٌ قَالَ فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ قَالَ خُذُوا فِي أَوْعِيَتِكُمْ قَالَ فَأَخَذُوا فِي أَوْعِيَتِهِمْ حَتَّى مَا تَرَكُوا فِي الْعَسْكَرِ وِعَاءً إِلَّا مَلَئُوهُ قَالَ فَأَكَلُوا حَتَّى شَبِعُوا وَفَضَلَتْ فَضْلَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنْ الْجَنَّةِ

“Tatkala perang Tabuk, pasukan (kaum muslimin) menderita kelaparan yang parah, mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, sekiranya engkau izinkan kami untuk menyembelih unta kami, sehingga kami bisa memakan dagingnya dan menggunakan lemaknya sebagai minyak?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Lakukanlah!”

Abu Hurairah melanjutkan, “Lalu datanglah ‘Umar seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jika itu engkau lakukan, maka punggung unta akan habis! Tapi sebaiknya, engkau mintakan sisa makanan mereka yang masih ada kemudian engkau berdo’a dengannya, semoga Allah memberikan keberkahan padanya.” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pun setuju, ”Baiklah.” Kemudian beliau minta sebuah hamparan yang terbuat dari kulit. Setelah menggelarnya, beliau meminta sisa-sisa makanan mereka yang masih ada.”

Abu Hurairah melanjutkan, “Lalu ada seorang laki-laki yang datang dengan membawa segenggam jagung, ada juga yang datang dengan membawa segenggam kurma, dan sebagian lain datang dengan remah-remah, sehingga terkumpullah di atas hamparan kulit tersebut sedikit makanan.” Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mendo’akan makanan tersebut dengan keberkahan, setelah itu beliau bersabda, “Ambil dan isilah tempat makanan kalian.”

Abu Hurairah melanjutkan, “Lantas mereka memenuhi tempat perbekalan mereka, sehingga tidak seorang pasukan pun melainkan tempat makanan mereka telah terisi penuh. Mereka kemudian memakannya hingga kenyang, dan makanan itu pun masih ada sisanya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk disembah selain Allah dan aku adalah Utusan Allah. Tiada seorang hamba menjumpai Allah dengan membawa kedua kalimat tersebut dan ia tidak ragu terhadapnya kemudian terhalang dari surga.”

Dalam Ash-Shahiihain (Al-Bukhaariy no. 5827; Muslim no. 96) dari Abu Dzarr radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهِ ثَوْبٌ أَبْيَضُ، وَهُوَ نَائِمٌ، ثُمَّ أَتَيْتُهُ وَقَدِ اسْتَيْقَظَ، فَقَالَ: ” مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ “، قُلْتُ: وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ، قَالَ: ” وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ “، قُلْتُ: وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ، قَالَ: ” وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ “، قُلْتُ: وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ، قَالَ: ” وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ “، عَلَى رَغْمِ أَنْفِ أَبِي ذَرّ

“Aku mengunjungi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan beliau memakai pakaian berwarna putih. Beliau sedang tidur ketika aku datang, dan beliau bangun begitu tahu kedatanganku. Beliau bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallaah’, kemudian ia mati diatas kalimat tersebut, melainkan ia akan masuk surga.” Aku bertanya, “Walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab, “Walaupun ia berzina dan mencuri.” Aku bertanya kembali, “Walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab, “Walaupun ia berzina dan mencuri.” Seakan ingin memastikan, aku bertanya lagi, “Walaupun ia berzina dan mencuri?” Lagi-lagi beliau menjawab, “Walaupun ia berzina dan mencuri.” Dan beliau menambahkan, “Meskipun Abu Dzarr tidak menyukainya.”

Dalam Shahih Muslim no. 30 dari ‘Ubaadah bin Ash-Shaamit radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ

“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, Allah haramkan api neraka baginya.”

Dan dalam Ash-Shahiihain (Al-Bukhaariy no. 3435; Muslim no. 30) masih dari sahabat ‘Ubaadah bin Ash-Shaamit, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ

“Barangsiapa bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan UtusanNya, dan bahwa ‘Iisaa adalah hamba Allah dan UtusanNya, firmanNya yang Dia tiupkan kepada Maryam dan ruh dariNya, mengakui bahwa surga adalah haq dan neraka adalah haq, niscaya Allah masukkan ia ke dalam surga apapun keadaan amalannya.”

Karunia bagi ahli Tauhid adalah mereka tidak akan kekal di neraka walau memasukinya

Kandungan dari zhahir hadits-hadits diatas dapat dipahami dengan jelas bahwa seseorang yang mengucapkan 2 kalimat syahadat akan masuk surga atau tidak terhalang dari memasukinya, karena sesungguhnya ahli Tauhid yang ikhlash itu tak akan kekal didalam neraka. Sewaktu-waktu ia akan memasuki surga dan tak akan terhalang darinya apabila ia telah dibersihkan dari dosa-dosanya di neraka.

Sementara hadits Abu Dzarr bermakna : pezina dan pencuri tak akan terhalang memasuki surga bersama dengan tauhid yang ada pada mereka. Ini adalah kebenaran dan tak ada syak didalamnya, namun bukan berarti Allah tidak akan menimpakan adzab atas keduanya suatu saat karena adanya tauhid tersebut.

Dalam Musnad Al-Bazzaar[1], dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu secara marfuu’ :

مَنْ قَالَ: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، نَفَعَتْهُ يَوْمًا مِنْ دَهْرِهِ يُصِيبُهُ قَبْلَ ذَلِكَ مَا أَصَابَهُ

“Barangsiapa mengucapkan ‘Laa Ilaaha Ilallaah’, niscaya kalimat tersebut suatu saat akan menyelamatkannya dari kurun waktu yang sebelumnya ia telah terlebih dahulu terkena siksa adzab yang ditimpakan kepadanya.”[2]

Didalam hadits ini juga terkandung faidah bahwasanya ahli tauhid diharamkan baginya api neraka, dengan ini sebagian ahli ilmu telah membawa maknanya kepada keabadian didalam neraka, atau dikekalkannya siksa api neraka bagi penghuninya yaitu pada neraka selain neraka di lapisan paling atas karena sesungguhnya neraka di lapisan paling atas diperuntukkan bagi ahli tauhid yang bermaksiat dengan dosa-dosa mereka, kemudian mereka akan dikeluarkan darinya dengan syafa’at orang-orang yang berhak memberi syafa’at dan dengan rahmat Rabb yang Maha Penyayang diantara para penyayang.

Dalam Ash-Shahiihain (Al-Bukhaariy no. 7510; Muslim no. 196) dari Anas bin Maalik radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman :

وَعِزَّتِي وَجَلَالِي وَكِبْرِيَائِي وَعَظَمَتِي لَأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Demi keperkasaan, kemuliaan, kebesaran dan keagunganKu, sungguh Aku akan keluarkan dari neraka, mereka yang mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallaah’.”

Syarat-syarat kalimat Laa Ilaaha Ilallaah

Sejumlah ulama berkata : yang dikehendaki dari hadits-hadits diatas adalah bahwa kalimat Laa Ilaaha Ilallaah merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga dan selamatnya ia dari siksa neraka.

وقال الحسن للفرزدق -وهو يدفن امرأته-: ما أعددت لهذا اليوم؟ قال: شهادة أن لا إله إلا الله منذ سبعين سنة. قال الحسن: نعم العُدة إن لـ “لا إله إلا الله” شروطها؛ فإياك وقذف المحصنة

Al-Hasan bertanya kepada Al-Farazdaq –dan ia sedang menguburkan istrinya-, “Apa yang telah engkau persiapkan demi hari ini?” Al-Farazdaq menjawab, “Kalimat syahadat ‘Laa Ilaaha Ilallaah’ semenjak 70 tahun lalu.” Al-Hasan berkata, “Ya, persiapan (dengan kalimat tersebut), sesungguhnya pada kalimat ‘Laa Ilaaha Ilallaah” ada syarat-syaratnya; maka janganlah kamu menuduh wanita yang suci berbuat zina.”

قيل للحسن: إن ناسًا يَقُولُونَ: من قال: لا إله إلا الله دخل الجنة؟ فَقَالَ: من قال: لا إله إلا الله، فأدّى حقها وفرضها دخل الجنة

Ditanyakan kepada Al-Hasan, “Sesungguhnya manusia berkata : barangsiapa mengucapkan ‘Laa Ilaaha Ilallaah’ akan masuk surga?” Al-Hasan menjawab, “Barangsiapa mengucapkan ‘Laa Ilaaha Ilallaah lalu ia melaksanakan apa yang menjadi hak dan kewajibannya dalam kalimat tersebut, maka ia akan masuk surga.”

وقال وهب بن منبه لمن سأله: أليس لا إله إلا الله مفتاح الجنة؟ قال: بلى، ولكن ليس مفتاح إلا وله أسنانُ؛ فإن جئت بمفتاح له أسنان فُتح لك، وإلا لم يُفتَح لك

Wahb bin Munabbih menjawab orang yang bertanya kepadanya dengan pertanyaan, “Bukankah kalimat ‘Laa Ilaaha Ilallaah’ adalah kunci surga?” Wahb menjawab, “Benar, akan tetapi bukankah kunci itu bergerigi? Maka jika kamu datang dengan kunci yang bergerigi niscaya pintu surga terbuka untukmu. Jika tidak, pintu surga tak akan terbuka.”

Adapun hadits berikut ini, dari Mu’aadz bin Jabal, ia berkata :

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَفَاتِيحُ الْجَنَّةِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Kunci-kunci surga adalah syahadat ‘Laa Ilaaha Ilallaah’.”

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 21596 dengan sanad yang munqathi’[3].

Yang ingin ditunjukkan oleh qaul-qaul diatas adalah bahwa pada banyak nash, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan syarat-syarat masuk surga dengan adanya amalan-amalan shalih sebagaimana dalam Ash-Shahiihain (Al-Bukhaariy no. 5983; Muslim no. 15) dari Abu Ayyuub Al-Anshaariy radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، فَقَالَ الْقَوْمُ: مَا لَهُ مَا لَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَرَبٌ مَا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ” تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

“Wahai Rasulullah, khabarkan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Tiba-tiba ikut bertanya pula sekelompok orang, “Apa itu? Apa itu?” Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Mereka harus tahu itu.” Lantas beliau melanjutkan, “Kalian menyembah Allah serta jangan menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan sambunglah tali silaturahim.”

Dalam Ash-Shahiihain (Al-Bukhaariy no. 1397; Muslim no. 16) dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَالَ تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا

“Ada seorang Arab badui mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, ia bertanya kepada beliau, “Tunjukkanlah kepadaku amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku dapat masuk surga.” Maka Nabi bersabda, “Kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat-shalat fardhu, menunaikan zakat-zakat wajib, berpuasa di bulan Ramadhan.” Arab badui berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, aku tak akan menambahinya!” Tatkala ia hendak pergi, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang senang melihat lelaki dari penduduk surga, maka lihatlah kepada lelaki ini.”

Dalam Musnad Ahmad no. 21444 dari Basyiir bin Al-Khashaashiyyah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُبَايِعَهُ قَالَ فَاشْتَرَطَ عَلَيَّ شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنْ أُقِيمَ الصَّلَاةَ وَأَنْ أُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ وَأَنْ أَحُجَّ حَجَّةَ الْإِسْلَامِ وَأَنْ أَصُومَ شَهْرَ رَمَضَانَ وَأَنْ أُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَّا اثْنَتَانِ فَوَاللَّهِ مَا أُطِيقُهُمَا الْجِهَادُ وَالصَّدَقَةُ فَإِنَّهُمْ زَعَمُوا أَنَّهُ مَنْ وَلَّى الدُّبُرَ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنْ اللَّهِ فَأَخَافُ إِنْ حَضَرْتُ تِلْكَ جَشِعَتْ نَفْسِي وَكَرِهَتْ الْمَوْتَ وَالصَّدَقَةُ فَوَاللَّهِ مَا لِي إِلَّا غُنَيْمَةٌ وَعَشْرُ ذَوْدٍ هُنَّ رَسَلُ أَهْلِي وَحَمُولَتُهُمْ قَالَ فَقَبَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ ثُمَّ حَرَّكَ يَدَهُ ثُمَّ قَالَ فَلَا جِهَادَ وَلَا صَدَقَةَ فَلِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِذًا قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا أُبَايِعُكَ قَالَ فَبَايَعْتُ عَلَيْهِنَّ كُلِّهِنَّ

“Aku datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk berbai’at, lantas beliau memberi syarat kepadaku yaitu kalimat syahadat ‘Laa Ilaaha Ilallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu’, dan agar aku mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi berhaji dengan haji Islam, berpuasa di bulan Ramadhan dan agar aku berjihad di jalan Allah. Aku pun bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, adapun dua diantara yang engkau sebutkan tadi, maka demi Allah aku tidak mampu melaksanakannya yaitu jihad dan sedekah (zakat), karena mereka mengira bahwa orang yang lari (dari perang), sungguh ia kembali dengan membawa kemurkaan Allah, maka aku takut akan timbulnya sifat rakus pada diriku dan sifat takut mati. Sementara sedekah, maka demi Allah, tidak ada padaku kecuali sedikit harta rampasan perang, dan 10 ekor unta yang menjadi penggembalaan dan bawaan keluargaku.” Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menggenggam dan menggerak-gerakkan tangannya seraya bersabda, “Tak punya amalan jihad, tak punya amalan sedekah, kalau begitu bagaimana bisa masuk surga?” Aku katakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, aku membai’atmu!” Jadilah aku telah membai’at beliau atas semua perkara tersebut.”[4]

Syarat-syarat masuk surga

Pada hadits Basyiir Al-Khashaashiyyah diatas disebutkan bahwa amalan jihad dan sedekah adalah syarat masuk surga, bersama dengan terdapatnya keyakinan Tauhid dan ibadah-ibadah seperti ibadah shalat, puasa dan haji. Setara dengannya, dalam hadits Muttafaqun ‘alaih dari sejumlah sahabat, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.”

Dari hadits ini, ‘Umar dan sejumlah sahabat memahami bahwasanya orang yang datang dengan 2 kalimat syahadat terhalang dari hukuman dunia, semata-mata karena sebab demikian. Oleh karenanya, sebagian sahabat menahan diri dari memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Sementara Abu Bakr Ash-Shiddiiq radhiyallaahu ‘anhu memahami bahwa tidak terhalang memerangi orang-orang tersebut kecuali jika mereka menunaikan apa yang berhak mereka tunaikan dengan dalil sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam :

فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ، إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Apabila mereka melakukan yang demikian (mengucapkan 2 kalimat syahadat dan melaksanakan rukun-rukun Islam), maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku, kecuali dalam hak Islam, dan hisab mereka terserah kepada Allah.”

Inilah pemahaman Abu Bakr Ash-Shiddiiq. Sungguh, telah diriwayatkan dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam secara terang benderang, bukan hanya dari seorang sahabat saja, diantaranya Ibnu ‘Umar, Anas dan selain keduanya –radhiyallaahu ‘anhum- bahwasanya Nabi bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, kemudian mendirikan shalat dan menunaikan zakat.”

Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah Ta’ala :

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ

“Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” [QS At-Taubah : 5]

Kemudian firman Allah Ta’ala :

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” [QS At-Taubah : 11]

Dengan ini, sejumlah sahabat pun rujuk kepada pendapat Abu Bakr ketika mengetahui Abu Bakr-lah yang berada diatas kebenaran dengan pemahamannya, sebagaimana ditunjukkan oleh ‘Umar bin Al-Khaththaab, ia berkata :

فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ قَدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَعَرَفْتُ، أَنَّهُ الْحَقُّ

“Demi Allah! Dia tidak akan tegas begini melainkan Allah pasti telah membukakan dada Abu Bakr radhiyallaahu ‘anhu. Maka aku pun mengetahui bahwa pendapatnya-lah yang benar.”

Sebagian ada yang berpendapat bahwa hadits-hadits tersebut sudah mansuukh (yakni hadits-hadits yang disebutkan pada awal pembahasan), sebagian lagi berpendapat bahwa hadits-hadits tersebut muhkamah (maknanya sudah jelas) akan tetapi ada syarat-syarat yang tergabung padanya. Dan hal ini tidaklah memalingkan sebuah pertanyaan mengenai tambahan (penyebutan rukun-rukun Islam) pada teks nash : Apakah tambahan tersebut hukumnya nasakh (menghapuskan hukum sebelumnya) ataukah tidak? Telah masyhur khilaf yang terjadi diantara para ahli ushul mengenai hal ini. Sufyaan Ats-Tsauriy dan yang lainnya berkata dengan jelas bahwa hadits-hadits tersebut mansuukh, dan yang me-nasakh-nya adalah penyebutan rukun-rukun dan batasan-batasannya. Terkadang sebagian ulama memaksudkan nasakh dengan keterangan (bayan) dan penjelasan, karena telah diketahui bahwa para salaf memuthlakkan nasakh dengan ibarah semacam ini pada banyak masalah. Maka seyogyanya maksud mereka adalah bahwa nash-nash yang menyebutkan rukun-rukun dan batasan-batasan yang dengannya menunjukkan tertundanya seseorang masuk surga dan keselamatannya dari siksa neraka mengacu pada amalan mengerjakan rukun-rukun serta menghindari perbuatan-perbuatan haram.

Dengan demikian, nash-nash yang mansuukh tersebut menjadi : mubayyanah, yakni yang dapat dipahami maknanya, namun mufassarah, yakni masih butuh penafsiran dari nash lain. Sedangkan nash-nash yang menyebutkan rukun-rukun dan batasan-batasan adalah nash-nash naasikh (yang menghapuskan), yaitu : mufassirah, yakni nash-nash yang memberi penafsiran makna serta memberi penjelasan bagi nash-nash yang mansuukh.

Tahqiiq kalimat ikhlash

Sejumlah ulama berpendapat, nash-nash yang bersifat muthlaq tersebut datang dalam bentuk muqayyad pada hadits-hadits yang lain, sebagian diantaranya adalah :

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dengan ikhlash…”[5]

فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا

“Maka siapapun yang engkau temui di belakang dinding kebun ini dan ia bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dengan keyakinan…”[6]

يُصَدِّقُ قَلْبُهُ لِسَانَهُ

“Hatinya membenarkan lisannya…”[7]

كَلِمَةً لَا يَقُولُهَا عَبْدٌ حَقًّا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حُرِّمَ عَلَى النَّارِ

“Sebuah kalimat yang tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan keikhlasan dari hatinya, melainkan Allah haramkan baginya siksa neraka.”[8]

Semua nash-nash yang disebutkan diatas adalah isyarat akan adanya amalan hati yang mengaktualisasikan makna 2 kalimat syahadat. Maka kalimat Laa Ilaaha Ilallaah teraktualisasi menjadi : tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan agar hati tidak bergantung kepada selain Allah dalam hal rasa cinta, pengharapan, rasa takut, tawakkal, memohon pertolongan, ketundukan, inabah (kembali kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan keta’atan dan menjauhi maksiat), dan meminta sesuatu. Serta mengaktualisasikan kalimat Muhammad Utusan Allah, yaitu tidak menyembah Allah dengan cara-cara diluar yang telah Allah syari’atkan melalui lisan RasulNya Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Ada hadits marfuu’ yang menjelaskan makna amalan hati ini secara sharih, sebagaimana diriwayatkan Imam Abul Qaasim Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 1235, dari Zaid bin Arqam radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ “، قِيلَ: وَمَا إِخْلَاصُهَا؟ قَالَ: ” أَنْ تَحْجُزَهُ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ

“Barangsiapa mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallaah’ dengan ikhlash akan masuk surga.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah ikhlash itu?” Beliau menjawab, “Yaitu yang menghalanginya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah.”

Hadits dengan makna serupa juga datang dari Anas bin Maalik, namun keduanya tidak shahih[9]. Diriwayatkan pula dari Al-Hasan Al-Bashriy, atsar-atsar yang bersanad mursal pada masalah ini.

Dengan demikian, tahqiq dan penjelasan bagi makna kalimat ikhlash adalah bahwa perkataan seorang hamba : ‘Laa Ilaaha Illallaah’ berkonsekuensi : tiada Ilah yang berhak untuk dia sembah dan dia ta’ati selain daripada Allah, maka janganlah mendurhakaiNya, takutlah kepadaNya dan agungkanlah Dia, cintai Allah dengan rasa takut dan pengharapan, bertawakkal-lah kepadaNya, mintalah dariNya, berdo’alah kepadaNya. Semua perkara yang telah disebutkan ini tak akan menjadi lurus dan benar kecuali dengan “Lillaahi Ta’ala”, oleh karenanya barangsiapa menyekutukan Allah dengan satu makhluk saja pada salah satu dari perkara-perkara yang merupakan kekhususan-kekhususan Ilahiyah, maka senantiasa keikhlasannya pada perkataan ‘Laa Ilaaha Illallaah’ akan ternodai, lalu dengan sendirinya kadar tauhid dalam dirinya akan berkurang dan akan senantiasa tumbuh rasa penghambaan dalam dirinya kepada makhluk. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Kami memohon kepada Allah Jalla Jalaaluh keselamatan Tauhid dan aqidah, keselamatan dalam peribadahan hanya kepada Allah Ta’ala saja serta keikhlasan dalam memaknai kalimat Tauhid.

Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di Pondok Aren, hampir tengah malam, 6 Muharram 1438 H.

Abu Ahmad Tommi Marsetio -waffaqahullah-

Disarikan dan diterjemahkan dari kitab :

Majmuu’ Rasaa’il li Ibni Rajab Al-Hanbaliy” karya Al-Haafizh Zainuddiin Abul Faraj ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbaliy, jilid 3 hal. 43, tahqiiq : Abu Mush’ab Thal’at bin Fu’aad Al-Hulwaaniy, penerbit : Al-Faaruuq Al-Hadiitsah li Ath-Thibaa’ah wa An-Nasyr, Kairo, Mesir, cetakan kedua.

~ dengan beberapa penambahan dan pengurangan yang tidak mengubah intisari isi.

Footnotes :

[1] Sebagaimana disebutkan dalam Kasyful Astaar no. 3, dimana Imam Al-Bazzaar berkata :

وَهَذَا لا نَعْلَمُهُ يُرْوَى عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ، وَرَوَاهُ عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ مَنْصُورٍ أَيْضًا، وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَوْقُوفًا وَرَفْعُهُ أَصَحُّ

“Hadits ini tidak kami ketahui diriwayatkan dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam melainkan dengan sanad ini. Dan diriwayatkan ‘Iisaa bin Yuunus, dari Ats-Tsauriy, dari Manshuur juga. Telah diriwayatkan pula dari Abu Hurairah secara mauquuf, sementara riwayat yang marfuu’ lebih shahih.”

[2] Dalam Al-‘Ilal Ad-Daaraquthniy 11/238, Imam Ad-Daaraquthniy merajihkan bahwa hadits ini mauquuf. Wallaahu a’lam.

[3] Dalam Kasyful Astaar no. 2, Imam Al-Bazzaar berkata :

شَهْرٌ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ مُعَاذٍ حَدِيثًا

“Syahr (perawi hadits ini) tidak mendengar dari Mu’aadz satu hadits pun.”

[4] Ada salah satu perawinya yang berkuniyah Abul Mutsannaa Al-‘Abdiy, dia bernama Mu’atsar bin ‘Affaazah, disebutkan dalam Ats-Tsiqaat 5/463 bahwa yang meriwayatkannya hanya Jabalah bin Suhaim. Berarti ia majhuul al-‘ain.

[5] Musnad Ahmad no. 21554 dari hadits Mu’aadz bin Jabal.

[6] Shahiih Muslim no. 34 dari hadits Abu Hurairah.

[7] Musnad Ahmad no. 8009 dari hadits Abu Hurairah.

[8] Musnad Ahmad no. 449 dari hadits ‘Utsmaan bin ‘Affaan radhiyallaahu ‘anhu.

[9] Sanad Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath tersebut adalah :

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَوْهَرِيُّ، قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَزْوَانَ، قَالَ: نا شَرِيكٌ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ به

Abul ‘Abbaas Ahmad bin Muhammad Al-Jauhariy menceritakan kepada kami, ia berkata, Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Ghazwaan menceritakan kepada kami, ia berkata, Syariik menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaaq, dari Zaid bin Arqam…

Selanjutnya Imam Ath-Thabaraaniy berkata :

لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ إِلا شَرِيكٌ، تَفَرَّدَ بِهِ: مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ

“Hadits ini tidak diriwayatkan dari Abu Ishaaq kecuali dari Syariik. Muhammad bin ‘Abdirrahman tafarrud didalam sanadnya.”

Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Ghazwaan, julukannya Ibnu Quraad. Ad-Daaraquthniy dan lainnya berkata “ia pemalsu hadits”. Lihat Miizaan Al-I’tidaal 6/235.

Riwayat Zaid bin Arqam juga datang dari jalur sanad yang lain, Imam Ath-Thabaraaniy berkata dalam Al-Kabiir no. 5074 :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمَّازٍ، ثنا أَبُو دَاوُدَ الدَّارِمِيُّ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ به

‘Aliy bin ‘Abdil ‘Aziiz menceritakan kepada kami, Muslim bin Ibraahiim menceritakan kepada kami, Al-Haitsam bin Jammaaz menceritakan kepada kami, Abu Daawud Ad-Daarimiy menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Arqam,…

Namun sanadnya juga bermasalah. Abu Daawud Ad-Daarimiy adalah Nufai’ bin Al-Haarits Al-Kuufiy, seorang tukang cerita, julukannya adalah Al-A’maa. Al-‘Uqailiy berkata “rafidhah ghuluw”, Ibnu Ma’iin berkata “tak ada nilainya”, An-Nasaa’iy, Ad-Daaraquthniy dan yang lainnya berkata “matruuk”. Lihat Miizaan Al-I’tidaal 7/46.

Demikian pula dengan Al-Haitsam bin Jammaaz Al-Hanafiy Al-Bakkaa’, Ibnu Ma’iin berkata “seorang tukang cerita di kota Bashrah, dha’if”, dalam riwayat lain ia berkata “laisa bi dzaaka”, Ahmad berkata “haditsnya ditinggalkan”, An-Nasaa’iy berkata “matruuk”. Lihat biografinya di Al-Miizaan 7/105.

Sementara jalur Anas bin Maalik diriwayatkan Al-Khathiib Al-Baghdaadiy dalam Taariikh-nya 13/527, dengan sanad hingga Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Ghazwaan, ia berkata, Maalik menceritakan kepada kami, dari Az-Zuhriy, dari Anas, sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Telah berlalu jarh bagi Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Ghazwaan. Maka jalur ini pun tidak ada bedanya.

Namun meskipun sanadnya tidak shahih, Al-Haafizh Ibnu Rajab dalam penjelasan selanjutnya mengesankan akan maknanya yg benar, yakni keikhlasan yang jika benar-benar terealisasi dalam kalimat Tauhid, maka akan mencegah seorang muslim dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah Ta’ala, karena senantiasa hatinya akan terpaut pada Allah ‘Azza wa Jalla.

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s