Thabaqaat Al-Majruuhiin : Thabaqah Pertama, Para Pemalsu Hadits atas Rasulullah

kadzib

Al-Majruuh adalah orang atau perawi yang terkena penilaian negatif, cacat atau jarh, bisa dari sisi ‘adalahnya, dhabt-nya, maupun agamanya ketika meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Lalu siapakah yang berhak menilai negatif atau menjarh seorang perawi? Tidak lain, mereka adalah para imam ahli jarh wa ta’dil, bukan sembarangan orang apalagi orang-orang seperti kita yang sangat jauh tingkat taqwa dan wara’-nya dibanding mereka.

Melalui para imam inilah –semoga Allah merahmati mereka semua-, sampailah kepada kita khabar-khabar akan para pemalsu hadits yang tega memalsukan hadits atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, ada yang motivasinya karena ingin mendakwahkan keyakinan sesatnya kepada masyarakat, menarik hati sulthan (penguasa), fanatik madzhab hingga yang paling seram ingin merusak Islam dari dalam, sehingga kita pun mengetahui para pemalsu ini dan dapat menghindari hadits-hadits palsu yang mereka riwayatkan.

Al-Imam Abu ‘Abdillaah Al-Haakim rahimahullah berkata :

أَوَّلُ أَنْوَاعِ الْجَرْحِ وَضْعُ الْحَدِيثِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Tingkatan pertama dari jenis-jenis jarh adalah memalsukan hadits atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Telah shahih khabar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mengenainya :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka.”

حدثنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ قَالَ حدثنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ مزيد البيرونى قال حدثنى أَبِي قَالَ حدثنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ حدثنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحدثوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَحدثوا عَنِّي وَلَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَمَنْ كذب متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-‘Abbaas bin Al-Waliid bin Maziid Al-Biiruuniy menceritakan kepada kami, ia berkata, Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata, Al-Auzaa’iy menceritakan kepada kami, ia berkata, Hassaan bin ‘Athiyyah menceritakan kepada kami, dari Abu Kabsyah, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Ceritakanlah dari bani Isra’il dan tak ada dosa atasnya. Ceritakanlah dariku dan janganlah kalian berdusta atas namaku, karena barangsiapa sengaja berdusta maka persiapkanlah tempatnya di neraka.”[1]

Mereka yang termasuk para pelaku dosa besar ini adalah :

Golongan orang-orang zindiq

 

Contoh para zindiq yang terekam jejaknya dalam sejarah periwayatan hadits adalah orang-orang seperti : Al-Mughiirah bin Sa’iid Al-Kuufiy[2], Abu ‘Abdirrahiim Al-Kuufiy[3] dan Muhammad bin Sa’iid Asy-Syaamiy Al-Mashluub (orang yang mati disalib)[4]. Mereka berlagak bagai ulama lantas mereka mengarang-ngarang sejumlah hadits. Mereka riwayatkan hadits-hadits tersebut sehingga menimbulkan syak di hati manusia.

Diantara hadits palsu ciptaan Muhammad bin Sa’iid Al-Mashluub, dari Humaid, dari Anas bin Maalik, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَ بَعْدِي إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Aku adalah penutup para Nabi, tak ada Nabi setelahku kecuali yang Allah kehendaki.”[5]

Muhammad bin Sa’iid mengarang-ngarang hadits istitsna’ ini ketika ia mendakwahkannya kepada orang-orang dari kalangan kaum ilhad (kaum yang menyimpang) dan zindiq, seruan kepada Nubuwwah baru setelah Rasulullah.

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْبَيْرُوتِيُّ سَمِعْتُ جَعْفَرَ بْنَ أَبَانٍ الْحَافِظَ يَقُولُ سَمِعْتُ بن نُمَيْرٍ يَقُولُ مُغِيرَةُ بْنُ سَعِيدٍ هَذَا كَانَ شَاعِرًا مُشَعْبِذًا وَكَانَ أَبُو عَبْدِ الرَّحِيمِ زِنْدِيقًا قَتَلَهُمَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْقَسْرِيُّ وَأَحْرَقَهُمَا بِالنَّارِ

Muhammad bin ‘Abdillaah Al-Bairuutiy berkata, aku pernah mendengar Ja’far bin Abaan Al-Haafizh mengatakan, aku pernah mendengar Ibnu Numair mengatakan, “Mughiirah bin Sa’iid ini adalah seorang penyair yang gemar bermain sulap, dan Abu ‘Abdirrahiim seorang zindiq. Khaalid bin ‘Abdillaah Al-Qasriy (gubernur Kuufah) membunuh mereka berdua dan membakarnya dengan api.”

وسمعت أبا العباس السياري يقول: سمعت أبا الموجه يقول: سمعت عبدان يقول: سمعت إبن المبارك يقول: الإسناد من الدين. قال عبدان: ذكر عبد الله هذا عند ذكر الزنادقة وما يضعون من الأحاديث

Dan aku pernah mendengar Abul ‘Abbaas As-Sayyaariy mengatakan, aku pernah mendengar Abul Muwajjah mengatakan, aku pernah mendengar ‘Abdaan mengatakan, aku pernah mendengar Ibnul Mubaarak mengatakan, “Sanad adalah bagian dari agama.” ‘Abdaan menambahkan, “’Abdullaah (maksudnya Ibnul Mubaarak) menyebutkan kalimat ini ketika dia menyebutkan sejumlah orang-orang zindiq dan hadits-hadits yang mereka palsukan.”

Golongan orang-orang yang memalsukan hadits karena hawa nafsu, serta menyerukan manusia kepada dakwahnya

 

أَخبرنَا أَبُو عَلِيٍّ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحَافِظُ، قَالَ: حدثنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ الْمُثَنَّى، قَالَ: حدثنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ، قَالَ: حدثنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَجَرٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما، قَالَ: ” إِنَّا كُنَّا نُحدث عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذْ لَمْ يُكْذَبْ عَلَيْهِ، فَلَمَّا رَكِبَ النَّاسُ الصَّعْبَ وَالذَّلُولَ تَرَكْنَا الْحَدِيثَ عَنْهُ

Abu ‘Aliy Al-Husain bin ‘Aliy Al-Haafizh mengkhabari kami, ia berkata, Ahmad bin ‘Aliy Al-Mutsannaa menceritakan kepada kami, ia berkata, Haaruun bin Ma’ruuf menceritakan kepada kami, ia berkata, Sufyaan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami, dari Hisyaam bin Hajar, dari Thaawus, dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, “Sesungguhnya kami pernah meriwayatkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika tidak ada kedustaan atas nama beliau. Tatkala manusia menemui kesulitan (membedakan perawi) dan melunak, maka kami meninggalkan periwayatan hadits dari beliau.”[6]

Dari golongan ini, ada diantara mereka yang mengakui kesalahannya serta bertaubat dan ruju’ kepada kebenaran.

سَمِعْتُ أَبَا الْوَلِيدِ حَسَّانَ بْنَ مُحَمَّدٍ الْفَقِيهَ يَقُولُ حدثنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ قَالَ حدثنَا أَبُو نُعَيْمٍ الْحَلَبِيُّ قَالَ حدثنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ قَالَ سَمِعْتُ شَيْخًا مِنَ الْخَوَارِجِ تَابَ وَرَجَعَ وَهُوَ يَقُولُ إِنَّ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ فَإِنَّا كُنَّا إِذَا هَوَيْنَا أَمْرًا صَيَّرْنَاهُ حَدِيثًا

Aku pernah mendengar Abul Waliid Hassaan bin Muhammad Al-Faqiih mengatakan, Al-Hasan bin Sufyaan menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Nu’aim Al-Halabiy menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdullaah bin Lahii’ah menceritakan kepada kami, ia berkata, aku pernah mendengar seorang syaikh dari kaum khawarij, ia bertaubat serta kembali (kepada kebenaran) seraya mengatakan, “Sesungguhnya hadits-hadits ini adalah bagian dari agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian, karena dahulu apabila kami menginginkan sebuah perkara maka kami mengubahnya menjadi sebuah hadits.”[7]

سَمِعْتُ عَبْدَ الْعَزِيزِ بْنَ عَبْدِ الْمَلِكِ الْأُمَوِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ إِسْمَاعِيلَ بْنَ مُحَمَّدٍ النَّحْوِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ الْمَحَامِلِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا الْعَيْنَاءِ يَقُولُ أَنَا وَالْجَاحِظُ وَضَعْنَا حَدِيثَ فَدْكٍ وَأَدْخَلْنَاهُ عَلَى الشُّيُوخِ بِبَغْدَادَ فقبلوه الا ابْنَ شَيْبَةَ الْعَلَوِيَّ فَإِنَّهُ قَالَ لَا يُشْبِهُ آخِرُ هذا الْحَدِيثِ أَوَّلَهُ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهُ قَالَ إِسْمَاعِيلُ وَكَانَ أَبُو الْعَيْنَاءِ يُحدث بِهَذَا الحديث بَعْدَ مَا تَابَ

Aku pernah mendengar ‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdil Malik Al-Umawiy mengatakan, aku pernah mendengar Ismaa’iil bin Muhammad An-Nahwiy mengatakan, aku pernah mendengar Al-Mahaamiliy mengatakan, aku pernah mendengar Abul ‘Ainaa’ mengatakan, “Aku dan Al-Jaahizh pernah memalsukan hadits Fadak, lalu kami sisipkan hadits yang telah kami palsukan tersebut kepada para syaikh yang ada di kota Baghdaad, mereka menerimanya kecuali Ibnu Syaibah Al-‘Alawiy, dia berkata : bagian awal dengan akhir hadits Fadak bukan seperti hadits ini. Ibnu Syaibah pun menolaknya.” Ismaa’iil berkata, “Abul ‘Ainaa’ senantiasa menceritakan kisahnya ini setelah ia bertaubat.”[8]

أَخبرنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَحْمَدَ الْجُرْجَانِيُّ قَالَ حدثنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حدثنَا عَمَّارُ بْنُ رَجَاءٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ حَرْبٍ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى شَيْخٍ وَهُوَ يَبْكِي فَقُلْتُ مَا يُبْكِيكَ قَالَ وَضَعْتُ أَرْبَعَمِائَةِ حَدِيثٍ وَأَدْخَلْتُهَا فى برنامج النَّاسِ فَلَا أَدْرِي كَيْفَ أَصْنَعُ

Ismaa’iil bin Ahmad Al-Jurjaaniy mengkhabari kami, ia berkata, Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ammaar bin Rajaa’ menceritakan kepada kami, dari Sulaimaan bin Harb, ia berkata, “Aku datang kepada seorang syaikh dan ia sedang menangis, lantas aku bertanya kepadanya, “Mengapa kau menangis?” Ia menjawab, “Aku pernah memalsukan 400 hadits dan aku sisipkan hadits-hadits tersebut ke dalam kumpulan catatan milik orang-orang, maka aku tak tahu harus bagaimana kini (untuk menebus dosaku)?”[9]

Golongan orang-orang yang memalsukan hadits ganjaran pahala dan menyerukan manusia kepada fadha’il a’mal

 

Golongan ini adalah orang-orang semisal Abu ‘Ishmah Nuuh bin Abu Maryam Al-Marwaziy[10], Muhammad bin ‘Ukaasyah Al-Karmaaniy[11], Ahmad bin ‘Abdillaah Al-Juwaibaariy[12], Muhammad bin Al-Qaasim Ath-Thaayikaaniy[13], Ma’muun bin Ahmad Al-Harawiy[14], dan selain mereka.

سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ مُحَمَّدَ بْنَ حمد بْنِ بَالَوَيْهِ قَالَ حدثنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قَالَ حدثنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ الْقَوَارِيرِيُّ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَي بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ مَا رَأَيْتُ الْكَذِبَ فِي أَحَدٍ أَكْثَرَ مِنْهُ فِيمَنْ يَنْسِبُ إِلَى خير

Aku pernah mendengar Abu Bakr Muhammad bin Hamd bin Baalawaih, ia berkata, ‘Abdullaah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ubaidullaah bin ‘Umar Al-Qawaariiriy menceritakan kepada kami, ia berkata, aku pernah mendengar Yahyaa bin Sa’iid mengatakan, “Aku belum pernah melihat kedustaan dalam suatu hal lebih banyak dari yang mereka lakukan pada orang-orang yang menyandarkan (diri) kepada keshalihan.”[15]

أَخبرنَا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ السِّجْزِيُّ بِبَغْدَادَ قَالَ حدثنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ الْأَبَّارُ قَالَ حدثنَا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ قَالَ حدثنَا الْأَشْجَعِيُّ قَالَ سَمِعْتُ سُفْيَانَ يَقُولُ إِنْ هَمَّ الرَّجُلِ أَنْ يَكْذِبَ فِي الْحَدِيثِ وَهُوَ فِي جَوْفِ بَيْتٍ أَظْهَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ

Da’laj bin Ahmad As-Sijziy mengkhabari kami di Baghdaad, ia berkata, Ahmad bin ‘Aliy Al-Abbaar menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-Waliid bin Syujaa’ menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-Asyja’iy menceritakan kepada kami, ia berkata, aku pernah mendengar Sufyaan mengatakan, “Apabila seseorang berniat menyengaja berdusta dalam hadits sementara ia sedang mendekam di bagian paling dalam sebuah rumah, niscaya Allah akan mengalahkannya.”[16]

سَمِعْتُ أَبَا عَلِيٍّ الْحَافِظَ يَقُولُ سمعت محمد بن يونس المقرى يَقُولُ سَمِعْتُ جَعْفَرَ بْنَ أَحْمَدَ بن نصر يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا عَمَّارٍ الْمَرْوَزِيَّ يَقُولُ قِيلَ لِأَبِي عِصْمَةَ مِنْ أَيْنَ لَكَ عِنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي فَضَائِلِ الْقُرْآنِ سُورَةٍ سُورَةٍ وَلَيْسَ عِنْدَ أَصْحَابِ عِكْرِمَةَ هَذَا فَقَالَ إِنِّي قَدْ رَأَيْتُ النَّاسَ قَدْ أَعْرَضُوا عَنِ الْقُرْآنِ وَاشْتَغَلُوا بِفِقْهِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَغَازِي مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ فَوَضَعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ حسبة

Aku pernah mendengar Abu ‘Aliy Al-Haafizh mengatakan, aku pernah mendengar Muhammad bin Yuunus Al-Muqri’ mengatakan, aku pernah mendengar Ja’far bin Ahmad bin Nashr mengatakan, aku pernah mendengar Abu ‘Ammaar Al-Marwaziy mengatakan, “Pernah ditanyakan kepada Abu ‘Ishmah; darimana kamu dapat riwayat-riwayat dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallaahu ‘anhu dalam hal fadha’il Al-Qur’an surat demi surat sementara riwayat-riwayat tersebut tidak didapati pada para sahabat ‘Ikrimah?” Abu ‘Ishmah berkata, “Sesungguhnya aku melihat orang-orang telah berpaling dari Al-Qur’an dan mereka lebih menyibukkan diri dengan fiqh Abu Haniifah dan maghaziy Muhammad bin Ishaaq, lantas aku karang hadits-hadits tersebut dengan sejumlah ganjaran pahala.”[17]

Golongan orang-orang yang memalsukan hadits untuk para penguasa demi mendekati mereka

 

حدثنا أبو أحمد علي بن محمد المروزي حدثنا أحمد بن كثير البغدادي مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ قَالَ سَمِعْتُ دَاوُدَ بْنَ رُشَيْدٍ يَقُولُ دَخَلَ غِيَاثُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَلَى الْمَهْدِيِّ وَكَانَ يُعْجِبُهُ الْحَمَامَ الطَّيَّارَةَ الَّتِي تَجِيءُ مِنَ الْبُعْدِ فَرَوَى حَدِيثًا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا سَبْقَ إِلَّا فِي خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ أونصل أَوْ جَنَاحٍ قَالَ فَأَمَرَ لَهُ بِعَشْرَةِ آلَافِ دِرْهَمٍ فَلَمَّا قَامَ وَخَرَجَ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ قَفَاكَ قَفَا كَذَّابٍ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَنَاحٌ وَلَكِنَّ هَذَا أَرَادَ أَنْ يَتَقَرَّبَ إِلَيْنَا يَا غُلَامُ اذْبَحِ الْحَمَامَ قَالَ فَذَبَحَ الْحَمَامَ فِي الْحَالِ

Abu Ahmad ‘Aliy bin Muhammad Al-Marwaziy menceritakan kepada kami, Ahmad bin Katsiir Al-Baghdaadiy maulaa bani Haasyim menceritakan kepada kami, ia berkata, aku pernah mendengar Daawud bin Rusyaid berkisah, “Suatu hari, masuklah Ghiyaats bin Ibraahiim[18] menemui khalifah Al-Mahdiy dan beliau seorang yang menyukai burung merpati yang datang dari tempat yang jauh, maka Ghiyaats meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada perlombaan kecuali pada khuff, kuda, anak panah, atau sayap burung.” Lantas Al-Mahdiy memerintahkan agar ia diberi sepuluh ribu dirham. Tatkala Ghiyaats berdiri dan beranjak keluar, Al-Mahdiy berseru, “Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam! Demi Allah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan sayap burung, akan tetapi perkataan ini ia maksudkan agar ia bisa mendekati kami. Wahai pemuda, sembelihlah burung merpati itu!” Maka burung merpati itu pun disembelih saat itu juga.”[19]

وَسَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ أَحْمَدَ بْنَ مُحَمَّدِ بن رميح يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا الْعَبَّاسِ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّغُولِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا بَكْرِ بْنِ أَبِي خيثمة يَقُولُ دَخَلَ غِيَاثُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَلَى الْمَهْدِيِّ -فَذَكَرَ الْحِكَايَةَ وَزَادَ فِيهِ- فَقِيلَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَا ذَنْبُ الْحَمَامِ قَالَ مِنْ أَجْلِهِنَّ كَذِبَ هَذَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dan aku pernah mendengar Abu Sa’iid Ahmad bin Muhammad bin Rumaih mengatakan, aku pernah mendengar Abul ‘Abbaas Muhammad bin ‘Abdirrahman Ad-Daghuuliy mengatakan, aku pernah mendengar Abu Bakr bin Abu Khaitsamah mengatakan, “Suatu hari, masuklah Ghiyaats bin Ibraahiim menemui khalifah Al-Mahdiy … –dan disebutkanlah hikayat seperti atsar sebelumnya lalu ditambahkan-, maka ditanyakan, “Wahai Amiirul Mu’miniin, apakah kesalahan burung merpati itu (hingga engkau menyembelihnya)?” Khalifah Al-Mahdiy menjawab, “Sebabnya karena kedustaan atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam!”

حدثنِي أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بن وكيع حدثني داود بن سليمان القطان قَالَ حدثنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّمَرْقَنْدِيُّ قَالَ حدثنَا هَارُونُ بْنُ أَبِي عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ لي الَمَهْدِيُّ اَلَا تَرَى مَا يَقُولُ هَذَا يَعْنِي مُقَاتِلًا قَالَ إِنْ شِئْتَ وَضَعْتُ لَكَ أَحَادِيثَ فِي الْعَبَّاس قَالَ قُلْتُ لَا حَاجَةَ لِي فِيهَا

Ahmad bin Muhammad bin Wakii’ menceritakan kepadaku, Daawud bin Sulaimaan Al-Qaththaan menceritakan kepadaku, ia berkata, ‘Abdullaah bin ‘Abdirrahman As-Samarqandiy menceritakan kepada kami, ia berkata, Haaruun bin Abu ‘Ubaidillaah menceritakan kepada kami, dari Ayahnya, ia berkata, Khalifah Al-Mahdiy berkata kepadaku, “Tidakkah kamu lihat apa yang dikatakan orang ini –yakni Muqaatil-[20]? Ia berkata : jika engkau berkehendak aku akan mengarang hadits-hadits tentang (keutamaan) Al-‘Abbaas untukmu.” Aku katakan, “Kita tak butuh hadits-hadits tersebut.”[21]

Para perawi yang termasuk ke dalam golongan ini adalah Maisarah bin ‘Abdu Rabbih[22], Ziyaad bin Maimuun[23], Abul Bakhtariy Wahb bin Wahb Al-Qaadhiy[24], Abu Daawud Sulaimaan bin ‘Amr An-Nakha’iy[25], Ishaaq bin Najiih Al-Malathiy[26], Al-Husain bin ‘Ulwaan[27] dan selain mereka yang cukup kami sebutkan hingga disini.

Golongan orang-orang yang memalsukan hadits demi memuluskan tujuan mereka (ada maksud-maksud tertentu)

 

حدثنِي أَبُو بكر محمد بْنُ الْمُؤَمَّلِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ عِيسَى قَالَ حدثنَا الْفَضْلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الشَّعْرَانِيُّ قَالَ حدثنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْجُنَيْدِ قَالَ حدثنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْحَاقَ الضَّبِّيُّ الْكُوفِيُّ قَالَ حدثنَا سَيْفُ بْنُ عُمَرَ التَّمِيمِيُّ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ سَعْدِ بْنِ طَرِيفٍ فَجَاءَ ابْنُهُ مِنَ الْكُتَّابِ يبكي فَقَالَ مَالَكَ قَالَ ضَرَبَنِي الْمُعَلِّمُ فَقَالَ لَأُخْزِيَنَّهُمُ الْيَوْمَ حدثنِي عِكْرِمَةُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ معَلِّمُو صِبْيَانِكُمْ شِرَارُكُمْ أَقَلُّهُمْ رَحْمَةً لِلْيَتِيمِ وَأَغْلَظُهُمْ عَلَى الْمِسْكِينِ

Abu Bakr Muhammad bin Mu’ammal bin Al-Hasan bin ‘Iisaa menceritakan kepadaku, ia berkata, Al-Fadhl bin Muhammad Asy-Sya’raaniy menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibraahiim bin ‘Abdillaah bin Al-Junaid menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ubaid bin Ishaaq Adh-Dhabbiy Al-Kuufiy menceritakan kepada kami, ia berkata, Saif bin ‘Umar At-Tamiimiy menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aku pernah bersama Sa’d bin Thariif[28], tiba-tiba datanglah putranya dari madrasah dan ia menangis. Sa’d pun bertanya, “Kenapa kamu?” Dijawab oleh putranya, “Aku dihukum oleh guru.” Maka Sa’d pun berseru, “Benar-benar aku akan menghinakan mereka hari ini! ‘Ikrimah menceritakan kepadaku, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : para guru yang mengajarkan anak-anak kalian adalah orang-orang yang paling buruk diantara kalian, sedikit kasih sayangnya kepada anak yatim, dan paling keras kepada fakir miskin.”[29]

وَقِيلَ لِمَأْمُونِ بْنِ أَحْمَدَ الْهَرَوِيِّ أَلَا تَرَى إِلَى الشَّافِعِيِّ وَإِلَى مَنْ نَبَغَ لَهُ بِخُرَاسَانَ فَقَالَ حدثنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حدثنَا عبد اللَّهِ بْنُ مَعْدَانَ الْأَزْدِيُّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكُونُ فِي أُمَّتِي رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ أَضَرُّ عَلَى أُمَّتِي مِنْ إِبْلِيسَ وَيَكُونُ فى أمتى رجل يُقَالُ لَهُ أَبُو حَنِيفَةَ هُوَ سراج أمتى

Pernah ditanyakan kepada Ma’muun bin Ahmad Al-Harawiy, “Tidakkah kau melihat Asy-Syaafi’iy dan orang yang menyebarkan madzhabnya di Khurasan?” Maka Ma’muun berkata, “Ahmad bin ‘Abdillaah menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdullaah bin Ma’daan Al-Azdiy menceritakan kepada kami, dari Anas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : akan ada seseorang diantara umatku yang bernama Muhammad bin Idriis, ia lebih berbahaya atas umatku daripada iblis. Dan akan ada seseorang diantara umatku yang bernama Abu Haniifah, ia adalah pelita umatku.”[30]

وَقِيلَ لِمُحَمَّدِ بْنِ عُكَاشَةَ الْكَرْمَانِيِّ إِنَّ قَوْمًا عِنْدَنَا يَرْفَعُونَ أَيْدِيَهُمْ فِي الرُّكُوعِ وَبَعْدَ رَفْعِ الرَّأْسِ مِنَ الرُّكُوعِ فَقَالَ حدثنَا الْمُسَيَّبُ بْنُ وَاضِحٍ قَالَ حدثنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يُونُسَ بْنِ يَزِيدَ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَفَعَ يَدَيه فِي الرُّكُوعِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ

Pernah ditanyakan kepada Muhammad bin ‘Ukaasyah Al-Karmaaniy, “Ada sekelompok orang yang tinggal dengan kami, mereka mengangkat kedua tangan ketika ruku’ dan setelah mengangkat kepala dari ruku’ (saat i’tidal).” Lantas Muhammad bin ‘Ukaasyah berkata, “Al-Musayyab bin Waadhih menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdullaah bin Al-Mubaarak menceritakan kepada kami, dari Yuunus bin Yaziid, dari Az-Zuhriy, dari Anas –radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya ketika ruku’, maka tak ada shalat baginya!”[31]

Al-Imam Al-Haakim berkata :

وَكُلُّ مَنْ رُزِقَ الْفَهْمَ فِي نَوْعِ الْعِلْمِ وَتَأَمَّلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ عَلِمَ أَنَّهَا مَوْضُوعَةٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Setiap orang yang dikaruniai pemahaman tentang perbendaharaan ilmu dan merenungkan hadits-hadits ini, niscaya dia akan tahu bahwa ini adalah kumpulan hadits-hadits palsu yang diatas namakan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

Para pengemis yang berdiam diri di pasar-pasar, masjid-masjid dan di tempat berkumpulnya masyarakat

 

Lantas para pengemis ini mengarang-ngarang hadits atas Rasulullah dengan cara memakai sanad-sanad shahih yang telah mereka hapal lalu mereka sebutkan matan-matan palsu karangan mereka dengan sanad-sanad tersebut. Diantara golongan pendusta jenis ini adalah para pengemis yang berprofesi sebagai tukang cerita, motivasi utama mereka adalah demi mendapatkan uang dari kisah-kisah palsu karangan mereka.

أَخبرنَا الزُّبَيْرُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْحَافِظُ قَالَ حدثنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ البلدي قال سمعت جَعْفَرَ بْنَ مُحَمَّدٍ الطَّيَالِسِيَّ يَقُولُ صَلَّى أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ فِي مَسْجِدِ الرَّصَافَةِ فَقَامَ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ قَاصٌّ فَقَالَ حدثنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ قَالَا حدثنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حدثنَا مَعْمَرٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم من قال لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يُخْلَقُ مِنْ كُلِّ كَلِمَةٍ مِنْهَا طَيْرٌ مِنْقَارُهُ مِنْ ذَهَبٍ وَرِيشُهُ مِنْ مَرْجَانِ وَأَخَذَ فِي قِصَّةٍ نَحْوًا مِنْ عِشْرِينَ وَرَقَةً فَجَعَلَ أَحْمَدُ يَنْظُرُ إِلَى يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ ويحيى يَنْظُرُ إِلَى أَحْمَدَ فَقَالَ أَنْتَ حدثتَ بِهَذَا فَقَالَ وَاللَّهِ مَا سَمِعْتُهُ بِهِ إِلَّا هَذِهِ السَّاعَةَ قَالَ فَسَكَتْنَا جَمِيعًا حَتَّى فَرَغَ مِنْ قَصَصِهِ وَأَخَذَ قِطَاعَهُ ثُمَّ قَعَدَ يَنْتَظِرُ بِقَيَّتَهَا فَقَالَ لَهُ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ بِيَدِهِ أَنْ تَعَالَ فَجَاءَهُ مُتَوَهِّمًا لِنَوَالٍ يُجِيزُهُ فَقَالَ لَهُ يَحْيَى مَنْ حدثكَ بِهَذَا الْحَدِيثِ فَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ فَقَالَ أَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ وَهَذَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ مَا سَمِعْنَا بِهَذَا قَطُّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ كان لابد وَالْكَذِبُ فَعَلَى غَيْرِنَا فَقَالَ لَهُ أَنْتَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ قَالَ نعم قال لم أزل أسمع أَنَّ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ أَحْمَقُ مَا عَلِمْتُهُ إِلَّا السَّاعَةَ فَقَالَ لَهُ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ فَكَيْفَ عَلِمْتَ أَنِّي أَحْمَقُ فَقَالَ كَأَنْ لَيْسَ فِي الدُّنْيَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ غَيْرَكُمَا كَتَبْتُ عَنْ سَبْعَةَ عَشَرَ أَحْمَدَ بْنُ حَنْبَلٍ وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ غَيْرِ هَذَا قَالَ فَوَضَعَ أَحْمَدُ كُمَّهُ فِي وَجْهِهِ وَقَالَ دَعْهُ يقوم فقام كالمستهزىء بِهِمَا

Az-Zubair bin ‘Abdil Waahid Al-Haafizh mengkhabari kami, ia berkata, Ibraahiim bin ‘Abdil Waahid Al-Balidiy menceritakan kepada kami, ia berkata, aku pernah mendengar Ja’far bin Muhammad Ath-Thayaalisiy mengisahkan :

“Pada suatu hari, Ahmad bin Hanbal dan Yahyaa bin Ma’iin menunaikan shalat di masjid Ar-Rashaafah, lalu berdirilah seorang tukang cerita di depan orang-orang. Ia berkata : Ahmad bin Hanbal dan Yahyaa bin Ma’iin menceritakan kepada kami, keduanya berkata, ‘Abdurrazzaaq menceritakan kepada kami, ia berkata, Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Qataadah, dari Anas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallaah’, niscaya akan diciptakan dari tiap kalimat (yang dia ucapkan) tersebut, seekor burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari mutiara.” Seraya memulai kisah sebanyak 20 lembar kertas.

Jadilah Ahmad bin Hanbal dan Yahyaa bin Ma’iin saling berpandangan karena mendengarnya. Yahyaa bertanya, “Kau meriwayatkan hadits tersebut kepadanya?” Ahmad menjawab, “Demi Allah! Aku tak pernah mendengarnya melainkan baru kali ini.” Kemudian keduanya pun diam hingga si tukang cerita menyelesaikan kisahnya, memungut dirham hasil “jerih payahnya”, hingga ia duduk menunggu sisa dirham yang masih diberikan orang-orang.

Yahyaa memanggil si tukang cerita dengan isyarat tangannya, “Kemarilah.” Maka ia pun mendatangi Yahyaa karena mengira akan diberikan upah.

“Siapa yang menceritakan hadits ini kepadamu?” Tanya Yahyaa. Orang itu menjawab, “Ahmad bin Hanbal dan Yahyaa bin Ma’iin.” Yahyaa berkata kembali, “Aku ini Yahyaa bin Ma’iin dan ini adalah Ahmad bin Hanbal. Kami sama sekali tak pernah mendengar hadits yang kau ceritakan tadi berasal dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Kalau memang hadits itu benar-benar kedustaan, maka tertuduhnya ada pada orang selain kami.”

Si tukang cerita bertanya, “Kamu Yahyaa bin Ma’iin?”

“Ya.” Jawab Yahyaa.

“Aku senantiasa mendengar bahwa Yahyaa bin Ma’iin adalah orang dungu, dan dahulu aku tidak mengetahuinya kecuali sekarang ini.” Ujar si tukang cerita.

Yahyaa bertanya kembali, “Bagaimana kau tahu bahwa aku seorang yang dungu?”

Tukang cerita menjawab, “Seakan-akan di dunia ini tak ada Yahyaa bin Ma’iin dan Ahmad bin Hanbal kecuali kalian berdua. Aku telah menulis dari 17 orang yang bernama Ahmad bin Hanbal dan Yahyaa bin Ma’iin selain kalian ini!”

Lantas Ahmad pun menutupi kedua wajahnya seraya berkata, “Biarkan ia pergi.” Akhirnya si tukang cerita beranjak pergi seraya mengolok-olok kedua Imam tersebut.”[32]

أَخبرنِي أَبُو نَصْرٍ أَحْمَدُ بْنُ سَهْلٍ الْفَقِيهُ بِبُخَارَى قَالَ حدثنَا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبِيبٍ الْحَافِظُ الْبَغْدَادِيُّ قَالَ حدثنَا مُؤَمَّلُ بْنُ إهَابَ قَالَ قَامَ رَجُلٌ يُحدث وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَاعِدٌ فَجَعَلَ يَسْأَلُ النَّاسَ فَلَمْ يُعْطَ فَقَالَ حدثنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ مغيرة عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ إِذَا سَأَلَ السَّائِلُ ثَلَاثًا فَلَمْ يُعْطَ فَلْيُكَبِّرْ عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا وَجَعَلَ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ مَرَّ فَذَكَرْنَاهُ لِيَزِيدَ بْنِ هَارُونَ فَقَالَ كَذِبَ عَلَيَّ الْخَبِيثُ مَا سَمِعْتُ بِهَذَا قَطُّ

Abu Nashr Ahmad bin Sahl Al-Faqiih mengkhabariku di Bukhara, ia berkata, Shaalih bin Muhammad bin Habiib Al-Haafizh Al-Baghdaadiy menceritakan kepada kami, ia berkata, Mu’ammal bin Ihaab menceritakan kepada kami, ia bercerita, “Seorang lelaki berdiri seraya menceritakan sebuah hadits sementara Yaziid bin Haaruun sedang duduk, setelah itu orang-orang bertanya namun lelaki tersebut tak kunjung memberikan jawaban, ia malah berkata : Yaziid bin Haaruun menceritakan kepada kami, dari Syariik, dari Mughiirah, dari Ibraahiim, ia berkata, “Apabila seseorang bertanya 3 kali, maka janganlah dijawab, lantas bertakbirlah 3 kali untuk mereka.” Jadilah si lelaki itu bertakbir Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar kemudian ia pun berlalu begitu saja.

Hal ini kami beritahukan kepada Yaziid bin Haaruun, ia pun berujar, “Pria busuk itu berdusta atas namaku! Aku sama sekali tak pernah mendengar riwayat tersebut.”

وَقَامَ رَجُلٌ فَجَعَلَ يَقُولُ حدثنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ ذِئْبِ بْنِ أَبِي ذِئْبٍ فَضَحِكَ يزيد بن هارون فلما قمنا تبعناه فقلنا لَهُ وَيْحَكَ لَيْسَ اسْمُهُ ذِئْبٌ إِنَّمَا هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَقَالَ إِذَا كَانَ أَبُوهُ اسْمُهُ أَبُو ذِئْبٍ فَأَيُّ شَيْءٍ يكون لابنه الا ذئب

(Perawi menambahkan) Dan seorang lelaki berdiri kemudian ia berkata, “Yaziid bin Haaruun menceritakan kepada kami, dari Dzi’b bin Abu Dzi’b…” Tertawalah Yaziid bin Haaruun. Tatkala kami akan pergi, kami pun memutuskan mengikuti lelaki tersebut untuk memberitahukan kepadanya, “Celaka kamu! Namanya bukan Dzi’b, yang benar adalah Muhammad bin ‘Abdirrahman.” Lelaki itu menyangkal, “Jika nama bapaknya adalah Abu Dzi’b, apakah mungkin nama anaknya selain Dzi’b?”[33]

سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا بَكْرٍ أَحْمَدَ بْنَ إِسْحَاقَ الْفَقِيهَ يَقُولُ خَرَجْنَا وَنَحْنُ بِبَغْدَادَ مِنْ مَجْلِسِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيِّ وَمَعَنَا جَمَاعَةٌ مِنَ الْغُرَبَاءِ فِيهِمْ رَجُلٌ كَثِيرُ الْمُجُونِ فَبَيْنَمَا نَحْنُ نَمْشِي إِذ استقبلنا امرد وضيىء الوجه فتقدم هذا الغريب اليه فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكَ فَلَمَّا صَافَحَهُ قبل بَيْنَ عينيه وخده ثم قَالَ لَهُ حدثنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّبَرِيُّ بِصَنْعَاءَ قَالَ حدثنا عبد الرزاق قَالَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أبيه قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو بَكْرٍ فَلَمَّا انْصَرَفَ الينا قلت له ألا تستحى تُلَوِّطُ وَتَكْذِبُ فِي الْحَدِيثِ فَقَالَ يَا سَيِّدِي وَالْحَدِيثُ كَمَا يَجِيءُ

Aku pernah mendengar Asy-Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaaq Al-Faqiih menceritakan, “Kami pernah keluar safar dan saat itu kami sedang berada di Baghdaad pada majelis Ibraahiim bin Ishaaq Al-Harbiy, dan bersama kami ada sekelompok orang asing (ghuraba’) yang salah seorang diantara mereka banyak berkelakar. Ketika kami sedang berjalan, kami berpapasan dengan seorang pemuda amrad (yakni pemuda yang belum tumbuh janggutnya) yang elok wajahnya, lalu salah seorang dari kelompok tersebut maju menghampirinya, ia pun menyapa, “Assalamu’alaika.” Tatkala ia berjabatan tangan dengan si pemuda amrad, ia mencium dahi dan pipinya, kemudian ia berujar kepada si pemuda : Ishaaq bin Ibraahiim Ad-Dabariy menceritakan kepada kami di Shan’a, ia berkata, ‘Abdurrazzaaq menceritakan kepada kami, ia berkata, Ma’mar mengkhabari kami, dari Az-Zuhriy, dari Saalim, dari Ayahnya, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mencintai saudaranya, maka beritahukan kepadanya bahwasanya ia mencintainya.”[34]

Syaikh Abu Bakr melanjutkan, “Ketika ia kembali kepada rombongan kami, aku tanyakan kepadanya, “Tidakkah kamu malu mencium laki-laki dan berdusta dalam hadits?” Ia menjawab, “Wahai tuanku, hadits tersebut sebagaimana ia datang.”

Demikianlah, kami tutup pembahasan thabaqah pertama dari Al-Majruuhiin ini dengan perkataan Imam Al-Haakim :

فَهَذِهِ الطَّائِفَةُ بِأَنْوَاعِهَا كلها كذبت عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Golongan-golongan ini dengan berbagai jenis dan macamnya semuanya berdusta atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

Wallaahu a’lam.

Diselesaikan di BSD, 23 Muharram 1438 H

Abu Ahmad Tommi Marsetio

Disarikan dan diterjemahkan dari kitab :

Al-Madkhal ilaa Ma’rifah Kitaab Al-Ikliil”, karya Al-Imam Abu ‘Abdillaah Muhammad bin ‘Abdillaah Al-Haakim, hal. 126-144, tahqiiq dan syarah : Dr. Ahmad bin Faaris As-Saluum, penerbit : Daar Ibn Hazm, Beirut, Libanon, cetakan pertama.

Footnotes :

[1] Hadits yang pertama muttafaqun ‘alaih. Hadits yang kedua dalam Shahiih Al-Bukhaariy no. 3461; Jaami’ At-Tirmidziy no. 2669; Musnad Ahmad no. 6450, 6849, 6967; Shahiih Ibnu Hibbaan no. 6256.

[2] Al-Mughiirah bin Sa’iid Al-Bajaliy, Abu ‘Abdillaah Al-Kuufiy. Seorang rafidhah pendusta. Lihat biografinya di Miizaan Al-I’tidaal 6/490; Al-Majruuhiin 3/7; Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 260; dan disebutkan oleh Imam Abul Faraj Ibnul Jauziy rahimahullah dalam khutbah kitab Al-Maudhuu’aat 1/38.

[3] Namanya disebutkan berbarengan dengan Al-Mughiirah bin Sa’iid pada biografi Al-Mughiirah di Al-Miizaan 6/490 :

عن إبن عون، قال لنا إبراهيم -وهو النخعي-: إياكم والمغيرة بن سعيد وأبا عبد الرحيم، فإنهما كذابان

Dari Ibnu ‘Aun, Ibraahiim –An-Nakha’iy- berkata kepada kami, “Berhati-hatilah kalian dari Al-Mughiirah bin Sa’iid dan Abu ‘Abdirrahiim, karena mereka berdua adalah dua orang pendusta!”

Sedangkan dalam biografinya sendiri pada Al-Miizaan 7/394 pada bab Al-Kunaa, disebutkan bahwa ia “Kuufiy zindiiq.”

[4] Muhammad bin Sa’iid Al-Kuufiy Al-Mashluub, haalik (orang yang binasa), seorang yang tertuduh zindiq dan ia pun disalib, wallaahu a’lam. Sebagian orang mengubah namanya demi menutupi jati dirinya dan sebagai tadlis karena kedha’ifannya, terkadang namanya menjadi Muhammad bin Hassaan (dinasabkan kepada kakeknya), Muhammad bin Abu Qais, Muhammad bin Abu Hassaan, Muhammad bin Abu Sahl, Muhammad bin Ath-Thabariy, Muhammad maula bani Haasyim, Muhammad Al-Urduniy, Muhammad Asy-Syaamiy, dan lain-lain.

Imam An-Nasaa’iy rahimahullah berkata :

الكذابون المعروفون بوضع الحديث أربعة: إبراهيم بن أبي يحيى بالمدينة , والواقدي ببغداد , ومقاتل بن سليمان بخراسان، ومحمد بن سعيد بالشام

“Para pendusta yang sudah terkenal sebagai pemalsu hadits ada 4 orang : Ibraahiim bin Abu Yahyaa di Madinah, Al-Waaqidiy di Baghdaad, Muqaatil bin Sulaimaan di Khuraasaan, dan Muhammad bin Sa’iid di Syaam.”

Lihat biografinya di : Miizaan Al-I’tidaal 6/164; Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 231; Tahdziib Al-Kamaal no. 5241; Al-Jarh wa At-Ta’diil 8/595.

[5] Diriwayatkan oleh Imam Al-Juuraqaaniy rahimahullah dengan sanadnya dalam kitab Al-Abaathiil wa Al-Manaakiir no. 116, beliau berkata :

هَذَا اسْتِثْنَاءٌ مَوْضُوعٌ بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ وَلَا حُمَيْدٍ، وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ مَوْضُوعَاتِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ الشَّامِيِّ

“Riwayat istitsna’ ini adalah riwayat palsu, bathil lagi tak ada asalnya dari hadits Anas, begitu pula Humaid. Yang benar ia berasal dari riwayat-riwayat palsu buatan Muhammad bin Sa’iid Asy-Syaamiy.”

Disebutkan pula oleh Ibnul Jauziy dalam Al-Maudhuu’aat 1/279; As-Suyuuthiy dalam Al-La’aali’ Al-Mashnuu’ah 1/264; Al-Fattaniy dalam Tadzkirah Al-Maudhuu’aat no. 586; kemudian Ibnu ‘Iraaq Al-Kinaaniy dalam Tanziih Asy-Syarii’ah 1/321.

[6] Diriwayatkan pula oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 1/112; Atsar ini ada dalam Muqaddimah Shahiih Muslim 1/196. Adapun maksud dari meninggalkan periwayatan hadits dari Rasulullah adalah menahan diri dari keseringan meriwayatkan hadits serta memperketat seleksi ketika menerima hadits dari seseorang. Wallaahu a’lam.

[7] Al-Khathiib Al-Baghdaadiy dalam Al-Kifaayah fiy ‘Ilm Ar-Riwaayah hal. 151, juga dalam Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawiy no. 164; Fawaa’id Al-Firyaabiy no. 24; Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy 1/357.

[8] Disebutkan oleh Al-Haafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy rahimahullah dalam Lisaan Al-Miizaan 7/446.

[9] Al-Majruuhiin 1/63.

[10] Nuuh bin Abu Maryam Yaziid bin ‘Abdillaah, Abu ‘Ishmah Al-Marwaziy. Penduduk Marw dan ahli ilmu mereka. Laqabnya adalah Nuuh Al-Jaami’ karena ia mengambil fiqh dari Abu Haniifah dan Ibnu Abi Lailaa, hadits dari Hajjaaj bin Arthaah, tafsir Al-Qur’an dari Al-Kalbiy dan Muqaatil, dan Maghaaziy dari Ibnu Ishaaq. Ahmad berkata “tidak tsiqah dalam hadits, pengikut fanatik jahmiyyah”, Muslim dan yang lain berkata “matruuk”, Al-Haakim berkata “Abu ‘Ishmah memalsukan hadits fadha’il Al-Qur’an yang panjang”, Al-Bukhaariy berkata “munkarul hadiits”. Lihat biografinya di Miizaan Al-I’tidaal 7/55; Al-Majruuhiin 3/48.

[11] Muhammad bin Ishaaq bin Ibraahiim bin ‘Ukaasyah bin Mihshan Al-Asadiy, dinisbatkan kepada kakeknya, ‘Ukaasyah bin Mihshan radhiyallaahu ‘anhu. Terkadang ia disebut Muhammad bin Ishaaq Al-‘Ukaasyiy. Seorang pemalsu hadits, demikian dikatakan Ad-Daaraquthniy dan Adz-Dzahabiy. Lihat biografinya di Miizaan Al-I’tidaal 6/261 dan Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 219.

[12] Ahmad bin ‘Abdillaah bin Khaalid bin Muusaa bin Faaris bin Mirdaas bin Nahiik At-Taimiy Al-Juwaibaariy, atau Al-Juubaariy. Ibnu ‘Adiy berkata “ia memalsukan hadits Ibnu Karraam menurut keinginannya, seolah-olah Ibnu Karraam meriwayatkan hadits-hadits dalam kitab-kitabnya dari riwayat Al-Juwaibaariy”, dan diantara hadits-hadits palsu ciptaannya demi menggalakkan fadha’il a’mal adalah : Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina. Ibnu Hibbaan berkata “kuniyahnya Abu ‘Aliy Al-Juwaibaariy, seorang dajjal dari golongan para dajjal”, An-Nasaa’iy dan Ad-Daaraquthniy sepakat berkata “seorang pendusta”. Lihat biografinya di Al-Majruuhiin 1/142; Miizaan Al-I’tidaal 1/245; Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 46.

[13] Muhammad bin Al-Qaasim bin Majma’ Ath-Thaayikaaniy. Ibnu Hibbaan berkata “penduduk Khurasan meriwayatkan darinya riwayat-riwayat yang tidak halal menyebutkannya didalam kitab-kitab”, Al-Haakim berkata “ia seorang pemalsu hadits”. Lihat biografinya di Al-Majruuhiin 2/311; Miizaan Al-I’tidaal 6/302; Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 245.

[14] Ma’muun bin Ahmad As-Sulamiy, Abu ‘Abdillaah Al-Harawiy. Ibnu Hibbaan berkata “seorang dajjal dari golongan para dajjal”, Adz-Dzahabiy berkata “memalsukan hadits atas nama para perawi tsiqah”. Lihat biografinya di Al-Majruuhiin 3/45; Miizaan Al-I’tidaal 6/11.

[15] Muqaddimah Shahiih Muslim 1/210; Al-Majruuhiin 1/67; Al-Jaami’ li Akhlaaq Ar-Raawiy no. 170; Adh-Dhu’afaa’ Al-Kabiir li Al-‘Uqailiy 1/30; Al-Maudhuu’aat 1/41.

[16] Al-Majruuhiin 1/25.

[17] Al-Maudhuu’aat 1/41; Al-La’aali’ Al-Mashnuu’ah 2/469.

[18] Ghiyaats bin Ibraahiim An-Nakha’iy, Abu ‘Abdirrahman Al-Kuufiy. Ahmad berkata “manusia meninggalkan haditsnya”, Ibnu Ma’iin berkata “bukan orang yang tsiqah”, Al-Jauzajaaniy berkata “lebih dari sekali aku mendengar bahwa ia seorang pemalsu hadits”, Ibnu Hibbaan berkata “seorang pemalsu hadits”, Adz-Dzahabiy berkata “dialah orang yang disebutkan Abu Khaitsamah bahwa ia meriwayatkan kepada khalifah Al-Mahdiy perihal hadits ‘tak ada perlombaan kecuali pada…(dan seterusnya)’. Lihat biografinya di Miizaan Al-I’tidaal 5/407; Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 207; Al-Majruuhiin 2/200.

[19] Taariikh Baghdaad 14/277; Al-Manaar Al-Muniif hal. 162.

[20] Muqaatil bin Sulaimaan bin Basyiir Al-Azdiy, Abul Hasan Al-Balkhiy. Pemilik kitab tafsir, disepakati akan kelemahannya walau ia menguasai tafsir Al-Qur’an. Ibnu Ma’iin berkata “haditsnya tak bernilai”, di riwayat lain ia berkata “bukan orang yang tsiqah”, ‘Amr bin ‘Aliy dan Abu Haatim berkata “matruuk”, ‘Amr bin ‘Aliy menambahkan “seorang pendusta”, ‘Abdurrahman bin Al-Hakam berkata “ia seorang tukang cerita, orang-orang meninggalkan haditsnya”, Al-Bukhaariy berkata “munkarul hadiits”, Ibnu Hibbaan berkata “ia mengambil dari Yahudi dan Nashrani ilmu mengenai Al-Qur’an yang mencocoki kitab-kitab mereka, ia seorang musyabbihah, ia menyerupakan Allah ‘Azza wa Jalla dengan para makhluk, bersamaan dengan itu ia juga berdusta dalam hadits”. Lihat penjabaran biografinya secara panjang lebar dalam Tahdziib Al-Kamaal no. 6161.

[21] Taariikh Baghdaad 15/216. Pada zaman kekhalifahan ‘Abbaasiyah, banyak para pemalsu hadits dan para tukang cerita yang berusaha mendekati para Khalifah, mereka mengarang-ngarang hadits mengenai keutamaan kakek bani ‘Abbaasiyah, Al-‘Abbaas bin ‘Abdil Muththalib –radhiyallaahu ‘anhu-, diatas kaum ‘Alawiyyah (yakni keturunan ‘Aliy bin Abi Thaalib –radhiyallaahu ‘anhu-), dengan maksud agar dapat menjilat para Khalifah tersebut. Namun karena rahmat Allah, pengetahuan para Khalifah akan hadits-hadits Rasulullah, serta penjagaan para ulama hadits, usaha-usaha para pendusta tersebut terbongkar satu persatu. Alhamdulillah.

[22] Maisarah bin ‘Abdu Rabbih Al-Faarisiy Al-Bashriy At-Tarraas Al-Akkaal. Ibnu Hibbaan berkata “ia orang yang meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perawi tsiqah, dan ia pemalsu hadits”, Ad-Daaraquthniy berkata “matruuk”, Abu Daawud berkata “ia mengakui telah memalsukan hadits”. Lihat biografinya pada Miizaan Al-I’tidaal 6/573; Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 265; Al-Majruuhiin 3/11.

[23] Ziyaad bin Maimuun Ats-Tsaqafiy Al-Faakihiy, atau Ziyaad Abu ‘Ammaar Al-Bashriy, atau Ziyaad bin Abu ‘Ammaar, atau Ziyaad bin Abu Hassaan, mereka menyamarkan namanya dengan maksud tadlis agar tidak diketahui keadaannya. Ibnu Ma’iin berkata “ia tak bernilai”, Yaziid bin Haaruun berkata “seorang pendusta”, Al-Bukhaariy berkata “mereka meninggalkannya”, Abu Zur’ah berkata “waahiyul hadiits”, Ad-Daaraquthniy berkata “dha’iif”. Lihat biografinya dalam Miizaan Al-I’tidaal 3/140; Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 121; Al-Jarh wa At-Ta’diil 3/544.

[24] Wahb bin Wahb bin Katsiir bin ‘Abdillaah bin Zam’ah bin Al-Aswad bin Al-Muththalib bin Asad bin ‘Abdil Uzzaa bin Qushaiy Al-Qaadhiy, Abul Bakhtariy Al-Madaniy Al-Qurasyiy. Ibnu Ma’iin berkata “sering berdusta, musuh Allah”, ‘Utsmaan bin Abi Syaibah berkata “aku berpandangan bahwa ia akan dibangkitkan di hari kiamat sebagai seorang dajjal”, Ahmad berkata “ia memalsukan hadits sepanjang yang kuketahui”. Lihat Miizaan Al-I’tidaal 7/149; Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 276; Al-Jarh wa At-Ta’diil 9/25.

[25] Sulaimaan bin ‘Amr, Abu Daawud An-Nakha’iy. Al-Kadzdzaab. Ahmad berkata “ia memalsukan hadits”, Ibnu Ma’iin berkata “ma’ruuf sebagai pemalsu hadits”, dalam riwayat lain Ibnu Ma’iin berkata “manusia yang paling pendusta”, Al-Bukhaariy berkata “matruuk, Ishaaq dan Qutaibah menuduhnya berdusta”, Yaziid bin Haaruun berkata “tak halal bagi seorang pun meriwayatkan darinya”, Ibnu Hibbaan berkata “ia menampakkan keshalihan dari luar, sebenarnya ia seorang pemalsu hadits dan qadariyyah”. Lihat Miizaan Al-I’tidaal 3/305; Al-Jarh wa At-Ta’diil 4/132; Al-Kasyf Al-Hatsiits hal. 130; Al-Majruuhiin 1/333.

[26] Ishaaq bin Najiih Al-Malathiy. Ibnu Hibbaan berkata “pemalsu hadits, seorang dajjal dari para dajjal”. Lihat Al-Majruuhiin 1/134.

[27] Al-Husain bin ‘Ulwaan Al-Kuufiy. Ibnu Hibbaan berkata “ia memalsukan hadits atas nama Hisyaam bin ‘Urwah dan para perawi tsiqah lainnya. Ahmad bin Hanbal mendustakannya”. Lihat Al-Majruuhiin 1/245.

[28] Sa’d bin Thariif Al-Iskaaf Al-Hanzhaliy, Abul ‘Alaa’ Al-Kuufiy. Ibnu Ma’iin berkata “tak halal bagi seorangpun meriwayatkan darinya”, Ahmad dan Abu Haatim berkata “haditsnya dha’if”, An-Nasaa’iy dan Ad-Daaraquthniy berkata “matruuk”, Ibnu Hibbaan berkata “ia biasa memalsukan hadits dengan segera (ketika ia ada kebutuhan/perkara)”, Ibnu Hajar berkata “matruuk, Ibnu Hibbaan menuduhnya pemalsu hadits, ia seorang rafidhah”. Lihat di Tahdziib Al-Kamaal no. 2212; Miizaan Al-I’tidaal 3/181; Al-Majruuhiin 1/357; Taqriib At-Tahdziib no. 2241.

[29] Al-Kaamil fiy Adh-Dhu’afaa’ 4/507; Al-Majruuhiin 1/66; Al-Maudhuu’aat 1/42. Hadits yang sangat jelas kepalsuan dan kemungkarannya. Didalam sanadnya ada 3 orang perawi lemah : ‘Ubaid bin Ishaaq Adh-Dhabbiy (laqabnya Al-‘Aththaar), Saif bin ‘Umar At-Tamiimiy dan Sa’d bin Thariif Al-Iskaaf. Yang paling parah kelemahannya adalah Sa’d. Lewat hadits ini, kita bisa tahu, tiada rasa takut bagi Sa’d akan ancaman neraka ketika ia mendapati putranya dihukum oleh guru di madrasah, dengan segera ia mengarang-ngarang sebuah hadits untuk menjelek-jelekkan para guru dengan maksud menghinakan mereka, dan ia telah berdusta atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan ancaman neraka. Allaahul Musta’aan!

[30] Al-La’aali’ Al-Mashnuu’ah 2/470; Al-Manaar Al-Muniif hal. 116.

[31] Al-La’aali’ Al-Mashnuu’ah 2/470; Al-Manaar Al-Muniif hal. 189.

[32] Kisah ini diragukan keabsahannya. Al-Haafizh Adz-Dzahabiy dalam Al-Miizaan 1/169, pada biografi Ibraahiim bin ‘Abdil Waahid, berkata :

لا أدري من هو ذا، أتى بحكاية منكرة، أخاف ألَّا تكون إلا من وضعه

“Aku tak tahu siapa dia, dia mendatangkan hikayat-hikayat mungkar. Aku khawatir dialah yang mengarang-ngarang hikayat tersebut.”

Kemudian Adz-Dzahabiy menyebutkan kisah mengenai kedua Imam ini.

[33] Al-Majruuhiin 1/86.

[34] Hadits ini ada pada Musnad Ahmad no. 16719; Musnad Asy-Syaamiyyiin no. 491; dan Mu’jam Ash-Shahaabah li Ibni Qaani’ no. 1924, dengan sanad yang berbeda dari apa yang disebutkan dalam kisah.

Sanad Imam Ahmad dan Ath-Thabaraaniy dari Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan, dari Tsaur bin Yaziid, dari Habiib bin ‘Ubaid, dari Al-Miqdaam bin Ma’diy Karib radhiyallaahu ‘anhu. Sementara sanad Imam Ibnu Qaani’ dari Muhammad bin Az-Zibriqaan, dari Tsaur, dan seterusnya.

Syaikh Syu’aib Al-Arna’uuth rahimahullah dalam ta’liiq-nya 28/408 berkata, “Sanadnya shahih, para perawinya adalah orang-orang tsiqah dan para perawi ash-shahih.”

* * * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s