‘Umar dan Hamzah Berunjuk Rasa Ketika Memeluk Islam

demonstration

Kisahnya masyhur dan diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy rahimahullah dalam Hilyah Al-Auliyaa’ 1/40 :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْحَسَنِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبَانَ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عنِ أَبَانَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: سَأَلْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: لأَيِّ شَيْءٍ سُمِّيتَ الْفَارُوقَ؟ قَالَ: أَسْلَمَ حَمْزَةُ قَبْلِي بِثَلاثَةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلإِسْلامِ فَقُلْتُ: اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ، لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، فَمَا فِي الأَرْضِ نَسَمَةٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَسَمَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُلْتُ: أَيْنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم؟ قَالَتْ أُخْتِي: هُوَ فِي دَارِ الأَرْقَمِ بْنِ الأَرْقَمِ عِنْدَ الصَّفَا، فَأَتَيْتُ الدَّارَ وَحَمْزَةُ فِي أَصْحَابِهِ جُلُوسٌ فِي الدَّارِ، وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْبَيْتِ، فَضَرَبْتُ الْبَابَ فَاسْتَجْمَعَ الْقَوْمُ، فَقَالَ لَهُمْ حَمْزَةُ: مَا لَكُمْ؟ قَالُوا: عُمَرُ، قَالَ: فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخَذَ بِمَجَامِعِ ثِيَابِهِ ثُمَّ نَثَرَهُ فَمَا تَمَالَكَ أَنْ وَقَعَ عَلَى رُكْبَتِهِ، فَقَالَ: ” مَا أَنْتَ بِمُنْتَهٍ يَا عُمَرُ؟ “، قَالَ: فَقُلْتُ: أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، قَالَ: فَكَبَّرَ أَهْلُ الدَّارِ تَكْبِيرَةً سَمِعَهَا أَهْلُ الْمَسْجِدِ، قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ إِنْ مُتْنَا وَإِنْ حَيِينَا؟ قَالَ: ” بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ عَلَى الْحَقِّ إِنْ مُتُّمْ وَإِنْ حَيِيتُمْ “، قَالَ: فَقُلْتُ: فَفِيمَ الاخْتِفَاءُ؟ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَتَخْرُجَنَّ، ” فَأَخْرَجْنَاهُ فِي صَفَّيْنِ، حَمْزَةُ فِي أَحَدِهِمَا، وَأَنَا فِي الآخَرِ، لَهُ كَدِيدٌ كَكَدِيدِ الطَّحِينِ، حَتَّى دَخَلْنَا الْمَسْجِدَ، قَالَ: فَنَظَرَتْ إِلَيَّ قُرَيْشٌ وَإِلَى حَمْزَةَ، فَأَصَابَتْهُمْ كَآبَةٌ لَمْ يُصِبْهُمْ مِثْلَهَا، فَسَمَّانِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَئِذٍ الْفَارُوقَ، وَفَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ

Muhammad bin Ahmad bin Al-Hasan menceritakan kepada kami, Muhammad bin ‘Utsmaan bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, ‘Abdul Hamiid bin Shaalih menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abaan menceritakan kepada kami, dari Ishaaq bin ‘Abdillaah, dari Abaan bin Shaalih, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbaas –radhiyallaahu ‘anhuma-, ia berkisah :

“Aku pernah bertanya kepada ‘Umar radhiyallaahu Ta’ala ‘anhu : mengapa engkau dijuluki Al-Faaruuq?” Mulailah ‘Umar menceritakan kisahnya, “Hamzah memeluk Islam 3 hari sebelum aku, kemudian Allah melapangkan dadaku untuk memeluk Islam. Aku katakan ketika itu : Allah, tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Dia pemilik Asmaa’ul Husnaa. Maka tak ada seorang manusia pun di bumi ini yang lebih kucintai dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Lantas aku bertanya : Dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam?” Saudariku pun menjawab, “Beliau ada di rumah Al-Arqam bin Abul Arqam di bukit Shafaa.”

Aku datangi rumah yang dimaksud saudariku itu sementara Hamzah sedang duduk diantara para sahabatnya di pekarangan rumah dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berada di dalam rumah. Aku mengetuk pintu dan sekelompok orang pun menemuiku. Hamzah bertanya kepada mereka, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “’Umar!”

Maka keluarlah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya mencengkram kerah baju ‘Umar lalu mendorongnya hingga ia terjatuh diatas kedua lututnya. Beliau bertanya, “Tidakkah kamu berhenti, wahai ‘Umar?!”

‘Umar melanjutkan kisahnya, “Seketika itu aku mengucapkan : Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu!”

Serempak bertakbirlah semua yang ada di rumah itu dengan suara takbir yang terdengar oleh orang-orang yang berada di Masjidil Haram.

Aku bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada diatas al-haqq ketika mati maupun masih hidup?”

Rasulullah menjawab, “Benar, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya kalian berada diatas al-haqq ketika kalian mati dan masih hidup.”

Aku berkata, “Mengapa kita masih bersembunyi? Demi Dzat yang mengutusmu dengan al-haqq, sungguh kita akan keluar (untuk menampakkan agama Islam)!”

Maka kami pun keluar dengan 2 barisan. Hamzah berada di barisan pertama sementara aku di barisan satunya, suara derap langkah kami bagai deru mesin penggiling tepung, hingga akhirnya kami pun memasuki Masjidil Haram. Orang-orang Quraisy pun memandangiku dan Hamzah, mereka bersedih hati dengan rasa sedih yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Pada hari itulah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjuluki aku dengan nama Al-Faaruuq. Allah memisahkan antara yang haq dan yang bathil (dengan perantaraanku).” —

Al-Imam Abu Nu’aim juga menyebutkan kisah ini dalam Dalaa’il An-Nubuwwah no. 192 dengan sanad yang sama

Sanad Kisah

Mari kita tinjau satu persatu para perawi kisah ini.

Muhammad bin Ahmad bin Al-Hasan, dia adalah Ibnu Ash-Shawwaaf, Abu ‘Aliy Muhammad bin Ahmad bin Al-Hasan bin Ishaaq Al-Baghdaadiy. Adz-Dzahabiy menyebutnya “al-imam, ats-tsiqah, al-hujjah”, Ad-Daaraquthniy berkata “belum pernah mataku ini melihat orang seperti Abu ‘Aliy bin Ash-Shawwaaf”, Ibnu Abul Fawaaris berkata “Abu ‘Aliy tsiqah ma’muun”. Lihat Siyar A’laam An-Nubalaa’ 16/184.

Muhammad bin ‘Utsmaan bin Abi Syaibah, Abu Ja’far Al-Absiy Al-Kuufiy Al-Haafizh. Adz-Dzahabiy berkata “ia memiliki bashirah (pandangan yang cermat) dalam hadits dan para perawi, ia punya sejumlah karya tulis yang bermanfaat”, ditautsiq oleh Shaalih Jazarah Al-Haafizh, Ibnu ‘Adiy berkata “aku tak melihat ia memiliki hadits yang mungkar, dan dia tepat seperti apa yang dikatakan ‘Abdaan kepadaku : laa ba’ sa bih”, sementara ia dijarh dengan sangat keras sebagai pendusta oleh ‘Abdullaah bin Ahmad bin Hanbal, Ibnu Khiraasy dan beberapa imam lain. Sebabnya karena perselisihannya dengan Muthayyin Al-Hadhramiy, maka jarh yang lahir disebabkan sikap ta’ashub yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Ibnul Munaadiy berkata “manusia banyak meriwayatkan darinya diatas idhthirab yang ada padanya.” Maka statusnya tidak jatuh dari shaduuq dengan mewaspadai kemungkinan idhthirab pada hadits-haditsnya. Wallaahu a’lam. Lihat Miizaan Al-I’tidaal 6/254 ; Lisaan Al-Miizaan 7/340.

‘Abdul Hamiid bin Shaalih, dia adalah ‘Abdul Hamiid bin Shaalih bin ‘Ajlaan Al-Burjumiy, Abu Shaalih Al-Kuufiy. Abu Haatim berkata “shaduuq”, demikian pula Ibnu Hajar menyepakatinya. Lihat Tahdziib Al-Kamaal no. 3719; Taqriib At-Tahdziib no. 3766.

Muhammad bin Abaan, dia adalah Muhammad bin Abaan bin Shaalih bin ‘Umair Al-Qurasyiy Al-Ju’fiy Al-Kuufiy. Dilemahkan oleh Abu Daawud dan Ibnu Ma’iin, Al-Bukhaariy berkata “laisa bil qawiy, dikatakan bahwa ia seorang murji’ah”. Lihat Miizaan Al-I’tidaal 6/41.

Ishaaq bin ‘Abdillaah, dia adalah Ishaaq bin ‘Abdillaah bin Abu Furwah (namanya adalah ‘Abdurrahman) bin Al-Aswad bin Sawwaadah Al-Qurasyiy Al-Umawiy, Abu Sulaimaan Al-Madaniy. Ia seorang yang berideologi khawarij, terbunuh bersama Ibnu Az-Zubair dan dimakamkan di dekat Masjidil Haram. Al-Bukhaariy berkata “mereka meninggalkannya”, Ahmad melarang meriwayatkan darinya, dalam riwayat lain Ahmad berkata “tidak boleh menulis hadits dari 4 orang : Muusaa bin ‘Ubaidah, ‘Abdurrahman bin Ziyaad bin An’am, Juwaibir bin Sa’iid dan Ishaaq bin ‘Abdillaah bin Abu Furwah”, Ibnu Ma’iin berkata “haditsnya tidak kuat”, dalam riwayat lain ia berkata “tak ditulis haditsnya, tidak bernilai”, dan dalam riwayat lain ia berkata kembali “dha’if, bukan orang yang tsiqah”, Ibnul Madiiniy berkata “munkarul hadiits”, dalam riwayat lain ia berkata “Maalik tidak memasukkan riwayat Ibnu Abu Furwah dalam kitab-kitabnya”, Ibnu ‘Ammaar berkata “dha’if, haditsnya hilang”, ‘Amr bin ‘Aliy, Abu Zur’ah, An-Nasaa’iy dan Abu Haatim berkata “matruuk”. Lihat Tahdziib Al-Kamaal no. 367.

Abaan bin Shaalih, dia bernama Abaan bin Shaalih bin ‘Umair bin ‘Ubaid Al-Qurasyiy, Abu Bakr Al-Madaniy. Dia ditautsiq oleh Ibnu Ma’iin, Al-‘Ijliy, Ya’quub bin Syaibah, Abu Zur’ah dan Abu Haatim, An-Nasaa’iy berkata “tak ada yang salah padanya”. Lihat Tahdziib Al-Kamaal no. 137.

Mujaahid bin Jabr Al-Makkiy, Abul Hajjaaj Al-Qurasyiy Al-Makhzuumiy. Seorang imam ahli tafsir yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Demikian pula ‘Abdullaah bin ‘Abbaas, seorang sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Jelaslah bahwasanya kelemahan kisah ini ada pada Muhammad bin Abaan dan Ishaaq bin ‘Abdillaah bin Abu Furwah, dan ia adalah kisah yang sangat lemah. Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah mengomentari kisah ini dengan “munkar” pada Silsilah Adh-Dha’iifah 14/72 no. 6531.

Ada jalan lain bagi kisah ini yang diriwayatkan Al-Imam Abu Bakr Al-Bazzaar dalam Musnad-nya no. 279, dari jalur Ishaaq bin Ibraahiim Al-Hunainiy, dari Usaamah bin Zaid bin Aslam, dari Ayahnya, dari Kakeknya, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab. Namun sanad kisah ini pun lemah. Kami telah membahasnya secara tersendiri pada tulisan kami di : https://muhandisun.wordpress.com/2014/03/09/islamnya-umar-bin-al-khaththaab-dirasah-dan-beberapa-faidah-dari-kisah-kisah-lemah-yang-masyhur/ pada kisah no. 3.

Demikianlah agar kita semua berhati-hati, jangan sampai mengambil kisah-kisah yang bersanad lemah sebagai pijakan hukum, karena hukum tidaklah dibangun diatas dalil atau kisah yang lemah. Semoga bermanfaat.

Wallaahu a’lam.

Jakarta Selatan, 1 Shafar 1438 H

Tommi Marsetio –waffaqahullah-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s