Shalat Istisqa’ (Meminta Hujan) Menurut Madzhab Syafi’i

rain-drops

Terkadang bencana kekeringan melanda suatu negeri disebabkan banyaknya maksiat yang dilakukan oleh penduduk negeri tersebut. Allah Ta’ala menguji mereka dengan kekeringan yang menyebabkan berkurangnya cadangan air, rusaknya tanah dan sawah ladang karena berkurangnya intensitas pengairan serta matinya hewan-hewan karena ketiadaan air untuk mereka minum. Oleh karenanya, syari’at yang mulia ini mengenal adanya shalat Istisqa’ yaitu shalat untuk meminta hujan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dikarenakan keadaan sebagaimana telah disebutkan. Intinya adalah, memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menurunkan hujan dengan terlebih dahulu bertaubat, kembali kepada tauhid dan melakukan ketakwaan serta menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat dan zhalim. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [QS Al-A’raf : 96]

  • Disyari’atkan Shalat Istisqa’

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarf An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Minhaj Ath-Thalibin hal. 185 :

هي سنة عند الحاجة وتعاد ثانيا وثالثا إن لم يسقوا فإن تأهبوا للصلاة فسقوا قبلها اجتمعوا للشكر والدعاء ويصلون على الصحيح ويأمرهم الإمام بصيام ثلاثة أيام أولا والتوبة والتقرب إلى الله تعالى بوجوه البر والخروج من المظالم ويخرجون إلى الصحراء في الرابع صياما في ثياب بذلة وتخشع ويخرجون الصبيان والشيوخ وكذا البهائم في الأصح ولا يمنع أهل الذمة الحضور ولا يختلطون بنا وهي ركعتان كالعيد لكن قيل: يقرأ في الثانية: {إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحاً} ولا تختص بوقت العيد في الأصح ويخطب كالعيد لكن يستغفر الله تعالى بدل التكبير ويدعو في الخطبة الأولى اللهم اسقنا غيثا مغيثا هنيئا مريئا مريعا غدقا مجللا سحا طبقا دائما اللهم اسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانطين اللهم إنا نستغفرك إنك كنت غفارا فأرسل السماء علينا مدرارا ويستقبل القبلة بعد صدر الخطبة الثانية ويبالغ في الدعاء سرا وجهرا ويحول رداءه عند استقباله فيجعل يمينه يساره وعكسه وينكسه على الجديد فيجعل أعلاه أسفله وعكسه ويحول الناس مثله، قلت: ويترك محولا حتى ينزع الثياب

“Hukum shalat istisqa’ adalah sunnah ketika ada hajat[1], dan diulang dua hingga tiga kali apabila Allah belum menurunkan hujan. Apabila kaum muslimin sedang bersiap untuk shalat lantas turunlah hujan (padahal shalat belum dilakukan), maka mereka berkumpul untuk bersyukur dan berdo’a, serta mereka (tetap) melaksanakan shalat menurut pendapat yang shahih dari beberapa pendapat ashhab madzhab Syafi’i. Imam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa selama tiga hari pertama[2], bertaubat, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dalam bentuk melakukan perbuatan-perbuatan baik serta meninggalkan perbuatan-perbuatan zhalim. Kemudian mereka keluar menuju tanah lapang pada hari keempat puasa dengan mengenakan pakaian lusuh dibarengi dengan sikap khusyu’, ikut keluar pula anak-anak, para manula dan demikian pula dengan hewan-hewan ternak[3] menurut pendapat yang paling shahih dari beberapa pendapat ashhab madzhab Syafi’i. Tidak terlarang bagi ahlu dzimmah datang menyaksikan namun tidak boleh berbaur dengan kita, kaum muslimin.

Shalat Istisqa’ terdiri dari dua raka’at seperti shalat hari raya ‘Id, akan tetapi dalam suatu pendapat yang lemah, dikatakan : pada raka’at kedua membaca “innaa arsalnaa Nuuhan(QS Nuh : 1). Waktu pelaksanaannya tidak dikhususkan dengan waktu pelaksanaan shalat ‘Id, menurut pendapat yang paling shahih dari beberapa pendapat ashhab madzhab Syafi’i. Dan berkhutbah sebagaimana khutbah pada shalat ‘Id[4], namun takbir diganti dengan istighfar memohon ampun kepada Allah Ta’ala dan berdo’a di khuthbah yang pertama dengan do’a : Allaahummasqinaa ghaitsan mughiitsan hai’an marii-an marii’an ghadiqan mujallilan thabaqan daa’iman, allaahummasqinaa al-ghaitsa wa laa taj’alnaa minal qaa’ithiin, allaahumma innaa nastaghfiruka innaka kunta ghaffaaraa, fa arsilis samaa’a ‘alainaa midraaraa[5]. Lalu menghadap kiblat setelah muqaddimah khuthbah kedua, bersungguh-sungguh dalam berdo’a baik sirr maupun jahr, dan memindahkan posisi rida’nya ketika sedang menghadap kiblat yaitu mengubah sisi yang kanan menjadi sisi yang kiri dengan membaliknya, dan mengubah sisi yang atas menjadi sisi yang bawah, menurut qaul jadid dari Imam Asy-Syafi’i, orang-orang pun mengikuti seperti apa yang dilakukan khathib. Aku (yaitu Imam An-Nawawi) katakan : Dibiarkan terbalik seperti itu hingga ia mengganti pakaiannya[6].”

ولو ترك الإمام الاستسقاء فعله الناس ولو خطب قبل الصلاة جاز ويسن أن يبرز لأول مطر السنة ويكشف غير عورته ليصيبه وأن يغتسل أو يتوضأ في السيل ويسبح عند الرعد والبرق ولا يتبع بصره البرق ويقول عند المطر اللهم صيبا نافعا ويدعو بما شاء وبعده مطرنا بفضل الله ورحمته ويكره مطرنا بنوء كذا وسب الريح ولو تضرروا بكثرة المطر فالسنة أن يسألوا الله تعالى رفعه اللهم حوالينا ولا علينا ولا يصلى لذلك. والله أعلم

Imam An-Nawawi pun melanjutkan, “Sekiranya imam tidak melaksanakan shalat istisqa’, maka orang-orang melakukannya (tanpa harus menunggu imam). Dan sekiranya khuthbah dilaksanakan sebelum dimulainya shalat, maka itu dibolehkan. Disunnahkan agar keluar (menuju tanah lapang) saat turunnya hujan pertama pada tahun itu, kemudian menampakkan sebagian anggota badannya -selain anggota badan yang termasuk ‘aurat- agar terkena air hujan[7], dan ia mandi atau berwudhu’ pada aliran air yang meluap. Lalu bertasbih ketika muncul geledek dan petir, dan penglihatannya tidak boleh mengikuti kilatan petir tersebut. Ucapkan do’a pada saat akan turun hujan : Allaahumma shayyiban naafi’an[8] serta berdo’a sekehendaknya. Setelah turun hujan, ucapkan : Muthirnaa bi fadhlillaahi wa rahmatih, dan dimakruhkan mengucapkan : Muthirnaa bi nau’i kadzaa[9]. Dimakruhkan pula mencaci maki angin walaupun angin tersebut membahayakan mereka dengan membawa hujan yang sangat lebat. Yang sunnah adalah memohon kepada Allah Ta’ala agar memindahkannya dengan do’a : Allaahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa[10] dan tidak ada shalat karena sebab tersebut. Wallaahu a’lam.

  • Perincian Fiqh Shalat Istisqa’

Dari pemaparan dan tartib Imam An-Nawawi diatas, maka fiqh shalat Istisqa’ dapat dirinci sebagai berikut :

  1. Hukum shalat Istisqa’ adalah sunnah ketika ada hajat, yaitu ketika ada kebutuhan untuknya. Dalam hal ini meminta hujan kepada Allah Ta’ala ketika bencana kekeringan sudah membahayakan. Dan dilakukan secara berjama’ah lebih afdhal.
  2. Mengulang shalat Istisqa’ dua hingga tiga kali jika Allah Ta’ala belum menurunkan hujan.
  3. Bagaimana jika kaum muslimin sedang bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Istisqa’ tiba-tiba hujan turun? Masih perlukah shalat Istisqa’? Maka menurut Imam An-Nawawi, pendapat yang kuat dari madzhab Syafi’i adalah mereka tetap berkumpul untuk bersyukur, berdo’a demi memohon tambahan nikmat dan kebaikan serta melaksanakan shalat sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah Ta’ala.
  4. Sebelum pelaksanaan shalat Istisqa’, terlebih dahulu imam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa di 3 hari pertama, bertaubat sungguh-sungguh, serta mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan memperbanyak perbuatan baik dan meninggalkan segala kemaksiatan dan perbuatan zhalim, karena maksiat dan kezhaliman menjadi sebab tertahannya rahmat dan nikmat.
  5. Pada hari keempat puasa, imam dan kaum muslimin keluar menuju tanah lapang dengan mengenakan pakaian lusuh -dalam hal ini adalah pakaian yang mencerminkan ketawadhu’an, dan tidak memakai perhiasan-, sikap khusyu’ dan menghindari perkataan yang sia-sia. Dibolehkan shalat Istisqa’ didalam masjid, namun yang afdhal adalah di tanah lapang yang luas dikarenakan perkiraan banyaknya jumlah kaum muslimin yang akan mengikuti pelaksanaannya dapat melebihi kapasitas masjid, dan ittiba’ kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang melaksanakannya di tanah lapang.
  6. Dianjurkan bagi anak-anak kecil dan para manula untuk ikut keluar, demikian pula dengan hewan-hewan ternak, menurut pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i. Hikmahnya adalah, diharapkan tasbihnya hewan-hewan tersebut dapat menjadi sebab kuat Allah Ta’ala menurunkan hujan karena mereka pun bertasbih kepada Allah Ta’ala dengan bahasa yang tidak dimengerti manusia. Sebagaimana firman Allah Jalla Dzikruhu :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” [QS Al-Isra’ : 44]

  1. Dibolehkan bagi kafir dzimmi untuk hadir dan menyaksikan pelaksanaan shalat Istisqa’ dengan syarat mereka tidak berbaur dengan kaum muslimin.
  2. Tatacara pelaksanaan shalat Istisqa’ sama dengan tatacara shalat ‘Id, dua raka’at, dengan diawali niat terlebih dahulu (dan cukup didalam hati). Setelah itu, raka’at pertama dengan diawali oleh takbiratul ihram serta takbir sunnah sebanyak 7 kali, membaca do’a istiftah, membaca surat Al-Fatihah kemudian membaca salah satu dari surat Al-Qur’an. Lalu ruku’, i’tidal, dan turun sujud, duduk antara 2 sujud, sujud kedua, kemudian berdiri untuk raka’at kedua.  Raka’at kedua diawali takbir dan takbir sunnah sebanyak 5 kali, membaca surat Al-Fatihah dan salah satu surat Al-Qur’an, dan seterusnya hingga setelah sujud kedua, lalu duduk tahiyat akhir, membaca tasyahhud dan shalawat Ibrahimiyah, terakhir mengucapkan salam ke kiri dan kanan.
  3. Terkait membaca surat Al-Qur’an di raka’at pertama dan kedua, Syamsuddin Al-Khathib Asy-Syirbini rahimahullah dalam Mughni Al-Muhtaj berkata :

“Raka’at pertama membaca surat Qaf secara jahr, dan raka’at kedua membaca surat Al-Qamar, atau (raka’at pertama) surat Al-A’la dan (raka’at kedua) surat Al-Ghasyiyah. Namun (boleh) pada raka’at kedua membaca “Inna arsalna Nuuhan” menggantikan surat Al-Qamar (jika pada raka’at pertama membaca surat Qaf), karena pada surat Nuh terkandung permohonan ampun dan turunnya hujan yang sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi.”

Dan dijawab oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ dengan kesepakatan para ashhab madzhab Syafi’i bahwa yang afdhal adalah : membaca surat Al-Qur’an dalam shalat Istisqa’ sama seperti dalam shalat ‘Id.

  1. Waktu pelaksanaan shalat Istisqa’ menurut pendapat yang paling kuat dalam madzhab Syafi’i sebagaimana disebutkan oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli rahimahullah dalam Kanz Ar-Raghibin syarah Minhaj Ath-Thalibin adalah : Dibolehkan melaksanakannya kapan saja baik malam atau siang. Al-Khathib Asy-Syirbini menambahkan : Walaupun dilaksanakan pada waktu-waktu makruh untuk shalat menurut pendapat yang paling kuat, karena ia shalat yang memiliki sebab seperti halnya shalat Kusuf (gerhana).
  2. Disyari’atkan berkhuthbah sebagaimana khuthbah dalam shalat ‘Id, khuthbah 2 kali setelah shalat namun lafazh takbir diganti dengan istighfar memohon ampunan Allah Ta’ala, seperti : Astaghfirullaah Al-‘Azhiim, alladzi laa Ilaaha Illaa Huwal Hayyul Qayyuum wa atuubu ilaih, dan memperbanyak istighfar dalam isi khuthbahnya yang pertama, serta berdo’a dengan do’a-do’a yang ma’ruf untuk memohon ampunan dan memohon turunnya hujan serta tambahan rizki sebagaimana do’a yang telah disebutkan oleh Imam An-Nawawi diatas.

Pada khuthbah yang kedua, khathib menghadap kiblat membelakangi jama’ah serta berdo’a sungguh-sungguh dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Imam An-Nawawi dalam Raudhah Ath-Thalibin menyebutkan : Para ulama menerangkan bahwa termasuk sunnah adalah setiap orang yang berdo’a dengan maksud menghilangkan bala maka jadikan kedua punggung tangannya menghadap ke langit, dan apabila meminta sesuatu maka jadikan kedua telapak tangannya yang menghadap ke langit –akhir kutipan-. Jika imam berdo’a sirr maka jama’ah berdo’a sirr pula, dan jika berdo’a jahr maka jama’ah meng-aminkan.

  1. Disunnahkan memindahkan posisi rida’ pada khuthbah kedua ketika menghadap kiblat, bagian yang kanan menjadi bagian yang kiri dengan membaliknya, begitu juga bagian atas menjadi bagian bawahnya, menurut qaul jadid dari Imam Asy-Syafi’i. Orang-orang pun mengikuti apa yang dilakukan imam.
  2. Apabila imam (dalam hal ini adalah ulil amri, amir/gubernur atau ulama negeri setempat) meninggalkan shalat Istisqa’, maka orang-orang tetap melaksanakannya agar terangkat bahaya akibat bencana kekeringan.
  3. Dibolehkan berkhuthbah sebelum dimulai shalat, sah khuthbah dan shalatnya, sebagaimana telah tetap dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Sunan Abu Dawud dan selainnya, bahwasanya beliau berkhuthbah lalu shalat. Dalam Shahihain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk melaksanakan shalat Istisqa’, lantas beliau berdo’a dan menghadap kiblat serta memindahkan posisi rida’nya, kemudian shalat 2 raka’at.
  4. Disunnahkan bagi setiap orang agar keluar menuju tanah lapang atau daratan luas untuk menyambut hujan pertama yang turun pada tahun itu, hikmahnya adalah menyambut turunnya rahmat dan nikmat Allah setelah negeri dilanda kekeringan, bersyukur dan bersuka cita atas limpahan rahmat Allah Ta’ala dan dikabulkannya do’a kaum muslimin.
  5. Ia menampakkan sebagian anggota badannya, kecuali anggota badan yang termasuk aurat, agar badannya terkena air hujan dan merasakan curahan rahmat Allah pada setiap tetesan air hujan tersebut. Ia mandi dan berwudhu’ pada aliran air yang meluap karena melimpahnya air hujan.
  6. Bertasbih ketika muncul geledek dan petir, diriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ dari ‘Abdullah bin Az-Zubair –radhiyallahu ‘anhuma- bahwa jika ia mendengar suara petir, ia meninggalkan obrolan, lalu mengucapkan : Subhaanalladzi yusabbihur ra’du bi hamdihi wal malaa’ikatu min khiifatihi. Penglihatan mata tidak boleh mengikuti kilatan petir, salafus shalih membenci perbuatan seperti itu yaitu berisyarat ke arah geledek dan petir.
  7. Disunnahkan berdo’a pada saat akan turun hujan dengan do’a seperti yang telah disebutkan (Allaahumma shayyiban naafi’an), dan dibolehkan berdo’a setelah itu dengan do’a sekehendaknya karena ketika turun hujan adalah saat-saat terkabulnya do’a.
  8. Apabila hujan berakhir, maka berdo’a dengan do’a Muthirnaa bi fadhlillah –dan seterusnya-. Dimakruhkan berdo’a dengan Muthirnaa bi nau’i kadzaa karena Allah Ta’ala lah yang menurunkan hujan, bukan karena sebab kemunculan bintang atau benda langit tertentu.
  9. Apabila hujan menjadi sangat lebat disertai dengan angin yang sangat kencang, serta mulai terjadi luapan air yang tak terkendali dengan debit air yang sangat deras, disunnahkan berdo’a kepada Allah Ta’ala dengan do’a Allaahumma hawaalaina –dan seterusnya- agar Allah ‘Azza wa Jalla memindahkan hujan dan angin tersebut ke daerah-daerah sekitarnya. Dimakruhkan mencaci-maki dan mencela angin walaupun ia membawa hujan yang sangat lebat.

Semoga pemaparan diatas bermanfaat bagi pengetahuan kita bersama.

Wallahu a’lamu bish-shawwab.

Malam, ba’da ‘Isya, 9 Shafar 1439 H

Tommi Marsetio –waffaqahullah-

Maraji’ :

  1. “Minhaj Ath-Thalibin wa ‘Umdah Al-Muftin”, karya : Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syarf An-Nawawi, tahqiq dan takhrij : Nashruddin Tunisi, Syirkah Al-Quds, Kairo, cetakan pertama.
  2. “Kanz Ar-Raghibin Syarh Minhaj Ath-Thalibin”, karya : Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli, tahqiq : Mahmud Shalih Ahmad Hasan Al-Hadidi, Dar Al-Minhaj, cetakan kedua.
  3. “Mughni Al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj”, karya : Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Al-Khathib Asy-Syirbini, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, via Maktabah Syamilah.
  4. “Raudhah Ath-Thalibin wa ‘Umdah Al-Muftin”, karya : Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syarf An-Nawawi, tahqiq : Zuhair Asy-Syawisy, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, cetakan ketiga, via Maktabah Syamilah.

Footnotes :

[1] Dengan dalil hadits ‘Abdullah bin Zaid Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبَّادُ بْنُ تَمِيمٍ أَنَّ عَمَّهُ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ بِالنَّاسِ يَسْتَسْقِي لَهُمْ فَقَامَ فَدَعَا اللَّهَ قَائِمًا ثُمَّ تَوَجَّهَ قِبَلَ الْقِبْلَةِ وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ فَأُسْقُوا

Abul Yaman menceritakan kepada kami, ia berkata, Syu’aib mengkhabari kami, dari Az-Zuhri, ia berkata, ‘Abbad bin Tamim menceritakan kepadaku, bahwa pamannya –dan dia adalah salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengkhabarinya, “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar bersama orang-orang untuk melaksanakan shalat Istisqa’ bersama mereka, lalu beliau berdiri dan berdo’a kepada Allah, kemudian menghadap kiblat seraya memindahkan posisi rida’nya. Lantas kaum muslimin pun diberi hujan.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1023; no. 1024; no. 1027; no. 1030), Muslim (no. 894; no.896), At-Tirmidzi (no. 556), Abu Dawud (no. 1161; no. 1166; no. 1167), An-Nasa’i (Al-Mujtaba no. 1505; no. 1509), Ibnu Majah (no. 1267), Ad-Darimi (no. 1534), Ahmad (no. 16001; no. 16002), Ibnu Khuzaimah (no. 1330), Ibnu Hibban (no. 2865; no. 2867).

Kemudian hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ، وَالْحَسَنُ بْنُ أَبِي الرَّبِيعِ، قَالَا: حَدَّثَنَا، وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ يُحَدِّثُ، عَنْ الزُّهْرِيِّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: ” خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا يَسْتَسْقِي، فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ بِلَا أَذَانٍ، وَلَا إِقَامَةٍ، ثُمَّ خَطَبَنَا وَدَعَا اللَّهَ، وَحَوَّلَ وَجْهَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ، ثُمَّ قَلَبَ رِدَاءَهُ، فَجَعَلَ الْأَيْمَنَ عَلَى الْأَيْسَرِ، وَالْأَيْسَرَ عَلَى الْأَيْمَنِ

Ahmad bin Al-Azhar dan Al-Hasan bin Abu Ar-Rabi’ menceritakan kepada kami, keduanya berkata, Wahb bin Jarir menceritakan kepada kami, Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata, aku pernah mendengar An-Nu’man menceritakan dari Az-Zuhri, dari Humaid bin ‘Abdirrahman, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada suatu hari untuk melaksanakan shalat Istisqa’, beliau shalat bersama kami dua raka’at dengan tanpa adzan dan iqamah, kemudian beliau berkhuthbah kepada kami dan berdo’a kepada Allah. Beliau membalikkan wajahnya ke arah kiblat sambil mengangkat kedua tangannya, lalu beliau membalik posisi rida’nya, beliau menjadikan bagian yang kanan ke bagian yang kiri, dan yang kiri ke yang kanan.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1268), Ahmad (no. 8128), Al-Baihaqi (Al-Kubra 3/346).

Namun jalur Abu Hurairah ini di-ma’lulkan oleh Imam Ad-Daraquthni rahimahullah dalam Al-‘Ilal no. 1660, ia berkata :

يَرْوِيهِ الزُّهْرِيُّ وَاخْتُلِفَ عَنْهُ، فَرَوَاهُ النُّعْمَانُ بْنُ رَاشِدٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَوَهِمَ فِيهِ، وَخَالَفَهُ أَصْحَابُ الزُّهْرِيِّ، مِنْهُمْ: يُونُسُ، وَمَعْمَرٌ، وَابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، رَوَوْهُ عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ، عَنْ عَمِّهِ، وَهُوَ الصَّوَابُ

“Diriwayatkan oleh Az-Zuhri dan diperselisihkan darinya. An-Nu’man bin Rasyid meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Humaid bin ‘Abdirrahman, dari Abu Hurairah, dan An-Nu’man mengalami wahm padanya. Ia menyelisihi ashhab Az-Zuhri diantaranya : Yunus, Ma’mar dan Ibnu Abi Dzi’b, mereka meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari ‘Abbad bin Tamim, dari pamannya, dan inilah yang benar.”

[2] Dalilnya hadits Abu Hurairah :

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ سَعْدَانَ الْقُمِّيِّ عَنْ أَبِي مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِي مُدِلَّةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

Abu Kuraib menceritakan kepada kami, ‘Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, dari Sa’dan Al-Qummi, dari Abu Mujahid, dari Abu Mudillah, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga orang yang do’a mereka tidak tertolak, yaitu : seorang yang berpuasa hingga berbuka, seorang imam (penguasa) yang adil dan do’anya orang yang terzhalimi. Allah akan mengangkat do’anya ke atas awan, dan membukakan baginya pintu-pintu langit, seraya berfirman : “Demi kemuliaanKu, sungguh Aku akan menolongmu meski beberapa saat lamanya.”

Diriwayatkan At-Tirmidzi (no. 3598), seraya berkata, “Hadits ini hadits hasan.”

[3] Dalilnya hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma :

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو أَيُّوبَ عَنْ ابْنِ أَبِي مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Mahmud bin Khalid Ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, Sulaiman bin ‘Abdirrahman Abu Ayyub menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abu Malik, dari Ayahnya, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajah ke kami dan bersabda : “Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, lantas aku berlindung kepada Allah dan semoga kalian tidak mengalaminya : Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan diberi hujan. Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan RasulNya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya. Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik pada apa yang diturunkan Allah melainkan Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka.”

Diriwayatkan Ibnu Majah (no. 4019), Al-Hakim (4/528), Ath-Thabarani (Mu’jam Al-Kabir no. 13619 –secara ringkas-), Al-Baihaqi (Syu’abul Iman no. 3314 dan no. 3315). Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 106.

Dan hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ عَنْ طَلْحَةَ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ رَأَى سَعْدٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ

Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami, Muhammad bin Thalhah menceritakan kepada kami, dari Thalhah, dari Mush’ab bin Sa’d, ia berkata, “Sa’d –radhiyallahu ‘anhu- adalah orang yang suka menganggap dirinya mempunyai keutamaan dibanding orang lain, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah kalian itu ditolong dan diberi rizki melainkan karena keberadaan orang-orang lemah kalian.”

Diriwayatkan Al-Bukhari (no. 2896), An-Nasa’i (Al-Mujtaba no. 3178), Ahmad (no. 1496).

[4] Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

حَدَّثَنَا عَمْرٌو، ثنا هَارُونُ، ثنا خَالِدٌ، أَخْبَرَنِي الْقَاسِمُ، عَنْ يُونُسَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمَّا خَرَجَ إِلَى الاسْتِسْقَاءِ، وَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ، حَمِدَ اللَّهَ، ثُمَّ قَالَ: ” إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ مِنْ جَدْبِ جَنَابِكُمْ، وَاسْتِئْخَارِ الْمَطَرِ عِنْدَ إِبَّانِ زَمَانِهِ عَنْكُمْ، وَقَدْ أَمَرَكُمُ اللَّهُ أَنْ تَدْعُوهُ، وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ، ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ، وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً، وَبَلاغًا إِلَى خَيْرٍ

‘Amr menceritakan kepada kami, Harun menceritakan kepada kami, Khalid menceritakan kepada kami, Al-Qasim mengkhabariku, dari Yunus, dari Hisyam, dari Ayahnya, dari ‘Aisyah, bahwa tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar rumah untuk shalat Istisqa’, beliau pun duduk diatas mimbar, memuji Allah, kemudian bersabda, “Sesungguhnya kalian mengadukan mengenai kekeringan ladang kalian dan belum turunnya hujan padahal sudah masuk waktunya (musim hujan) pada kalian. Sungguh, Allah telah memerintahkan kalian agar berdo’a kepadaNya dan Dia berjanji mengabulkannya untuk kalian.”

Nabi melanjutkan, “Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan, tiada Ilah yang berhak diibadahi selain daripada Allah, Dia berbuat menurut kehendakNya.” Lalu beliau berdo’a, “Allaahumma anta laa ilaaha illaa anta, Al-Ghaniyyu wa nahnul fuqaraa’, anzil ‘alainaal ghaits, waj’al maa anzalta lanaa quwwah, wa balaaghan ilaa khair.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani (Ad-Du’a no. 2170).

Asalnya dari hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1173), Al-Hakim (1/328), Ibnu Hibban (no. 2860). Dishahihkan Al-Hakim dan disetujui Adz-Dzahabi.

[5] Do’a ini diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dengan sanadnya hingga Imam Asy-Syafi’i dan selanjutnya Asy-Syafi’i menyebutkannya secara mu’allaq :

أَخْبَرَنَا أَبُو سَعِيدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ، قَالَ: رُوِيَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، مَرْفُوعًا أَنَّهُ كَانَ إِذَا اسْتَسْقَى، قَالَ: ” اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مغيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، مَرِيعًا غَدَقًا، مُجَلَّلًا عَامًّا، طَبَقًا سَحًّا دَائِمًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ، اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ وَالْبَهَائِمِ وَالْخَلْقِ اللَّأْوَاءَ وَالْجَهْدَ وَالضَّنْكَ مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْجَهْدَ وَالْجُوعَ وَالْعُرْىَ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفْهُ غَيْرُكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا

Abu Sa’id mengkhabari kami, ia berkata, Abul ‘Abbas menceritakan kepada kami, ia berkata, Ar-Rabi’ mengkhabari kami, ia berkata, Asy-Syafi’i mengkhabari kami, ia berkata, diriwayatkan dari Salim bin ‘Abdillah, dari Ayahnya secara marfu’, bahwa Rasulullah dahulu apabila shalat Istisqa’, beliau berdoa, “Allaahummasqinaa… (sebagaimana telah disebutkan).”

قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَأُحِبُّ أَنْ يَدْعُوَ الْإِمَامُ بِهَذَا، وَلَا وَقْتَ فِي الدُّعَاءِ لَا يُجَاوِزُهُ. قَالَ أَحْمَدُ: وَقَدْ رُوِّينَا بَعْضَ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ وَبَعْضَ مَعَانِيهَا فِي حَدِيثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فِي الِاسْتِسْقَاء، وَفِي حَدِيثِ جَابِرِ وكعب بْنِ مُرَّةَ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ جراد، وَغَيْرِهِمْ. قال الشافعي: وبلغنا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان: إذا دعا في الاستسقاء رفع يديه

Asy-Syafi’i berkata, “Aku menyukai apabila imam berdo’a dengan do’a ini, dan tak ada batasan waktu didalam berdo’a yang tidak bisa dilanggar.” Ahmad berkata, “Telah diriwayatkan kepada kami sebagian lafazh dan makna do’a ini pada hadits Anas bin Malik dalam shalat Istisqa’, dan juga dalam hadits Jabir, Ka’b bin Murrah, ‘Abdullah bin Jarad dan selainnya.” Asy-Syafi’i berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berdo’a dalam shalat Istisqa’, beliau mengangkat kedua tangannya.”

(Ma’rifah As-Sunan wa Al-Atsar no. 2015).

[6] Dalilnya hadits ‘Abdullah bin Zaid Al-Anshari yang telah berlalu di point catatan kaki no. 1, lalu hadits ‘Abdullah bin Zaid yang lain :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ، قَالَ: ” اسْتَسْقَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهِ خَمِيصَةٌ لَهُ سَوْدَاءُ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَأْخُذَ بِأَسْفَلِهَا فَيَجْعَلَهُ أَعْلَاهَا، فَلَمَّا ثَقُلَتْ قَلَبَهَا عَلَى عَاتِقِهِ

Qutaibah bin Sa’id menceritakan kepada kami, ‘Abdul ‘Aziz menceritakan kepada kami, dari ‘Umarah bin Ghaziyyah, dari ‘Abbad bin Tamim, bahwa ‘Abdullah bin Zaid berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memohon diturunkan hujan dan pada waktu itu beliau mengenakan pakaian berwarna hitam. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin mengambil bagian bawah rida’nya dan menjadikannya bagian atas, namun tatkala terasa sulit, beliau membaliknya pada bagian yang ada diatas pundaknya.”

Diriwayatkan Abu Daud (no. 1164), Ahmad (no. 16027), Ibnu Khuzaimah (no. 1335), Ibnu Hibban (no. 2867), Al-Hakim (1/327) dan ia menshahihkannya, disetujui oleh Adz-Dzahabi.

[7] Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَنَسٌ أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ قَالَ فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنْ الْمَطَرِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا قَالَ لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami, Ja’far bin Sulaiman mengkhabari kami, dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas, ia berkata, “Kami diguyur hujan sementara kami sedang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membuka pakaiannya hingga tubuhnya pun terkena hujan, lantas kami tanyakan, “Wahai Rasulullah, mengapa kau melakukan itu?” Beliau bersabda, “Karena hujan ini adalah rahmat yang diturunkan Allah Ta’ala.”

Diriwayatkan Muslim (no. 899), Abu Dawud (no. 5100), Ahmad (no. 13408), Ibnu Hibban (13/505), An-Nasa’i (Al-Kubra no. 1850), Al-Baihaqi (Al-Kubra 3/358).

[8] Hadits ‘Aisyah :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ هُوَ ابْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الْحَسَنِ الْمَرْوَزِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Muhammad –dia adalah Ibnu Muqatil Abul Hasan Al-Marwazi- menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdullah mengkhabari kami, ia berkata, ‘Ubaidullah mengkhabari kami, dari Nafi’, dari Al-Qasim bin Muhammad, dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hujan, beliau berdo’a, “Allahumma shayyiban naafi’an (Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat).”

Diriwayatkan Al-Bukhari (no. 1032), Ahmad (no. 23623; 25041; 25335), Ibnu Hibban (no. 1006).

Dalam lafazh Abu Dawud (no. 5099) :

اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا

Allaahumma shayyiban hanii’an (Ya Allah, jadikanlah hujan ini mensejahterakan).”

Dan dalam lafazh Ibnu Majah (no. 3889) :

اللَّهُمَّ سَيْبًا نَافِعًا

Allaahumma saiban naafi’an (Ya Allah, jadikanlah curahan ini bermanfaat).”

[9] Dalilnya hadits Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنْ اللَّيْلَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

‘Abdullah bin Maslamah menceritakan kepada kami, dari Malik, dari Shalih bin Kaisan, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, bahwasanya ia bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Subuh bersama kami di Hudaibiyyah setelah hujan turun pada malam tersebut. Tatkala selesai shalat, beliau berpaling dan menghadap ke arah jama’ah seraya bertanya, “Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kalian?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Rasulullah bersabda, “Pagi ini hamba-hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Adapun hamba yang berkata : Muthirnaa bi fadhlillaahi wa rahmatihi (Kami diberi hujan karena karunia dan rahmatNya) maka dialah hamba yang beriman kepadaKu dan kafir kepada bintang. Dan adapun hamba yang berkata : bi nau’i kadzaa wa kadzaa (Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu) maka dialah hamba yang kafir kepadaKu dan beriman kepada bintang.”

Diriwayatkan Al-Bukhari (no. 846), Muslim (no. 73), Abu Dawud (no. 3906), Malik (no. 451), Ahmad (no. 16613), Ibnu Hibban (no. 188; 6132), Al-Baihaqi (Al-Kubra 2/188).

[10] Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَحَطَ الْمَطَرُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَسْقِيَنَا فَدَعَا فَمُطِرْنَا فَمَا كِدْنَا أَنْ نَصِلَ إِلَى مَنَازِلِنَا فَمَا زِلْنَا نُمْطَرُ إِلَى الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ قَالَ فَقَامَ ذَلِكَ الرَّجُلُ أَوْ غَيْرُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَصْرِفَهُ عَنَّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا قَالَ فَلَقَدْ رَأَيْتُ السَّحَابَ يَتَقَطَّعُ يَمِينًا وَشِمَالًا يُمْطَرُونَ وَلَا يُمْطَرُ أَهْلُ الْمَدِينَةِ

Musaddad menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu ‘Awanah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, ia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhuthbah pada hari Jum’at, datanglah seorang lelaki, ia memohon sesuatu, “Wahai Rasulullah, bencana kekeringan melanda dan hujan sudah lama tidak turun, berdo’alah kepada Allah agar memberi kami hujan!”

Lantas berdo’alah Rasulullah dan hujan pun turun kepada kami hingga hampir-hampir kami tidak bisa kembali ke kediaman kami. Hujan terus turun hingga hari Jum’at berikutnya. Maka berdirilah lelaki tersebut atau lelaki yang lain, ia memohon, “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar memalingkan hujan ini dari kami!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdo’a, “Allaahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa (Ya Allah, turunkan hujan ini di sekitar kami dan jangan kepada kami).” Anas berkata, “Sungguh! Aku telah melihat awan berpencar ke kanan dan kiri lalu turunlah hujan namun tidak menghujani penduduk Madinah!”

Diriwayatkan Al-Bukhari (no. 1015; 1021; 1033), Muslim (no. 899), An-Nasa’i (Al-Mujtaba no. 1515; 1517; 1518), Ahmad (no. 12537; 12604; 13332; 13455), Ibnu Khuzaimah (no. 1342; 1687; 1690), Ibnu Hibban (no. 992), Al-Baihaqi (Al-Kubra 3/221), dan lain-lain.

* * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s