Mutiara Tafsir Surat Al-Lahab : Ummu Jamil, Sang Pembawa Kayu Bakar

kayu bakar

Abu Lahab, yang bernama asli ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Muththalib Al-Qurasyi, adalah manusia yang telah divonis Allah Ta’ala sebagai penghuni neraka kelak yang apinya berkobar-kobar dan bergejolak, na’udzubillahi min dzalik. Namanya Allah Ta’ala abadikan didalam Al-Qur’an sebagai seorang yang celaka dan binasa sejadi-jadinya karena penentangannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan dakwah Islam yang beliau bawa. Kisah penentangannya terlaporkan dalam Ash-Shahihain dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ صَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الصَّفَا فَجَعَلَ يُنَادِي يَا بَنِي فِهْرٍ يَا بَنِي عَدِيٍّ لِبُطُونِ قُرَيْشٍ حَتَّى اجْتَمَعُوا فَجَعَلَ الرَّجُلُ إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَخْرُجَ أَرْسَلَ رَسُولًا لِيَنْظُرَ مَا هُوَ فَجَاءَ أَبُو لَهَبٍ وَقُرَيْشٌ فَقَالَ أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ قَالُوا نَعَمْ مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ تَبًّا لَكَ سَائِرَ الْيَوْمِ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا فَنَزَلَتْ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita, “Tatkala turun ayat : Wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin (dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat dekatmu) – (QS Asy-Syu’ara : 214), naiklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke atas bukit Shafa seraya berseru, “Wahai bani Fihr, wahai bani ‘Adi dari keturunan Quraisy…” hingga berkumpullah orang-orang dan jika ada yang tidak bisa hadir maka diutuslah seorang utusan demi melihat ada apakah gerangan, turut serta Abu Lahab diantara orang-orang Quraisy tersebut.

Nabi bersabda, “Apa pendapat kalian kalau aku khabarkan kepada kalian bahwa ada sepasukan berkuda di balik lembah ini yang sedang bersiap hendak menyerang kalian? Apakah kalian semua termasuk orang-orang yang membenarkanku?”

Orang-orang Quraisy menjawab, “Ya, kami tidak melihat dirimu melainkan seorang yang jujur.”

Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku hendak memberi peringatan untuk kalian bahwa di hadapanku ada ‘adzab yang pedih.”

Abu Lahab memotong, “Benar-benar celaka kamu seharian ini! Hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami?!”

Lantas turunlah ayat : Tabbat yadaa Abi Lahabiw watabb, maa aghnaa ‘anhu maaluhuu wa maa kasab – (QS Al-Lahab 1-5).”

[Shahih Al-Bukhari no. 4770; Shahih Muslim no. 210]

Kisah diatas menjadi asbabun nuzul turunnya surat Al-Lahab atau disebut juga surat Al-Masad. Abu Lahab –la’natullah ‘alaih- menjadi simbol binasanya seseorang yang mempunyai nasab terhormat dan mempunyai harta yang banyak manakala dengan serta merta ia menjadi penentang Rasulullah ketika ia meremehkan seruan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memanggil kabilah-kabilah Quraisy demi mendengarkan peringatan beliau untuk memeluk agama Islam. Abu Lahab menganggap enteng perkara ‘adzab yang beliau bawa dari Rabbnya seolah-olah ia adalah perkara yang main-main dan menghabiskan waktu. Oleh karenanya, Allah Ta’ala menurunkan surat Al-Lahab sebagai bantahan bagi perkataan Abu Lahab dan bahwa kelak ia akan masuk ke dalam api neraka karena perbuatannya tersebut :

سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

“Kelak ia akan masuk ke dalam neraka yang apinya bergejolak.”

Begitu pula istri Abu Lahab, bernama Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah –la’natullah ‘alaiha-, dia adalah saudari Abu Sufyan bin Harb –radhiyallahu ‘anhu-.

وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

“Dan (begitu pula) istrinya, sang pembawa kayu bakar.”

Ummu Jamil adalah gambaran seorang wanita yang terhormat di kalangan Quraisy namun ia rela melakukan perbuatan tercela dan rendahan yang demikian jahat guna mencelakai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Imam Al-Hakim meriwayatkan :

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: لَمَّا نَزَلَتْ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ أَقْبَلَتِ الْعَوْرَاءُ أُمُّ جَمِيلِ بِنْتُ حَرْبٍ وَلَهَا وَلْوَلَةٌ وَفِي يَدِهَا فِهْرٌ، وَهِيَ تَقُولُ: مُذَمَّمًا أَبَيْنَا وَدِينَهُ قَلَيْنَا وَأَمْرَهُ عَصَيْنَا، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ، فَلَمَّا رَآهَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ أَقْبَلَتْ وَأَنَا أَخَافُ أَنْ تَرَاكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّهَا لَنْ تَرَانِي “، وَقَرَأَ قُرْآنًا فَاعْتَصَمَ بِهِ كَمَا قَالَ: وَقَرَأَ: وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا، فَوَقَفَتْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَلَمْ تَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا أَبَا بَكْرٍ، إِنِّي أُخْبِرْتُ أَنَّ صَاحِبَكَ هَجَانِي، فَقَالَ: لا وَرَبِّ هَذَا الْبَيْتِ مَا هَجَاكِ، فَوَلَّتْ وَهِيَ تَقُولُ: قَدْ عَلِمَتْ قُرَيْشٌ أَنِّي بِنْتُ سَيِّدِهَا

Dari Asma’ binti Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhuma-, ia bercerita, “Tatkala turun surat Tabbat yadaa Abi Lahab, Al-‘Aura’ Ummu Jamil binti Harb mendatangi Rasulullah, dia adalah wanita yang bersuara lantang dan dia menggenggam batu yang berukuran segenggaman telapak tangan sembari bersya’ir :

Si Mudzammam kami abaikan… agamanya kami benci… perintahnya kami langgar

Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di masjid dan Abu Bakr sedang bersamanya. Ketika Abu Bakr melihat kedatangan Ummu Jamil, ia berkata, “Wahai Rasulullah, Ummu Jamil telah datang dan aku khawatir ia melihatmu.”

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya dia tak akan bisa melihatku.” Dan beliau membaca sebuah ayat Al-Qur’an serta berkeyakinan dengannya sebagaimana apa yang dibaca : Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup (QS Al-Isra’ : 45).

Lalu berhentilah Ummu Jamil di hadapan Abu Bakr akan tetapi ia tidak bisa melihat Rasulullah, ia bertanya, “Wahai Abu Bakr, sesungguhnya aku telah diberitahu bahwa sahabatmu mencaciku, (benarkah)?”

Abu Bakr menjawab, “Tidak, demi Rabb masjid ini, beliau tidak mencacimu.”

Kemudian Ummu Jamil berpaling seraya mengatakan, “Sungguh, suku Quraisy telah mengetahui bahwa aku ini adalah putri sayyidnya!”

[Mustadrak Al-Hakim 2/360][1]

Dalam Tafsir Imam Al-Baghawi Asy-Syafi’i, Ma’alim At-Tanzil 8/582-583, disebutkan beberapa penafsiran dari hammaalatal hathab menurut para ulama ahli tafsir dari kalangan salaf :

قَالَ ابْنُ زَيْدٍ وَالضَّحَّاكُ: كَانَتْ تَحْمِلُ الشَّوْكَ وَالْعَضَاةَ فَتَطْرَحُهُ فِي طَرِيقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَصْحَابِهُ لِتَعْقِرَهُمْ، وَهِيَ رِوَايَةُ عَطِيَّةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ

Ibnu Zaid dan Adh-Dhahhak berkata, “Konon, Ummu Jamil kerap kali membawa batang pohon yang banyak durinya dan ia membuangnya di jalan yang biasa dilalui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya untuk mencelakai mereka.” Ini adalah riwayat ‘Athiyyah dari Ibnu ‘Abbas.

وَقَالَ قَتَادَةُ، وَمُجَاهِدٌ، وَالسُّدِّيُّ: كَانَتْ تَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَتَنْقُلُ الْحَدِيثَ فَتُلْقِي الْعَدَاوَةَ بَيْنَ النَّاسِ، وَتُوقِدُ نَارَهَا كَمَا تُوقَدُ النَّارُ بِالْحَطَبِ

Qatadah, Mujahid dan As-Suddi berpendapat, “Ummu Jamil adalah orang yang gemar mengadu-domba, ia membawakan obrolan fitnah sehingga timbullah permusuhan diantara orang-orang, ia menyulut apinya sebagaimana kayu bakar disulut oleh api.”

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: حَمَّالَةَ الْخَطَايَا، دَلِيلُهُ: قَوْلُهُ: وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ

Sa’id bin Jubair berpendapat, “(Artinya) Pembawa dosa-dosa besar. Dalilnya adalah firman Allah : Mereka membawa dosa-dosa di atas punggungnya (QS Al-An’am : 31).”

Hikmah

Beberapa penafsiran pembawa kayu bakar :

  1. Pembawa kayu bakar, jika dibawa kepada makna zhahirnya, maka ia adalah sebuah pekerjaan memikul kayu yang dinisbatkan kepada Ummu Jamil bin Harb karena ia kerap membawa-bawa batang pohon berduri dan membuangnya di tengah jalan yang biasa dilalui Rasulullah bersama para sahabatnya agar mereka mengalami celaka. Ini menurut penafsiran Ibnu ‘Abbas.
  2. Pembawa kayu bakar, ia adalah provokator, atau orang yang gemar menyulut permusuhan diantara manusia. Pada masa itu, suku Quraisy terdiri dari banyak qabilah seperti bani ‘Adi, bani Fihr, bani Hasyim (qabilahnya Rasulullah), bani Umayyah, bani Tamim, bani Makhzum, bani ‘Abdu Syams dan lain-lain. Ummu Jamil adalah salah seorang yang suka mengompor-ngompori qabilah-qabilah tersebut dengan perkataan-perkataan dusta dan fitnah yang menyulut ketegangan serta permusuhan diantara mereka, seolah-olah ia melempar kayu bakar kemudian menyulut apinya sehingga membakar kayu bakar tersebut. Ini menurut penafsiran Qatadah, Mujahid dan As-Suddi.
  3. Pembawa kayu bakar, ia adalah pemikul dosa-dosanya sendiri di neraka. Ini menurut penafsiran Sa’id bin Jubair. Hal ini terkait hubungannya dengan ayat terakhir surat Al-Lahab :

فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

Yang di lehernya ada tali dari sabut.”

Penafsirannya adalah, Ummu Jamil adalah sang pembawa batang pohon berduri yang ia bawa dan ia buang batang pohon tersebut di jalan yang biasa dilalui Rasulullah dan para sahabat, dan ini adalah pekerjaannya di dunia, ia membawa kayu bakar tersebut dengan mengikatkannya di lehernya menggunakan tali dari sabut. Ini adalah gambaran betapa rendahnya perbuatan yang dilakukan seorang wanita terhormat dari kalangan suku Quraisy, rela melakukan perbuatan hina saking benci dan dendamnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka, kelak di neraka lehernya akan dikalungkan tali dari api neraka dan dia akan memikul dosa-dosanya di neraka dengan tali tersebut, selama-lamanya. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Kami berlindung kepada Allah dari akhir kehidupan yang buruk dan siksa api neraka.

Kami juga berlindung kepada Allah dari menjadi pembawa kayu bakar di antara jama’ah-jama’ah kaum muslimin serta kami berlindung dari memusuhi syari’at Islam dan kaum muslimin.

Semoga bisa menjadi hikmah bagi kita semua.

Wallahu a’lam.

Diselesaikan di Ciputat, sore hari, 1 Rabi’ul Awwal 1439 H.

Tommi Marsetio

Footnotes :

[1] Diriwayatkan Imam Al-Hakim dengan sanad :

أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، أَنْبَأَ بِشْرُ بْنُ مُوسَى، ثنا الْحُمَيْدِيُّ، ثنا سُفْيَانُ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ، عَنِ ابْنِ تَدْرُسَ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ

Abu Bakr bin Ishaq Al-Faqih mengkhabari kami, Bisyr bin Musa memberitahu, Al-Humaidi menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Al-Walid bin Katsir menceritakan kepada kami, dari Ibnu Tadrus, dari Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anha, ia bercerita, “… (dan seterusnya).

Imam Al-Hakim berkata :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ

“Hadits ini shahih sanadnya namun tidak ditakhrij oleh keduanya (Al-Bukhari dan Muslim).” –Dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi-

Asal hadits ini adalah dari Musnad Al-Humaidi no. 325 dengan sanad Sufyan bin ‘Uyainah – Al-Walid bin Katsir – Tadrus – Asma’ binti Abu Bakr, dan inilah sanad yang benar dengan nama Tadrus (bukan Ibnu Tadrus), beliau adalah kakek Abu Az-Zubair Al-Makki yaitu Muhammad bin Muslim bin Tadrus, dan Tadrus ini tidak diketemukan biografinya. Demikian menurut muhaqqiq kitab Musnad Al-Humaidi, Syaikh Husain Salim Asad.

Hadits ini mempunyai syahid dari jalur Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan Abu Ya’la dalam Musnadnya no. 25 dan 2358; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 6511.

Mudzammam mempunyai makna orang yang sangat tercela. Ini adalah ejekan dan hinaan orang-orang kafir Quraisy kepada nama Rasulullah, Muhammad yang bermakna orang yang terpuji. Dan sungguh sangatlah jauh laqab seperti ini disematkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

* * * * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s