Ketika Kengerian Adzab Menimpa Suatu Kaum Pegiat Liwath di Waktu Fajar

sodom112_20150904_214057

Tiada maksud kami menampilkan kisah ini melainkan sebagai i’tibar dan peringatan bagi kaum yang berakal, saudara-saudara kami kaum muslimin, bahwa seburuk-buruk perbuatan keji (fahisyah) adalah perbuatan keji yang dilakukan kaum Nabi Luth yakni liwath, yang belum pernah ada manusia sebelum mereka yang melakukan perbuatan tersebut. Nabi Luth ‘alaihissalam berkata, sebagaimana difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla :

أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” [QS Al-A’raf : 80-81]

Dan kaum muslimin sebagai kaum yang telah diberikan Al-Qur’an dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla sebagai cahaya dan petunjuk kehidupan, sudah sepantasnya khawatir akan fenomena LGBT yang kini sedang marak di negeri kita, Indonesia tercinta ini. Mengapa khawatir? Karena sudah jelas apabila LGBT dibiarkan, maka ia akan merusak fithrah manusia yang lurus, merusak sendi-sendi keharmonisan keluarga muslim, dan menghancurkan iman serta ketaqwaan para hamba. Yang paling puncak dari kekhawatiran itu adalah datangnya adzab Allah yang merata, yang juga akan mengenai para hamba yang beriman disamping mereka yang jelas-jelas berbuat zhalim, karena Dia ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya. [QS Al-Anfal : 25]

Subhanallah, na’udzubillahi min ‘adzabil alim.

 

A. Kisah Pedihnya ‘Adzab yang Menimpa Kaum Luth

Kisah ini kami temukan dalam kitab yang khusus membahas ancaman dan kecaman terhadap perbuatan liwath, buah karya dari Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain bin ‘Abdillah Al-Ajurri Al-Baghdadi (wafat 360 H), yang berjudul “Dzammul Liwaath”. Beliau –rahimahullah- secara khusus membahas perbuatan yang dilakukan kaum Luth ini, dimulai dari kedatangan para utusan Allah ke rumah Khalilullah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang membawa kabar berita mengenai kelahiran Ishaq ‘alaihissalam serta kabar mengenai kehancuran kaum Luth yang berdiam di kota Sadum, hingga beliau bawakan atsar para ulama salaf mengenai hukuman had yang pantas bagi pelaku perbuatan menjijikkan ini. Terakhir beliau bawakan hadits mengenai 7 golongan yang Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan melihat mereka di hari kiamat nanti.

Kisah tersebut, sanad dan matannya adalah sebagai berikut :

Riwayat 1 (hal. 34)

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ عُمَرُ بْنُ سَعْدٍ الْقَرَاطِيسِيُّ , قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدٍ الْقُرَشِيُّ , قَالَ: حَدَّثَنِي أَزْهَرُ بْنُ مَرْوَانَ الرَّقَاشِيُّ , قَالَ: حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ , قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ , قَالَ: وَلَا أَعْلَمُ إِلَّا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَبَاحٍ , عَنْ كَعْبٍ , قَالَ: كَانَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يُشْرِفُ عَلَى سَدُومَ كُلَّ يَوْمٍ , فَيَقُولُ: وَيْلٌ لَكَ سَدُومُ يَوْمًا هَالِكٌ , قَالَ: فَجَاءَتْ إِبْرَاهِيمَ الرُّسُلُ , وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلَامًا} [هود: 69] , ذَكَرَ الْقِصَّةَ , قَالَ: وَكَلَّمَهُمْ إِبْرَاهِيمُ فِي أَمْرِ قَوْمِ لُوطٍ , قَالُوا: {يَا إِبْرَاهِيمُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا} [هود: 76] , وَقَالَ: {وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ} [هود: 77] قَالَ: سَاءَهُ مَكَانُهُمْ , وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا , قَالَ: فَذَهَبَ بِهِمْ إِلَى مَنْزِلِهِ قَالَ فَرَحَّبَتِ امْرَأَتُهُ {وَجَاءَهُ قَوْمُهُ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ} [هود: 78] , {قَالَ يَا قَوْمِ هَؤُلَاءِ بَنَاتِي هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ} [هود: 78] تَزَوَّجُوهُنَّ {أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رُشَيْدٌ} [هود: 78] إِلَى قَوْلِهِ: {وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ} [هود: 79] قَالَ أَبُو عِمْرَانَ: وَجَعَلَ لُوطٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ الْأَضْيَافَ فِي بَيْتِهِ , وَقَعَدَ عَلَى بَابِ الْبَيْتِ , وَقَالَ: {لَوْ أَنَّ لِي بِكُمْ قُوَّةً أَوْ آوِي} [هود: 80] إِلَى رُكْنٍ شَدِيدٍ قَالَ: إِلَى عَشِيرَةٍ تَمْنَعُنِي قَالَ أَبُو عِمْرَانَ: فَبَلَغَنِي أَنَّهُ لَمْ يُبْعَثْ نَبِيٌّ بَعْدَ لُوطٍ إِلَّا فِي عِزِّ قَوْمِهِ , قَالَ: فَلَمَّا رَأَتِ الرُّسُلُ مَا قَدْ لَقِي لُوطٌ فِي سَبَبِهِمْ {قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ} [هود: 81] إِلَى قَوْلِهِ {أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ} [هود: 81] فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَضَرَبَ وُجُوهَهُمْ بِجَنَاحِهِ ضَرْبَةً طَمَسَ أَعْيُنَهُمْ قَالَ: وَالطَّمْسُ أَنْ تَذْهَبَ الْعَيْنُ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَالَ: وَاحْتَمَلَ جِبْرِيلُ مَدَائِنَهُمْ حَتَّى سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ الدُّنْيَا نَبْحَ كِلَابِهِمْ , وَأَصْوَاتَ دُيُوكِهِمْ , ثُمَّ قَلَبَهَا عَلَيْهِمْ , وَأَمْطَرَ عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ قَالَ: أَهْلُ بَوَادِيهِمْ , وَعَلَى دُعَاتِهِمْ , وَعَلَى مُسَافِرِهِمْ فَلَمْ يَنفَلِتْ مِنْهُمْ إِنْسَانٌ

Muhammad mengkhabari kami, ia berkata, Abu Bakr ‘Umar bin Sa’d Al-Qarathisi mengkhabari kami, ia berkata, Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Ubaid Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata, Azhar bin Marwan Ar-Raqasyi menceritakan kepadaku, ia berkata, Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu ‘Imran menceritakan kepada kami, ia berkata, aku tidak mengetahui kisah ini melainkan dari ‘Abdullah bin Rabah, dari Ka’b, dan Ka’b pun memulai kisahnya :

“Dahulu kala Ibrahim ‘alaihissalam kerap memandang ke arah kota Sadum setiap hari, seraya berkata, “Kecelakaanlah bagi kalian wahai Sadum di suatu hari yang binasa nanti!”

Suatu hari, datanglah para utusan kepada Ibrahim, sebagaimana firman Allah Ta’ala : Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Salaamaa” (Selamat). [QS Hud : 69]. Mereka membicarakan mengenai perkara kaum Luth kepada Ibrahim, para utusan tersebut berkata, “Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini!” [QS Hud : 76]. “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah,” [QS Hud : 77], yakni kedudukan para utusan tersebut sebagai tamu menyulitkan Nabi Luth dan membuatnya terasa sempit.

Para utusan tersebut pun memasuki kediaman Luth dan disambut dengan sukacita oleh istrinya, lantas “datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas,” [QS Hud : 78]. Nabi Luth berkata kepada kaum yang buruk itu, “Hai kaumku, inilah putri-putri (negeri) ku, mereka lebih suci bagimu,” [QS Hud : 78], nikahilah mereka itu, “Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?” [QS Hud : 78]. Kaumnya pun menjawab, “Sesungguhnya kamu (wahai Luth) tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki!” [QS Hud : 79].

Abu ‘Imran (salah seorang perawi) berkata, “Nabi Luth ‘alaihissalam menerima tamu-tamunya didalam rumahnya lalu duduk di dekat pintu rumah. Nabi Luth lantas bertutur, “Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan),” [QS Hud : 80], maksudnya adalah kepada kerabat yang dapat membelaku.”

Abu ‘Imran berkata kembali, “Telah sampai kepadaku penjelasan bahwasanya Allah tidak mengutus seorang Nabi pun setelah Luth melainkan ia berada pada kedudukan yang mulia diantara kaumnya.”

Dan kisah pun berlanjut.

Maka tatkala para utusan melihat Nabi Luth menemui kesulitan disebabkan kedatangan mereka, para utusan itu pun berujar, “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka (kaummu itu) tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa ‘adzab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya ‘adzab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh itu sudah dekat?” [QS Hud : 81].

Setelah itu, Jibril ‘alaihissalam pun keluar dan menyapu wajah-wajah kaum tersebut menggunakan sayapnya dengan sapuan yang mengakibatkan penglihatan mereka menjadi buta. Ka’b berkata, “Ath-Thamsu adalah hilangnya penglihatan hingga buta total. Lalu kota-kota yang ditempati oleh kaum Luth tersebut dibawa oleh Jibril (ke atas) hingga terdengarlah gonggongan anjing-anjing dan sahutan unggas-unggas mereka oleh penduduk langit dunia. Kemudian kota-kota tersebut dijungkir-balikkan dan mereka pun dihujani bebatuan dari sijjil.”

Ka’b menambahkan, “(’Adzab ini) menimpa pula penduduk padang pasir mereka, para pendakwah hingga para musafir, tak ada manusia yang luput darinya!”

Riwayat 2 (hal. 36)

وَأَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو عُبَيْدٍ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ حَرْبٍ الْقَاضِي قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْأَشْعَثِ أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ قَالَ: حَدَّثَنَا الْفُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ , عَنِ الْأَعْمَشِ , عَنْ مُجَاهِدٍ , قَالَ: نَزَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَأَدْخَلَ جَنَاحَهُ تَحْتَ مَدَائِنِ قَوْمِ لُوطٍ , فَرَفَعَهَا حَتَّى سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ نَبِيحَ الْكِلَابِ , وَأَصْوَاتَ الدَّجَاجِ وَالدِّيَكَةِ , ثُمَّ قَلَبَهَا فَجَعَلَ أَعْلَاهَا أَسْفَلَهَا , ثُمَّ أُتْبِعُوا بِالْحِجَارَةِ

Dan Muhammad telah mengkhabari kami, ia berkata, Abu ‘Ubaid ‘Ali bin Al-Husain bin Harb Al-Qadhi mengkhabari kami, ia berkata, Abul Asy’ats Ahmad bin Al-Miqdam menceritakan kepada kami, ia berkata, Al-Fudhail bin Sulaiman menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Mujahid, ia berkisah, “Turunlah malaikat Jibril ‘alaihissalam lalu ia memasukkan sayapnya ke bawah lapisan tanah dari kota-kota yang didiami kaum Luth, diangkatlah kota-kota tersebut hingga penduduk langit dapat mendengar gonggongan anjing-anjing dan suara-suara sahutan ayam serta unggas. Kemudian Jibril menjungkirbalikkan kota-kota tersebut, bagian atas menjadi bagian yang dibawah, lantas diikuti dengan hujan batu.”

Riwayat 3 (hal. 36)

وَأَخْبَرَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ عُمَرُ بْنُ سَعْدٍ الْقَرَاطِيسِيُّ أَيْضًا قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدٍ , قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ صَالِحٍ , قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ السَّائِبِ , عَنْ أَبِي صَالِحٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: ” أَغْلَقَ لُوطٌ عَلَى ضَيْفِهِ الْبَابَ , قَالَ: فَجَاءُوا فَكَسَرُوا الْبَابَ , وَدَخَلُوا فَطَمَسَ جِبْرِيلُ أَعْيُنَهُمْ , فَذَهَبَتْ أَبْصَارُهُمْ , فَقَالُوا: يَا لُوطُ جِئْتَنَا بِالسَّحَرَةِ , وَتَوَعَّدُوهُ , فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً , قَالَ: يَذْهَبُ هَؤُلَاءِ , وَيُؤْذُونِي , فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: لَا تَخَفْ , إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ , إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ , قَالَ لُوطٌ: السَّاعَةُ؟ قَالَ جِبْرِيلُ: أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ , قَالَ: السَّاعَةُ؟ قَالَ: فَرُفِعَتْ , يَعْنِي الْمَدِينَةَ , حَتَّى سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ نَبِيحَ الْكِلَابِ , ثُمَّ أُقْلِبَتْ وَرُمُوا بِالْحِجَارَةِ

Dan Muhammad telah mengkhabari kami, ia berkata, Abu Bakr ‘Umar bin Sa’d Al-Qarathisi mengkhabari kami pula, ia berkata, ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdurrahman bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Bakr bin ‘Ayyasy menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin As-Sa’ib, dari Abu Shalih, dari Ibnu ‘Abbas, ia bercerita, “Nabi Luth menutup pintu rumahnya demi melindungi tamu-tamunya, sekonyong-konyong datanglah kaum yang buruk tersebut, mereka mendobrak pintu dan merangsek masuk. Lalu Jibril pun membutakan penglihatan mereka dan serta merta hilanglah pandangan mereka.”

Mereka berseru, “Wahai Luth, engkau telah mendatangkan para tukang sihir kepada kami!” Mereka mengancam Nabi Luth dan ia merasa takut karenanya. Nabi Luth berkata, “Mereka pergi, namun mereka menyusahkanku.”

Jibril berkata menenangkan Nabi Luth, “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kami ini adalah para utusan Rabbmu. Sesungguhnya waktu (datangnya ‘adzab) yang dijanjikan bagi mereka adalah menjelang subuh.”

Nabi Luth bertanya, “Waktunya (telah tiba)?”

Jibril menjawab, “Bukankah waktu subuh telah dekat?”

Nabi Luth memastikan, “(Kalau begitu sekaranglah) waktunya!”

Maka diangkatlah, yakni kota tempat tinggal kaum Luth tersebut hingga penduduk langit dapat mendengar suara gonggongan anjing-anjing. Lantas dijungkirbalikkanlah kota tersebut kemudian dihujani oleh lemparan bebatuan.”

 

B. Tinjauan Sanad dari Kisah

Riwayat 1

Abu Bakr ‘Umar bin Sa’d Al-Qarathisi, nama dan nasabnya adalah ‘Umar bin Sa’d bin ‘Abdirrahman, Abu Bakr Al-Qarathisi. Seorang yang tsiqah. Lihat Tarikh Baghdad 13/86.

Abu Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Ubaid Al-Qurasyi, beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Abid Dunya, pemilik karya-karya yang bermanfaat. Abu Hatim berkata “orang Baghdad yang shaduq”. Lihat Al-Jarh wa At-Ta’dil 5/163.

Azhar bin Marwan Ar-Raqasyi, maula bani Hasyim. Ibnu Hibban berkata “mustaqimul hadits”, Ibnu Hajar berkata “shaduq”. Lihat Ats-Tsiqat 8/132; Taqrib At-Tahdzib no. 312.

Ja’far bin Sulaiman, namanya adalah Ja’far bin Sulaiman Adh-Dhabi’i, Abu Sulaiman Al-Bashri. Ahmad berkata “tidak mengapa dengannya”, ditautsiq oleh Ibnu Ma’in, sementara Ibnu Mahdi tidak menyenangi hadits-haditsnya, Yahya Al-Qaththan tidak menulis haditsnya, Ibnu Sa’d berkata “ia tsiqah dan padanya ada kelemahan, cenderung tasyayyu’”, Ibnu Hajar berkata “shaduq, ahli zuhd namun ia tasyayyu’”. Lihat Tahdzib Al-Kamal no. 943; Taqrib At-Tahdzib no. 942.

Abu ‘Imran, namanya adalah ‘Abdul Malik bin Habib Al-Azdi Al-Kindi, Abu ‘Imran Al-Jauni, lebih dikenal dengan nama kuniyahnya. Seorang yang tsiqah. Lihat Taqrib At-Tahdzib no. 4172.

‘Abdullah bin Rabah Al-Anshari, Abu Khalid Al-Madani, seorang tabi’in tsiqah. Lihat Taqrib At-Tahdzib no. 3307.

Ka’b, ia adalah Ka’b bin Mati’ Al-Himyari, Abu Ishaq Al-Yamani Al-Madani, dikenal dengan nama Ka’b Al-Ahbar. Mukhadhram. Dahulunya adalah pendeta yahudi. Menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan dikatakan ia menjumpai masa jahiliyah, namun baru masuk islam pada masa khilafah Abu Bakr Ash-Shiddiq, dalam suatu pendapat dikatakan pada masa khilafah ‘Umar bin Al-Khaththab. Ia berasal dari Yaman, kemudian pindah ke Syam, dan wafat pada akhir masa khilafah ‘Utsman bin ‘Affan. Ka’b seorang yang tsiqah, demikian menurut Ibnu Hajar. Lihat Tahdzib Al-Kamal no. 4980; Taqrib At-Tahdzib no. 5648.

Jalur ini berakhir pada Ka’b Al-Ahbar, maka atsar ini maqthu’.

Diriwayatkan pula oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id Az-Zuhd sebagaimana disebutkan dalam Ad-Durr Al-Mantsur 4/447.

Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan kisah ini dari jalur Qatadah dalam Tarikh Ar-Rusul wa Al-Muluk 1/305 :

حَدَّثَنَا بشر بن معاذ، قال: حَدَّثَنَا يزيد، قال: حَدَّثَنَا سعيد، عن قتادة، قال

Bisyr bin Mu’adz menceritakan kepada kami, ia berkata, Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata, Sa’id menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dan ia menyebutkan kisahnya secara singkat, hingga perkataan :

وذكر لنا إن إبراهيم كان يشرف، ثم يقول سدوم يوما هالك

“Dan disebutkan kepada kami, sesungguhnya Ibrahim kerap memandangi kota Sadum, kemudian ia mengatakan, “Suatu hari binasalah Sadum!”

Jalur Qatadah pun maqthu’ dengan para perawi yang tsiqah.

Riwayat 2

Abu ‘Ubaid ‘Ali bin Al-Husain bin Harb Al-Qadhi, terkenal dengan julukannya : Ibnu Jarbuwaih Al-Baghdadi. Disifati Adz-Dzahabi dengan Al-Qadhi Al-‘Allamah, Al-Muhaddits, Ats-Tsabt. Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ 14/536.

Abul Asy’ats Ahmad bin Al-Miqdam, nama dan nasabnya adalah Ahmad bin Al-Miqdam bin Sulaiman bin Al-Asy’ats bin Aslam bin Suwaid Al-‘Ijli, Abul Asy’ats Al-Bashri. Abu Hatim berkata “shalihul hadits, tempatnya kejujuran”, ditautsiq oleh Shalih Al-Baghdadi, An-Nasa’i berkata “tak ada yang salah pada dirinya”. Lihat Tahdzib Al-Kamal no. 110.

Al-Fudhail bin Sulaiman, nama dan nasabnya adalah Fudhail bin Sulaiman An-Numairi, Abu Sulaiman Al-Bashri. Ibnu Hajar berkata “shaduq, terdapat kekeliruan periwayatan yang banyak”. Lihat Taqrib At-Tahdzib no. 5427.

Al-A’masy, Sulaiman bin Mihran Al-Asadi Al-Kahili, Abu Muhammad Al-Kufi. Masyhur dengan laqabnya : Al-A’masy. Seorang yang tsiqah hafizh, mengetahui ilmu qira’ah, wara’, namun ia kerap melakukan tadlis. Lihat Taqrib At-Tahdzib no. 2615.

Mujahid, yaitu Mujahid bin Jabr Al-Makki, Abul Hajjaj Al-Qurasyi Al-Makhzumi. Imam dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Lihat Tahdzib Al-Kamal no. 5783.

Ibnu Jarir Ath-Thabari juga meriwayatkan atsar Mujahid dari jalur-jalur yang lainnya dalam Tarikh-nya 1/305. Namun kesemuanya tidak terlepas dari status jalur-jalurnya yang maqthu’.

Riwayat 3

Abu Bakr ‘Umar bin Sa’d Al-Qarathisi, telah berlalu penjelasan mengenai beliau di riwayat 1.

‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Ubaid, dia adalah Al-Imam Abu Bakr Ibnu Abid Dunya, telah berlalu penjelasan mengenai beliau di riwayat 1.

‘Abdurrahman bin Shalih, Abu Shalih Al-Azdi Al-‘Ataki Al-Kufi, Ibnu Hajar berkata “shaduq, cenderung tasyayyu’”. Lihat Taqrib At-Tahdzib no. 3898.

Abu Bakr bin ‘Ayyasy, Al-Asadi Al-Kufi Al-Muqri’ Al-Hanath, masyhur dengan nama kuniyahnya sementara terjadi ikhtilaf seputar namanya. Ibnu Hajar berkata “tsiqah, ahli ibadah hanya saja hapalannya memburuk ketika ia menua”. Lihat Taqrib At-Tahdzib no. 7985.

Muhammad bin As-Sa’ib, dia adalah Al-Kalbi, Abu An-Nadhr Al-Kufi Al-Mufassir, disepakati akan kelemahannya, beberapa ahli naqd menuduhnya pendusta. Lihat biografinya di Mizan Al-I’tidal 6/159 dan Tahdzib Al-Kamal no. 5234.

Abu Shalih, namanya adalah Badzam maula Ummu Hani’. Disepakati akan kelemahannya dan ketidak-hujjahannya. Lihat Mizan Al-I’tidal 1/3, Taqrib At-Tahdzib no. 634. Abu Shalih ini bukanlah Dzakwan As-Samman Az-Zayyat, Abu Shalih yang tsiqah tsabt. Muhammad bin As-Sa’ib pun tidak diketahui mempunyai periwayatan dari Dzakwan Abu Shalih.

Ibnu ‘Abbas, seorang sahabat masyhur. Sepupu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Radhiyallahu ‘anhu.

Jalur atsar mauquf ini sangat lemah disebabkan adanya Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi dan Badzam Abu Shalih.

Namun ia diperkuat dari jalur lain yang juga datang dari Ibnu ‘Abbas, diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 2/344 :

أَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ عِصْمَةَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْعَدْلُ، ثنا السَّرِيُّ بْنُ خُزَيْمَةَ، ثنا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْوَاسِطِيُّ، ثنا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْوَاسِطِيُّ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: ” لَمَّا جَاءَتْ رُسُلُ اللَّهِ لُوطًا

Ibrahim bin ‘Ishmah bin Ibrahim Al-‘Adl mengkhabari aku, As-Sari bin Khuzaimah menceritakan kepada kami, Sa’id bin Sulaiman Al-Wasithi menceritakan kepada kami, Khalid bin ‘Abdillah Al-Wasithi menceritakan kepada kami, dari Hushain bin ‘Abdirrahman, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, Ibnu ‘Abbas bercerita, “Tatkala datang para utusan Allah kepada Luth… (dan seterusnya)…”

Hingga lafazh :

فَارْتَحَلَ بِبَنَاتِهِ وَهُنَّ ثَلاثٌ، حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَكَانَ كَذَا وَكَذَا مِنَ الشَّامِ، فَمَاتَتِ ابْنَتُهُ الْكُبْرَى، فَخَرَجَتْ عِنْدَهَا عَيْنٌ، يُقَالَ لَهَا الْوَرِيَّةُ، ثُمَّ انْطَلَقَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَبْلُغَ فَمَاتَتِ الصُّغْرَى، فَخَرَجَتْ عِنْدَهَا عَيْنٌ، يُقَالَ لَهَا الرُّعُونَةَ، فَمَا بَقِيَ مِنْهُنَّ إِلا الْوُسْطَى

“Maka Nabi Luth berjalan bersama putri-putrinya dan mereka berjumlah 3 orang, hingga ketika mereka telah sampai pada suatu tempat dari negeri Syam, wafatlah putri Luth yang sulung, seketika keluarlah mata air di sekitarnya yang disebut ‘Al-Wariyyah’. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kemanapun sesuai dengan kehendak Allah yang akan menyampaikan mereka (pada tujuannya), lantas wafatlah putri Luth yang bungsu, seketika keluarlah mata air di sekitarnya yang disebut ‘Ar-Ru’unah’, hingga tidak ada yang tersisa dari ketiga putri Luth melainkan putrinya yang tengah.”

Al-Hakim berkata :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ، وَلَعَلَّ مُتَوَهِّمًا يَتَوَهَّمُ أَنَّ هَذَا وَأَمْثَالَهُ فِي الْمَوْقُوفَاتِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ، فَإِنَّ الصَّحَابِيَّ إِذَا فَسَّرَ التِّلاوَةَ فَهُوَ مُسْنَدٌ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ

“Hadits ini shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim namun keduanya tidak mentakhrijnya, dan barangkali ada orang wahm yang akan mengira bahwa riwayat ini dan yang semisalnya tergolong riwayat-riwayat mauquf, kenyataannya tidaklah demikian, karena sesungguhnya apabila sahabat menafsirkan bacaan Al-Qur’an, maka ia adalah riwayat musnad menurut Al-Bukhari dan Muslim.”

 

C. Kesimpulan dan Ibrah

Mari kita renungkan bersama ketiga riwayat diatas yang walaupun masuk kepada riwayat-riwayat yang tergolong Isra’iliyyat, namun terdapat bagian-bagian yang memang bersesuaian dengan Al-Qur’an, dan inilah yang wajib kita imani. Kisah diatas membuktikan pula bahwa Allah Ta’ala tidak pandang bulu jika Dia menghendaki meng-‘adzab suatu kaum (sebagaimana telah kami sebutkan dalam pendahuluan diatas). ‘Adzab tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang memang zhalim, namun juga akan menimpa mereka yang ridha dengan perbuatan tersebut, orang-orang shalih, penduduk sekitarnya dan para musafir.

Telah dijelaskan oleh Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurri (hal. 40) sendiri :

مَنْ تَدَبَّرَ هَذَا عَلِمَ أَنَّ قَوْمَ لُوطٍ هَلَكُوا جَمِيعًا بِقَبِيحِ فِعَالِهِمْ , مَنْ أُحْصِنَ مِنْهُمْ , وَمَنْ لَمْ يُحْصَنْ , وَمَنْ رَضِيَ بِفِعَالِهِمْ مِنَ النِّسَاءِ , حَتَّى امْرَأَةَ لُوطٍ لِلْفِسْقِ , وَإِنَّمَا أَهْلَكَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَنَّهَا كَانَتْ تَدُلُّ قَوْمَ لُوطٍ عَلَى أَضْيَافِ لُوطٍ لِلْفِسْقِ , فَأَهْلَكَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعَهُمْ

“Orang yang mentadabburi kisah ini mengetahui bahwa kaum Luth binasa seluruhnya disebabkan buruknya perbuatan mereka, yaitu (pelaku) kalangan lelaki yang sudah menikah maupun yang belum, dan termasuk mereka yang ridha dengan perbuatan tersebut dari kalangan wanita hingga mencakup istri Nabi Luth yang fasik. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membinasakan istri Luth karena ia menunjukkan kaum Luth kepada tamu-tamu Luth karena kefasikannya, lantas Allah ‘Azza wa Jalla membinasakannya bersama dengan kaumnya tersebut.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari jauh-jauh hari merasa khawatir bahwa umatnya akan mengikuti perbuatan kaum Luth, sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَكِّيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُقَيْلٍ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ

Ahmad bin Mani’ menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, Hammam menceritakan kepada kami, dari Al-Qasim bin ‘Abdil Wahid Al-Makki, dari ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Uqail, bahwa ia mendengar Jabir mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan akan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth.” [Jami’ At-Tirmidzi no. 1457] – Abu ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullah berkata bahwa hadits ini hasan gharib.

Semoga kita dan keluarga dapat terhindar dari perbuatan keji yang sangat buruk, yaitu perbuatan kaum Luth yang dapat mengundang ‘adzab Allah. Aamiin.

Wallahu a’lamu bish-shawwab.

Diselesaikan di BSD Tangerang, dini hari, 13 Rabi’ul Akhir 1439 H.

Tommi Marsetio –waffaqahullah-

Maraji’ :

Dzammul Liwath”, karya : Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain bin ‘Abdillah Al-Ajurri, tahqiq : Majdi As-Sayyid Ibrahim, Maktabah Al-Qur’an, Kairo, Mesir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s